Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Hari Ellio


__ADS_3

Hari yang dinantikan itu akhirnya tiba. Para undangan mulai memadati ruang tempat dimana akan dilangsungkannya pernikahan antara Ellio Rodriguez dan Marshavita Veronica Anastasia Tarigan.


Lea dan teman-temanya serta beberapa karyawan Daniel yang perempuan, kini sibuk membantu diruang mempelai wanita.


Untung saja gaun yang dipesan masih pas. Meski Marsha telah mengalami kenaikan berat badan akibat kehamilannya.


Lea dan perempuan-perempuan lain di ruangan tersebut mengenakan gaun berwarna seragam, namun dengan model yang berbeda-beda.


Mereka semua tampak cantik dan sudah selesai di makeup oleh team makeup artis yang sama dengan Marsha.


Sementara di ruangan lain, Daniel dan Richard membantu Ellio memasang jas dan merapikan semuanya.


Dokter menyatakan Ellio sudah bisa mengikuti prosesi. Bahkan dokter yang merawatnya tersebut turut diundang secara dadakan oleh Ellio, dan ia pun bersedia hadir.


"Gue takut." ujar Ellio kemudian.


"Semua akan baik-baik aja." tukas Richard pada sahabat itu.


"Gue juga waktu mau nikah gitu koq. Tapi setelah semuanya selesai, nggak ada yang perlu di khawatirkan." ucap Daniel menimpali.


Ellio menarik nafas dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski itu terbilang sulit. Mengingat pernikahan selama ini tak pernah masuk dalam daftar list tujuan hidupnya. Tapi takdir berkata lain dan disinilah semuanya bermuara.


Ia akan memasuki gerbang baru sebuah fase kehidupan. Menjalani sisa usia dengan seseorang yang saat ini tengah mengandung anaknya.


"Tok, tok, tok."


Sebuah ketukan pintu terdengar. Ketika sudah cukup lama mereka berada di ruangan tersebut.


"Ya."


Daniel membuka pintu dan tampak salah seorang karyawan Ellio berdiri disana.


"Pak Dan, acaranya sebentar lagi. Semua yang dibawah sudah siap, dan hampir seluruh undangan sudah datang." ujarnya kemudian.


"Oke, kita bentar lagi ke bawah." tukas Daniel.


Maka karyawan Ellio pamit dan Daniel kembali menutup pintu. Sebuah pemandangan yang melemahkan hati pun terlihat, ketika Daniel berbalik. Tampak Ellio mencari pegangan dengan memeluk Richard.


Richard balas memeluk sahabatnya itu dengan erat. Suasana emosional pun terasa di ruangan tersebut.


"Gue takut, Richard. Gue takut nggak bisa jadi suami yang baik."

__ADS_1


Richard mengusap-usap punggung Ellio dan mencoba menenangkannya.


"Semua akan baik-baik aja, El." Daniel mendekat dan berkata pada Ellio.


Richard melepaskan pelukannya dan kini ia memegang kedua bahu sahabatnya tersebut.


"Setelah lo melewati pintu ini, lo bukan lagi Ellio yang dulu. Yang bebas melakukan apa aja yang lo mau. Yang selalu bisa memilih untuk jalan dengan perempuan manapun yang lo inginkan." ujarnya kemudian.


"Lo udah akan jadi suami orang, lo harus meninggalkan semuanya di belakang. Simpan semuanya sebagai kenangan, bahwa hidup lo menyenangkan. Tapi itu semua nggak ada ujung. Dan pernikahan ini adalah tempat dimana lo terakhir tinggal."


Air mata Ellio mengalir, lalu Richard kembali memeluknya. Tak lama ia pun memeluk Daniel. Air mata Daniel pun ikut mengalir.


Mereka bersahabat baik dari kecil. Bahkan mungkin hanya maut yang dapat memisahkan mereka nantinya.


"Udah, ntar jelek muka lo di foto kalau nangis mulu."


Daniel tertawa seraya memberikan tissue. Ellio dan Richard kini turut tertawa. Mereka lalu merapikan diri kembali di depan kaca, kemudian menarik nafas berkali-kali agar semuanya tenang.


Setelah situasi kondusif, mereka menatap pintu dan akhirnya mantap melangkah. Mereka menuju ke tempat pernikahan dengan disaksikan oleh begitu banyak pasang mata.


***


Untuk menuju ke tempat pernikahan sendiri, Richard sudah berjanji akan mendampinginya dan bertindak sebagai ayah baginya.


Tentu saja Marsha berterima kasih, meski ini merupakan kenyataan yang agak memilukan baginya. Mengingat ia masih memiliki orang tua yang semestinya bisa hadir.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan pintu.


"Itu ayah kali." ujar Lea kemudian.


"Ya udah siap-siap." tukas Adisty.


Maka gaun Marsha pun di rapihkan. Vita memberikan buket bunga padanya. Sedang yang lain merapikan bagian ekor kerudung penutup kepala, serta gaun bagian belakang yang cukup panjang.


"Sepatunya nyaman nggak, Sha?" salah seorang karyawan kantor Daniel bertanya.


"Iya nyaman koq." ucap Marsha.


Tak lama ia pun melangkah. Ariana membuka pintu dan tampaklah seroang laki-laki yang tengah berdiri dengan posisi membelakangi. Tapi itu bukan Richard. Pria itu kemudian menoleh dan tangis Marsha pun pecah, sebab itu adalah ayahnya sendiri.

__ADS_1


Marsha bersimpuh di kaki sang ayah. Dan ayahnya pun tak kuasa menahan air mata. Ia memegang bahu Marsha dan memintanya untuk berdiri. Lalu dengan kedua tangannya ia menghapus air mata anak perempuannya itu.


Lea memberikan tissue. Beruntung Marsha menggunakan makeup yang bagus dan air matanya buru-buru dihapus oleh sang ayah. Jadi tak ada yang luntur sama sekali.


"Ini hari bahagia kamu, jangan nangis." Ayahnya mencoba tegar, sementara Marsha masih dalam keadaan emosional.


"Mama?" tanya nya kemudian.


"Semuanya ada disini." ucap sang ayah.


Marsha makin terisak lalu sang ayah pun memeluknya dengan erat.


"Papa sudah memaafkan kamu." ujar pria itu lagi.


Ia kembali mengusap air mata Marsha. Makeup artis mendekat dan agak merapikan dandanan perempuan itu.


***


Di aula tempat akan dilangsungkannya pernikahan, Ellio dan hadirin menunggu dengan harap-harap cemas. Mereka bingung mengapa Richard tak jua datang membawa Marsha. Apa telah terjadi sesuatu dengan perempuan itu. Kini Ellio menjadi sangat khawatir.


Daniel mengatakan padanya untuk tenang dulu. Sebab mungkin tengah dipersiapkan. Mengingat mengurus mempelai perempuan lebih riweh ketimbang mengurus mempelai laki-laki.


Tak lama pintu ruangan terbuka, tampak Richard melangkah sendirian. Tentu saja hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar.


Namun di belakang Richard tiba-tiba muncul Marsha dengan di gandeng oleh ayahnya. Sementara Lea dan teman-temanya berada di bagian belakang sambil membawa bunga-bunga.


Ellio pun terisak dan menangis di tempat. Meski ia berusaha untuk berdiri tenang. Hadirin bergembira, Marsha terlihat begitu cantik hari itu.


Ayahnya menyerahkan sang putri pada Ellio. Kemudian acara tersebut dilangsungkan. Semua berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan sama sekali.


Richard membawa cincin untuk keduanya. Dan setelah ikrar selesai cincin itu kini tersemat di jari masing-masing.


Ellio membuka penutup kepala Marsha dan mereka pun berciuman. Hadirin bersorak-sorai tanda bahagia. Lea sendiri tersenyum disisi Daniel yang kini menggendong Darriel.


Meski dipakaikan penutup telinga, namun agaknya Darriel masih bisa mendengar riuh suara hadirin. Maka mata julid bayi itu pun keluar, hingga menyebabkan Daniel dan Lea tertawa-tawa.


Hari itu Ellio resmi menjadi suami orang. Dan hadirin pun akhirnya membaur, sambil berbincang dan memberi selamat pada keduanya. Sebagian lagi tampak makan dan berfoto-foto.


Ellio menghampiri ayah dan ibu mertua lalu berterima kasih dan meminta maaf. Mereka pun memaafkan dan memeluk Ellio serta Marsha.


***

__ADS_1


__ADS_2