Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Labrak (Bonus Part)


__ADS_3

"Aku mau makan siang sama kamu. Masak yang enak."


Hanif mengirim pesan pada Nadya. Sehari setelah ia menghadiri acara pernikahan ibu Lea dan bertemu dengan Richard.


Tentu saja jantung perempuan itu menjadi lebih cepat berpacu dari biasanya. Sebab makan siang yang di maksud oleh Hanif bukanlah sekedar makan siang belaka. Ia pasti menagih kewajiban Nadya untuk melayani dirinya.


Sedang kini Nadya sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada suaminya itu. Berkali-kali ia mencoba meminta ampun pada sang pencipta di tengah malam yang suntuk dan meminta diberikan kembali rasa, agar ia ikhlas melayani Hanif sebagai suami. Tapi tetap saja rasa itu seolah mati dan tak bisa di hidupkan kembali.


Mungkin karena sudah terlalu banyak kecewa yang ia rasakan, makanya bisa seperti itu. Sebab rasa yang terjalin diantara dua insan haruslah di pupuk dan disiram. Bila airnya dipakai untuk menyiram hati lain, maka hati yang satunya akan kekurangan air dan bahkan bisa saja mati.


Seperti saat ini. Nadya begitu bingung bagaimana caranya menghadapi Hanif nantinya. Jangankan melayani di atas ranjang, untuk masak saja pun ia tidak memiliki gairah sama sekali.


"Put."


Nadya memangil Putri yang kebetulan melintas di dekatnya.


"Iya, bu." jawab Putri lalu mendekat ke arah sang majikan.


"Ibu minta tolong kamu beli sayur masak saja, terserah dimana. Pilih yang menurut kamu enak."


Nadya memberikan uang sebesar seratus lima puluh ribu kepada asisten rumah tangganya itu.


"Agak di buru, karena mas Hanif mau kesini." ujarnya.


"Oh iya bu." jawab Putri.


Ia lalu mengambil uang tersebut dan berlalu dari hadapan Nadya. Ia tadi sempat melihat wajah Nadya yang tak berseri. Pastilah majikannya itu tengah tertekan. Putri berpikir keras sambil berjalan keluar rumah. Tentang bagaimana caranya menolong sang majikan.


Sementara kini Nadya pasrah. Ia mulai membersihkan rumah, kamar, dan juga kamar mandi. Sebab biasanya setelah bercinta, Hanif suka mengajak istrinya mandi bersama. Ia biasanya menghantam sang istri kembali di kamar mandi.


Nadya membuka laci, dan meminum pil kontrasepsi. Ia tak ingin memiliki anak lagi dari pria itu. Sebab itu semua akan semakin membuat mereka terikat satu sama lain.


***


"Bos gue si ikan patin mau datang nih. Tadi muka bu Nadya nggak enak banget, kayak sedih gitu."


Putri mengirim pesan singkat pada Lita.


"Serius lo?" tanya Lita kemudian.


"Serius." jawab Putri.

__ADS_1


"Yah, bakalan ehem-ehem dong." lanjutnya lagi.


"Maka dari itu, gimana caranya ya menyelamatkan bu Nadya dari rudalnya si ikan patin. Ntar bunting lagi, susah buat cerai." lanjut Putri.


"Gue juga pusing kalau gini." balas Lita.


Putri kemudian membeli beberapa sayur dan lauk jadi di sebuah rumah makan. Sembari ia terus berpikir dan menjalin komunikasi dengan Lita.


"Udah dapat?"


Nadya bertanya ketika Putri telah kembali ke rumah.


"Udah bu, tapi kayaknya harus di panasin dikit deh. Soalnya banyak yang udah pada dingin." ucap Putri.


"Kamu atur aja, Put. Ibu percaya sama kamu."


Nadya seperti sudah sangat malas dengan semua ini. Ia menyerahkan saja semuanya untuk dihandle oleh asisten rumah tangganya tersebut.


Maka Putri pun beranjak ke dapur dan memanipulasi semua masakan yang ia beli. Sehingga terlihat seolah-olah dimasak sendiri.


Selang beberapa saat berlalu, tepatnya setelah Nadya mandi dan sedikit berdandan. Hanif pun tiba di tempat itu.


Nadya menyambutnya dengan senyum yang sangat dipaksakan. Hanif mendekat lalu mencium kening wanita itu. Sementara Arkana masih di sekolah dan belum waktunya pulang.


Seperti biasa Nadya menunduk dan menyunggingkan senyum. Bila dulu diawal pernikahan, malu-malu merupakan bagian yang harus selalu ia lakukan secara ikhlas demi menggoda sang suami. Saat ini ia melakukannya dengan hati yang dongkol.


Nadya sudah tak bisa lagi ikhlas melakukan apapun demi Hanif. Semua karena kesalahan Hanif sendiri, dan juga rasa cinta di hati Nadya terhadap Richard yang mulai tumbuh.


"Ayo mas, masuk!" ajak Nadya kemudian.


Hanif pun masuk, seperti biasa Nadya berlutut dan melepaskan sepatu Hanif. Satu hal yang diajarkan ibunya bahwa laki-laki adalah raja dan wanita harus tunduk sepenuhnya.


Hanif sendiri pun selalu mendoktrin Nadya seperti itu, sehingga ia melakukannya setiap ada kesempatan. Tapi kali ini jelas karena keterpaksaan saja.


Nadya juga sudah menyadari kekeliruan sang ibu, yang mendidiknya bagaikan pembantu. Laki-laki bukanlah seorang raja, melainkan teman hidup. Istri harus melayani suami dan begitupun sebaliknya.


Harusnya rumah tangga bisa berjalan layaknya dua orang sahabat yang saling menyayangi dan membutuhkan. Bukan seperti atasan dan bawahan seperti saat ini.


"Mas mau makan?"


Nadya melanjutkan basa-basinya.

__ADS_1


"Iya, ada masak apa kamu hari ini?" tanya Hanif.


Nadya diam. Ia bahkan tak tau tadi Putri membeli apa.


"Mas liat aja di meja makan." ujar wanita itu.


"Kamu mau kasih kejutan?" tanya nya kemudian.


Nadya memaksakan sebuah senyuman. Tak lama Hanif pun berjalan ke arah meja makan, diikuti Nadya.


"Waw, kamu masak masakan Padang?" tanya nya kemudian.


"Eee, iya." jawab Nadya.


Tak lama ia pun melayani Hanif untuk makan.


"Kamu nggak makan?" tanya Hanif.


"Aku udah tadi, dan lagipula aku udah dandan." ujar Nadya beralasan.


Hanif tersenyum. Dalam benaknya ia akan segera menggarap sang istri setelah ini. Padahal Nadya kehilangan selera makannya lantaran memikirkan situasi ini.


Tak lam Hanif pun makan, usai makan Putri membereskan semuanya dan Nadya menemani suaminya itu duduk di ruang tamu.


"Kita istirahat di kamar yuk!"


Hanif berujar setelah beberapa saat berlalu. Nadya makin tak karuan pikirannya. Tak lama kemudian,


"Ting, tong."


Terdengar suara bel pintu depan berbunyi. Karena Putri sedang di belakang dan posisi mereka sangat dekat dengan pintu, Nadya pun mendekat.


"Jangan kamu, biar aku aja." ujar Hanif.


"Lagian siapa sih yang bertamu sama kamu." tukasnya lagi, kali ini seperti ada kecurigaan dan kecemburuan terhadap Nadya.


"Kreeek."


Pintu tersebut pun terbuka, dan betapa terkejutnya Hanif melihat siapa yang ada di muka pintu tersebut.


"Su, Susi?" ujarnya tak percaya.

__ADS_1


"Iya kenapa?" jawab Susi ketus.


Nadya juga tak kalah kagetnya, namun kemudian ia menatap ke arah Putri. Putri balas menatap Nadya, kemudian berlalu. Dan saat itulah Nadya tersenyum, sebab ia tau jika itu perbuatan sang asisten rumah tangga.


__ADS_2