Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Maksud dan Tujuan


__ADS_3

"Bujuklah mas, bapak mertuamu itu buat nikah."


Lea berkata pada Daniel ketika mereka telah kembali lagi ke kamar. Sebab Richard pun sudah pamit untuk tidur sejak beberapa saat yang lalu.


"Aku nggak enak Le, kalau di suruh mendesak-desak gitu. Pernikahan itu kan hak setiap orang, nggak bisa kita paksakan." ujar Daniel.


"Iya sih, tapi aku tuh kepikiran sama ayah mas. Di umur segitu belum ngerasain nikah dan punya anak."


"Kan anaknya udah ada, kamu sama Leo."


"Tetap aja, dia nggak merasakan melihat anaknya lahir depan mata. Dan kalau Leo, dia punya bapak sendiri loh. Suatu saat dia mungkin bakalan pergi ke bapak kandungnya dan tinggal disana. Aku juga udah berkeluarga, kita kan nggak mungkin selamanya tinggal disini. Kita punya kehidupan sendiri. Belum lagi om Ellio juga udah mau nikah bentar lagi, udah hamil pula pacarnya. Aku takut ayah nanti kesepian dan sedih. Karena teman-temannya udah punya kehidupan masing-masing."


Daniel menghela nafas lalu kini mendekat ke arah Lea, yang tengah duduk di atas tempat tidur.


"Aku ngerti kekhawatiran kamu terhadap Richard. Nanti aku coba bantu bicara ya. Siapa tau dia mau mendengarkan aku." ucap Daniel.


"Iya mas, makasih ya." jawab Lea.


"Sama-sama."


"Oh ya, kamu kalau mau ke kampus pergi aja Le. Darriel tinggal aja di rumah. Kan ada mbak ini, ASI kamu juga banyak di kulkas."


"Emang boleh mas?" tanya Lea.


"Boleh, yang penting inget Darriel aja. Kalau misalkan temen ngajak nongkrong ya silahkan, tapi inget waktu."


"Kapan aku boleh masuk lagi?"


"Ya besok kalau kamu mau."


Lea sumringah lalu detik berikutnya ia pun memeluk Daniel.


"Makasih ya mas." ujarnya kemudian.


"Sama-sama." jawab Daniel.


***


"Saudara Bianca, ada orang yang mau bertemu dengan anda."


Seorang petugas sipir rumah tahanan berkata pada mami Bianca. Perempuan yang tak banyak bicara sejak di tahan tersebut hanya menurut saja. Ia sudah tidak peduli pada siapa yang hendak datang dan pergi dari hidupnya.


Ia telah banyak di kecewakan, terutama oleh ayah Rangga. Pria itu bahkan belum pernah sekalipun mengunjungi dirinya. Padahal Bianca pernah mengandung anak mereka, dan dibelakang ayah Rangga banyak pihak yang juga terlibat serta menggunakan jasa SB Agency.


Tetapi dengan mudah mereka bebas, sedang Bianca menjadi kambing hitam serta harus kehilangan bayi dan juga rahimnya.


"Kreeek."


Pintu ruang besuk terbuka, Bianca melangkah ke sebuah kursi dan duduk disana. Ia berhadapan dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.


"Selamat siang, ibu Bianca." ucap laki-laki tersebut.

__ADS_1


Bianca hanya diam, dan membuang pandangannya ke bawah.


"Saya Candra. Saya kesini mau menawarkan bantuan, saya bisa membuat hukuman anda menjadi lebih ringan."


"Asalkan?"


Bianca bertanya langsung to the poin. Sebab bilamana ada seseorang yang menawarkan bantuan, sudah barang tentu dia akan meminta imbalan.


"Asalkan ibu Bianca mau bercerita. Apakah benar Daniel, Richard, dan Ellio merupakan pengguna jasa SB Agency?"


Bianca menatap Candra dan memperhatikannya lekat-lekat.


"Saya tidak mengetahui persis nama-nama sugar daddy yang saat itu datang. Karena mereka jumlahnya banyak. Tanya saja ke pihak kepolisian, sebab mereka mengantongi data-datanya."


Candra menatap Bianca.


"Jadi pihak kepolisian sudah mengetahui siapa saja pengguna jasa Agency anda?" tanya nya kemudian.


"Ya." jawab Bianca dengan nada datar.


"Dan anda suruhan siapa?"


Kali ini gantian Bianca yang bertanya seraya menatap Candra lekat-lekat. Sebab belakangan banyak yang datang dan menanyakan hal yang sama padanya.


Banyak dari sugar daddy yang merupakan pejabat publik. Sehingga mereka mencari tau apakah nama mereka terancam atau tidak.


Bianca sendiri sudah tidak peduli lagi. Jika ia bisa di penjara beramai-ramai, mengapa harus sendirian pikirnya. Ia tidak ingin membusuk sendirian di dalam rumah tahanan. Sedang pada sugar daddy berduit itu leha-leha di luar sana.


"Ada lagi yang mesti anda tanyakan?"


"Tidak, saya rasa cukup." ucap pria itu.


Bianca kemudian menyudahi semuanya, lalu ia dibawa kembali ke sel. Sementara pria bernama Candra itu bergegas pulang.


***


"Mas."


Lea yang telah terbaring di tempat tidur, memanggil Daniel yang juga sudah berada di tempat yang sama.


"Hmmm?" jawab Daniel sambil memperhatikan layar handphone.


"Nggak apa-apa, manggil aja." ujar Lea lagi.


Daniel lalu meletakkan handphonenya dan memeluk Lea. Sebab itulah hal yang diinginkan istrinya itu saat ini.


"Tadi kamu udah jenguk om Ellio, mas?" Lea melontarkan pertanyaan.


"Iya, ada. Mungkin beberapa hari lagi dia udah boleh pulang." jawab Daniel.


"Syukur deh kalau gitu."

__ADS_1


"Dia bilang kangen pengen liat Darriel." ucap Daniel lagi.


Lea tertawa.


"Darriel emang udah banyak mencuri perhatian orang belakangan ini. Untung cowok." ujarnya kemudian.


"Kalau anak kita cewek kenapa emangnya?" tanya Daniel penasaran.


"Males aja, ntar aku nya tersisih." jawab Lea.


Daniel tertawa.


"Cemburu nih ye, sama anak sendiri."


"Iya, kamu aja dikit-dikit Darriel. Apa-apa Darriel. Pulang kerja yang ditanyain Darriel, yang di dicari Darriel. Bangun tidur juga sama."


Daniel terus tertawa lalu mencium bibir Lea sebanyak dua kali.


"Harusnya bersyukur loh, aku inget anak." ujarnya kemudian.


"Di luar sana banyak cowok yang bahkan cuma bisa bikin anak doang. Tapi nggak mau ngurus dan cuek setelah anaknya lahir." lanjut pria itu.


"Iya sih, tapi tetap aja. Darriel tuh jadi caper kalau sama kamu."


Daniel lagi-lagi tertawa.


"Bayi umur segitu belum ngerti, Le. Apalagi caper, nggak mungkin banget." ujar Daniel seraya membelai kepala dan rambut sang istri.


"Tapi di penglihatan aku dia adalah anak yang caper. Terutama sama kamu, bapaknya."


Untuk yang kesekian kali Daniel tertawa. Kali ini suaranya membuat Darriel sedikit terusik. Sehingga bayi mereka itu pun kaget dan mengeluarkan suara seperti mengigau.


"Sssst."


Daniel menempelkan jari telunjuk di bibir. Lea tak lagi berbicara namun ia makin erat memeluk Daniel.


***


"Hueeek."


"Hueeek."


Marsha yang kebetulan menjenguk Ellio terdengar muntah di toilet ruang rawat. Beberapa saat yang lalu ia berlari ketempat itu, lantaran merasakan mual yang amat sangat.


Ellio sendiri kemudian menyusul Marsha, dan mencoba menenangkannya.


"Mual banget pak."


Marsha berkata sambil menitikkan air mata, agaknya ia mulai tersiksa dengan kehamilan ini. Hal tersebut tentu saja membuat hati Ellio seperti di tusuk benda tajam. Ia tak menyangka jika perbuatannya akan membuat Marsha merasa seperti demikian.


"Maafin saya ya, ini semua karena perbuatan saya. Kamu harus menderita kayak gini" ujar Ellio.

__ADS_1


Marsha mengangguk, wanita itu lalu mencuci muka dan berkumur. Ellio mengambil handuk kecil dan menyeka wajah kekasihnya yang basa itu.


"Istirahat dulu." ujarnya kemudian dan lagi-lagi Marsha mengangguk. Sesaat setelahnya mereka keluar dari ruangan itu.


__ADS_2