
"Mami kan udah menawarkan, Richie. Tapi kamu-nya yang bersikeras. Kamu-nya yang nggak mau."
Ibu Richard membelai kepala sang putra yang tidur di atas bantal. Bantal tersebut berada di pangkuan sang ibu. Richard tengah berada dalam mode super manja dan malas beranjak. Seperti kebiasaannya di masa kecil dan remaja dahulu.
"Sekarang sih mami udah nggak mau maksain. Mau nikah sama Maryam ya, mami akan nikahkan. Mau nikah sama ibunya Lea pun, mami akan nikahkan. Atau kalau kamu punya perempuan lain yang jadi pilihan kamu, asal kamu yakin. Ya, mami juga akan nikahkan. Mau kamu nggak mau nikah pun, mami angkat tangan. Itu hak hidup kamu."
Lagi dan lagi ibu Richard berujar. Sementara pria itu hanya diam dan tetap berbaring. Seolah ia tengah mencari ketenangan jiwanya, yang belakangan sedikit berkurang.
"Kenapa lu, bro?"
Daniel dan Ellio serta Marsha yang baru tiba kaget, melihat Richard yang tiduran di pangkuan ibunya. Tumben-tumbenan pula ibu Richard datang kesana dan mereka terlihat cukup akur. Biasanya mereka selalu seperti tikus dan kucing. Satunya mengejar, satunya berlari ke dalam got.
"Biasa, dia lagi curhat." jawab ibu Richard.
"Lagu lo curhat, kayak berat banget idup lu. Udah kayak ABG yang keselek penghapus papan tulis tau nggak." celetuk Ellio.
Ia kini berjalan ke arah dispenser dan mengambil gelas, lalu menuang air minum ke dalamnya.
"Biarin aja sih, sirik." balas Richard sengit.
Daniel dan Ellio tertawa mendengar semua itu. Lalu mereka meminta izin pada ibu Richard untuk pergi ke kamar atas.
Ellio dan Marsha sendiri tak menginap, mereka akan pulang setelah jam makan malam nanti. Seperti biasa Richard yang mengundang mereka semua untuk meramaikan suasana rumahnya.
"Le."
Daniel masuk ke kamar dan menghampiri Lea, yang baru saja menidurkan Darriel ke dalam box bayi.
"Sssst."
Lea menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Baru tidur ya?" tanya Daniel.
"Iya mas, dari tadi sudah banget tidurnya. Ngoceh Mulu, hoa, hoa. Ngeliat ke sekeliling, nangis. Diajak jalan muterin rumah sama ayah, baru diem." jawab Lea.
Daniel memandangi Darriel.
"Tapi dia nggak sakit kan?" tanya Daniel lagi.
"Nggak, raba aja tuh jidatnya. Nggak panas, nggak apa."
__ADS_1
"Oh iya." ujar Daniel seraya meraba kening anak bayinya itu.
"Emang dasar lagi rewel aja kali." ujarnya kemudian.
"Makanya." ucap Lea.
"Itu si Richard kenapa di bawah?"
Daniel melepaskan jas, dasi, serta kemeja yang ia pakai. Ia mengambil handuk untuk pergi mandi.
"Nggak tau, kolokan banget sama oma. Kayak bocil yang lagi ngerayu minta duit jajan." ujar Lea.
Daniel tertawa dan bergerak menuju ke arah kamar mandi.
"Umur tua, pribadi SMA dia mah."
Seloroh Daniel lalu masuk ke dalam kamar mandi tersebut. Sementara Lea kini hanya tertawa.
***
"@nurazizanash Duh sisain satu dong cowok kayak Arsen. Kayaknya dia kalau jadi suami, bakal menghormati banget hak-hak perempuan."
"@firafania12 Bener say @nurazizanash cowok kayak Arsen gini langka. Yang membuka pikiran cewek-cewek untuk maju. Biasanya yang menyuarakan hal kayak gini kan cewek. Tapi ini cowok dan dia nggak sendirian, banyak temen-temen cowoknya yang juga sama. Salut banget."
"@dinifauziah Arsen calon suami aku, wkwkwk. @firafania12."
"@rorosuhita Cowok kayak Arsen gini harus dilestarikan. Karena cowok jaman sekarang masih banyak yang pengen cewek itu bisa mereka manipulasi, bisa mereka tindas. Ditambah lagi banyak orang tua cewek yang cuma mengajarkan anak perempuannya untuk mengejar laki-laki. Bukan mengajarkan untuk mandiri secara finansial. Makanya masih banyak banget cewek-cewek yang rela nurut diapain aja sama cowok demi uang. Sampe jadi sugar baby dan lain-lain. @nurazizahnash."
"@christyangelya Ganteng banget, Arsen."
"@nicolemariska Duh ayang."
"@juansalim. Salut bro, sama lo. Tetangga gue juga jadi berubah gara-gara lo. Dulunya cewek panggilan, sekarang jadi jualan makanan dan udah tobat."
"@ricorico1998 Beneran, bro?. @juansalim Wah salut."
"@juansalim Bener koq @ricorico1998."
"@suhardipardi wah bakalan berkurang nih sosok pemersatu bangsa, gara-gara lo. Wkwkwkwk."
"@tioprasetyo Wkwkwk, pada sadar dan tobat mereka @suhardipardi."
__ADS_1
"@kikinuraalia mesum @suhardipardi."
Arsen hanya memperhatikan komentar-komentar tersebut dengan wajah dan ekspresi yang biasa. Namun kemudian di tengah-tengah komentar itu semua, ada salah satu komentar dari netizen yang sedikit mengganggu.
"@bacotnetijen Halah, pada memuja-muji banget. Padahal si Arsen ini punya sepupu yang jadi sugar baby dari teman bapaknya sendiri. Dari umur 16 tahun pula udah di keep. Cuma nggak tersentuh aja kasusnya. Orang kaya sih, jadi bebas beli hukum."
"Degh."
Batin Arsen bergemuruh membaca pesan tersebut. Ia menekan tombol screenshoot lalu membuka akun itu. Dan ternyata itu semacam fake akun.
Entah siapa yang membuatnya, yang jelas dia berusaha menjatuhkan Arsen. Karena tidak nyaman, Arsen pun menghapus pesan tersebut.
***
Tak jauh berbeda dengan Arsen, Lea pun mendapat perlakuan tak mengenakkan di sosial media. Bukan merupakan komentar, tetapi direct message yang sifatnya melecehkan.
"Berapa tarif lo untuk di booking sebulan?"
Begitulah kata-kata yang tertera disana. Membuat Lea mendadak sakit hati dan ingin menampar wajah orang itu rasanya. Namun ketika akun si pengirim pesan itu dibuka, ternyata akun tersebut juga fake.
Lea berpikir orang ini pastilah orang yang tau mengenai dirinya. Atau mungkin netizen pengangguran kurang kerjaan yang membaca pemberitaan mengenai dirinya, dan ia tiba-tiba punya niat membully sakit hidupnya tak ada urusan.
Hal tersebut sering terjadi di negri ini. Banyak netizen yang sampai rela mengeluarkan effort. Membuat fake akun hanya untuk sesuatu, yang bahkan tidak menguntungkan mereka sama sekali.
Contohnya seperti ini. Untuk membully orang lain, dan itu merupakan pekerjaan paling gabut dan tak menghasilkan baik uang maupun harta apa-apa.
Hanya menghabisi kuota dan membuat si pelakunya bertambah bodoh. Tapi anehnya hal seperti itu selalu ada.
"Tarif gue sama kayak tarif emak lo, kalau lagi di pake rame-rame di pos ronda."
Lea balas melecehkan orang tersebut.
"Coba lo tanya tarif emak lo berapa. Kalau dia jawab, ya itu sama." ujar Lea lagi.
"Anj*ng, lo." balas orang itu penuh emosi. Lea pun kini tertawa-tawa.
"Lah ngamuk. Situ sehat?" tanya Lea.
"Nanya-nanya tarif, punya duit nggak?. Kalau beli kuota aja masih ketengan, nggak usah banyak tingkah. Sama emak lo aja noh, gratis." Lea makin menjadi-jadi, sementara orang itu kini tak lagi membalas.
Mungkin itu memang netizen kurang kerjaan yang tidak tau jika orang lain juga bisa membalas perbuatannya dengan kata-kata yang lebih nyelekit. Giliran di balas, dia malah menciut sendiri.
__ADS_1