
"Mas tuh pasti stress banget ya, gara-gara ulah ayah. Sampe mas bisa panas gitu badannya."
Lea bertanya pada Daniel, sambil menyandarkan kepala di bahu pria itu. Mereka kini tengah duduk di balkon atas.
"Richard juga pasti sama kepikiran, walau perkaranya dia yang membuat. Aku sama dia, Ellio. Kita tuh sama."
"Sama maksudnya?"
"Kalau ada masalah diantara kita bertiga, siapapun penyebabnya. Kita akan kepikiran sampai kemana-mana. Sampai sakit bertiga, pernah."
"Oh ya?. Gara-gara ribut, terus kepikiran gitu?"
Daniel tertawa.
"Iya." jawabnya kemudian.
"Abis bikin perkara, ribut sampe tonjok-tonjokkan, gebuk-gebukan. Abis itu pada kepikiran, ujung-ujungnya sakit."
"Terus baikan?" tanya Lea.
"Ya, apa lagi. Aku sama mereka itu mana bisa ribut lama, pasti kepikiran dan nggak enak banget rasanya. Pernah kita bertiga berantem, sampe udah memutuskan untuk cari circle pertemanan yang lain. Tapi ujungnya tetap aja balik lagi, karena ternyata sulit untuk menemukan teman yang satu frekuensi."
"Kalian ternyata krispi di luar, lembut di dalam ya." seloroh Lea.
Lagi-lagi Daniel tertawa.
"Aku iri deh mas, sama persahabatan kalian. Kenapa kalau aku susah banget punya teman. Sekalinya punya, kadang pas berantem jadi nggak baikan lagi."
Daniel memperhatikan Lea.
"Emangnya kamu berantem sama siapa?" tanya nya kemudian.
"Vita."
"Oh ya?"
"Udah lama mas, dari waktu itu."
"Gara-gara apa?"
"Jadi gini, di SB Agency. Ternyata banyak yang sugar daddy nya zonk."
"Maksudnya nggak sesuai sama yang dijanjikan gitu?" tanya Daniel.
"Iya, dan banyak yang protes pada akhirnya."
"Protes?"
"Iya mas, dan termasuklah Vita."
"Vita emang kenapa sama sugar daddy nya?" tanya Daniel lagi.
"Menurut Vita sih, sugar daddy nya makin lama makin berubah. Dari yang awalnya nice, penyayang, tiba-tiba sekarang jadi kasar. Dan ternyata sugar daddy nya itu, udah punya sugar baby lain selain Vita."
Daniel terus memperhatikan Lea dan mendengarkan secara seksama. Ia baru tau jika Vita mengalami hal tersebut.
"Terus akhirnya, dia?"
"Ya, Vita melayangkan protes ke SB Agency. Barengan sama sugar baby lain, yang nasibnya kurang beruntung juga."
"Nah dia marah sama kamu kenapa?"
__ADS_1
"Karena aku nggak mau ikut protes."
Daniel mengerutkan keningnya, ia tidak begitu mengerti dengan apa yang diucapkan Lea barusan. Namun ia juga berusaha untuk mendengar terlebih dahulu, sebelum menyela pembicaraan.
"Kan aku nggak mengalami hal serupa kayak dia mas, kita baik-baik aja sampai saat ini. Kalau aku ikut-ikutan protes atau melapor ke pihak yang berwajib, aku takut dikira memberikan laporan palsu. Karena aku sama mas nggak bermasalah."
Kali ini Daniel menghela nafas agak panjang.
"Kamu bener sih, tapi Vita nya kasihan juga. Lagian dari awal pihak agency itu, emang kayak kurang hati-hati. Kamu aja bisa dapat papa aku yang masih punya istri."
"Iya sih, nggak tau sengaja atau gimana ya mas."
"Makanya, kayaknya mereka bohong deh. Soal semua sugar daddy yang tersedia pasti single." ujar Daniel.
"Aku juga mikirnya gitu mas. Oh ya, mas kenal baik sama sugar daddy nya Vita?. Emang dia kayak gitu atau gimana sih orangnya?"
"Aku nggak terlalu kenal sama dia. Cuma sebatas sesama pemilik perusahaan, yang sering nongkrong bareng di pesta pemilik perusahaan lainnya. Kalau secara personaliti, aku nggak banyak tau. Yang kita bicarakan kalau pas lagi ketemu ya urusan bisnis, nggak ada yang lain. Lagian ngapain juga aku nanya-nanya urusan pribadi orang, kayak emak-emak rumpi kurang kerjaan."
Lea tertawa.
"Bukannya kata Danila kuping mas itu panjang dan mas jahil banget orangnya."
"Itu beda, Le. Itu kan jaman sekolah, aku juga masih belasan tahun, masih nakal-nakalnya. Dan lagian aku bukan sengaja kepo sama hidup orang, terus cari tau dan sengaja nguping."
Daniel agak tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Nggak tau kenapa, saat itu aku sering banget nongkrong di belakang perpustakaan. Nah belakang perpus itu sepi banget, terus jauh dari ruangan mana-mana. Ternyata di tempat itu banyak yang sering curhat, sampe guru aku yang selingkuh sama guru lain, curhatnya disitu. Mereka nggak liat ada aku, aku denger semuanya. Karena aku jahil, ya ada beberapa yang aku sebarkan."
"Ih kamu mah mas."
Daniel tertawa.
"Kan itu dulu, selepas SMA aku udah nggak ember lagi."
"Jerigen." ujarnya sambil tertawa.
Lea pun ikut tertawa mendengar celotehan suaminya itu.
"Tapi iseng sama jahilnya masih kan?"
"Oh kalau itu masih, wajib." ujar Daniel kemudian.
"Ih, tuh kan." ujar Lea seraya mencubit sang suami.
"Eh jangan nyubit-nyubit."
"Abisnya mas iseng."
"Sekali lagi kamu nyubit, aku masukin bayi lagi kesini."
Daniel mengelus perut istrinya dan membuat gerakan memutar-mutar.
"Ya mana bisa lah, orang udah terbentuk. Emang toples nastar, bisa ditambahin isinya."
"Bisa dong, yang penting pelakunya aku. Aku bisa masukin banyak bayi kesini, walau kamu udah hamil. Ntar perut kamu jadi gede banget."
"Logikanya dimana coba?"
"Kan masukinnya nggak pake logika, pake ini."
Daniel mengarahkan tangan sang istri untuk menyentuh juniornya. Namun Lea langsung bereaksi dengan memukul lengan suaminya itu.
__ADS_1
"Ih mas tuh mesum banget. Udalah iseng, mesum lagi."
Kali ini Daniel terbahak.
"Kan yang penting mesumnya sama kamu doang." ujarnya kemudian.
"Janji ya mas, jangan sampe kayak sugar daddy nya Vita."
Daniel menatap Lea dengan serius, ia kembali menarik nafas yang cukup panjang. Mereka kini sudah tidak berada dalam mode bercanda lagi.
"Kita sebentar lagi punya anak, Le. Kita nggak tau anak kita laki-laki atau perempuan. Aku nggak mau kalau aku berkelakuan buruk, anak aku yang kena karmanya. Lagian juga dari dulu, setiap kali ada hubungan serius, aku nggak pernah selingkuh. Bukan aku sok paling setia, tapi aku menghargai komitmen yang sudah aku buat."
Lea kembali menyandarkan kepalanya di bahu Daniel. Setelah tadi sempat terhenti karena mereka tengah bercanda. Daniel kini menggenggam tangan Lea dengan erat. Tak lama ia pun mencium kening wanitanya itu, hingga beberapa kali.
"Kalau liat kita hari ini, rasanya aku nggak nyangka mas."
"Nggak nyangka gimana?" tanya Daniel seraya kembali mencium kening Lea.
"Ya nggak nyangka aja, mas bakalan baik banget orangnya. Bisa bercanda lagi."
Daniel tersenyum tipis.
"Inget nggak dulu, tiap ketemu di jalan kita pasti berantem."
"Ya abis kamu nyebelin." ujar Daniel.
"Mas juga sama nyebelin. Rasanya tuh ya, pengen aku kirim mas ke Afrika. Biar dimakan sama singa di sana."
Daniel terbahak.
"Aku juga rasanya pengen kirim kamu ke planet mars. Biar nggak ada lagi yang melempar dan ngotorin mobil aku dengan seblak."
Keduanya lalu tertawa-tawa, mereka ingat persis kejadian tersebut.
"Rasanya nggak mungkin ya mas, kita bakalan sedekat ini. Kalau ingat peristiwa itu."
"Itu aku dendam banget loh, Le." ujar Daniel.
Lea terus tertawa-tawa.
"Waktu itu gimana mas bersihinnya?"
"Aku suruh OB bawa ke Car Wash."
"Oh ya?"
"Iya."
"Ayah sama om Ellio ngeliat nggak?"
"Ngeliat. Orang pas aku sampe kantor, mereka langsung nyamperin."
"Terus tanggapan mereka gimana?"
"Aku di ketawain sama mereka."
"Oh ya?" tanya Lea sambil terus tertawa, ia kini membayangkan adegan tersebut.
"Iya, kan mereka berdua kadang jadi temen yang bangsat."
"Hahaha."
__ADS_1
Lea belum berhenti dari tawanya, sedang Daniel pun mengalami hal serupa. Angin bertiup cukup kencang malam itu, sedang Lea belum ingin masuk ke dalam. Maka Daniel pun memberi pelukan, agar perempuan itu merasa hangat.