
"Kenapa bro?" tanya Ellio pada Richard yang tiba-tiba keliatan begitu panik.
"Lea." jawab Richard.
"Kenapa Lea?" tanya Ellio penasaran.
"Lea."
Richard tampak mondar-mandir dengan ekspresi wajah cemas.
"Iya Lea kenapa, ada apa?" tanya Ellio lagi.
"Buruan-buruan!"
Richard menuju ke mobil.
"Cell, duluan."
Ellio pamit pada Marcell, kemudian segera menyusul Richard ke mobil.
"Bro, ada apaan sih sama Lea?" tanya Ellio pada Richard seraya memasang seat belt.
"Lea mau beranak." ujar Richard seraya menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas dengan tergesa-gesa.
"Hah?. Bukannya dua atau tiga minggu lagi ya?" ujar Ellio.
"Nggak tau gue, ada masalah mungkin sama kandungannya."
"Terus ini kita mau kemana, pulang atau ke rumah sakit?" tanya Ellio.
"Haduh, kemana ya?. Coba lo telpon Daniel, dia udah di rumah sakit atau masih di rumah."
Ellio bergegas menelpon Daniel, namun tak diangkat.
"Nggak diangkat bro." ujar Ellio.
"Ya telpon ke rumah, Ellio. Kan tadi mereka di rumah."
"Oke, oke."
Ellio lalu menelpon ke rumah dan diangkat oleh pembantu Richard. Pembantu Richard memberitahu jika saat ini Daniel sudah membawa Lea ke rumah sakit. Richard dan Ellio sendiri tau di rumah sakit mana rencananya Lea akan melahirkan.
"Ya udah kita langsung ke sana aja." ujar Richard.
Maka ia dan Ellio pun bergegas.
***
"Mas sakit."
Lea sudah terbaring di atas sebuah tempat tidur di rumah sakit dan sedang dalam pemeriksaan oleh dokter. Bayi mereka akan lahir lebih cepat dari perkiraan.
"Iya, sabar ya. Aku disini nemenin kamu."
Daniel mengusap-usap perut istrinya itu, sambil menatap matanya dengan lembut.
"Sakit banget mas."
"Iya, aku tau ini pasti sakit banget. Cuma aku minta kamu sabar. Kalau sakitnya bisa dipindahin, biar aku aja yang sakit."
"Ini semua tuh gara-gara kamu." ujar Lea dengan nada kesal dan marah sambil menahan sakit.
__ADS_1
"Iya gara-gara aku, aku minta maaf ya. Ini semua karena aku mau punya anak dari kamu. Aku mau kamu yang jadi ibu dari anakku. Aku nggak mau yang lain."
Air mata Lea menetes, lalu ia menangis dan Daniel memeluknya dengan erat.
"Jangan nangis lagi ya. Bentar lagi kan mau ketemu sama anak kita." ujar Daniel.
Lea tersenyum.
Sementara di jalan Richard dan Ellio terjebak macet.
"Aaarrrggghhh, ****!"
Richard mengumpat seraya memukul setir kemudi.
"Kenapa mesti macet segala sih." gerutunya kesal.
"Sabar, bro. Kalau nggak macet itu di Jepang namanya, bukan lagi di negara ini." tukas Ellio.
Mereka tak mungkin mundur ke belakang. Sebab di belakang pun telah berjubel mobil lain dengan panjang yang mengular. Padahal hanya dalam tempo beberapa detik saja setelah mereka.
"Mana di jalan protokol lagi kita, jalur tengah." gerutu Richard lagi.
"Kalau di pinggir masih enak. Tinggalin aja mobil, naik ojek online habis itu." lanjutnya kemudian.
"Tiiiiiin."
"Tiiiiiin."
"Tiiiiiin."
Terdengar klakson dari arah belakang. Richard dan Ellio kompak membuka kaca mobil lalu menongolkan kepala.
Keduanya mengoceh pada pengendara lain lalu kembali ke dalam sambil mengatur nafas. Tak lama Richard mengeluarkan sebungkus rokok dan memberikannya pada Ellio. Mereka kemudian membakar rokok tersebut demi mengusir kepenatan.
***
Daniel mengajak Lea berjalan-jalan di sekitar lantai rumah sakit yang telah disewa. Sesuai anjuran dokter, Lea memang harus berjalan untuk menunggu pembukaan lengkap.
"Mas nggak bisa duduk aja apa, sakit tau."
Lea menggerutu setelah beberapa saat berjalan.
"Ya udah duduk dulu, tadi kan udah jalan." ujar Daniel.
Ia begitu sabar menghadapi istrinya itu. Sebab Lea masih muda, dan sudah mengandung serta akan segera melahirkan. Pastilah emosi dan juga mentalnya yang menjadi taruhan.
"Sakit mas."
Lea kembali merengek, Daniel mengusap-usap perut istrinya itu untuk yang kesekian kali. Ia juga mencium kening Lea untuk menenangkannya. Lea kemudian menyandarkan kepala di dada suaminya itu.
***
Kemacetan berangsur berkurang, Richard kembali mengemudikan mobil dan bergerak perlahan.
"Aduh, buruan elah."
Richard masih saja kesal. Ia ingin segera sampai dirumah sakit dan mengetahui kondisi anak serta cucunya.
Sebab pada saat seperti ini, ia dan Ellio tak mungkin menghubungi Daniel. Daniel sudah barang tentu sibuk mengurus istrinya.
"Bro, depan ambil Kiri aja bro. Masuk ke jalur kiri terus 300 meter di depannya lagi belok. Kita lewat jalan itu aja biar cepet." ujar Ellio.
__ADS_1
"Oke." jawab Richard.
***
Daniel kembali membujuk Lea untuk berjalan, kali ini perempuan itu kembali berdiri. Ia kembali berjalan-jalan, kemudian beristirahat dan kembali berjalan.
Sedang di suatu tempat terjadi sebuah kecelakaan beruntun. Bukan Richard serta Ellio yang menjadi korban. Namun mereka tak sengaja melintas di kawasan itu dan akhirnya kembali terjebak kemacetan panjang.
"Duh, ada aja deh halangannya." ujar Richard lagi.
"Sabar, Daniel pasti bisa menghandle semua urusan soal Lea." ucap Ellio mencoba menenangkan Richard.
Tadi sudah hampir dua jam Daniel berada di rumah sakit, dan mengurus Lea. Kemudian ia baru mengabari Richard. Richard terjebak kemacetan saja sudah sekitar 2 jam lebih. Total sudah ada empat jam Lea menunggu pembukaan. Kini Richard dan Ellio kembali terjebak macet dan entah sampai kapan.
***
"Pembukaannya sudah lengkap. Syukurlah nggak terlalu lama ya."
Dkter berucap pada Lea usai memeriksa pembukaan.
"Ini enam jam lama dok, udah mau pingsan saya rasanya." ujar Lea.
"Ssssttt."
Daniel memperingatkan Lea agar tak kesal dalam bicara. Daniel tau istrinya itu sedang kesakitan, tetapi Daniel ingin agar ia sabar menghadapi persalinan ini.
"Ini termasuk cepat bu, untuk anak pertama. Biasanya ada yang sampai sepuluh jam baru pembukaan lengkap." ujar dokter tersebut.
Lea tak berbicara lagi, tak lama team pun sudah siap. Lea masuk ke dalam sebuah tempat mirip bathub, yang berisi air hangat. Ia duduk disana dengan kaki yang dibuka lebar. Sebab sebentar lagi bayinya akan keluar.
"Tarik nafas, terus hembuskan lewat mulut."
Petugas medis mulai memberi Instruksi pada Lea, maka Lea pun mengikutinya.
"Dorong."
"Hmmmph."
"Huuuh, huuuh, huuuh."
Lea mencoba mengambil nafas, dia sela rasa sakit yang demikian hebat.
"Tarik nafas, dan hembuskan lagi lewat mulut seperti tadi."
Lea kembali mengulangi instruksi yang tadi. Kemudian mendorong bayinya untuk keluar.
"Hmmmph."
"Hmmmph."
"Mas, nggak kuat. Sakit banget."
"Ssshhh, kamu pasti bisa sayang. Ikutin instruksinya kayak tadi ya."
Lea mencoba mengambil nafas, petugas medis kembali mengintruksikan agar ia bernafas dan mendorong bayinya.
Hingga kemudian, kepala bayi itu keluar. Lea berteriak kesakitan, sementara air mata Daniel seketika mengalir. Apalagi saat Lea berusaha mengeluarkan bagian bahu anaknya, ia makin berteriak kencang. Namun akhirnya bayi itu benar-benar keluar.
Wajah Lea mendadak pucat, sebab ia kini mengeluarkan darah cukup banyak. Namun ia lega karena berhasil melahirkan dengan baik.
Petugas medis kemudian mengangkat bayi yang terendam itu ke permukaan. Setelah itu barulah bayinya menangis. Keharuan pun menyeruak. Bayi itu kini berada dalam dekapan sang ibu.
__ADS_1