
Lea di jenguk oleh ibunya, dan tentu saja ia kena marah. Sebab bagaimana pun pandainya ia menutupi dari Daniel, sang ibu yang pernah hamil tak bisa dibohongi.
"Pasti kamu kebanyakan pecicilan nih. Sana-sini, sana-sini, iya kan?." ujar sang ibu pada Lea.
Daniel diam saja saat istrinya di omeli oleh sang ibu mertua. Malah ia kelihatan sangat mendukung. Sebab bila ia yang berkata seperti itu pada Lea. Sudah barang tentu Lea akan menggunakan powernya sebagai seorang istri yang tengah hamil.
Mengeluarkan senjata andalan yakni menangis dan merajuk. Padahal Daniel hanya ingin memberi nasehat, tapi ujungnya malah ia yang akan minta maaf. Akibat paus biru yang pandai melakukan playing victim.
Tapi kini Lea tak bisa berkutik. Pasalnya sang ibu membeberkan segala kesalahan yang seharusnya tak boleh dilakukan menjelang persalinan.
"Iya bu, aku salah. Aku minta maaf, janji nggak lagi."
"Ibu bukan apa-apa Lea, takutnya kamu itu berojol dijalan. Kasian anak kamu nanti, lahir ditempat yang nggak steril."
"Iya-iya." jawab Lea seraya sedikit menundukkan pandangannya.
"Jangan iya-iya doang kamu."
"Iya bu."
Richard yang sejak tadi hanya diam, kini melirik pada Daniel. Mereka berdua nyaris tertawa namun berusaha keras menahan hal tersebut.
Dimana-mana seorang ibu itu selalu sama. Mereka sangat doyan mengoceh, namun terkadang semua yang yang mereka katakan itu ada benarnya.
"Dengerin tuh ibu kamu." ujar Richard menengahi.
"Ayah mah ngomporin." ujar Lea sewot.
Daniel beralih melihat kepada Ellio, yang sejak tadi sudah berpaling ke arah lain karena tertawa.
"Ayah kamu itu tau mana yang bener dan salah." Sang ibu membela Richard.
"Cie-cie saling belain, CLKB gih." ujar Lea
Maka wajah sang ibu pun kini bersemu merah. Sementara Richard hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya itu.
"Selamat sore."
Terdengar suara pintu terbuka diikuti suara seseorang. Lea, Daniel, Richard, Ellio serta ibu Lea pun kaget. Ternyata ibu Richard yang datang, namun ia tak sendirian melainkan bersama Maryam.
Daniel dan Ellio saling menatap satu sama lain. Keduanya kini kompak menahan tawa. Sementara Richard wajahnya seperti ingin segera kabur.
"Hai Lea."
Sang nenek memeluk dan mencium Lea. Lalu memeluk dan mencium ibu Lea. Maryam sendiri juga melakukan hal yang sama pada Lea. Namun ia hanya tersenyum pada ibu Lea lantaran tidak kenal.
__ADS_1
"Maryam, ini ibunya Lea."
Ibu Richard memperkenalkan ibu Lea dengan Maryam dan begitu pula sebaliknya. Seketika suasana berubah menjadi super canggung. Maryam merasa sedikit cemburu pada ibu Lea, dan ibu Lea merasakan hal yang sama.
Sebab ibu Lea telah mendengar dari sang anak, jika Richard baru-baru ini di jodohkan oleh orang tuanya. Sementara Maryam sendiri sudah mendengar kisah Richard secara lengkap. Mengenai bagaimana dirinya bisa memiliki seorang anak.
Wajah Richard kini sudah mirip seperti udang rebus. Ellio dan Daniel tertawa-tawa sejak tadi meski tanpa suara.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya sang nenek pada Lea."
"Baik-baik aja, Oma." jawab Lea.
"Syukurlah kalau begitu, oma sudah sangat takut sekali. Takut kalau kamu dan bayi kamu kenapa-kenapa."
Lea tersenyum.
"Nggak oma, untungnya kami baik-baik saja." ujar Lea lagi.
Daniel dan Ellio memilih keluar, agar suasana di dalam tidak terlalu ramai. Richard sendiri tak enak untuk menyusul Daniel dan Ellio. Sebab Lea adalah anaknya, dan yang saat ini masih berada di dalam adalah orang-orang yang terhubung dengannya.
"Richard dari dulu emang nggak pernah jauh dari cewek-cewek yak." ujar Ellio.
"Emang tipikal dia begitu kan, banyak yang mau." timpal Daniel.
"Inget nggak sih dulu waktu SMA. Sebelum dia ketemu sama Cassandra. Cewek-cewek pada jambak-jambakan rambut, perkara ngerebutin dia doang."
"Richard tuh paling laku diantara kita bertiga, dia sikapnya paling di sukai sama cewek-cewek. Baik hati, manis, suka menolong. Beda sama gue, sama lo. Yang pengen di basmi dan di musnahkan sama cewek-cewek." ujar Daniel.
Mereka pun kembali tertawa-tawa, sampai kemudian.
"Mas Dan, pak Ellio."
Tiba-tiba Dian muncul, sontak Daniel dan Ellio pun terkejut.
"Dian?" ujar Ellio masih dengan wajah super kaget.
"Lea nya di dalam sini kan?" tanya Dian seraya menunjuk ruang tempat dimana Lea di rawat.
"Mmm..." Ellio menoleh pada Daniel, sementara pria itu pun tampak serba salah.
"Aaa, iya. Lea ada di dalam." ujar Daniel.
"Dan."
Tiba-tiba Richard keluar dan mendapati Dian. Ia terkejut, dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali berdiri mematung.
__ADS_1
"Dad, aku mau liat Lea." ujar Dian.
"Mmm."
Richard ragu, sebab di dalam masih ada ibu Lea dan juga Maryam. Tak lama ibu Richard beserta Maryam pun keluar, dengan diantar ibu Lea.
"Ini siapa?" tanya Ibu Richard pada sang anak.
"Ini..."
Richard terjebak, ia tak mungkin tidak mengakui Dian dihadapan ibunya. Sebab akan jadi sebuah pertengkaran besar jika ia melakukan hal tersebut. Tetapi bagaimana dengan Maryam?.
"Ini, pacar Richard mi."
Richard akhirnya mengakui, Daniel dan Ellio yang melihat kejadian tersebut kini berharap-harap cemas.
"Hai, mi."
Dian menyapa ibu Richard.
"Hai."
Ibu Richard tersenyum, meski ia memperhatikan Dian dari bawah hingga ke atas. Membuat Dian merasa tidak nyaman. Apalagi Maryam penampilannya sangat tertutup. Dan sejak Richard mengatakan siapa Dian, ia hanya tertunduk.
"Saya, permisi dulu." ujar Maryam lalu pergi.
Richard dan yang lainnya mengerti, pastilah saat ini Maryam merasa kecewa. Namun Richard tak bisa menyusul wanita itu, sebab Dian akan menjadi curiga. Daniel serta Ellio kini ikut merasa pusing.
"Mami permisi dulu ya."
"Daniel anter mi."
Daniel mengambil alih tugas Richard dalam mengantar ibunya ke halaman parkir. Tinggallah kini Richard saling pandang dengan Ellio.
"Dad, aku boleh ke dalam kan?" tanya Dian kemudian.
"Mmm, a, ayo." ujar Richard masih dengan ketegangan yang berusaha ia sembunyikan.
"Saat masuk ke dalam, Dian langsung menyapa Lea dan menanyakan kabarnya. Lea kemudian mengenalkan sang ibu pada Dian.
"Ini ibu aku kak." ujar Lea.
"Hai."
Keduanya saling menyapa satu sama lain. Lolos dari kecemburuan akibat Maryam, Richard kini dihadapkan pada kecemburuan Dian terhadap ibu Lea.
__ADS_1
Dian menjadi agak canggung, sebab berpikir kalau Richard dan ibu Lea pastilah mengalami kesibukan bersama dalam mengurus Lea.
Karena suasana yang begitu tegang, ibu Lea akhirnya pamit. Kini hanya tersisa Lea, Dian, dan ayah ya saja.