Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Party Teakhir Ellio


__ADS_3

Musik yang perlahan berubah menjadi gegap gempita. Sebab malam telah mulai larut. Ellio ditemani Daniel dan juga Richard masuk ke tempat hiburan malam miliknya.


Seperti diketahui di awal, ia memang merupakan pengusaha sekaligus pemilik tempat hiburan malam.


Tapi hari ini adalah terakhir kalinya ia mengelola tempat itu. Ellio dengan berbesar hati mewariskan tempat hiburan malam tersebut kepada saudara sepupunya Elden, yang saat ini masih berusia 23 tahun.


Ia telah berpikir panjang, dan memutuskan untuk menafkahi istri serta anaknya dengan uang halal saja. Toh ia masih punya perusahaan, dan bisnis-bisnis lain yang bukan dari tempat maksiat.


Ellio tak akan menerima royalti apapun lagi dari tempat tersebut. Dan baik Daniel maupun Ellio sama-sama terkejut, namun bangga dengan keputusan yang diambil teman mereka itu.


"Kalian semua yang hadir disini boleh minum apa aja sepuasnya, sampai jam 04:00 dini hari nanti. Gratis!"


Ellio berkata kepada seluruh pengunjung dan langsung disambut sorak sorai oleh mereka semua. Tak lama pria itu pun turun dari tempat pengumuman dan menghampiri Daniel serta Richard yang tengah duduk di sebuah meja.


"I'm so proud of you, bro. Lo berani ninggalin bisnis sebesar ini."


Richard berujar seraya menepuk bahu sahabatnya itu, sambil menyatakan rasa salut yang luar biasa. Sementara Ellio kini tersenyum.


"Cukup gue aja yang pernah makan duit haram. Kalau bisa istri dan anak gue jangan." ujarnya kemudian.


Ketiganya lalu sama-sama tertawa. Tak lama Daniel menuang minuman ke dalam masing-masing gelas dan mengangkat salah satunya ke atas.


"For the last time." ujarnya kemudian.


"For the last time."


Ellio dan Richard mengatakan hal serupa sambil mengangkat gelas mereka. Kemudian gelas-gelas tersebut beradu hingga mengeluarkan sebuah suara.


"Ting."


Mereka lalu mereguk minuman tersebut sampai habis.


***


Flashback.


Kembali kepada saat Daniel serta Richard mengadakan ritual mandi kembang ala mereka di rumah Ellio.


Saat itu para maid sexy yang telah dibayar keluar dan membawakan makanan serta minuman untuk Ellio. Makanan serta minuman itu kemudian di letakkan ke atas meja yang ada di dekat pria itu.


"Silahkan tuan Ellio." ujar salah satu dari mereka dengan nada genit.

__ADS_1


Ellio refleks hendak menepuk bagian belakang maid tersebut, karena bongkahannya sangat sintal dan juga padat. Membuat kejantanan Ellio yang bersembunyi di balik celana boxer tampak meronta-ronta.


Namun hal tersebut tak jadi ia lakukan, lantaran saat ini ia tengah di awasi oleh Daniel dan juga Richard.


Kedua sahabatnya itu berada di kursi santai yang letaknya tak begitu jauh dari Ellio. Daniel duduk dengan karet gelang setumpuk di sisinya. Ia akan menggunakan karet gelang tersebut untuk menjepret Ellio, apabila Ellio ketahuan ganjen terhadap salah satu dari maid yang tengah bertugas.


sementara Richard saat ini memegang ketapel, yang sengaja ia beli dari toko online sebelum ritual ini dimulai. Di dekat ketapel itu ada beberapa batu kerikil yang ia kumpulkan dari halaman. Richard tak segan-segan menembakkan batu kerikil tersebut apabila Ellio melanggar ketentuan.


Tentu saja ini merupakan ujian terbesar dalam hidup Ellio. Daniel dan Richard mengatakan inilah saatnya melatih ketahanan teman mereka itu terhadap godaan.


Sebab di dalam setiap perjalanan rumah tangga, akan ada banyak perempuan yang mendekat dan menggoda seorang pria. Apalagi pria itu merupakan pria yang mapan secara finansial.


Akan selalu ada saja perempuan yang hendak menumpang hidup dan mengeruk harta si laki-laki, dengan jalan menggoda atau merusak rumah tangga orang.


Daniel dan Richard sendiri sudah terlanjur suka dan sayang dengan Marsha. Mereka percaya Marsha adalah perempuan yang mampu membahagiakan Ellio.


Mereka tak ingin nanti kedepannya mendengar rumah tangga Ellio serta Marsha hancur, akibat ulah orang ketiga. Lalu anak-anak yang lahir dari pernikahan mereka akan menjadi korban.


Untuk itulah hari ini mereka sengaja menyiapkan perempuan, untuk mengecek seberapa besar ketahanan Ellio terhadap godaan.


"Pletak."


"Aaaw."


Ellio menggerutu kesal ketika sebuah batu kerikil mendarat dengan kejam di bagian siku tangannya. Batu tersebut ditembakkan melalui ketapel yang saat ini tengah di pegang oleh Richard.


"Lo ganjen banget cara ngeliatnya."


Richard menyinggung tatapan mata Ellio ke arah seorang maid yang tadi melintas di dekat mereka.


"Kagak, orang gue biasa aja." Ellio membela diri.


"Apaan orang gue juga ngeliat kalau lo jelalatan." timpal Daniel.


"Lo nggak usah ngomporin Richard ya Dan." Ellio tampak sewot.


Daniel lalu meraih satu karet gelang dan menembakkannya pada Ellio. Dengan segera Ellio pun menceburkan diri ke kolam, lalu meliuk-liuk menjauh layaknya belut listrik yang tersambar petir.


***


Kembali ke saat ini.

__ADS_1


"Kenapa Lea."


Reynald datang dengan Arsen di pagi buta, tepatnya pukul 03:01 dini hari. Setelah ia mendapatkan telpon dari Lea yang tampaknya sangat penting.


Lea menyuruh om nya itu segera datang. Karena khawatir terjadi apa-apa, Reynald tak lagi bertanya mengapa dan langsung membangunkan Arsen yang masih tertidur. Kemudian mereka pun tancap gas, meninggalkan rumah.


"Ini om." jawab Lea lalu menunjukkan sesuatu.


"Astaga."


Reynald menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak Daniel, Richard, maupun Ellio terkapar di ruang tengah dalam keadaan mabuk.


"Mabok kayak gini om, gimana coba?. Mana keadaan keluarga kita lagi di incer orang. Kalau misalkan tiba-tiba ada yang menyerang tempat ini gimana?. Bodyguard yang bertugas cuma dua orang loh malam ini, security dua. Kalau diserang sama orang banyak gimana?. Mana bisa aku menyelamatkan mereka."


Reynald kembali menarik nafas dan masih memperhatikan saudara beserta kedua sahabatnya itu. Sementara Daniel, Richard dan Ellio sudah mendengkur tanpa dosa.


"Ya udah, sekarang kamu tidur gih. Biar om yang jaga disini." ujar Reynald kemudian.


"Arsen kamu juga tidur."


"Iya pa." jawab Arsen.


"Makasih ya om, maaf nyusahin jam segini." ujar Lea lagi.


Reynald pun mengangguk. Tak lama Lea dan Arsen sudah terlihat menuju ke lantai atas. Sementara Reynald pergi ke dapur untuk membuat kopi.


***


"Richard bangun, kita harus pulang. Ntar yang jagain Lea sama Darriel siapa?"


Daniel berkata pada Richard, sambil mengguncang-gincang tubuh sang ayah mertua. Richard terbangun kaget diikuti Ellio.


"Hah, jam berapa ini?"


Mereka panik, namun kemudian mereka sama-sama melihat Reynald yang tengah duduk di sofa sambil melebarkan bibir.


"Rey?"


Daniel bingung dan memperhatikan sekitar, begitupula dengan Richard dan juga Ellio.


"Bagus lo pada semalam langsung sampe ke rumah. Kalau sampai ke kali, nyungsep lu pada tenggelam." ujar Reynald kemudian.

__ADS_1


"Udah tau suasana lagi genting, malah mabok. Nyetir mobil lagi. Bagus nggak ketemu polisi dijalan." lanjut pria itu lagi.


__ADS_2