Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Marga


__ADS_3

"Le, ini ambil buat kamu."


Ibu Lea membuka sebuah kotak perhiasan, lalu mengambil gelang emas dan mengaitkannya di pergelangan tangan Lea.


Semalam Lea dan Daniel memang menginap di rumah Richard. Tapi pagi ini semua telah kembali beraktivitas sesuai dengan kesibukan masing-masing.


Daniel, Richard, Ellio, serta Marsha telah kembali bekerja. Dian sendiri pulang ke rumahnya untuk mengikuti perkuliahan online. Sedang Lea kini diantar supir untuk menemui sang ibu. Sebab kuliah online nya baru akan dimulai pada pukul dua siang nanti.


"Bu, ini tuh apa?. Mending buat ibu aja." ujar Lea menolak pemberian ibunya.


Sang ibu menatap Lea.


"Dari kamu lahir, sampai sekarang kamu udah mau melahirkan anak. Ibu belum pernah membelikan kamu perhiasan apa-apa. Kamu itu perempuan, wajib punya perhiasan. Walaupun kamu nggak mau pake." tukas wanita itu.


"Tapi kan ini lebih berguna buat ibu. Bisa disimpan untuk tabungan, adek-adek kan masih butuh biaya bu." ujar Lea lagi.


"Le, ibu sekarang udah bisa nabung walau sedikit-sedikit. Ini untuk kamu, jangan di tolak. Ibu ini banyak salah sama kamu. Waktu ibu jadi ibu, itu nggak ada tempat bertanya. Jadi ibu lakukan secara otodidak, dan ibu banyak sekali dosa sama kamu."


Mata ibunya berkaca-kaca ketika mengatakan hal tersebut.


"Bu, janganlah ngomong kayak gitu. Aku udah maafin semuanya. Nggak ada lagi dendam di hati aku. Aku nggak mau menyimpan kemarahan lama-lama. Aku takut nanti anakku juga begitu sama aku."


Ibu Lea tersenyum.


"Kamu ambil ini ya, kamu simpan." ujarnya lagi.


Lea pun mau tidak mau harus menerima barang tersebut. Meski sejatinya ia lebih ingin ibunya yang menyimpan. Sebab ibunya masih punya anak lain yang mesti di urus.


"Makasih ya bu." ujar Lea kemudian.


"Sama-sama." jawab sang ibu.


***


"Nikah pak?"


Marsha bertanya pada Ellio, seusai pria itu mengungkapkan sebuah keinginan yang membuat dirinya terkejut. Yakni meminta menikah.


"Iya, daripada kita pacaran kayak gini terus. Nanti lama-lama kamu hamil, kamu yang malu diliat orang. Kalau saya sih santai, saya laki-laki. Tinggal nikahi kalau kamu hamil. Saya nggak akan malu, karena yang buncit bukan perut saya." Ellio menjelaskan panjang lebar.


"Tapi pak, saya belum siap dan belum ngomong sama orang tua saya." jawab Marsha kemudian.


"Ya udah sekalian saya yang ngomong." ujar Ellio.


"Tapi pak..."


Marsha seakan masih hendak berbicara, namun ada sesuatu yang berat untuk ia katakan.


"Tapi apa?" tanya Ellio penuh rasa ingin tahu.


Marsha menghela nafas, ia bingung harus memulai dari mana. Perkara ini memanglah sulit untuk di ungkapkan.


"Bilang, Sha." pinta Ellio.


Maka dengan berat hati Marsha pun jujur.


"Saya kan orang Batak pak. Bapak saya maunya saya menikah sama sesama Batak juga."


"Kalau bukan Batak, kenapa emangnya?" tanya Ellio seraya menatap Marsha.


"Apa karena saya bukan lawyer?" lanjutnya lagi.


"Bu, bukan itu pak."

__ADS_1


"Terus?"


"Saya juga nggak tau kenapa bapak saya menetapkan peraturan seperti itu. Apa alasannya kenapa saya diharuskan menikah dengan sesama Batak juga."


"Emang nggak boleh banget kalau bukan Batak?" tanya Ellio sekali lagi. Nada pertanyaannya seperti kecewa sekaligus putus asa.


"Ya, bapak nanti ketemu aja dulu sama orang tua saya. Sekalian bapak menyampaikan maksud. Kita liat gimana nanti reaksi bapak saya." ujar Marsha.


"Ok, nggak masalah."


Ellio menjawab dengan nada tegas. Padahal sejatinya ia memiliki kekhawatiran berat, di dalam hati.


***


"Orang tuanya Marsha, mau dia nikah sama Batak juga?"


Daniel bertanya pada Ellio, diikuti tatapan Richard. Ketika akhirnya Ellio memaksa kedua sahabatnya itu untuk mendengar curahan hatinya .


"Iya, dia bilang gitu ke gue." jawab Ellio penuh dengan nada kekecewaan.


"Tapi lo suka kan sama dia?" tanya Daniel lagi.


"Ya, suka lah. Kalau nggak suka, ngapain gue capek-capek pake acara curhat segala ke lo berdua." seloroh Ellio lagi.


"Lo minta angkat anak aja sama Boris Hutapea. Kepala divisi pengadaan barang di kantor lo." Seloroh Richard.


Daniel nyaris saja tersedak mendengar semua itu.


"Atau kalau nggak sama Pargaolan Sitompul, pengacara kenalan Daniel." seloroh Richard lagi.


Daniel makin terbahak-bahak.


"Nama lo nanti jadi Jadi Ellio Hutapea atau Ellio Sitompul."


Lagi-lagi Richard berujar, sementara Daniel terus tertawa-tawa.


"Eh itu satu-satunya cara supaya lo punya marga Batak." ujar Richard sotoy.


"Bener, bro. Biar lo bisa nikah sama Marsha." timpal Daniel.


"Heh Bambang, Susilo." Ellio menatap Daniel dan Richard secara bergantian.


"Masalahnya, gue ini udah berumur. Masa iya diangkat anak. Ngangkat anak itu ya, yang umurnya masih dibawah 17 tahun. Gue udah bangkotan gini diangkat anak. Apa nggak berat yang ngangkat gue?"


"Hahaha."


"Hahaha."


Daniel dan Richard terpingkal-pingkal.


"Ya udah bro, lo temuin aja dulu orang tuanya Marsha. Atau ntar kita temenin deh." ujar Daniel.


"Iya, kita kan nggak tau kalau belum ketemu. Siapa tau orang tuanya suka sama lo, tiba-tiba di restui ya kan." Richard menimpali.


"Bener, kalau nggak di coba nggak ada yang tau." ujar Daniel lagi.


"Kalau orang tuanya menolak gue gimana? tanya Ellio.


"Ya lo perjuangkan lah." Daniel menatap sahabatnya itu.


"Masa segitu doang udah nyerah."


"Hhhhh." Ellio menghela nafas.

__ADS_1


"Udah seagama, sama-sama kerja, eh terhalang suku." ujarnya kemudian.


"Mungkin dengan adanya halangan, lo akan lebih menghargai hubungan itu sendiri." ujar Richard.


"Widih, kakek Richard udah mulai bijak nih." seloroh Ellio diikuti tawa Daniel.


"Bijaknya sana-sini. Bijaksana, bijaksini." celetuk Daniel.


Ia dan Ellio tertawa-tawa. Sementara Richard berusaha keras menahan senyumnya, meski gagal.


"Jadi menurut lo berdua, gue mesti berjuang nih?" tanya Ellio kemudian.


"Iya dong, katanya lo cinta." ujar Daniel lagi.


"Nggak mungkin juga bapaknya main kasar ke elo. Orang juga pasti punya adab." timpal Richard.


Ellio diam sejenak dan berpikir.


"Ok deh." ujarnya kemudian.


***


"Nic, tolong kamu cek rumah kita yang di jalan permata 5."


Ayah tiri Nic, anak angkat Daniel menelpon puteranya itu. Ketika remaja itu masih di jalan menuju ke suatu tempat.


"Mau di cek apanya, pa?" tanya Nic kemudian.


"Cek udah sekotor apa dan kira-kira kali nyewa jasa bersih-bersih butuh berapa orang."


"Oh ok deh, ntar Nic kesana." ujar pemuda itu.


"Tolong ya, nak."


"Iya pa."


"Makasih ya."


"Sama-sama, pa."


Maka Nic pun menuju ke tempat itu. Ketika masuk ke dalam halaman melalui pintu pagar, tak ada hal yang mencurigakan disana. Namun ketika Nic mengecek halaman samping.


Ia menemukan banyak gumpalan kertas disitu. Ada sebagian yang nyangkut pada tumbuhan merambat, yang memenuhi tembok.


Nic kemudian mengambil salah satu gumpalan kertas itu dan membukanya. Didalam gumpalan tersebut terdapat batu kerikil, dan juga tulisan.


"Tolong saya, saya di sekap di sebelah. Nama saya Sharon. Tolong hubungi kepolisian terdekat, karena saya lupa semua nomor handphone teman saya. Saya di keluarkan di halaman samping ini tiap tiga hari sekali."


***


BUAT MARKONAH



EMANG CERITA INI BERTELE-TELE, DARI EPISODE 1-10 UDAH BERTELE-TELE. KENAPA BARU NYADAR DAN KOMEN DI EPISODE 301. 300 EPISODE NYA ANDA NGAPAIN AJA, MENIKMATI?


UDAH TAU DARI AWAL EMANG BERTELE-TELE, KENAPA MASIH DIBACA SAMPE EPISODE 300. KAN ITU MENYUSAHKAN DIRI SENDIRI NAMANYA. 🤣


UDAH ADA DISCLAIMER DARI EPISODE PERTAMA.



EMANG BERTELE-TELE DAN EMANG BUAT YANG BERMINAT AJA. YANG NGGAK MAU BACA, NGGAK ADA YANG MAKSA.

__ADS_1


Follow my Instagram @p_devyara


YouTube @Devyara


__ADS_2