Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pertandingan Kedua


__ADS_3

Sebuah sirkuit balapan di sewa oleh Liem, sang sultan sekaligus teman Daniel dan Richard yang mengadakan pesta tempo hari.


Meski Daniel tak lanjut bertanding minum dengan kandidat lain dan tak berharap mendapatkan mobil milik Liem. Namun Liem dengan sukarela memfasilitasi kedua temannya yang hendak balapan tersebut.


Meski secara finansial, baik Daniel maupun Richard mampu menyewa sirkuit balapan itu dengan uang pribadi mereka. Namun Liem sangat suka menghabiskan uangnya untuk hal apapun. Termasuk hal yang sejatinya tak penting dan tak ada hubungan dengannya.


Para teman lain pun masih saja taruhan, mengenai siapa yang akan menang diantara Daniel dan juga Richard. Tak tanggung-tanggung, taruhan mereka ada yang berhadiah pesawat kecil dengan single engine. Benar-benar kegabutan para sultan.


"Dan, pokoknya lo harus menang." ujar Ellio pada Daniel.


Pria itu menjadi bagian dari penonton. Ia sengaja tak ikut andil dalam menjadi team Daniel di lapangan, meski ia paham betul soal otomotif. Karena ia juga berteman dengan Richard, ia tak ingin terlihat terlalu keberpihakan.


Dalam beberapa saat, Daniel dan Richard sudah berada di garis start. Dengan mobil sport andalan mereka yang memiliki spesifikasi serupa, meski berbeda merk. Masing-masing team telah memaksimalkan performa kendaraan tersebut.


Ditandai dengan sebuah tembakan, balapan itupun akhirnya dimulai. Entah siapa yang telah mengatur semua ini, perihal standar kejuaraan apa yang mereka pakai. Bagaimana sistem yang digunakan, serta apa saja persyaratannya. Apakah ini semua bisa dikatakan berbahaya, atau bahkan ilegal atau juga tidak. Mengingat keduanya tak mengantongi hasil pemeriksaan kesehatan, sebelum event ini berlangsung.


Tapi yang jelas ini adalah kesenangan para orang kaya di sekitar mereka, termasuk Daniel dan Richard sendiri. Bila uang sudah bicara, maka semuanya menjadi lebih mudah.


Mobil mereka terus bergerak di lintasan, dengan Richard lebih unggul dibandingkan Daniel. Para penonton termasuk Ellio, memperhatikan secara seksama. Mereka belum bisa menebak apa-apa, karena baru satu setengah putaran.


Richard sangat berkonsentrasi, begitupula dengan Daniel. Sedang di kampus, entah mengapa Lea jadi begitu resah. Ia seperti khawatir terhadap sesuatu, namun tak cukup paham pada apa yang ia cemaskan tersebut.


Sesaat sebelum balapan, Daniel masih mengirim pesan singkat padanya. Dengan mengatakan jika ia akan sibuk dalam beberapa waktu ke depan. Ia akan menghubungi Lea jika semuanya sudah selesai.


Maka Lea menurut saja, ia sama sekali tak curiga pada kegiatan yang kini dilakukan oleh suami dan juga ayahnya.


***


Beberapa putaran terlewati, akhirnya Daniel mampu mendahului Richard. Bahkan sahabatnya itu tertinggal cukup jauh di belakang.


Para penonton, terutama yang mendukung Daniel atau yang menjagokannya dalam taruhan pun, kini mulai bergembira. Setelah beberapa menit pertama mereka terlihat cukup tegang. Karena takut kalah dan bisa-bisa harta melayang. Namun kini, sepertinya harapan berpihak pada mereka.


"Come on, Dan."


Beberapa orang pendukung Daniel berujar dengan penuh penekanan, ketika Daniel melintas di depan mereka semua. Sementara Ellio masih diam, namun fokus dan terus berharap.


Beberapa putaran terlewati, hingga sisa tiga putaran terakhir. Persaingan pun semakin sengit, Richard terlihat kembali mendahului Daniel.


Karena sudah sangat dekat dengan putaran terakhir, Daniel mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya. Pria tersebut berusaha keras mendahului Richard.


Seluruh pendukungnya tegang, bahkan tak ada yang berani berbicara sepatah pun. Sampai kemudian di menit-menit terakhir, ia berhasil mendahului Richard. Bahkan kini ia sudah akan sampai di garis finish.

__ADS_1


"Yes, come on Dan." Teriak para penonton lagi.


Daniel menaikkan kecepatan, namun tiba-tiba.


"Braaak."


Ia melihat Richard yang berada di belakangnya, keluar dari lintasan dan menabrak pembatas. Seketika seluruh penonton pun panik. Daniel yang sudah sedikit lagi mencapai garis finish tersebut, langsung menghentikan kendaraannya. Ia keluar dan berlarian ke arah mobil Richard, bersama seluruh team dan pihak terkait.


Langit kelabu, Daniel seperti orang gila melihat sahabatnya tak sadarkan diri di dalam. Pria itu berusaha membuka pintu dengan dibantu orang-orang yang berkerumun. Lima detik setelah Richard berhasil di keluarkan, mobil tersebut meledak dan terbakar.


Semua yang ada di sana berteriak, Daniel terdiam lemas. Baru saja Richard selamat dari maut.


Richard dilarikan ke rumah sakit terdekat. Daniel, Ellio beserta Liem dan beberapa teman mereka yang lain, kini menunggu hasil pemeriksaan. Tak lama setelah itu dokter menghampiri mereka dan menyatakan jika kondisi Richard baik-baik saja. Semua bernafas lega, namun kemudian Daniel mendapat telpon dari sebuah nomor.


"Halo, om Daniel."


"Halo ini siapa?" tanya Daniel.


"Om ini Adisty, temennya Lea."


"Iya, kenapa Dis?" tanya Daniel lagi.


"Le, Lea om."


Adisty menjelaskan apa yang telah terjadi, seketika Daniel syok dan jantungnya berdegup kencang.


"Apa?"


Nafas Daniel begitu memburu, segera saja ia meminta Adisty untuk memberitahu tempat dimana Lea berada.


"Dan, kenapa?" Ellio menghampiri Daniel.


"Ellio, Lea."


"Lea kenapa?"


Daniel menjelaskan pada Ellio apa yang terjadi, dan Ellio sama terkejutnya.


"Gue harus kesana sekarang, lo jaga Richard." ujar Daniel masih dengan nafas yang memburu. Ia terlihat begitu panik sejak tadi.


"Ok." ujar Ellio dengan nafas yang tak kalah memburunya. Baru selesai satu masalah, kini muncul masalah baru, betapa ingin ia berteriak kesal.

__ADS_1


Daniel segera beranjak.


"Dan." Ellio menghentikan langkah sahabatnya itu.


"Ya." ujar Daniel seraya menoleh.


"Hati-hati, kontrol emosi dan konsentrasi."


Daniel mengangguk, sesaat kemudian ia pun bergegas.


***


"Lea, kamu tuh bikin jantung aku mau lepas tau nggak."


Daniel berkata dengan nada yang penuh emosional. Pria itu kini tak kuasa menahan tangisnya.


"Maafin aku, mas. Namanya juga kehamilan pertama, aku panik pas perut aku kram."


Daniel masih saja menangis, kini mereka berdua berada tepat di hadapan seorang dokter.


"Pak, saya mengerti ketakutan bapak. Tapi istri bapak baik-baik saja. Kram saat kehamilan itu lazim terjadi, bisa karena beberapa faktor. Tapi itu biasanya tidak menjadi masalah besar."


Daniel menyeka air matanya dengan tangan, dokter tersebut tersenyum.


"Beneran itu nggak apa-apa dok?" tanya nya kemudian.


"Iya, tadi itu mungkin kramnya biasa. Tapi karena istri bapak berada dalam kondisi yang sangat panik, pikirannya kemana-mana, teman-temannya juga panik. Jadi terasa seperti sangat sakit, padahal tidak seperti itu kenyataannya."


"Emang panik tuh bahaya banget ya dok?" Lea bertanya dengan polosnya.


"Iya, yang membuat segala sesuatu lebih parah itu ya rasa panik yang berlebihan. Dan bisa juga menyebabkan masalah lain. Karena ketika kita panik, kita tidak sadar sudah melakukan apa saja."


Daniel menundukkan pandangan matanya, ia merasa tubuhnya lemas selemas-lemasnya. Sementara Lea kini mengusap-usap bahu dan punggung suaminya itu.


"Maaf ya mas, maaf banget."


Dokter kembali tersenyum melihat mereka berdua. Konsultasi pun berlanjut hingga beberapa saat. Tak lama kemudian, Lea sudah boleh dibawa pulang.


***


Instagram @pratiwidevyara

__ADS_1


tiktok @pratiwidevyara


__ADS_2