Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kaget (Bonus Part)


__ADS_3

"Serangan jantung, dok?"


Daniel kaget begitupula dengan Ellio. Tubuh mereka pun mendadak gemetar, seperti percaya tak percaya demi mendengar hal tersebut.


Dalam benak mereka kata serangan jantung mengandung arti yang cukup menyeramkan. Dimana hidup seseorang akan bisa saja cepat berakhir.


"Iya, tapi masih dalam kategori ringan. Bukan serangan jantung yang terlalu serius." ujar dokter itu lagi.


Daniel dan Ellio sedikit bernafas lega, namun masih tetap diliputi kekhawatiran.


"Apa ini bisa jadi parah nantinya?" tanya Ellio.


"Pasti, kalau tidak ditangani dengan baik. Dan kalau pasien tidak menjaga pola hidupnya dari sekarang." jawab dokter itu.


"Itu penyebabnya apa ya dok?" kali ini Daniel yang bergaya.


"Kolesterol." jawab sang dokter.


"Kebiasaan makan makanan yang mengandung kolesterol tinggi, kurang asupan sayur dan buah, merokok dan lain-lain." lanjutnya lagi.


"Richard kebiasaan nih, kalau makan yang berlemak melulu." ujar Ellio pada Daniel.


Mereka teringat akhir-akhir ini Richard memang tak terlalu menjaga pola makannya. Mereka semua masih aktif pergi ke gym dan berolahraga. Tetapi untuk urusan makan, mereka makan apa saja yang mereka sukai.


Tak lama mereka pun menemui Richard di sebuah kamar rawat. Tampak Richard telah sadarkan diri dan meminum segelas air putih dari dalam gelas.


"Bro, dokter bilang apa?" tanya Richard pada Daniel dan juga Ellio.


"Lo serangan jantung, karena pola makan lo nggak bener."


Daniel mengocehi sahabat sekaligus mertuanya itu.


"Masa sih?" tanya Richard kaget.


"Iya, makanya mulai hari ini gue sama Dan bakalan terus mengawasi tindak tanduk lo. Terutama dalam soal makan." timpal Ellio.


"Lo harus berhenti ngerokok." ujar Daniel lagi.


"Ya nggak bisa gitu dong, lo pikir gampang berhenti ngerokok. Ntar hidup gue penuh kegabutan lagi."


Richard masih mencoba melawan.


"Mertua lo emang bener-bener ya." ujar Ellio pada Daniel dengan nada kesal. Seperti ingin mengetok kepala Richard dengan palu.


"Kalau makan oke lah, gue usahain makan sehat. Tapi kalau berhenti merokok gue nggak janji." ujar Richard.


Kemudian ia mendapatkan tatapan yang mengerikan dari sahabat dan menantunya.

__ADS_1


"O, oke." ujar Richard kemudian.


"Awas lo!" ancam Daniel.


"Ayah."


Tiba-tiba Lea masuk ke ruangan tersebut sambil menangis. Ia kini menghambur ke pelukan Richard.


"Ayah kenapa yah?. Kata masa Dan tadi ayah pingsan di kantor."


Lea tampaknya takut sekali dan kini Richard mencoba menenangkan anaknya itu.


"Ayah nggak apa-apa sayang. Kamu nggak usah panik ya." ujar pria tersebut.


"Nggak apa-apa apaan, orang dia kena serangan jantung."


Daniel dengan embernya membocorkan hal tersebut kepada sang istri. Richard sendiri sampai memberi kode pada menantunya itu untuk tidak mengatakan apa-apa, demi menjaga ketenangan hati Lea. Tetapi semua telah terlanjur, Lea kini begitu terkejut sekaligus takut.


"Koq bisa?" tanya nya sambil berurai air mata.


Daniel sengaja melakukan semua itu agar Richard mau menuruti perkataannya dan juga Ellio.


"Dia selalu konsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Ngerokok juga suka nggak kira-kira." ujar Ellio.


Lea makin menangis.


Richard menatap Ellio seraya memperingatkan. Tetapi Ellio rasa Lea harus menjadi rem atau pawang bagi Richard.


"Ya udah." ujar Lea seraya menyeka air matanya.


"Mulai sekarang aku yang akan mengatur semuanya. Apapun yang ayah makan dirumah, itu harus di masak oleh mbak-mbak di sana dan harus atas persetujuan aku." lanjutnya kemudian.


Daniel dan Ellio menahan tawa melihat raut wajah Richard yang berubah sewot. Karena kesal pada sabahat dan menantunya sendiri.


"Om Ellio harus makan juga apa yang dibuat oleh Marsha. Aku akan kasih tau dia apa-apa yang boleh dan nggak boleh. Mas Daniel mulai hari ini harus makan dirumah dan maka siang aku bawain juga."


Kali ini Richard tertawa tanpa suara. Sementara wajah Daniel dan Ellio mendadak horor. Pasalnya mereka kini seperti terjebak dalam ucapan mereka sendiri.


"Mampus." ujar Richard tanpa suara kepada mereka berdua.


***


Berita mengenai Richard sakit sampai ke telinga Nadia. Wanita yang masih dalam tahap perceraian itu lalu menyambangi rumah sakit pada siang hari.


Ia tidak membawa Arkana, karena anak kecil tidak diperkenankan di bawa ke rumah sakit kecuali memang dibutuhkan.


Nadya tampak sedih, sebab ia tau Richard mengalami serangan jantung lewat Putri yang dikabari oleh Lita.

__ADS_1


Ia ingin memeluk Richard, namun terhalang status. Maka dari itu ia hanya bisa menitikkan air mata, dan hal tersebut cukup membuat Richard merasa jika dirinya agak jahat.


"Jangan nangis, Nad. Aku cuma mengalami serangan jantung ringan koq." ujar Richard seraya menyerahkan beberapa helai tissue, yang ia ambil dari atas meja di samping tempat tidur.


Nadya meraih tissue tersebut dan menyeka air matanya.


"Gimana aku nggak nangis mas, aku takut." ujarnya kemudian.


Nadya sudah semakin nyaman untuk tidak memanggil Richard dengan sebutan bapak. Dan tidak menuturkan dirinya dengan kata saya.


Richard tersenyum mendengar semua itu. Bagian yang paling ia sukai ketika melihat wanita yang ia cintai menangis untuknya. Itu terasa manis dalam pandangan matanya, meski ia merasa bersalah.


Ia tak ingin Lea mengkhawatirkan dirinya, sebab tak ingin melihat anaknya itu bersedih dan kepikiran.


Tapi untuk Nadya, ia justru malah terlihat senang. Sebab itu artinya Nadya benar mencintai dirinya, dan takut akan kehilangan dirinya.


"Pokoknya mas Richard harus hidup lebih sehat lagi dari sebelumnya. Kurang-kurangi pemicunya biar nggak kambuh lagi." ujar Nadya.


"Iya, aku janji koq." tukas Richard sambil tersenyum.


***


"What?"


Daniel kaget ketika kembali ke rumah dan menerima makanan yang dibeli oleh Lea. Mereka meninggalkan rumah sakit karena Lita dan dua asisten rumah tangga lainnya yang menjaga Richard.


"Ini apaan Le?"


Daniel terus bertanya pada Lea, sambil memperhatikan potongan ikan mentah yang berada di atas bowl berisi nasi. Lengkap dengan saus dan beberapa potongan aneh seperti sayuran atau rumput laut.


"Ini namanya poke bowl mas. Ini menu sehat dari Hawaii. Rasanya mirip-mirip sushi Jepang." ujar Lea.


"Ya, tapi aku kan lagi mau makan sate kambing." ucap Daniel.


"Nggak boleh!. Mas mau kena serangan jantung juga terus meninggoy?. Mas mau Darriel jadi yatim?"


"Ya, ng, nggak juga tapi...?"


"Makan!"


Lea memerintah layaknya komandan tentara yang menyuruh calon Bintara untuk segera memakan makanannya. Maka dengan satu tarikan nafas, Daniel pun mulai makan.


Rasanya memang mirip sushi. Tetapi sushi pun bukan makanan yang terlalu disukai oleh Daniel saat ini.


Dulu sebelum menikah dengan Lea ia memang terbiasa hidup sehat. Tetapi setelah menikah dan merasakan enaknya masakan sang istri, ia jadi terkontaminasi oleh micin.


Bahkan Daniel menjadi micin lovers sejak saat itu. Kini ia sudah susah untuk melepaskan semuanya. Karena sesungguhnya micin sangatlah menggoda lidah.

__ADS_1


__ADS_2