Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Kado Jilid 2


__ADS_3

"Lele, lo masuk?"


Adisty dan Ariana berlarian ke arah Lea. Mereka terkejut melihat perempuan itu kembali ke kampus, sebab Lea tak ada memberitahu sebelumnya.


"Hai."


Lea balas menyapa mereka dengan hangat. Sesaat kemudian ketiganya saling berpelukan.


"Akhirnya ya, kita sama-sama lagi." ujar Ariana.


"Eh tapi emang lo di bolehin sama laki lo?" tanya Adisty pada Lea.


"Laki gue mah nggak ribet orangnya." jawab Lea.


"Asik, berarti mulai hari ini lo bakal masuk terus ya?" tanya Ariana.


"Doain aja Darriel nggak sakit dan rewel, gue pasti masuk terus koq." jawab Lea lagi.


Mereka kembali saling berpelukan saking senangnya. Tak lama kemudian Iqbal dan yang lainnya datang, kemudian bergabung bersama mereka.


Hari itu Lea mengikuti mata kuliah seperti hari-hari yang telah lalu. Bosan juga kuliah online terus. Untungnya Daniel bukan tipikal laki-laki yang terlalu mengharuskan istrinya untuk dirumah. Sebab ia memiliki prinsip bahwa suami istri memiliki hak yang sama untuk mengejar cita-cita dan impian.


Lagipula mengekang seorang istri dan hanya menghadapkannya pada tugas rumah tangga, bisa-bisa membuat seorang istri menjadi stress dan mungkin terganggu mentalnya kelak di kemudian hari.


Daniel tak ingin istrinya merasa bosan, stress, kemudian melampiaskan kekesalan pada anak. Baginya ibu yang baik, harus memiliki kondisi kesehatan mental dan psikis yang baik pula.


Lea sendiri beruntung mempunyai suami seperti Daniel, yang cukup mengerti banyak hal. Itulah keutamaan memiliki suami yang pikirannya luas dan tidak di sesaki oleh doktrin-doktrin mertua.


Hidup tenang, mental stabil dan tentu saja mereka sangat jarang berselisih paham. Karena masing-masing pihak saling memberikan ruang.


"Lele, ini buat anak lo."


Seorang teman sekelas yang sejatinya tak terlalu akrab menghampiri Lea dan memberikan sebuah paper bag berisi kado untuk Darriel.


"Wah repot-repot banget, makasih banyak ya." ujar Lea.


"Iya sama-sama. Sorry ya gue nggak datang pas anak lo lahir, gue emang sengaja nungguin sampe lo masuk." ujarnya lagi.


Lea tersenyum dan kembali berterima kasih. Saat temannya itu berlalu, ada lagi dua orang yang mendekat dan memberikan juga kado untuk Darriel. Mereka sepertinya membeli secara dadakan via ojek online, ketika mengetahui Lea masuk hari itu.


Sebab ada yang masih berlabel sebuah online marketplace dengan tanggal yang sama hari ini. Lea sangat berterima kasih, meski ini adalah mabuk hadiah jilid dua.


Ia senang ketika teman-teman sekelas menaruh perhatian pada anaknya. Ketika Adisty dan Ariana mendekat, ada banyak lagi teman sekelas Lea yang memberikan hadiah. Hingga pada akhirnya ia terduduk memandangi kado yang menggunung.


"Sini, kita bantu masukin ke mobil."


Iqbal, Rama, dan Dani menawarkan diri. Lalu mereka pun bersama dengan Ariana dan Adisty turut membawa hadiah-hadiah tersebut menuju ke mobil.

__ADS_1


"Rejeki anak lo banyak banget, Le." ujar Adisty.


"Iya, bersyukur ya bund." jawab Lea sambil tertawa.


"Eh makan dulu yuk!" ajak Adisty kemudian.


"Ayo." ucap Lea dan Ariana diwaktu yang nyaris bersamaan.


"Iqbal, ikut yuk. Dan, Ram?"


"Sorry Dis, kita ada janji mau main futsal. Besok aja gimana?"


"Ya kalau makannya besok, meninggoy ntar kita." ujar Adisty.


"Maksudnya itu kalau besok kita ngampus lagi, kita makan bareng. Bukan nyuruh elu nggak makan dan nunggu sampe besok."


Iqbal ingin memukul kepala Adisty dengan balok kayu rasanya. Sementara Lea dan yang lainnya tertawa-tawa.


"Ya udah deh, besok ya." ujar Adisty lagi.


"Iya, kita pamit ya." tukas Iqbal.


"Makasih ya Iqbal, Ram, Dan." ucap Lea pada mereka bertiga.


"Sama-sama." jawab mereka serentak.


Adisty memesan nasi goreng, Ariana memilih bakso. Sedang Lea gado-gado lontong plus nasi.


"Udalah lontong, nasi pula ya bund." ledek Ariana sambil tertawa.


"Maklum bund, emak-emak beranak." ujar Lea seraya melahap makanannya.


"Ini aja kayaknya kurang." lanjutnya kemudian.


"Tapi lo sekarang jauh lebih kurus ketimbang saat lo hamil dan lahiran, Le." Adisty memperhatikan tubuh Lea.


"Gimana nggak kurus, Darriel aja kalau minum ASI kayak anak MAPALA lagi kehausan di pos 3 tau nggak."


"Anjir."


"Hahahaha."


Adisty dan Ariana tertawa-tawa bahkan nyaris tersedak.


"Emang kuat banget ASI nya?" tanya Ariana.


"Hmmm, bukan lagi. Mana ASI gue banyak. Kayaknya gue makan jadi ASI semua. Terus dia yang makan dan gue lemes."

__ADS_1


"Hahaha."


Lagi-lagi kedua temannya itu tertawa.


"Mana lo begadang mulu pasti ya, Le." tanya Adisty.


"Kalau begadang sih jarang gue."


"Emang dia nggak bangun kalau malem?" tanya Ariana.


"Bangun, tapi kan yang ngurus ada bapaknya. Kadang kakeknya."


"Bokap lo nginep terus?" Adisty yang bertanya kali ini.


"Nggak, gue sama mas Daniel yang tinggal disana sekarang."


"Pindah apa gimana?" Ariana menimpali pertanyaan Adisty.


"Kagak, sementara doang. Sampe mungkin Darriel udah nggak terlalu bayi banget. Ini kan masih merah tuh kayak udang rebus." ujar Lea.


Adisty dan Ariana kembali tertawa.


"Jadi kalau malam pake botol susu dong?" untuk yang kesekian kali Adisty bertanya.


"Iya, kan ASI gue banyak di kulkas. Ada satu kulkas isinya ASI semua." ujar Lea.


"Tapi dia beruntung sih, hidupnya nggak di recokin mertua."


Adisty berujar pada Ariana.


"Iya bener banget. Karena pangkal masalah rumah tangga itu biasanya ada di mulut mertua yang cewek. Sepupu gue noh, mbak Tina yang waktu itu lo pernah ketemu." Ariana berujar pada Adisty, sedang Lea turut mendengarkan.


"Mertuanya recok banget anjir. Cucunya nggak boleh di kasih ASI pake botol. Dia bilang nggak ada ikatan batin nanti. Terus kalau malam sepupu gue dipaksa begadang nungguin tuh bayi. Katanya biar nggak diganggu makhluk halus. Mana suaminya nggak mau gantian lagi. Kalau tidur nih lakinya, kayak orang mati anjir. Nggak peduli istri juga butuh istirahat."


"Dianggap kayak mesin ya jadinya." ujar Adisty.


"Hmm, sebel banget gue. Pengen banget tuh gue kasih kopi Jessica mertua sama suaminya. Biar sepupu gue nikah sama cowok lain aja. Sampe pucat anjir, kurang tidur. Ngurus bayi sendirian. Bagus nggak kena baby blues atau stress pasca melahirkan tuh orang."


"Itu harus di dampingi." ujar Lea.


"Gue yang hidup nggak di recokin mertua aja sempat koq, ngerasa stress ngurus Darriel. Makanya mas Dan setuju, kami tinggal di rumah ayah dulu untuk beberapa saat. Biar gue nya nggak gimana-gimana."


"Elu mah enak, Le. Di kelilingi orang-orang open minded, pengetahuan luas. Lah sepupu gue itu dikelilingi warga jaman dulu yang masih percaya mitos ini itu tau nggak. Yang kalau di grup WhatsApp tuh suka menyebar hoax yang di lengkapi dengan ayat-ayat suci. Kayak video editan, terus pake backsound ayat-ayat. Dibilang inilah anak durhaka, dia berubah menjadi ikan kerapu."


"Hahaha."


"Hahaha."

__ADS_1


Lea dan Adisty kini terpingkal-pingkal.


__ADS_2