
"Jadi mereka itu tes HIV sendiri?"
Ellio bertanya pada Daniel, ketika dirinya beserta Richard tengah berada di ruang kerja Daniel.
"Iya, Lea pulang-pulang nangis. Padahal hasilnya negatif."
Ellio dan Richard tertawa kecil.
"Anak lo noh." seloroh Ellio pada Richard.
"Namanya juga masih bocah." celetuk Richard.
"Lo aja waktu itu mewek, pas pertama tes." lanjutnya kemudian.
"Dih siapa yang mewek?" Ellio mencoba membela diri.
"Hmm."
Richard dan Daniel memberi lirikan sambil tertawa.
"Gue liat lo berpaling sambil ngehapus air mata." ujar Richard.
"Iya, gue juga ngeliat." timpal Daniel.
"Eh kagak anjir, orang gua ngucek mata doang."
"Halah." Richard dan Daniel kompak menatap Ellio.
"Emang gue biasa koq aja saat itu."
Ellio masih bersikukuh. Richard dan Daniel sama-sama tertawa.
"Ngeles teros sampe mampus." Seloroh Daniel, Ellio pun lalu nyengir.
"Hehehe."
***
"Coba cicipin enak nggak?"
Adisty menyendok kuah bakso yang ia buat, dan menyuruh Lea mencicipinya.
"Sluuurp."
"Hmm, enak." ujar Lea.
"Nggak kurang apa-apaan kan?" tanya Adisty.
"Nggak, udah pas koq. Enak."
Disisi lain.
"Nggak selebar itu juga Rama, goreng bakwannya."
Ariana berseloroh pada Rama, yang menggoreng bakwan lebar-lebar di penggorengan.
__ADS_1
"Berisik lo Ar, ini tuh biar puas tau nggak."
"Iya tapi ini terlalu lebar, Bambang. Makannya nggak bisa di jumput, harus pake piring."
"Ya biarin aja sih, emang Lea nggak punya piring apa disini?"
"Ya tapi kan nggak enak aja, enakan kecil-kecil kayak yang di abang gorengan."
"Di abang gorengan dekat rumah gue gede-gede." ujar Rama lagi.
"Ah bokis lu."
"Dih siapa yang bokis, lo maen aja ke rumah gue. Sekali-sekali beli gorengan di sana.
Ariana dan Rama terus beradu argumen, akibat berselisih perihal ukuran bakwan. Nina ada di sofa sambil memasukkan snack ke dalam toples. Sedang Iqbal tampak tengah meracik es buah bersama Vita di meja lain. Dani tampak tengah mewadahi bihun pelengkap bakso ke dalam mangkuk, di meja makan.
Mereka semua hari ini berkumpul di kediaman Daniel. Tentu saja Lea sudah meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya itu.
Mereka tengah libur, dan memang sedang ingin berkumpul saja. Lea membeli berbagai makanan beku seperti nugget, French fries, dan juga bakso.
Teman-temannya ada yang membawa puding dan juga buah-buahan serta snack lainnya. Mereka rencananya akan nonton film bersama.
"Ih sebel gue, bego banget sih dia. Udah tau cowoknya begitu, masih aja di baikin."
Adisty menggerutu, ketika film telah berjalan beberapa menit. Ia kesal pada tokoh utama di film tersebut yang terlihat sangat lembek..
"Tau nih, pengen gue gebuk pala nih cewek." timpal Nina.
"Ini mah tipikal istri di sinetron ku menangis." timpal Lea.
"Ih apaan sih dia." Vita melempar bantal ke arah televisi dan memantul ke wajah Dani.
Para perempuan itu tidak melihat. Dani keki setengah mati, sementara Iqbal dan Rama kompak menahan tawa.
"Iiiih, begoooo."
Para perempuan kembali berseru, setelah diam selama beberapa detik.
"Itu sebelah kanan lo, itu."
Mereka berujar secara serentak, membuat Iqbal, Dani dan Rama yang semula terkejut menjadi lebih terkejut lagi.
"Hayolooo." Teriak mereka.
Rama mengelus dada.
"Ih benci banget gue." ujar Lea.
"Ini gimana sih?" Ariana menimpali.
"Dahlah kesel gue." tukas Vita.
"Bangsat." Nina mengumpat.
"Babi." ujar Adisty.
__ADS_1
"Hello ladies."
Kali ini Dani bersuara. Lea, Vita, Nina, Adisty dan Ariana pun menoleh.
"Mau nonton apa mau civil war, hah?" Dani menggerutu kesal, sementara Iqbal dan Rama memperhatikan kedua kubu.
"Hehehe."
Lea dan teman-temannya nyengir bajing. Mereka adalah tipikal orang yang jika menonton pasti berisik. Cikal-bakal emak-emak penguasa televisi di kemudian hari.
"Berisik lagi, gue matiin TV nya." ancam Dani.
Mereka pun akhirnya mencoba untuk menjadi penonton yang tertib, meski sesekali ada yang tak sengaja nyeletuk dan berteriak. Pada saat itu terjadi, mereka pasti akan di pelototi oleh Dani.
Sehabis menonton sambil ngemil, mereka kini masuk ke acara makan besar. Bakso yang tadi sudah di persiapkan, kini di hidangkan. Mereka mengambil di meja makan, namun tetap menikmatinya di ruang sebelah.
Tadi sempat mereka memindahkan televisi ke ruangan tersebut, agar lebih lega. Mereka makan sambil berbincang dan tertawa-tawa apabila ada topik pembicaraan yang lucu.
"Tiiiing."
Terdengar suara sendok terjatuh dari arah ruang makan. Sontak semuanya saling bersitatap satu sama lain. Mereka kaget, lantaran semuanya sudah berkumpul di ruangan ini. Tak ada lagi orang di ruang makan tersebut.
"Ah, tikus kali." seloroh Iqbal.
"Enak aja, disini mana ada tikus." Lea sewot.
"Lah terus suara tadi siapa dong?" tanya Nina.
"Nggak mungkin hantu kan?" lanjutnya lagi.
"Ting."
Terdengar lagi suara sendok, kali ini seperti beradu dengan piring atau mangkuk. Mereka semua menatap ke arah Iqbal, hingga Iqbal pun melebarkan bibirnya hingga kuping.
Iqbal melangkah, karena tatapan mereka itu artinya menyuruh Iqbal untuk segera mencari tau. Akhirnya Iqbal pun mengintip, diikuti kepala mereka semua yang sama-sama nongol dibelakang kepala Iqbal.
"Hai."
Daniel, Ellio, dan Richard berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Lea dan yang lainnya tampak kaget, karena tak menyangka jika ketiga pria itu ada disana.
"Kalian bukannya kerja?" tanya Lea.
"Kerja mulu, Le. Ntar tipes lama-lama." seloroh Daniel.
Mereka semua pun akhirnya tertawa.
Lea dan yang lainnya kembali makan sambil menonton. Ellio nimbrung di dekat Adisty, Adisty pun mengajak Ellio mengobrol, meski kepala Rama sedikit berasap. Daniel dan Richard tetap di meja makan, sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Waktu berlalu, Daniel dan Iqbal tampak main play station bersama di suatu sudut depan televisi lainnya. Karena ada dua televisi di lantai itu, satunya kecil dan jarang dipakai. Lea mengobrol bersama ayahnya Richard. Ellio, Mabar mobile Legends bersama Rama dan Dani. Sedang Vita, Adisty dan Ariana lanjut nonton drakor. Sementara Nina molor di kamar Lea.
Ini adalah kali pertama Daniel membiarkan banyak orang berada di kediamannya. Meski telah berstatus sebagai istri, ia membiarkan Lea untuk sesekali berkumpul bersama teman-temannya.
Karena biar bagaimana pun Lea itu masih remaja, semua orang di masa remaja senang berkumpul dengan teman-teman. Daniel tak ingin merampas masa-masa indah itu dari istrinya. Ia ingin Lea menjadi orang yang bahagia, dan terpenuhi segala kebutuhannya. Termasuk kebutuhan bergaul dengan teman-teman.
Meskipun sebagian laki-laki lain mungkin tak akan mengizinkan istri mereka berteman setelah menikah, karena berbagai alasan. Namun Daniel percaya pada Lea, dan ia tak ingin menjadi suami yang terlalu kaku. Karena sedikit banyak di dalam hidup ini, kita membutuhkan orang lain.
__ADS_1