Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menegur Istri (Bonus Part)


__ADS_3

"Le, lain kali jangan gitu lagi ya."


Daniel mengingatkan istrinya meski tadi ia juga turut tertawa dengan sikap Lea saat di acara pernikahan.


Ia tetap menegur istrinya itu meski Hanif-lah yang sejatinya menyulut emosi. Saat ini mereka telah berada di jalan pulang, sebab pesta telah usai.


"Hanif itu teman aku loh, walau nggak seakrab Richard sama Ellio." lanjutnya lagi.


"Iya mas, kamu mah bela aja terus temen kamu itu. Ntar lama-lama juga kamu kayak dia." jawab Lea sambil memakan salak.


Ia tadi mengambil cukup banyak buah di meja prasmanan sebelum pulang. Marsha bilang tujuan mereka datang adalah untuk makan, maka makanlah sepuas hati.


Tak perlu mempedulikan Hanif yang mungkin tersinggung dengan sikap mereka sebelum itu. Hanif saja tak peduli istri tuanya sakit hati atau tidak dengan perbuatannya.


"Kenapa diam mas?"


Lea kini balik bertanya, bahkan terkesan seperti balik menyerang.


"Kamu di bilangin baik-baik, malah mengaum." ujar Daniel.


"Ya abis mas kayak ngebelain Hanif gitu."


"Membela gimana, Le. Tadi aja aku ketawa waktu kamu sama Marsha ngeledekin dia. Boleh nggak suka sama orang, tapi jangan ketara banget. Masalahnya aku kenal sama orang itu." ucap Daniel.


"Kalau aku nggak kenal mah, bodo amat. Nggak bakal ketemu lagi nantinya. Ini aku pasti bakal ketemu lagi karena kerjaan. Kan nggak enak jadi canggung." lanjut pria itu.


"Iya deh, maaf. Abisnya emosi mas."


Lea mulai menggunakan mode mengalah dan memasang wajah seperti hendak menangis. Daniel pun tak ingin menekan lebih lanjut.


"Mau salaknya dong." ujarnya kemudian.


Lea membuka salak baru, sebab yang barusan telah habis ia makan.


"Nih!" Lea menyuapkannya pada Daniel.


"Enak salaknya." ujar Daniel.


"Lebih enak lagi kalau dijadikan asinan ya mas?"


"Oh iya, makan asinan enak nih." Daniel tiba-tiba memiliki ide cemerlang.


Topik pembicaraan mereka pun beralih. Dari yang tadinya membahas perilaku, kini jadi membicarakan soal makanan.


"Tadi banyak makan berlemak aku. Yuk mas, cari asinan atau rujak gitu yuk. Mumpung Darriel tidur." ujar Lea.

__ADS_1


"Ya udah kamu cari lah di google dimana jualan asinan atau rujak terdekat." pinta Daniel.


Lea pun lalu meraih handphone dan membuka aplikasi google. Ia mencari dimana letak jualan asinan dan rujak terdekat. Tak lama kemudian ia mendapatkan referensi.


"Ada nih mas, asinan dan rujak juhi mpok Lela. Tersedia rujak buah segar."


"Seberapa jauh?" tanya Daniel.


"Sebentar." Lea melihat rute perjalanan.


"Nggak jauh mas, cuma tujuh menit. Ratingnya 4,9 lagi. Enak nih berarti." ujar Lea.


"Ya udah, ke arah mana itu?"


Lagi-lagi Daniel melontarkan pertanyaan. Lea lalu memperlihatkan jalur yang menuju ke sana.


"Oke." jawab Daniel.


Ia pun sedikit menaikkan kecepatan, supaya mereka segera sampai di tempat tersebut.


***


Dilain pihak.


Sama halnya seperti Daniel, Ellio pun mengingatkan istrinya. Saat ini mereka juga sudah berada di jalan pulang dan nyaris tiba di tujuan.


"Alah, bilang aja membela panutan."


Marsha berkata seraya memasang wajah kesal dan menatap layar handphone. Ia tengah membuka sebuah aplikasi disana.


"Panutan siapa?. Siapa yang menjadikan dia panutan?. Kamu itu istri aku, wajar dong aku ngomong kayak gini." ujar Ellio lagi.


"Aku nggak enak, nanti kalau ketemu Hanif lagi pasti canggung jadinya." lanjut pria itu.


"Ya abisnya dia ngomong kayak gitu, siapa yang nggak emosi coba?. Kalau dia nggak mau disinggung orang, ya jangan menyinggung. Emang di dunia ini cuma Hanif yang bisa tersinggung?. Aku sama Lea nggak gitu?. Ngebahas tiga bini di depan aku sama Lea. Kalau dia mau punya bini selusin itu hak dia, nggak usah ngajak-ngajak orang lain."


Ellio tak bisa lagi berkata apa-apa. Ia memilih diam, agar tak terjadi keributan lebih lanjut. Lagipula tadi memang Hanif yang memancing emosi istrinya duluan.


Kenapa juga harus membanggakan memiliki istri tiga di depan istri teman yang sedang hamil. Satunya lagi masih muda belia. Wajar keduanya jadi emosi.


Untung tak terjadi perang maki-memaki serta merobohkan tenda. Mengingat emosi yang dikeluarkan baik Marsha maupun Lea sangatlah besar.


***


Lea dan Daniel makan asinan di mobil, dengan kaca pintu yang sengaja dibuka. Mereka memesan satu asinan buah dan satu lagi asinan sayuran. Satunya lagi ada rujak Juhi yang dilengkapi kerupuk kuning.

__ADS_1


"Hmm, seger banget ya mas." ujar Lea seraya melahap asinan sayuran.


"Iya, asinan buahnya juga enak nih." ujar Daniel.


"Ini rujak juhi enak tau mas."


"Aku belum pernah coba." tukas Daniel lagi.


"Ya udah cobain gih!"


Daniel meletakkan asinan buahnya di dashboard, lalu mencoba rujak yang jualannya sudah cukup langka tersebut.


"Oh waw." ujar Daniel saat mendapat suapan pertama.


"Enak?" tanya Lea.


"Enak, aku suka." jawab pria itu sambil terus makan.


"Nih." Ia menyuapi Lea.


"Hekheee."


Tiba-tiba Darriel bangun dan menangis di belakang. Mungkin panas karena AC mobil dimatikan.


"Iya sayang, kenapa."


Lea menghentikan segala aktivitas makan, lalu mengambil Darriel. Bayi itu kini pindah di depan dan tampak gusar sambil mengucek matanya. Terlihat jelas jika saat ini dirinya masih mengantuk berat.


"Masih ngantuk ya nak?" tanya Daniel.


"Hekheee." Ia kembali menangis.


"Pipis nggak, Le?" tanya Lea.


"Nggak mas." jawab Lea setelah memeriksa popok anaknya.


"Hekheee."


"Ya udah, mik aja ya." ujar Lea.


Ia lalu memberikan ASI nya pada bayi itu hingga kini Darriel berangsur tenang dan kembali meredup matanya. Tak lama ia pun kembali tertidur.


"Kita sambil jalan pulang aja ya, lanjut makan dirumah."


Daniel menutup semua cup makanan yang tadi mereka buka.

__ADS_1


"Iya mas." jawab Lea.


Mereka pun akhirnya pulang, setelah meletakkan kembali Darriel ke car seat belakang. Kebetulan tak perlu menunggu waktu yang lama agar bayi itu kembali terlelap.


__ADS_2