Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Periksa Kandungan


__ADS_3

Lea memasak hidangan istimewa hari itu. Terdiri dari beberapa menu masakan ala Eropa, yang resepnya ia lihat di YouTube.


Lea ingin kejutan ini maksimal, supaya bahagia yang dirasakan oleh sang suami bisa meluap bahkan tumpah kemana-mana.


Ia menyajikan semuanya dengan gembira, menyusun meja sedemikian rupa dan berdandan agak lebih dari biasanya.


Jika pada hari-hari sebelumnya, Lea lebih banyak memakai makeup simpel ala Korea. Kini ia memakai riasan ala American girl, yang hot dan juga sexy. Tak lupa ia juga mengenakan sebuah simpel dress, dengan belahan yang cukup tinggi.


Ia bersiap menunggu Daniel, sambil terus mengkhayal bagaimana reaksi sang suami. Jika mengetahui dirinya saat ini tengah hamil. Daniel sangat menginginkan anak itu, dan tentu saja ini akan jadi momen paling memorable dalam kehidupan pernikahan mereka.


Satu, dua, tiga.


Tiga jam berlalu dari waktu seharusnya Daniel pulang. Mungkin masih lembur pikir Lea, akan menjadi momen yang paling pas ketika Daniel tengah lelah dengan pekerjaan. Lalu ia diberi surprise berupa kehamilan istrinya. Lea kini kembali senyum-senyum sendiri, sampai kemudian ia menerima pesan dari Daniel.


"Lea maaf, mendadak aku harus ke luar kota. Aku udah di bandara, bentar lagi take off. Jaga diri baik-baik, aku paling beberapa hari disini."


Lea diam, jujur ia agak kecewa. Karena kejutannya kali ini tidak berhasil. Sejatinya bisa saja ia memberitahukan pada Daniel melalui pesan singkat di WhatsApp. Bahwasanya saat ini ia tengah mengandung.


Namun tak ada video yang bisa ia ambil. Ia ingin sekali memiliki rekaman saat pertama kali suaminya tahu jika ia hamil. Seperti banyak yang dilakukan orang-orang di YouTube. Lea ingin menyimpannya sebagai kenangan manis, yang bisa ia lihat saat telah menua nanti.


"Ya udah, mas hati-hati."


Lea membalas pesan sang suami, meski kini hanya centang satu. Agaknya Daniel telah masuk ke dalam pesawat. Setidaknya Lea harus lebih sedikit bersabar, untuk mencapai keinginannya.


***


Waktu berjalan, Lea kembali muntah saat bangun di pagi hari. Sepertinya ia harus segera pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungannya. Ia butuh bantuan untuk mengatasi morning sick yang ia alami akhir-akhir ini. Maka dengan ditemani Nina, Lea pergi ke dokter kandungan yang biasa menangani Nina.


"Ini umurnya sudah hampir tiga bulan."


Dokter yang memeriksa memberitahu pada Lea.


"Hah, masa sih dok?"


Lea benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia pikir usia kandungannya masih tiga atau empat minggu.


"Iya, kamu nggak nyadar selama itu?" tanya dokternya lagi.


Lea menggeleng.


"Saya nggak ngerti, dok."


"Suami kamu?"


"Su, suami saya juga nggak tau. Ini anak pertama kami dan kami bener-bener nggak tau."


Dokter tersebut menghela nafas, ia melihat betapa mudanya Lea. Ia paham jika perempuan seusia itu banyak tidak pahamnya mengenai kehamilan.


"Baik, apa ada keluhan?" tanya dokternya lagi.


"Mual doang sih dok, tiap pagi."

__ADS_1


"Itu keluhan normal, sebagian besar wanita hamil mengalaminya pada trimester pertama."


"Tapi dok, apa bayi saya nggak apa-apa?. Soalnya kami masih aktif berhubungan karena nggak tau, dan saya pernah beberapa kali minum obat saat saya sakit."


"Nggak, bayinya baik-baik aja. Dan untungnya cepat disadari kalau kamu hamil."


Lea bernafas lega, ia hampir saja menangis karena sudah ketakutan.


"Lo gimana sih Le, hamil bisa nggak ketahuan. Emang lo nggak sadar, nggak datang bulan."


"Gue tuh sering datang bulan dua bulan sekali atau empat bulan sekali, Nin. Sisanya kadang tiap bulan lancar, makanya gue nggak ngeh kalau perut gue ada isinya."


Nina menghela nafas, apa yang dialami Lea juga banyak dialami gadis lain. Dimana siklus datang bulan mereka tidak lancar setiap bulan. Namun itu tidak serta merta membuat mereka sulit hamil, buktinya Lea kini mengandung.


"Ya udah, lo mau gue temenin kemana nih?" tanya Nina.


"Ini nebus vitamin, sama nanti gue mau beli susu hamil."


"Ya udah, ntar gue temenin. Lo beneran nggak mau kasih tau laki lo sekarang?"


"Ntar nggak surprise, gue pengen ada video rekamannya. Buat kenang-kenangan kalau gue udah tua nanti."


Nina tersenyum kali ini.


"Ya udah deh, mending kita jalan aja sekarang. Cepet selesai, lo cepet pulang dan cepet istirahat."


"Iya."


"Akhirnya hamil." Nina mengelus perut Lea, mereka berdua kini tertawa-tawa.


"Iya kalau mereka sama-sama mau." ujar Lea.


Mereka pun lalu pergi menebus vitamin, sesaat setelahnya mereka pun pergi ke supermarket.


***


Flashback ke perjalanan Daniel semalam.


Saat itu hari telah larut, ia, Marsha, dan satu petinggi perusahaan, serta dua karyawan lainnya yang ikut tiba di kota yang dimaksud.


Daniel yang saat itu baru keluar dari pesawat tiba-tiba merasakan mual yang amat sangat. Bahkan ia hendak muntah dan tak bisa menahannya.


"Dan, lo kenapa?"


Yohan, salah satu rekan sekaligus petinggi di perusahaannya bertanya.


"Nggak tau gue, hmmph. Mau muntah rasanya."


Daniel berusaha mengambil nafas, diantara udara yang terasa sesak.


"Lo nggak biasanya naik pesawat mau muntah. Mau turbulensi sekalipun, lo biasa aja pas turun."

__ADS_1


"Nggak tau gue."


Daniel menghentikan langkah dan masih mencoba mengatur nafas. Marsha kemudian memberikan sebotol air mineral padanya."


"Stress kali lo, mana ngopi mulu lagi gue liat." Yohan kembali berujar.


Daniel mereguk air mineral itu dan berujar pada Yohan.


"Maybe, gue mikirin kerjaan banget beberapa hari ini."


"Ya udah, kita harus buru-buru sampe hotel. Biar lo bisa istirahat."


Daniel mengangguk, mereka pun kini berjalan.


***


Kembali pada Lea dan Nina.


"Nih, lo minum dulu."


Nina membuatkan susu hamil untuk Lea, ketika mereka telah berada di kediaman Daniel. Nina mengantar Lea, karena tadi Lea mendadak pucat dan seperti hendak muntah.


Lea meminum susu tersebut perlahan, dan ternyata ia menyukai rasanya.


"Enak, Nin. Gue pikir bakalan enek."


"Yang merk ini emang enak, Le. Makanya gue saranin ke elo, karena gue juga minum susu yang sama."


Lea tersenyum, ia lalu mengelus perutnya sendiri. Agak sedikit membuncit di ujung, tapi belum sebesar perut Nina.


"Lo ngerasa aneh ya, Le?" tanya Nina.


"Iya, dan takut juga. Tapi gue seneng, di perut gue ada bayi."


Nina tersenyum bahagia.


"Lo jaga baik-baik, jangan begituan dulu sebelum lewat tiga bulan."


"Tapi gue sama mas Dan, begituan mulu."


"Ya nggak boleh harusnya. Denger kan dokter bilang, trisemester pertama itu masa-masa paling rentan. Lo beruntung aja bayi lo kagak kenapa-kenapa."


"Abis gue nggak tau, kalau gue hamil. Dan lo tau kan model laki gue gimana. Tinggi, ganteng, sixpack, hot, sexy. Kalau ngeliat dia bawaannya pengen beranak pinak mulu."


Kali ini Nina terbahak.


"Ya suami gue juga sama, walau masih gantengan laki lo. Tapi gue tahan-tahan aja, takut bayi gue kenapa-kenapa."


"Tapi masih boleh kan ya, kalau udah lewat trisemester pertama?"


"Selama kehamilan lo nggak ada masalah, boleh-boleh aja. Justru bagus, biar kita happy terus."

__ADS_1


Lea tersenyum, lalu dalam sekejap senyuman itu menjadi senyuman yang penuh tanduk.


"Dasar mesum lo, Le." seloroh Nina, Lea pun akhirnya tertawa-tawa.


__ADS_2