
"Ada Lea?" tanya Richard yang baru saja pulang, pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Iya pak, di atas. Di kamar pak Daniel." jawab asistennya tersebut.
"Makanannya udah siap?" Richard kembali bertanya.
Ia ingin langsung makan bersama anak dan juga menantunya. Sebab tadi ia melewatkan makan siang di kantor.
"Udah pak, baru pada matang semua." jawab Asisten rumah tangga Richard lagi.
"Ya udah, saya mau ganti baju sama panggil mereka dulu." ujar Richard kemudian.
"Baik pak." jawab sang asisten rumah tangga.
Richard pun pergi ke atas, sebelum masuk ke kamar ia pergi terlebih dahulu ke kamar Daniel untuk mengingatkan Daniel dan Lea. Supaya turun ke bawah dan makan malam.
Namun baru saja Richard hendak mengetuk pintu kamar tersebut. Tiba-tiba terdengar suara rintihan serta ******* dari dalam sana.
"Ah mas, enak. Ah, ah, ah."
"Ssshhh, Lea. Ssshhh, hmmh, aaah."
Richard menarik nafas, lalu berlalu meninggalkan tempat itu. Sementara di dalam, Daniel terus menghujam-hujamkan miliknya ke milik Lea.
Keduanya berusaha keras menahan suara, agar tak terlalu besar. Meski beberapa kali gagal, saking nikmatnya hubungan yang tengah mereka lakukan tersebut.
"Lea, aku..."
"Maaas."
"Aaaaakh."
Keduanya menegang setelah cukup lama dalam permainan. Lalu tubuh mereka sama-sama bergetar, dan milik mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang tertinggi.
"Hhhh."
"Hhhh."
Keduanya terhempas. Daniel mencium perut sang istri, kemudian beralih mencium keningnya dengan lembut.
"Sayang kalian." Bisiknya di telinga Lea.
Lea memejamkan mata sambil tersenyum. Keduanya lalu berpelukan satu sama lain, meski terhalang perut besar Lea.
"Makasih ya, aku lebih tenang sekarang." ujar Daniel.
Lea mengangguk lalu mencium pipi Daniel. Selang beberapa saat kemudian, mereka mandi. Dan usai mandi ada seorang asisten rumah tangga yang mengetuk pintu kamar mereka.
"Iya mbak?" Lea membuka pintu dan bertanya.
"Ditunggu pak Richard di meja makan." jawab asisten rumah tangga tersebut. Lea dan Daniel pun terkejut mendengar hal itu.
"Richard udah pulang?" tanya Daniel kemudian.
"Iya, sudah cukup lama. Tadi bapak sempat kesini dan panggil kalian, tapi nggak ada yang buka pintu katanya."
Lea dan Daniel kini saling bersitatap. Mereka takut jika Richard mendengar dan mengetahui aktivitas mereka tadi. Bukan apa-apa, keduanya sudah pasti akan malu dan canggung.
"Ya udah mbak, kita turun bentar lagi." ujar Lea.
"Baik non."
Asisten rumah tangga itu kembali ke bawah. Tinggallah kini Lea dan Daniel yang saling memandang satu sama lain. Keduanya sama-sama jadi salah tingkah sekaligus bingung. Daniel malu pada Richard dan begitupula dengan Lea.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mereka memutuskan untuk turun. Saat itu Richard sudah berada di meja makan.
"Yah."
Lea menyapa sang ayah.
"Hei."
Richard balas menyapa sang anak. Lea dan Daniel kemudian duduk di seberang Richard. Daniel dan Lea sempat saling memberi kode, karena mereka benar-benar merasa canggung pada Richard.
"Udah?" tanya Richard seraya menatap Lea dan juga Daniel.
Suami istri itu pun tersentak, dan pikiran mereka langsung mengarah pada hubungan yang tadi mereka lakukan.
"U, udah apanya yah?" Lea balik bertanya dengan nada yang terbata-bata.
"Mandinya." jawab Richard.
"O, oh. U, udah." jawab Lea.
"Ya udah makan yang banyak, Dan lo juga makan yang banyak." ujar Richard lagi.
Daniel mengangguk, begitupula dengan Lea.
***
"Bro."
Daniel muncul di belakang Richard, yang kini tengah berdiri di salah satu balkon sambil menghisap sebatang rokok.
"Ya." jawab Richard seraya menoleh. Ini terjadi beberapa saat setelah acara makan selesai.
"Lo, tadi denger..."
"Gue sama Lea di atas?" lanjutnya lagi.
"Ya." jawab Richard lalu menghisap dan menghembuskan asap rokoknya.
"Gue, gue mau minta maaf soal itu."
Daniel menatap Richard, diluar dugaan Richard tertawa. Daniel kini tau jika Richard sudah menahan tawanya sejak tadi, sebab mertuanya itu tertawa sedemikian lepas. Ia telah sengaja bersikap seolah mengintimidasi. Sebab ia ingin melihat ekspresi Daniel yang begitu tegang.
"Bangsat lo ya." ujar Daniel.
"Gue udah tegang dari tadi." lanjutnya kemudian.
Richard masih tertawa.
"Sumpah muka lo tegang banget Dan, dari tadi. Kayak abis menghamili anak orang di luar nikah." ujar Richard.
"Bangsat." Daniel masih menggerutu, namun ia ikut tertawa.
"Gue nggak tau kalau lo udah pulang tadi." lanjutnya kemudian.
Richard yang masih tertawa tersebut lalu memberikan rokok pada Daniel. Daniel mengambil sebatang lalu menyalakannya. Sesaat kemudian kedua sahabat itu sudah tampak mengotori udara dengan kepulan asap.
"Yah, jadi nggak."
Lea membuka pintu ke arah balkon secara tiba-tiba.
"Heh, asap-asap...!"
Daniel dan Richard kompak melarang Lea untuk keluar.
__ADS_1
"Asap rokok." ujar Richard lagi.
Maka Lea pun hanya berdiri di dekat pintu.
"Jadi nggak perginya?" Ia bertanya pada ayahnya itu.
"Mau kemana?" tanya Daniel pada Richard.
"Mau belanja keperluan rumah. Lea mau ikut katanya."
"Oh."
"Mas tinggal aja, ntar pusing loh."
"Iya, aku juga lagi males keluar rumah." ujar Daniel.
"Lagian kamu takut nggak bisa merengek banyak kan di depan ayah kamu, kalau ada aku."
Daniel menjudge istrinya tersebut, Lea nyengir sebab hal itu adalah benar adanya.
"Ayah ngabisin rokok dulu." ujar Richard.
"Aku tunggu di bawah ya yah."
"Iya."
Lea pun kembali menutup pintu ke arah balkon dan kini ia turun ke bawah. Usai menghabiskan rokoknya, Richard kemudian pergi bersama Lea. Sedang Daniel tetap tinggal di rumah.
***
Richard dan Lea berbelanja hanya berdua saja. Mereka tampak begitu senang, karena banyak mengalami hal-hal seru.
"Ayah liat kesini dong yah...!"
Lea meminta ayahnya menghadap ke kamera, karena ia tengah membuat insta story. Richard pun mau tidak mau menoleh, sebab biar bagaimanapun anak itu masih remaja. Ia masih suka membagikan segala sesuatu di sosial media.
Tidak seperti Richard yang sudah berumur dan kadang malas dengan segala hal yang ada di dunia maya.
"Sekali lagi, yah." pinta Lea.
Lagi-lagi Richard menoleh dan tersenyum meski tipis. Lea lalu mengunggah hasil rekaman tersebut di laman instagram miliknya.
Sementara di rumah, Ellio baru saja tiba dan kini tengah mengajak Daniel mengobrol di kursi dengan kolam renang. Pembicaraan mereka tak jauh-jauh dari seputar ibu Daniel.
"Mereka bakal balik ke Turki dalam waktu dekat ini. Gue nggak maksa lo ketemu, itu semuanya terserah lo. Gue cuma ngasih tau aja, supaya lo berfikir mau gimana nantinya." ujar Ellio.
Daniel hanya diam dan membuang pandangannya ke suatu sudut. Sesaat kemudian ia menghisap batang rokok yang terselip di antara kedua jarinya.
***
"Le, kita samperin om Reynald yuk abis ini."
Richard berujar kepada Lea ketika troli mereka telah dipenuhi berbagai macam barang belanjaan.
"Ok." jawab Lea.
"Emangnya om Reynald dimana yah?" tanya perempuan itu.
"Masih di rumah sakit katanya." jawab Richard.
"Oh ya udah, kita bayar dulu." lagi-lagi Lea berujar.
Richard mengangguk, lalu keduanya berjalan ke arah kasir.
__ADS_1