Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Dunia Sugar Baby (Extra Part)


__ADS_3

Jauh sebelum kasus SB Agency mencuat ke permukaan. Ada banyak potret kehidupan sugar baby, simpanan, selingkuhan dan lain-lain di setiap sudut wilayah.


Praktek menyimpan dara muda selain istri sebagai sumber kesenangan itu telah ada sejak jaman dahulu kala.


Kemiskinan dan lemahnya iman serta rendahnya harga diri yang membuat hal tersebut semakin marak.


Ditambah lagi para sugar baby itu bertemu dengan laki-laki yang memang memiliki uang banyak, serta tak segan mengeluarkan uangnya tersebut untuk keperluan mereka.


Hari itu, kembali ke pada saat beberapa bulan yang lalu. Hanif baru saja menghadiri acara pertemuan besar para bos perusahaan di suatu tempat.


Kala itu ia bertemu juga dengan Daniel, Richard, maupun Ellio. Kemudian mereka ada berbincang bersama. Mulai dari hal serius sampai ngalur-ngidul.


Intinya suasana hari itu begitu hidup. Dan ketika acara telah usai, Hanif berkata pada Daniel.


"Santai yuk, bro." ujarnya kala itu.


Daniel tau arti kata santai yang dimaksud oleh Hanif. Yakni bersantai di suatu tempat sambil minum-minuman beralkohol.


"Wah, nggak bisa bro. Lo tanya aja sama Richard, Ellio. Kita udah jarang banget santai-santai begitu. Apalagi gue udah punya istri, dan lagi hamil pula. Bentar lagi mau lahiran." ucap Daniel.


"Ah, lo mah payah. Suami takut istri lo."


Hanif meledek Daniel, sedang Daniel hanya tertawa saja menanggapi hal tersebut.


"Sekali-kali, bro. Hidup kalau lurus-lurus aja ntar bosan. Apalagi sama bini mulu." tukas Hanif.


Dan lagi-lagi Daniel tertawa. Pria itu tetap pada pendiriannya. Ia tak mau memikirkan kesenangan pribadi, sementara sang istri tengah kepayahan mengandung anak mereka.


"Nggak bisa, bro. Harus balik gue." ujarnya.


"Oh iya, gue lupa. Mertua Lo Richard kan ya?. Lo nggak enak kan sama dia?. Padahal Lo nggak pengen kan?" Hanif sok tau.


Daniel masih dengan tawanya.


"Bro, cabut."


Dari suatu arah tiba-tiba Richard dan Ellio memanggil. Daniel lalu berpamitan dengan Hanif, kemudian mereka berpisah di tempat itu.


Hanif lanjut mengajak yang lain dan ternyata berhasil. Ia mengajak mereka untuk pergi ke bar dan minum-minum disana.


"Eh, karaoke yuk di atas." ajak Hanif ketika telah satu atau dua jam mereka hanya duduk-duduk sambil mendengarkan musik.


Kebetulan di atas bar tersebut memang ada karaoke plus. Plusnya tentu saja ke arah yang miring. Bisa karaoke sambil berdiri dan ada perempuan - perempuan yang juga karaoke dibawahnya.


Karaoke arem-arem namanya, dan tempat itu terkenal dikalangan pengusaha nakal yang suka kesenangan.


"Yuk, udah pengen di karaoke juga nih junior gue." ujar teman Hanif.


Maka mereka naik ke atas, memesan sebuah room yang masih kosong. Tak lama tiga pemandu lagu masuk, dan salah satunya berhasil memikat hati Hanif.


"Kamu namanya siapa?" tanya Hanif kala itu.


"Susi, om." jawab si pemandu lagu.


"Nih."

__ADS_1


Ia memperlihatkan bet namanya yang menempel di dada kiri. Hanif memperhatikan dan ia malah disuguhi pemandangan yang begitu penuh serta montok. Mendadak Hanif bergairah dan juniornya memberontak tegang.


Tak lama karaoke pun di mulai. Hanif bernyanyi dengan ditemani Susi. Sedang kedua temannya ada di samping dan ditemani pula oleh dua pemandu lagu lainnya.


Usai dua lagu ia gantian dengan kedua temanya. Sementara mereka bernyanyi, Hanif mulai merangkul Susi. Ia perlahan mengusap-usap bahu serta punggung gadis itu. Sambil masih menatap layar dan ikut menikmati lagu.


Mikrofon terus di rolling, lama kelamaan Hanif mulai berani mencium bibir Susi. Kedua temanya pun sama demikian. Musik dibiarkan terus mengalun. Jari jemari Hanif mulai menelusup ke bagian dada dari dress yang Susi kenakan.


Ia mendapatkan gunung kembar milik perempuan itu dan mulai menekan-nekan serta memberikan remasan di sana. Bagian milik Susi itu sangat montok dan kenyal.


Hanif mengarahkan tangan Susi ke Juniornya. Seperti telah berpengalaman Susi pun mengusap-usap area tersebut. Tangan Hanif masuk ke bagian bawah dress perempuan itu lalu mengusap-usap apa yang ada di balik pelindung segitiga.


"Uh, om." rintih Susi.


"Enak?" bisik Hanif di telinganya.


"Hmmh."


Tangan Hanif naik ke perut Susi. Kemudian mengusap bagian itu ke bawah.


"Hmmh, ooom." Susi seperti sudah tidak tahan lagi.


"Ke toilet yuk, sayang. Om udah nggak sabar pengen mencintai kamu." bisik Hanif.


Maka mereka pun pergi ke toilet, yang kebetulan ada di setiap ruangan. Disana Hanif mulai menjalankan aksinya.


Usai mengunci pintu ia segera mencium bibir Susi sambil memeluk dan menaikkan dressnya ke atas. Hanif *******-***** dua bongkahan di bagian belakang tubuh perempuan muda itu.


"Hmmh, besar sayang." ujarnya gemas.


"Kamu karaoke ya sayang." ujarnya lalu menyodorkan si junior. Susi pun melakukan hal yang diminta.


"Uuuuh."


"Ssssh."


"Aaaah."


Hanif keenakan. Meski masih terlihat sangat muda, Susi ternyata mampu memberi service dengan sangat baik. Biasanya ini didasarkan pengalaman dengan lain pelanggan. Tapi Hanif tak peduli. Ia sudah terlanjur menyukai Susi.


"Sini sayang."


Hanif meminta perempuan muda itu untuk berdiri. Lalu di dudukannya Susi ke atas pinggiran wastafel.


Hanif membuka lebar kaki Susi, melepaskan pelindung segitiga yang dipakai oleh perempuan itu. Kemudian ia mulai memasukkan ujung kepala juniornya ke milik Susi.


"Ssshhh."


"Ooom."


"Aku enakin ya sayang." bisik Hanif.


"Iyaaah."


"Hmmmph."

__ADS_1


Dengan sekali hentakan, junior Hanif sudah melesak masuk ke dalam.


"Gimana?. Enak?" tanya Hanif.


"Hmmh, enak om. Hmmh."


"Om kasih yang lebih enak lagi ya."


Hanif mulai mengerakkan pinggulnya maju mundur. Awalnya pelan, lalu kini dengan kecepatan sedang.


Susi merintih-rintih keenakan.


"Hmmh, om, enak, hmmh."


"Enak kan, hmm?"


"Iyaaah, ssshhh."


"Aaah, aaah, aaah."


Sementara di luar, dua pemandu lagu lainnya juga sama-sama tengah di hajar oleh dua teman Hanif. Mereka di tindih dan liang mereka di hujam-hujami dengan tongkat yang super tegang.


"Aaah, ooom."


"Aaaah."


"Sayang kamu mau jadi simpanan aku?"


Hanif bertanya seraya terus memompa Susi.


"Ma, maaau, hmmh, ooom."


Hanif tersenyum lalu terus bergoyang maju mundur.


"Anget sayang, enak, hmmh, sempit." ujarnya.


Susi dipindah posisikan menjadi membelakangi Hanif. Lalu Hanif kembali menghajar perempuan muda itu. Sementara di luar permainan terus berlangsung.


"Om aku mau pip...haaah."


Suara Susi tertahan.


"Lakukan aja sayang, aku juga mau...."


"Aaaaaaah."


Keduanya berteriak, tubuh mereka bergetar hebat. Gelombang kenikmatan yang berkedut-kedut terasa di area sensitif dan sekitar perut.


Hanif mengeluarkan cairannya di rahim Susi. Begitupula dengan dua pemandu lagu lainnya di luar. Rahim mereka pun seketika penuh, akibat ulah dari kedua teman Hanif.


"Om, nanti aku hubungi om kemana?" tanya Susi masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Bahkan Hanif belum mencabut juniornya di milik Susi.


"Nanti om kasih kartu nama om." jawab Hanif.


Mereka kemudian berpelukan dan saling berciuman.

__ADS_1


__ADS_2