
"Ayah, mas Daniel ada sama ayah nggak. Soalnya aku hubungin nggak di angkat, di chat juga nggak di bales."
Lea menelpon Richard di waktu yang hampir menyentuh tengah malam.
"Iya, Daniel ada sama ayah. Tapi mungkin dia nggak pulang dulu malam ini. Sebab dia tadi ketemu ibunya, dan sekarang Daniel lagi mabuk berat."
Richard menoleh pada Daniel yang tertidur disisi kirinya. Sedang ia masih berada di dalam mobil menuju ke rumah.
"Mas Dan mabuk?" tanya Lea kaget.
"Iya, tadi pertemuannya nggak sesuai harapan. Daniel marah sama ibunya dan dia stress. Terus ayah temenin dia untuk minum. Ayah bawa ke rumah dulu malam ini, karena takutnya kamu repot ngurus dia nanti. Kamu juga lagi hamil, kasian kamu."
Lea menghela nafas.
"Ya udah kalau gitu, yah. Yang penting aku tau mas Dan aman. Titip mas Dan ya yah."
"Iya, kamu nggak usah khawatir. Tidur gih, udah malam."
"Iya yah, maaf ya yah ngerepotin."
"Iya, kamu santai aja. Dah sana, tidur...!"
"Iya yah."
Lea segera menyudahi telpon tersebut dan Richard melanjutkan perjalanan. Jujur sejatinya Lea khawatir sekaligus kasihan pada Daniel.
Namun ia percaya jika Richard lebih bisa mengurus Daniel saat ini. Sebab Daniel adalah teman yang sudah dianggap saudara sendiri oleh ayahnya itu. Richard pasti tau bagaimana cara menghadapi serta menangani Daniel.
***
"Bro, dimana?"
Ellio menelpon Richard.
"Udah balik gue, Daniel udah tepar soalnya." jawab Richard.
"Oh gue kira masih disana, mau gue samper maksudnya tadi." ujar Ellio.
"Udah balik." jawab Richard.
"Mobilnya Dan tinggal?"
"Nggak, supir gue yang bawa." ujar Richard lagi.
"Oh ok lah kalau gitu. Butuh bantuan nggak?" tanya Ellio lagi.
__ADS_1
"Nggak sejauh ini aman koq." jawab Richard.
"Lo tadi gimana sama nyokapnya Daniel?"
Richard agak menoleh sedikit, takut Daniel mendengar pertanyaan yang ia lontarkan pada Ellio. Namun Daniel benar-benar sudah tak sadarkan diri.
"Gue agak kasihan sih sama nyokapnya Daniel." jawab Ellio.
"Tapi gue juga tau gimana penderitaan Daniel selama ini." lanjutnya kemudian.
Richard menghela nafas.
"Gue juga bingung mesti ngapain, bro. Gue nggak bisa nyalahin Daniel juga dalam hal ini. Karena kita berdua yang jadi saksi gimana Daniel selama ini. Tapi mau nyalahin nyokap nya juga, ya gimana. Itu nyokapnya Daniel biar bagaimanapun."
"Iya, makanya. Dan nyokapnya Daniel tuh ngajak dua anaknya kesini. Kedua adiknya Daniel sempat nanyain mana kakak mereka."
"Oh ya?"
"Iya bro, cowok-cewek anak nyokapnya sama orang Turki itu. Kayaknya nyokap Daniel udah cerita deh ke mereka, kalau mereka punya kakak. Mereka kayak kecewa gitu nggak bisa ketemu Daniel."
Lagi-lagi Richard menghela nafas.
"Pokoknya hari ini kita akhiri dulu. Gue, elo, Daniel, istirahat dulu. Siapa tau besok segalanya udah berubah, dan kita dapat jalan keluar."
"Iya bro, semoga aja besok Daniel lebih bisa menerima semua ini. Setidaknya kita masih punya beberapa hari lagi, sebelum nyokap dan adek-adeknya Daniel balik ke Turki."
"Ya udah, lo hati-hati di jalan." ujar Ellio.
"Lo juga." jawab Richard.
Maka Ellio mengakhiri panggilan tersebut. Richard kini telah sampai di muka pintu pagar rumahnya dan menghidupkan klakson mobil. Tak lama seorang sekuriti membukakan pintu pagar tersebut dan Richard pun masuk.
"Pak, bantu saya pak...!"
Richard meminta tolong pada sekuriti untuk membantunya membawa Daniel ke dalam. Meski dengan susah payah, akhirnya Daniel berhasil di bawa masuk ke dalam. Ia dibaringkan pada sebuah tempat tidur. Richard melepaskan jas dan sepatu sahabatnya itu.
Kebetulan Daniel memang memakai kaos dan bukan kemeja sebagai baju dalamnya. Hingga ia pun bisa tidur nyaman dengan kaos tersebut dan Richard tak perlu menggantinya.
Usai mengurus Daniel dan memastikan ia tidur dengan baik. Richard pun meninggalkan kamar tersebut dan menuju ke kamarnya.
***
Flashback
Kembali ke saat di hari Sharon menghilang.
__ADS_1
Saat itu Sharon terbangun dan sayup-sayup melihat jika tubuhnya terbaring di sebuah tempat yang asing baginya.
Tempat itu adalah sebuah kamar, yang besar dan mewah. Namun ia benar-benar tak tau dimana tempat itu. Sharon berusaha bangun, meski kepalanya masih terasa pusing dan pandangan matanya masih kabur. Ia ingat jika ada orang yang membiusnya tadi.
"Kamu sudah bangun?"
Seseorang membuka pintu dan berbicara pada Sharon. Sharon diam dan memperhatikan orang tersebut baik-baik. Hingga penglihatan matanya yang kabur menjadi lebih jelas.
"Om Herman?"
Sharon benar-benar terkejut. Pria itu berjalan dan mendekat ke arahnya sambil tersenyum. Sharon panik dan ketakutan, ia hendak berlari namun Herman menahannya.
"Kenapa saya disini?. Om bawa saya kemana, saya mau pulang."
"Ssssttt, kamu tenang ya. Kamu ada di rumah om, disini kamu aman." jawab Herman.
Sharon memberontak, namun tangan kekar Herman menahan laju tubuh gadis itu. Herman memeluk Sharon dengan erat, meski ia terus saja memberikan perlawanan.
"Lepasin saya, atau saya teriak." ancam Sharon.
Herman tersenyum.
"Teriak aja sayang, nggak ada yang dengar juga. Antara rumah satu dan rumah lainnya dipisahkan halaman yang luas dan juga pagar tinggi. Nggak akan ada yang mendengar, walau sampai suara kamu habis."
Sharon terus melawan dan Herman semakin erat memeluknya.
"Om sayang kamu, Sharon. Dan om nggak akan nyakitin kamu."
Herman mencium kening Sharon, sementara Sharon terus berfikir bagaimana caranya pergi dari tempat itu.
***
Pada saat yang bersamaan, Maya dan Tasya mulai resah. Apalagi ketika ada telpon dari pihak rumah sakit yang mempertanyakan keberadaan Sharon. Sebab dokter ingin bicara pada gadis itu, mengenai kondisi ibunya yang saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit. Ada beberapa tindakan yang harus diambil atas dasar persetujuan Sharon.
"Kemana sih tuh anak, bikin khawatir aja deh." ujar Maya dengan nada resah.
"Tau nih, nggak biasanya loh dia begini." timpal Tasya.
"Apa kita samperin aja ke rumahnya?. Soalnya nomor dia nggak bisa dihubungi juga." ujar Maya lagi.
"Ya udah deh, kita ke sana aja. Gue takut dia pingsan atau bunuh diri, atau apa." ujar Tasya lagi.
"Omongan lo, Sya. Jangan gitu napa?. Masa Sharon bunuh diri." Maya kesal pada omongan Tasya barusan.
"Ya siapa tau aja, May. Namanya juga orang lagi kalut, banyak pikiran, mana nggak ada yang bantuin dia. Bisa aja kan dia jadi kepikiran ke hal-hal kayak gitu." Lagi-lagi Tasya berujar.
__ADS_1
"Ya udah deh, ayo buruan...!"
Maya bergegas mengambil kunci mobil. Sesaat kemudian mereka sudah terlihat melintasi jalan demi jalan, guna menuju ke kediaman Sharon.