
"Aku mau ke sana"
Hanif mengirim pesan pada Nadya, di suatu siang.
"Datang aja..Arkana itu anak kamu, mas. Dekati dia baik-baik." ucap Nadya pada Hanif.
"Aku mau ke rumah, aku mau kamu melayani aku." balas Hanif lagi.
Degh."
Batin Nadya bergemuruh. Itu artinya Hanif meminta hubungan suami-istri dengannya. Sebagai istri yang baik, ia bukan tak mengerti tugas. Tapi masalahnya ada pada hati.
Ia masih belum dan mungkin tak akan pernah ikhlas menerima suaminya menikah lagi. Dari saat Hanif menikah dengan yang kedua saja, gairah bercinta Nadya sudah turun drastis bahkan nyaris hilang.
Kini ditambah lagi dengan kehadiran Susi dan juga urusan soal kesehatan Arkana yang masih menjadi pikiran. Tentu hal tersebut membuat Nadya begitu malas.
"Ya udah, nanti mas mau ke rumah jam berapa. Aku jalan pulang dulu." balas Nadya.
"Jangan lupa masak." ucap Hanif.
Baginya tugas wanita hanyalah di dapur dan terlentang sambil memberikan lubang.
"Iya mas." Nadya mengetik kata-kata tersebut dengan raut wajah yang lesu.
Tak lama ia pun pamit pada Arkana dan meminta tolong pada Putri untuk menjaga anak itu. Nadya pulang dan mulai memasak serta membereskan rumah dan tempat tidur.
Layaknya pembantu yang akan segera menyambut seorang raja pulang.
Ia tak masalah melakukan ini semua, andai suaminya bisa menahan hasrat untuk tidak mengkhianatinya pernikahan mereka.
Tetapi sekarang ini semua sudah menjadi kewajiban yang kadang tak ikhlas ia lakukan. Mengingat balasan yang ia terima adalah di duakan dan disakiti terus menerus.
Lelaki enak saja berbicara, jadi istri haruslah ikhlas menerima jika suami menikah lagi. Mereka gampang mengeluarkan bacot karena posisi mereka tidaklah sakit. Andai posisi dibalik belum tentu mereka bisa ikhlas sebijak mulut mereka saat bicara.
***
Beberapa saat setelah jam kantor bubar. Hanif bersiap pergi ke rumah Nadya. Ia berniat untuk memberikan kesenangan lain pada juniornya. Ia merasa bak raja jaman dulu yang memiliki permaisuri serta selir yang siap menjepit kapan saja.
"Ah senangnya hidup." pikir Hanif.
"Mas, perut aku sakit."
Susi berdusta demi menguasai Hanif. Hanif yang kaget langsung menelpon. Sebab kini dirinya mendadak khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Hanif di telpon.
"Nggak tau mas, kayak kram gitu perut aku. Sakit banget ini, jangan-jangan mau keguguran."
"Tunggu, tunggu, tunggu!. Aku segera kesana."
Maka Hanif pun termakan trik sang istri muda.
"Aku nggak bisa hari ini, mungkin lain waktu."
Hanif mengirim pesan singkat pada Nadya. Nadya kaget namun entah mengapa dirinya begitu lega dan bahagia.
__ADS_1
Ia tetap lanjut memasak dan mewadahi hasil masakan tersebut untuk sekuriti. Sisanya ia akan bawa para Arkana serta Putri yang saat ini masih berada di rumah sakit.
***
"Delil cobain ini."
Lea memakaikan baju baru pada Darriel. Baju tersebut rencananya akan digunakan saat acara pernikahan kembali ibunya dengan ayah Leo.
"Hoaaaa."
Darriel bersuara dan sedikit memberontak. Seolah enggan dipakaikan pakaian oleh sang ibu.
"Coba dulu, mama pengen liat bagus nggak."
"Heheee."
"Hehe, hehe." ucap Lea sambil memberikan lirikan datar. Namun Darriel kembali tertawa.
"Heheee."
"Pake dulu ya bajunya."
Lea pun memakaikan baju tersebut, dan bajunya sangat pas.
"Pas sih, tapi kamu sesak nggak begini?" tanya Lea.
"Hokhoaaa."
"Makanya badan tuh jangan gendut banget."
Lea bercanda sambil mencium-cium anak itu. Darriel pun tampak kembali tertawa-tawa dibuatnya.
"Heheee."
"Heheee."
"Delil bau asem."
"Heheee."
Tak lama Lea sudah melepas kembali baju yang ia pasangkan tadi. Kemudian ia mengganti dengan baju yang sebelumnya dipakai oleh Darriel. Bayi itu pun kini mengenyot botol susu sambil menatap langit-langit kamar.
"Hai."
Lagi-lagi pesan dari Shela ia terima di direct message. Instagramnya sampai hari ini masih membajak Instagram Daniel.
"Hai." ucap Lea.
"Lagi dimana?" tanya Shela.
Lea berpikir sejenak. Ia ingin mengerjai perempuan itu kali ini.
"Green garden." ucap Lea.
"Oh, ngapain disana?" tanya Shela.
__ADS_1
"Nggak kenapa-kenapa. Kali aja ketemu kamu." tukasnya lagi.
"Pengen banget nih kayaknya ketemu aku."
Shela sudah kepedean tingkat dewa.
"Ya kalau ketemu apa salahnya." ucap Lea.
Shela kini kegirangan dan berjingkrak-jingkrak. Ia memang tak pernah curiga jika itu bukanlah Daniel, melainkan istrinya.
"Gimana, apa aku siap-siap nih kesana?" tanya Shela.
"Silahkan aja kalau mau."
Lea membalas sambil tertawa. Tentu saja karena Daniel saat ini tengah sibuk di kantor. Maka Shela pun bergegas dan bersiap, dengan senyuman yang tak henti terkembang di bibir. Ia ada sempat memberitahu Susi dan Susi sangat mendukung Shela.
"Pepet terus beb, jangan kasih kendor. Kalau bisa dalam waktu dekat langsung dinikahi. Nggak apa-apa siri say, yang penting bisa melendung dan dapat duit banyak. Kalau melendung, duitnya lebih lagi pasti. Manfaatkan itu rahim." ucap Susi.
"Iya beb, ini juga gue mau dandan yang cantik. Biar di prospek dan rahim gue dibikin anget."
"Hahaha, sip. Good luck ya beb." ucap Susi bersemangat.
Maka Shela pun berdandan habis-habisan lalu siap untuk berangkat ke lokasi yang tadi telah di sebutkan oleh Daniel.
Green garden sendiri adalah kawasan dimana banyak terdapat mall dan juga town house. Serta banyak pula tempat-tempat hangout yang tengah hits di jagat sosial media.
***
Nadya pergi ke rumah sakit, namun tiba di kamar Arkana ia terkejut. Pasalnya sudah ada Richard di tempat itu.
"Loh, pak Richard. Kapan datang kesini?" tanya Nadya pada pria itu. Entah mengapa ia mendadak begitu senang saat ini. Bahkan Nadya tak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Saya baru sampai koq, Nad." jawabnya kemudian.
"Oh ya si Putri mana?" tanya Nadya lagi.
"Putri lagi beli minuman di luar." jawab Richard.
"Mama bawa apa itu?" Arkana bertanya pada sang ibu.
"Ini tadi mama masak dirumah. Mungkin Arka bosan makan makanan rumah sakit terus."
"Asik." ujar Arka.
"Nanti kita makan bareng-bareng ya." ucap Nadya.
"Sama om Richard juga kan ma?" tanya anak itu penuh harap.
"Oh iya dong, kan mama bawanya banyak." ucap Nadya sambil tersenyum.
"Mau ya om?" pinta Arkana.
"Iya sayang, om mau." jawab Richard.
Arkana pun tampak bahagia di atas bahagia yang telah tercipta sejak kedatangan Richard tadi.
__ADS_1
Sementara di kediaman Susi, Hanif sibuk membawa perempuan muda itu ke dokter. Sebab ia khawatir terjadi apa-apa pada anak yang tengah di kandung. Sangat berbeda perlakuannya bila dibandingkan dengan Arkana. Padahal Arkana juga merupakan darah dagingnya sendiri.
Mungkin karena sedang cinta-cintanya terhadap Susi. Tapi nanti jika perasaan itu sudah luntur. Mungkin Susi akan mendapatkan karma dari apa yang telah ia lakukan pada Nadya dan juga Arkana.