
"Lea mana?" tanya Daniel di sela-sela rasa kantuk yang masih melanda.
"Udah berangkat kuliah tadi sama Arsen." jawab Reynald.
"Tapi dianterin supir kan?" Richard ikut-ikutan bertanya.
"Iya, udah gue atur semuanya tenang aja. Mending lo pada cuci muka kek, mandi gitu biar seger. Abis itu pada sarapan." ujar Reynald.
"Gue mau ke kantor abis ini." lanjut pria itu.
Mereka bertiga mengangguk, lalu sama-sama beranjak menuju ke kamar masing-masing. Bermaksud ingin segera mandi. Namun tatkala mereka melihat tempat tidur, ketiganya pun menyerah lalu merebahkan diri.
"Braaak."
***
Beberapa saat berlalu.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Daniel terbangun oleh handphone di dalam sakunya yang bergetar. Tak lama kemudian disusul oleh tangisan Darriel yang membahana.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
"Dert."
"Dert."
"Dert."
"Oeeeeek."
Daniel mengangkat telpon dan mendekati Darriel di waktu yang nyaris bersamaan.
"Hallo, Sha."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
"Hallo pak Dan."
"Oeeeeek."
"Iya sayang ini papa. Kenapa Sha?"
"Pak meeting bentar lagi loh."
"Oh iya, astaga."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
"Iya Darriel bentar dulu. Sha, mereka udah pada datang?" Daniel mempertanyakan para kolega bisnisnya.
"Udah pak, tinggal nunggu bapak lagi."
"Oke."
__ADS_1
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
"Tolong handle dulu sisanya ya Sha, sebelum saya sampai."
"Baik pak."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Daniel menyudahi telpon lalu mengurus Darriel dengan terburu-buru. Perasan masih gamang dan mengantuk membuatnya tak bisa berpikir panjang.
Sejatinya ia bisa meminta tolong asisten rumah tangga dalam mengurus Darriel. Namun ia tak terpikir ke arah sana dan sudah terlanjur kasihan serta riweh melihat anak itu.
"Iya ini papa ganti popoknya sayang. Kamu tenang dulu."
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Daniel menangis begitu drama. Ini kali pertamanya Daniel menghadapi Darriel yang seperti itu sendirian. Berbeda dengan Lea yang sudah lebih terbiasa. Sebab ia kerap mengurus Darriel sendirian jika Daniel tengah bekerja.
"Oeeeeek."
"Sayang, nak. Jangan nangis ya. Ini papa ganti popoknya yang baru. Kita bersihin dulu ya."
Tangis Darriel perlahan mereda. Daniel kemudian bergegas mengganti popok anak itu, kemudian memberinya ASI. Tak lama ia pun buru-buru mandi karena harus segera berangkat kerja.
"Mas."
Tiba-tiba Lea menelpon tatkala Daniel sudah nyaris berangkat.
"Udah berangkat belum kamu?"
"Belum tapi udah siap-siap ini."
"Darriel bangun nggak?"
"Tadi sih bangun tapi udah tidur lagi."
"Minta tolong masukin Darriel ke keranjang mas. Abis ini mau aku ajak nimbang badan ke dokter."
"Oke-oke." ujar Daniel kemudian.
"Makasih ya mas, maaf ngerepotin. Ini aku udah bentar lagi pulang. Soalnya dosen ga dateng. Jadi ntar tinggal bawa Darriel aja, kali udah siap."
"Oke bentar, aku siapin dulu."
Daniel bergegas mengambil keranjang bayi, yang biasa digunakan untuk membawa Darriel di dalam mobil. Tak lama ia pun memasukkan bayi itu ke dalam sana, memasang belt dan juga menyelimutinya.
"Dan, gue duluan." teriak Richard dari bawah. Sedang Ellio sudah pergi sejak beberapa menit yang lalu.
Daniel mengambil barang-barangnya lalu memasukkan ke mobil bagian tengah. Tak lama ia pun berangkat ke kantor. Disepanjang perjalanan, Daniel terus ditelpon oleh Marsha dan juga beberapa petinggi perusahaan lainnya. Sebab ini sudah tinggal 6 menit lagi menuju rapat.
Daniel berusaha berkonsentrasi dalam mengemudi di sela rasa kantuk serta pusing yang ia alami, akibat terlalu banyak minum semalam. Ia berusaha menaikkan kecepatan dan akhirnya tibalah ia di kantor.
"Herdi, tolong parkirin mobil dan bawa barang-barang saya ke atas."
Daniel menyerahkan kunci mobil pada office boy kepercayaannya yang kebetulan melintas. Herdi pun meraih kunci mobil tersebut sedang Daniel bergegas menuju lantai atas.
Ia datang tepat waktu, meski masih harus menyiapkan materi. Namun kemudian rapat tersebut bisa ia buka dengan baik.
***
__ADS_1
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Handphone Daniel berbunyi ketika rapat telah berjalan beberapa saat. Daniel lupa mengaktifkan mode silent di handphonenya tersebut. Dan kali ini ia mendapat telpon dari Lea.
"Dert."
"Dert."
Daniel mengabaikan panggilan tersebut namun Lea terus menelponnya. Karena khawatir ada yang hal penting, Daniel pun mengangkat.
"Le, aku lagi rapat." ujarnya seraya sedikit menjauh.
"Mas, Darriel hilang mas."
Lea berteriak sambil menangis di seberang sana. Seketika Daniel pun terkejut sekaligus syok.
"Hilang gimana Le, Darriel tuh ada di kamar. Nggak mungkin dia hilang. Tanya dulu ke pembantu di rumah."
Seisi ruang rapat menoleh dan sama-sama terkejut mendengar hal tersebut.
"Nggak ada mas, nggak ada yang tau. Udah aku tanyain semua, sampai sekuriti pun nggak tau kalau ada orang masuk atau apa."
Lea histeris, Daniel panik.
"Kenapa pak?" tanya salah seorang kolega bisnisnya.
"Sorry, anak saya hilang."
Daniel berujar dengan nada yang begitu kacau. Tak lama ia pun bergegas meninggalkan ruang rapat. Hadirin tak melanjutkan rapat itu dan kini mereka semua keluar untuk membantu Daniel.
"Sha, Marsha tolong kasih tau Richard atau Ellio, anak saya hilang."
Daniel berujar sambil berlarian ke arah ruangannya, untuk mengambil kunci mobil. Seisi kantor mendadak kaget mendengar berita tersebut.
"Pak."
Tiba-tiba Herdi si office boy berkata.
"Iya Her?" Daniel yang sudah sangat berantakan itu menoleh.
"Anak bapak tuh di dalam ruangan bapak. Orang tadi bapak yang nyuruh saya bawa."
Daniel melongo begitupula dengan yang lainnya. Segera saja pria itu membuka pintu ruangannya dan benar, keranjang Darriel ada disana. Darriel nya sendiri bangun dan tampak melihat ke arah Daniel.
Seketika seluruh persendian Daniel pun terasa lemas. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil menutup matanya dengan tangan. Ia sudah sangat takut sekali jika bayinya itu di culik. Tak lama kemudian Richard dan Ellio tampak berlarian dari suatu arah.
"Dan, Lea barusan nelpon gue. Katanya Darriel..."
Belum sempat Richard melanjutkan kata-kata, Daniel sudah menunjuk ke arah ruangannya. Sebab ia masih belum mampu bicara saking syoknya ia saat ini.
Richard dan Ellio lalu menilik ke dalam dan melihat Darriel ada disana. Selang beberapa saat Daniel memberitahu Lea bahwa Darriel ada bersamanya.
"Astaga mas, aku udah mau gila rasanya mas. Rasa pengen mati aku tau nggak. Aku pikir dia diculik." Lea berkata sambil berurai air mata.
"Maafin aku Le, aku bener-bener nggak sadar kalau aku bawa Darriel. Tadi tuh perasaan aku bawa tas laptop, dan beberapa keperluan kantor yang aku baru beli tempo hari. Mana aku juga ngantuk di telponin mulu. Kamu sendiri nggak liat CCTV apa?" tanya Daniel kemudian.
"Kan kamu tau mas, CCTV rumah ayah itu yang berfungsi cuma di bagian dapur, samping, sama luar. Yang tengah ini kan rusak tempo hari. Terus kamu masukin Darriel ke mobil, yang kamu parkir di titik buta. Kagak keliatan kamu bawa keranjangnya Darriel ke sana."
Daniel menarik nafas panjang, tubuhnya masih gemetar dan jantungnya masih berdegup kencang saat ini. Sedang Darriel sudah digendong oleh Marsha dan dibawa pada Emily.
Emily sendiri adalah salah satu karyawan Daniel yang juga memiliki bayi laki-laki. Emily lalu memberikan ASI pada Darriel. Sebab Daniel tak membawa ASI maupun perlengkapan Darriel yang lainnya.
__ADS_1