Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Bimbang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Usai diberi kenikmatan pagi oleh sang suami, Lea mandi dan menyiapkan sarapan. Sebentar lagi ia akan berangkat ke kampus.


"Le."


"Iya mas?"


"Aku nanti siang harus ke Bandung, selama dua hari. Ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan, kamu mau ikut?"


Lea diam dan berfikir.


"Hmm, kayaknya mager deh mas." jawab Lea.


"Bukannya kamu libur besok?" tanya Daniel lagi.


"Ya libur sih, tapi temen ngajak jalan."


"Siapa?. Temen-temen kamu yang cowok itu?" tanya Daniel dengan wajah setengah sewot. Ia masih cemburu pada teman kampus Lea, yang laki-laki.


"Iya, tapi ada ceweknya juga."


"Oh ya udah, besok aku perginya bareng Marsha."


"Siapa Marsha?" tanya Lea kemudian.


"Dia sekertaris baru di kantor aku."


"Degh."


Bathin Lea tersentak, tiba-tiba ia merasakan sensasi aneh dalam dirinya. Ya semacam perasaan cemburu, namun buru-buru ia tepis. Ia tak mau menghalangi Daniel, guna mencegah Daniel melakukan hal yang sama terhadap dirinya.


Ia tak ingin suaminya itu berubah, menjadi suami yang tukang ngatur serta cemburuan. Gara-gara sikap Lea yang terlebih dahulu mencemburui sang suami.


"Oh ya udah." ujar Lea.


"Hati-hati di jalan." lanjutnya kemudian.


Ia tampak cuek, lalu menyantap sarapan paginya. Setelah itu ia dan Daniel berpisah, untuk berangkat ke tujuan masing-masing. Daniel ke kantor dan Lea ke kampus.


Siang harinya, Daniel menelpon Lea, dan mengatakan jika ia ingin meninggalkan beberapa kunci untuk istrinya tersebut. Dikarenakan tadi pagi ia lupa.


Lea pun mengiyakan dan menyuruh sang suami untuk mampir ke kampus. Kebetulan ia, Vita, dan Nina kini tengah duduk bersama di sebuah spot sambil menunggu kelas berikutnya.


Beberapa saat kemudian Daniel tiba dan keluar dari dalam mobil, ia langsung menghampiri Lea. Ketika Daniel melangkah, banyak pasang mata yang seolah terhipnotis oleh ketampanannya. Banyak gadis menoleh ke arah pria itu, hingga membuat para pemuda iri terhadap Daniel.


"Lea, ini kuncinya." ujar Daniel seraya memberikan kunci pada sang istri. Lea pun menerima kunci tersebut.


"Hati-hati di jalan, mas." ujar Lea kemudian. Tak lama seseorang terdengar memanggil Daniel dari kejauhan.


"Pak, ada telpon."

__ADS_1


Lea, Vita, dan Nina kompak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Seorang wanita cantik berpakaian kantoran tengah berbicara ke arah Daniel.


"Ya udah aku pergi dulu ya, baik-baik disini."


Daniel mencium kening Lea. Pada saat yang bersamaan Iqbal, Rama, dan Dani melihat dari kejauhan.


"Siapa tuh?" tanya Rama.


"Biasa, bokapnya Lea." jawab Iqbal penuh percaya diri.


Sementara di tempatnya hati Lea seperti terbakar, begitu pula dengan Vita dan juga Nina. Lea ingat saat Daniel mengatakan, jika ia akan pergi dengan sekretarisnya yang bernama Marsha.


"Siapa itu, Le?" tanya Vita sambil memperhatikan Marsha, yang kini masuk ke mobil. Daniel pun sama masuk, usai menerima handphone dari sekretarisnya itu.


"Itu, itu Marsha. Sekretaris barunya mas Dan." jawab Lea.


"Ngapain dia di mobil laki lo?" Nina balas menimpali pertanyaan Vita.


"Mereka pergi bareng ke Bandung, mas Dan udah bilang dari tadi pagi. Bahkan dia ngajak gue, cuma gue mager." jawab Lea.


Vita dan Nina saling bertatapan.


"Dan lo biarin aja mereka pergi berdua?" tanya Nina, diikuti tatapan heran dari Vita.


"Emangnya kenapa?" Lea balik bertanya, membuat kedua sahabatnya itu kompak menepuk dahi dengan tangan.


"Lea, Lea. Hari gini lo percaya gitu aja sama orang?" Vita mulai mengoceh.


"Bener, ini sama aja lo ngasih kesempatan sama itu cewek buat jadi pelakor dalam rumah tangga lo." timpal Nina.


"Ye, belum tentu juga mas Dan suka sama itu cewek. Atau itu cewek suka sama mas Dan."


"Le, laki lo makhluk good looking begitu. Mapan pula, iya nggak Vit?" tanya Nina.


"Bener, sangat jarang cewek yang nggak suka sama tipe laki-laki kayak model laki lo." timpal Vita.


Lea mulai memperhatikan kedua temannya itu dengan serius.


"Lo jangan anggap remeh kekuatan "Bertemu setiap hari." Tadinya nggak suka, bisa aja jadi suka lama-lama. Orang tiap hari ketemu dan berinteraksi." Nina semakin memanas-manasi Lea.


"Apalagi lo nggak tau di Bandung sana, mereka nginep di hotel mana. Biasanya bos sama sekretaris itu deketan kamarnya." ujar Vita.


"Terus gue harus gimana dong?" tanya Lea dengan ekspresi yang mulai panik.


"Ya lo harusnya ikut." ujar Nina gregetan.


"Tapi kan nggak mungkin setiap perjalanan mas Dan gue ikut. Gue cuma mau mencoba percaya aja sama laki gue."


Vita dan Nina menghela nafas. Suami Lea yang pergi dengan perempuan, mereka justru yang kerepotan.


"Pokoknya untuk pergi jarak dekat, dan kalau suami lo ngajak, lo mesti ikut." ujar Nina.

__ADS_1


"Bener, lo nggak mau di duain kan?" tanya Vita lagi.


"Ya nggak mau lah, amit-amit deh." ujar Lea.


"Makanya laki lo di jagain, apalagi sekertarisnya tadi. Tampangnya aja, tampang penggoda gatel. Cowok kalau udah di bukain lebar-lebar depan matanya, pasti tergoda juga." tukas Nina.


Lea pun kini jadi kepikiran, ia mengingat jelas bagaimana rupa dan penampilan Marsha. Dia perempuan cantik, modis, mirip artis Korea. Ia juga memiliki tubuh tinggi semampai yang sangat serasi bila berdampingan dengan Daniel.


***


"Hhhh, bodoh banget sih gue. Kenapa tadi gue nggak ikut aja."


Kali ini Lea menjadi uring-uringan sendiri. Ia telah kembali ke rumah dan sampai detik ini belum bisa tenang. Ia terus terpikir akan ucapan Vita dan juga Nina tadi di kampus.


"Duh, mas Dan lagi apa ya sekarang?"


Lea meraih handphone dan mencoba menghubungi nomor suaminya itu.


"Nomor yang anda tuju, tidak menjawab."


"Duh, ngapain sih dia."


Lea menjadi semakin cemas, pikirannya kini sudah kemana-mana. Padahal begitu sampai di Bandung, Daniel langsung menemui rekan bisnisnya. Ia adalah orang yang anti membuang waktu dalam sebuah perjalanan kerja.


Sementara Lea sudah salah duga, ia mengira Daniel tengah bermesraan dengan sekretarisnya itu. Hati Lea pun mendadak hangus, karena sudah terbakar sejak siang tadi.


"Apa gue ke Bandung aja ya, sekarang?"


Lea menelpon Vita dan Nina pada sebuah konferensi call, demi meminta sebuah pendapat.


"Ya udah, lo susul aja ke Bandung." ujar Nina gregetan.


"Tapi gue nggak tau, mas Dan sama si Marsha nginep di hotel mana."


"Emang lo nggak nanya sama laki lo?" tanya Vita.


"Kagak, ini juga gue telpon nggak diangkat."


"Duh Lea. Lo tuh bener-bener ya, terlalu percaya sama semua hal." Vita kesal.


"Iya abis kayaknya nggak mungkin, mas Dan bakalan selingkuh."


"Iya syukur kalau nggak kejadian, tapi kan kita butuh buat jaga-jaga." ujar Vita.


"Iya gue paham, terus gue harus gimana dong?" Lea mulai merengek pada kedua temannya itu.


"Ya udah lo ke Bandung aja sekarang, urusan nemuin dia nanti. Lo kirim WhatsApp aja ke laki lo dan tanyain dia dimana, nggak usah bilang kalau lo nyusul. Pas dia ngasih tau nanti, langsung samperin aja."


"Oh ok, berarti gue berangkat sekarang nih?" tanya Lea.


"Tahun depan." ujar Vita dan Nina sewot, Lea sempat terkekeh sejenak meski hatinya kini begitu berkabut. Tak lama kemudian, ia pun bersiap diri.

__ADS_1


__ADS_2