Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Keinginan Lea


__ADS_3

Kemacetan telah berakhir, kini mereka kembali berjalan.


"Mas, pengen berenang deh." ujar Lea.


"Mau ke rumah aku yang satunya?. Kan ada kolam renang disitu."


"Maunya kolam renang yang di rooftop gitu, atau minimal di tempat yang tinggi. Yang view nya bisa liat pemandangan alam atau kota." ujar Lea lagi.


Daniel diam dan berfikir.


"Aku tau tempatnya." tukasnya kemudian.


Pria itu kemudian memutar arah, tampak ia menelpon seseorang beberapa kali. Sesampainya ke tempat yang dimaksud, Lea amat sangat terkejut. Pasalnya sang suami mengajak ia ke sebuah apartemen super mewah, yang memiliki kolam renang pribadi di bagian balkonnya. Apartemen itu berada di lantai 33.


"Mas, ini tempat bagus banget. Punya siapa ini?"


Lea masih tercengang menatap sekitar, ia benar-benar tak menyangka ada tempat seperti ini.


"Waw." Ia mengagumi kota dari balkon.


Sementara Daniel pergi ke dalam salah satu kamar, untuk melepas pakaiannya. Sesaat kemudian ia kembali ke luar dan menceburkan diri ke kolam.


"Pengen berenang, tapi nggak bawa dalaman." ujar Lea.


"Lepas aja semuanya, orang cuma kita berdua." ujar Daniel.


"Ntar malah basi mas, nggak bikin kamu penasaran lagi." Lea berkata sambil tertawa.


"Halah, udah aku pegang-pegang, udah aku masukin juga koq. Kamu mau buat aku penasaran gimana lagi?. Lagian di dalam ada pengering pakaian, kalau kamu mau pake daleman aja."


"Oh ya?"


"Iya, ada di dalam."


Lea nyengir, ia lalu masuk ke dalam dan melucuti pakaiannya. Hingga tersisa dalaman saja. Setelah itu ia ikut menceburkan diri ke kolam renang bersama sang suami.


"Uh seger." ujarnya kemudian. Ia lalu berenang kesana-kemari.


"Ini tempat siapa sih mas?" tanya Lea masih penasaran.


"Bukan tempat siapa-siapa, emang di sewakan."


"Anjir, berapa nih sehari?"


Daniel tersenyum.


"Lima puluh juta." ujarnya kemudian.


"Hah, sehari doang 50 juta?"


"Iya, ini masih termasuk murah loh. Ada yang lebih mahal dari ini."


"Mahal tau mas, ini. Kalau gitu tadi mending ke rumah kamu aja berenangnya, uangnya buat aku. Kan lumayan tuh, buat aku modalin usaha apa kek."


Daniel tertawa lalu mendekat ke arah Lea.


"Tadi katanya mau kolam renang di tempat tinggi, yang view nya bisa menghadap pemandangan alam atau kota."

__ADS_1


"Iya, aku pikir nggak semahal itu." ujar Lea.


"Udalah ngapain di sesalin, nikmatin aja." balas Daniel lalu berenang.


Lea tersenyum.


"Iya sih." timpalnya lalu ikut berenang.


"Emangnya kamu kalau punya modal, mau usaha apa?"


Daniel mengusap kepala dan wajahnya sambil bertanya pada Lea. Ia kini bersandar pada pinggiran kolam.


"Mmm, pengen bisnis skincare deh mas." ujar Lea. Perempuan itu kini masih terapung di atas air.


"Bagus juga." jawab Daniel.


"Bukan bagus juga, emang bagus banget. Sekarang itu semua cewek nggak ada yang nggak beli skincare. Dan bisnis skincare itu nggak ada matinya." ujar Lea lagi.


"Ok, aku bisa modalin tapi sistemnya pinjam."


"Hah, pelit amat dipinjemin doang."


Lea berseloroh seraya menatap sang suami, sementara Daniel kini tertawa. Lea memang terlalu ceplas-ceplos dalam bicara. Untung saja Daniel bukan seumur dengan perempuan itu. Jika seumur, mungkin mereka sudah bertengkar karena sering tersinggung.


"Bukan pelit, wahai ikan Lele. Dalam bisnis itu harus ada tantangannya. Misalkan kamu, aku kasih modal cuma-cuma. Kamu akan cenderung kurang hati-hati dan bisa jadi kurang fokus terhadap bisnis yang kamu jalani. Karena kamu ngerasa ada yang modalin, rugi juga nggak apa-apa, tinggal minta lagi."


Lea agak mulai berfikir.


"Kalau kamu aku kasih pinjam modalnya, kamu punya tanggung jawab. Gimana caranya modal itu bisa balik, kamu juga dapat untung, sekaligus dapat modal juga dari keuntungan kamu itu."


Lea menatap sang suami, agaknya ia mulai membenarkan pernyataan pria itu.


"Iya sih, jadi kayak tantangan juga buat aku. Bisa nggak mengelola modal dari mas."


"Nah itu dia maksudnya, bukan perkara aku pelit. Tapi bisnis emang harus gitu."


Lea mengangguk-anggukan kepalanya.


"Pokoknya kamu pikirkan dan pelajari benar-benar, bisnis apa yang bakalan kamu tekuni. Kalau udah, bilang ke aku butuh modal berapa."


Lea kini tersenyum.


"Ok deh mas." ujarnya kemudian.


Ia lalu berenang kesana-kemari. Cukup lama keduanya berada di kolam tersebut, hingga kebersamaan diakhiri dengan ciuman panas. Daniel mengajak istrinya bercinta di sana. Sampai keduanya sama-sama berteriak, karena sama-sama merasakan kenikmatan yang diiringi kepuasan.


***


"Kandungannya baik, tekanan darah ibu juga stabil."


Dokter menjelaskan kondisi Lea dan kandungannya. Daniel lega mendengar semua itu, karena hal tersebutlah yang ingin ia dengar.


Dokter kemudian menjelaskan lebih lanjut, termasuk menjawab berbagai pertanyaan Daniel. Dia merupakan suami yang cukup aktif, untuk tahu banyak mengenai kondisi istrinya.


Lea itu masih terlalu muda, tak banyak yang ia khawatirkan seputar kehamilannya. Pikirannya belum seperti Daniel, yang bahkan sampai bisa memikirkan hal-hal kecil.


Lagipula, Daniel merasa dirinya adalah pelindung bagi istri dan anak mereka. Maka dari itu ia ingin mengetahui banyak hal, agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

__ADS_1


"Sumringah banget bapak." ujar Lea meledek suaminya, ketika mereka telah keluar dari ruang pemeriksaan.


"Iya dong, aku seneng sama hasil pemeriksaan hari ini. Dia tumbuh semakin baik." ujar Daniel seraya memberi usapan pada perut sang istri. Mereka kemudian berjalan perlahan, menuju ke halaman parkir.


"Mas kayaknya udah nggak sabar banget pengen ketemu dia." ujar Lea lagi.


"Iya, pengen liat mukanya dia mirip siapa." ujar Daniel lalu tersenyum.


"Iya mas yang seneng, aku yang repot nanti. Mana kuliah juga, ngurus anak."


"Hei, koq ngomongnya gitu sih. Kan ada aku."


Lea menatap sang suami, laki-laki itu menatapnya dengan lembut. Seakan ia sangat mengerti jika Lea masih remaja dan masih sangat egois terhadap apa saja.


Seberapa pun selama ini Lea selalu berusaha untuk jadi dewasa, dalam segala hal. Ia tetap tidak bisa mengingkari darah mudanya yang masih berapi-api.


"Aku nggak akan biarin kamu ngurus anak sendirian, Lea. Kalau kamu lagi nggak mau ngurus dia, ntar aku bawa ke kantor."


"Janji ya mas, jangan ngomong doang."


Daniel tertawa.


"Kapan sih selama ini aku ngomong doang?. Hmm?"


"Nggak pernah sih, pasti dilakukan." ujar Lea.


Mereka kini sudah dekat dengan mobil. Namun kemudian mata Lea menangkap seseorang di suatu arah.


"Itu kan papanya Rangga?"


Lea bergumam dalam hati, sambil memperhatikan sosok tersebut.


"Dan ngapain dia sama mami Bianca?"


Mata Lea melihat pemilik SB Agency tersebut ada disisi ayahnya Rangga. Dan yang membuat ia lebih terkejut lagi, tampak wanita itu mengenakan baju hamil dengan perut yang sedikit membuncit.


"Hah?"


Lea menutup mulutnya, ia benar-benar terkejut kali ini.


"Kenapa Lea?" tanya Daniel heran, ia mengikuti arah pandangan mata istrinya tersebut.


"A, anu mas. I, itu.". Lea sangat gugup dan gelagapan.


"Itu siapa?" tanya Daniel kemudian.


"Itu pemilik SB Agency, inget nggak mas?"


Daniel mencoba mengingat.


"Oh ya siapa, Bianca ya." ujar Daniel kemudian.


"Iya mas, itu sebelahnya papanya Rangga mantan aku yang pernah ketemu sama mas."


Daniel melihat ke arah mereka, ia juga melihat perut Bianca yang sedikit membuncit karena hamil.


"Udah, itu bukan urusan kita. Masuk mobil yuk...!" ujar Daniel kemudian.

__ADS_1


Lea mengangguk dan mengikuti arahan sang suami. Meski ia masih syok dengan apa yang ia lihat.


__ADS_2