
Lea menjenguk Reynald dirumah sakit. Ia ditemani oleh Vita dan Nina yang juga merupakan teman lama Arsen.
"Aw."
Lea tiba-tiba meringis memegangi perutnya. Disaat mereka belum lagi sampai ke kamar tempat dimana Reynald dirawat.
"Le, lo kenapa?" tanya Vita dan Nina khawatir.
"Nggak tau sakit tiba-tiba." ujar Lea.
"Duduk dulu!"
Vita dan Nina membawa Lea untuk duduk di kursi ruang tunggu, sebuah koridor bangsal. Lea lalu duduk dan memegangi perutnya.
"Harusnya tadi lo nggak ikut, Le " ujar Nina.
"Iya, mana lo bentar lagi berojol." timpal Vita.
"Ssshhh, aduh. Lea masih meringis."
"Tuh kan, ke IGD aja ya?" ujar Vita makin cemas.
"Iya, Le." timpal Nina tak kalah cemasnya.
Keduanya masih tampak begitu khawatir.
"Nggak usah deh, emang udah sering kontraksi begini koq." jawab Lea.
"Yakin, ntar kenapa-kenapa loh?" ujar Nina lagi.
"Iya nggak apa-apa." jawab Lea.
"Gue cuma butuh istirahat bentar aja." lanjutnya kemudian.
"Ya udah, kita tungguin deh. Mau minum nggak?" tanya Vita.
"Nggak usah Vit, ntar aja." jawab Lea.
"Ok deh."
Vita lalu ikut duduk disisi Lea, begitupula dengan Nina. Mereka kini fokus mengawasi Lea, dan berharap tidak akan terjadi apa-apa terhadap teman mereka itu.
"Jangan kasih tau mas Dan ya. Ntar gue nggak disuruh kemana-mana lagi." ujar Lea.
"Ya kalau parah, harus kasih tau lah Le. Ntar ada apa-apa, gue sama Nina lagi yang ketempuhan." ujar Vita.
"Bener, Le. Kalau ada apa-apa ntar laki lo marah sama kita berdua. Ntar kita nggak disuruh main sama lo lagi." timpal Nina.
__ADS_1
"Iya, kalau parah gue pasti bilang. Ini biasa aja soalnya. Kalau diadukan pasti mas Dan bakalan heboh. Akhir-akhir ini dia agak lebay dalam memproteksi gue." ujar Lea.
"Iya deh, kita nggak bilang koq." tukas Vita.
"Tapi lo beneran nggak apa-apa kan?" tanya gadis itu lagi.
"Kagak, beneran. Ini udah aman sih, mendingan." jawab Lea.
"Ok deh." Nina dan Vita berujar di waktu yang nyaris bersamaan.
Setelah duduk cukup lama, Lea lalu berdiri. Ia meyakinkan Vita dan Nina jika dirinya sudah baik-baik saja. Kemudian ketiga perempuan itu melangkah menuju ke kamar tempat dimana Reynald di rawat.
Namun lagi-lagi langkah mereka terhenti. Karena ketika pintu ruang rawat itu terbuka sedikit, Lea, Vita, dan Nina dapat menyaksikan Arsen yang tengah marah pada Reynald.
"Kan Arsen udah bilang, hati-hati. Papa geraknya tuh jangan kebanyakan dulu. Itu luka belum sembuh, baru kemaren kejadian. Kalau mau apa-apa itu tunggu Arsen dulu. Orang Arsen juga paling jauh ke depan, beli minum."
"Kamu bawel banget sih, marah mulu dari tadi."
Reynald yang selama beberapa waktu belakangan ini sangat mengharap perhatian dari anaknya itu. Kini setelah ia mendapatkan semuanya, ia kesal sendiri. Karena ternyata Arsen sama galak seperti dirinya.
"Cobalah papa dengerin Arsen, orang buat papa juga. Jangan selalu mikir kalau apa-apa itu cuma papa yang berhak ambil keputusan. Nggak bener."
Arsen menatap Reynald dan Reynald benar-benar melihat fotocopyan dirinya di depan mata.
"Iya, papa minta maaf." ujarnya kemudian.
Arsen menghela nafas dan memejamkan sejenak matanya.
Arsen berkata dengan nada yang begitu serius sekaligus sedih. Kini pandangan mata anak itu tertuju ke lantai. Dari pintu Lea, Vita, dan Nina bisa menyaksikan semua itu. Namun mereka belum mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Mengenai mengapa Arsen menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Reynald.
"Udahlah, nggak usah menyalahkan diri sendiri kayak gitu. Tugas seorang ayah itu ya melindungi anaknya. Seberapapun salahnya kamu, seberapapun usia kamu. Papa nggak akan rela kalau ada orang yang menyakiti kamu."
Arsen makin terdiam, Reynald menepuk bahu anaknya itu. Tak lama Lea dan kedua temannya pun masuk.
"Hai om." sapa Lea.
Reynald dan Arsen terkejut, namun kemudian keduanya sama-sama tersenyum dan menyambut kedatangan ketiga perempuan itu.
"Om gimana?" tanya Lea seraya memeluk Reynald yang tengah terbaring. Reynald membalas pelukan tersebut.
"Om baik, Lea. Daniel mana?"
"Mas Dan masih kerja, tapi nanti dia mau kesini bareng ayah sama om Ellio."
Reynald mengangguk, Lea meletakkan apa yang ia bawa ke atas meja di samping tempat tidur Reynald.
"Lo baik-baik aja kan?" Vita bertanya pada Arsen diikuti tatapan Nina.
__ADS_1
"Iya, gue baik-baik aja." jawab Arsen.
"Om kita lupa kalau orang kena luka tusuk di bagian perut itu, belum boleh makan sampai beberapa hari." ujar Nina.
"Kita bawainnya makanan buat orang yang sakit biasa." lanjut perempuan itu.
Reynald tertawa, begitupun dengan Arsen. Untuk pertama kali dalam hidupnya Reynald melihat Arsen tertawa.
"Nggak apa-apa, biar Arsen sama kalian aja yang makan." ujar Reynald.
Lea lalu berbicara dengan Reynald. Sementara Arsen, Vita dan Nina mengobrol di sofa yang tersedia tak jauh dari sana.
***
"Jadi menurut lo, lo itu diserang oleh orang yang ngasih ancaman itu?"
Vita bertanya pada Arsen, ketika akhirnya Reynald tertidur dan mereka pindah mengobrol di kantin rumah sakit. Sebab takut mengganggu istirahat Reynald bila mereka masih berada di dalam.
Lea pun disuruh oleh Vita dan Nina untuk beristirahat dan tiduran di sofa dekat Reynald, sambil menunggu kedatangan Daniel.
"Iya, gue sih mikirnya ke arah sana." ujar Arsen.
"Lo tau kan, di lembaga itu ketua pelaksananya gue. Apapun yang dilakukan para anggota, itu pasti melibatkan gue. Gue juga lah termasuk salah satu yang mengedukasi para korban. Gue, Dewa, Glen, Tia, Mira, sama Yuni kan yang vokal banget menyuarakan anti kekerasan terhadap anak dan perempuan. Dan gue yang dapat followers paling banyak di sosmed. otomatis gue yang kesorot lebih banyak juga." lanjutnya lagi.
"Iya sih, orang jadinya ngira kalau lembaga itu punya lo. Padahal pendiri awalnya pak Stuart sama bu Melly." ujar Vita.
"Tapi lo udah laporkan ini ke polisi?" tanya Nina.
"Kata om Richard biar dia dulu yang ngurus. Masalah gimana-gimananya nanti, gue ngikutin dia aja." jawab Arsen.
"Sebenernya emang bahaya banget sih, Sen. Karena masih banyak pihak yang mendukung hal tersebut." ujar Vita lagi.
"Iya, tapi kalau kita berhenti sama aja kita kalah." jawab Arsen.
"Masa kita menyerah gitu aja." lanjutnya kemudian.
"Iya sih." jawab Vita.
"Gue bisa aja nggak peduli Vit, bodo amat. Toh yang jadi korban kekerasan bukan adek gue, bukan kakak atau keluarga gue. Bukan anak gue juga, ngapain gue peduli. Tapi ini legacy buat generasi selanjutnya. Semisal gue nanti punya anak perempuan. Atau elo, Nina, Lea dan yang lainnya. Kalian semua punya anak perempuan. Setidaknya lembaga ini bisa menaungi kalau terjadi kekerasan terhadap mereka. Gue nggak mau hidup cuma hidup, gue mau bermanfaat untuk sesama dengan cara gue."
Vita dan Nina memperhatikan Arsen.
"Dan lo berdua udah tau kan, gue ini sakit?"
Vita dan Nina tak menjawab, namun masih terus memperhatikan Arsen.
"Kita nggak tau, entah besok atau lusa. Tiba-tiba gue entah mengalami kecelakaan atau apapun itu, yang membuat darah gue nggak bisa berhenti. Terus gue mati misalnya. Gue pengen ada yang gue perbuat dan tinggalkan di dunia. Sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, cuma itu."
__ADS_1
Vita dan Nina menghela nafas dan saling menatap satu sama lain. Mereka kemudian mengangguk-anggukan kepala. Mereka kini paham alasan Arsen selama ini.
Mengapa ia mau bergabung di lembaga itu dan menjembatani banyak perempuan untuk membebaskan diri mereka dari kekerasan dalam bentuk apapun.