Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
The Bodyguard


__ADS_3

Di sebuah pertokoan, di hari sebelum Lea dan Daniel menghabiskan waktunya dengan bernyanyi romantis di balkon.


Saat itu Nina tengah memilah-milah baju hamil. Entah karena bayinya memang cepat tumbuh, atau air ketubannya yang memang cukup banyak. Hingga menyebabkan perutnya kian membuncit dan tak ada lagi celana jeans yang bisa ia pakai.


Bisa jika dipaksakan, namun Nina tak begitu menyukai pakaian yang sesak. Jeansnya saja sudah ketat, ditambah perutnya yang membesar. Praktis semua akan terasa begitu begah dan menyiksa saat dipakai. Ia butuh pakaian yang longgar saat ini.


Nina terus memilah-milah, namun kemudian matanya tertuju ke suatu arah. Tepatnya pada sebuah butik, di seberang tempat dimana kini ia berdiri. Lewat kaca besar display, ia bisa melihat sesosok pria yang mirip seperti suaminya ditempat itu.


"Degh."


Batin Nina bergemuruh, ia terus memperhatikan pria tersebut. Ia tampak sedang melihat ke dalam butik, dengan didampingi oleh seorang perempuan.


Karena di dorong oleh rasa penasaran, Nina pun segera keluar dari toko baju dan berusaha menyeberang. Namun banyaknya kendaraan yang melintas, menjadikan penyeberangannya agak sedikit terhambat.


Pria yang mirip dengan suaminya itu akhirnya keburu menghilang, bersama si perempuan. Ditelan oleh keramaian orang yang lalu-lalang.


***


Di hari yang sama, ditempat lain. Grace membawa puterinya Danisha, yang masih bayi ke sebuah kafe. Di sana ia bertemu dengan Maura sahabatnya.


"Gue nyesel nggak bersabar nunggu Daniel." ujar Grace pada Maura, ketika telah beberapa saat mereka berbasa-basi.


"Buktinya dia sekarang bisa berubah, dan gue dengar istrinya lagi hamil." lanjutnya kemudian.


"Serius?" tanya Maura pada Grace.


Sejak tadi ia terus mendengarkan curahan hati sahabatnya itu. Grace baru merasakan tak enaknya sekarang. Belakangan ia sering bertengkar dengan Edmund, lantaran Edmund terindikasi memiliki wanita idaman lain selain Grace.


"Serius, Daniel sekarang udah beda banget sejak sama perempuan itu." ujar Grace lagi.


Kali ini Maura menghela nafas.


"Kan waktu itu lo udah gue bilangin, Grace. Lo masih punya waktu buat batalin pernikahan lo. Bukan apa-apa, dia itu ayahnya Daniel dan Daniel itu mantan lo. Kalau suatu saat terjadi apa-apa sama pernikahan lo, lo akan ngerasa nggak enak sama Daniel. Terutama kalau lo pengen balik lagi sama dia. Sekarang terbukti kan omongan gue, lo malah di sia-siakan sama laki lo yang udah tua bangka itu. Mau balik ke Daniel juga udah nggak enak, lo udah jadi emak tirinya dia, punya anak juga dari bapaknya."


Maura berbicara panjang lebar, sementara kini Grace tertunduk diam. Yang ada di benaknya kini hanyalah Daniel. Pria itu boleh saja keras memegang prinsip hidupnya selama ini. Namun pastinya ia bukanlah laki-laki yang akan tega menyakiti Grace, apabila hubungan mereka berlanjut. Tidak seperti apa yang dilakukan ayah pria itu padanya.


Kini sebait sesal datang begitu terlambat, disaat semuanya sudah sulit untuk diperbaiki.


***


"Praaang."


Sebuah gelas dan piring di lempar Rangga dari meja makan ke lantai. Saat sang ayah yang katanya dari luar negri, baru saja tiba.


"Siapa orangnya, pi. Siapa perempuan yang jadi simpanan papi?"


Pemuda itu berteriak di muka ayahnya, dengan penuh emosi.


"Kamu jangan pernah membentak orang tua ya, Rangga. Kamu pikir kamu siapa, kamu itu masih tinggal di rumah papi."


"Kenapa papi mengkhianati mami?"


Rangga kembali berteriak dan masih penuh dengan kemarahan.


"Mami sekarang di rumah sakit jiwa, gara-gara kelakuan papi."

__ADS_1


Sang ayah terkejut, namun ia tak berbuat banyak untuk membela diri. Tampaknya ia sudah lama bersiap, jika affairnya suatu saat akan ketahuan.


"Papi nggak bisa meninggalkan perempuan itu, Rangga."


"Why?" Lagi-lagi Rangga berteriak.


"Dia sedang hamil."


Petir mendadak terasa menggelegar di langit hari itu, padahal sejatinya tak ada satu awan gelap pun yang menyelimuti. Dengan cepat darah Rangga naik ke ubun-ubun. Karena gelap mata ia pun menarik kerah baju ayahnya itu dan,


"Brengsek."


"Buuuk."


"Buuuk."


Rangga memukul ayahnya, sang ayah bergerak dan mencoba melawan. Namun Rangga lagi-lagi menghujamkan pukulan demi pukulan. Hatinya begitu sakit, bukan hanya sang ibu yang di khianati tapi juga dirinya.


Selama ini ayahnya selalu memaksa dirinya untuk menjadi anak yang penurut dalam segala hal. Namun sang ayah kini telah mengecewakannya.


"Buuuk."


"Buuuk."


Para penjaga, dan asisten rumah tangga mulai berlarian dan mencoba memisahkan mereka. Rangga memberontak, ia terus memukuli sang ayah. Meski kini ayahnya tersebut sudah bisa berdiri dan membalas perlakuan puteranya.


"Buuuk."


"Buuuk."


Meskipun sang ibu sering bersikap jahat terhadap orang lain, namun bagi Rangga ibu tetaplah ibu. Ia akan sangat marah ketika ibunya di sakiti dan dikhianati.


Karena sejatinya pernikahan itu adalah sebuah komitmen. Jika tidak bisa lagi memegang komitmen, maka berpisah lah dengan cara yang benar. Bukan dengan berselingkuh atau bengkhianat. Apapun alasan yang melatarbelakangi, perselingkuhan dan pengkhianatan tetap merupakan sesuatu yang hina dan menjijikkan baginya.


***


Kembali ke hari dimana Lea telah melalui malam romantisnya bersama Daniel. Pagi itu ia bangun dengan penuh energi, meski Daniel sudah tak ada lagi di sampingnya. Karena pria itu kini berada di dalam kamar mandi.


Lea bergegas turun kebawah, untuk mencuci muka, menggosok gigi dan membuat sarapan pagi untuk mereka.


Setelah beberapa saat berlalu, sarapan pun siap. Daniel turun dengan buru-buru dari ruangannya.


"Le, kamu bikin sarapan apa?" tanya Daniel.


"Ini ada sandwich mas."


"Oh ok."


Daniel mengambil kotak bekal dan memasukkan sarapannya kesana.


"Mas, nggak makan disini dulu?"


"Udah nggak sempat, bentar lagi rapat mulai. Maaf ya nggak bisa nemenin." ujarnya lalu membawa kotak bekal itu.


Tak ketinggalan ia mencium kening serta perut Lea sebelum berangkat.

__ADS_1


"Papa pergi ya sayang, baik-baik di perut mama. Jangan bikin muntah." ujarnya seraya memberikan usapan di sana.


"Aku pergi ya sayang."


Daniel kembali mencium kening sang istri.


"Hati-hati mas, jangan terlalu ngebut di jalan."


"Iya, bye."


"Bye."


Daniel menghilang di balik pintu lift, sedang Lea kini sarapan sendirian sambil menscroll sosial media. Usai membereskan dan membersihkan rumah, perempuan itu segera mandi. Selang setengah jam kemudian, ia pun turun untuk berangkat ke kampus.


"Selamat pagi ibu Lea."


Dua orang bertubuh tinggi besar menghampiri Lea, yang baru saja keluar dari pintu lobi.


"Se, selamat siang." ujar Lea dengan nada bingung. Ia memperhatikan kedua orang tersebut.


"Kami ditugaskan pak Daniel untuk jaga ibu, selama di kampus dan kemanapun ibu pergi."


"Hah?"


"Silahkan bu...!"


Salah satu dari pria bertubuh tinggi besar itu mempersilahkan Lea, pada sebuah mobil yang baru saja terparkir. Lea tau jika itu adalah mobil Daniel, karena Daniel pun sering menggunakannya bersama sang istri.


"Tunggu pak." ujarnya kemudian.


Lea mengambil handphone dan mencari nomor Daniel dengan kesal.


"Hallo mas." ujarnya ketika panggilan telah tersambung.


"Iya Le, kenapa?" Suara Daniel tampak terburu-buru di seberang, karena sejatinya memang ia sudah akan masuk ke ruangan rapat.


"Mas ini apa-apaan sih, iseng banget sewain bodyguard segala buat aku."


"Le, aku nggak iseng. Aku serius soal ini."


"Maksudnya?"


"Kamu lagi hamil, dan aku belum percaya Richard 100%. Aku takut kamu akan diambil lagi sama dia, mana tau dia mendadak berubah pikiran. Jadi dua orang itu akan jaga kamu, selama aku nggak bisa jagain kamu."


"Kamu mah nyebelin deh mas, ah."


"Aku udah mau rapat. Kalau mau ribut ntar aja di rumah, ok?"


"Tapi mas."


"Bye Lea."


Daniel menyudahi telponnya, kini tinggallah Lea dalam kedongkolan yang super besar.


"Nyebelin anjay laki gue." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Ia pun segera masuk ke dalam mobil, duduk di belakang supir. Sedang dua bodyguardnya baik moge dan mengiring di belakang.


__ADS_2