
Nina menyisir rambut Sharon di depan sebuah kaca. Sementara saudara tirinya itu hanya diam seperti biasa. Belakangan ia sudah dibawa ke psikiater dan kondisinya mulai membaik.
Namun ia belum bisa bicara. Psikiater mengatakan jika masih ada tekanan dalam dirinya yang menjadikan ia belum siap untuk kembali membuka suara.
"Lo mendingan makan dulu. Kalau mau jalan keluar, ntar gue temenin." ujar Nina.
Sharon masih seperti tadi. Nina menyelesaikan pekerjaannya lalu bersiap beranjak. Namun kemudian Sharon mencekal lengannya.
Nina menatap Sharon, dan Sharon pun menunduk. Genggaman tangannya seakan tak menyuruh Nina pergi. Nina lalu duduk memeluk saudara tirinya itu dan Sharon pun membalas hal tersebut.
***
"Darriel anak ikan lele."
Lea berkata dengan nada sangat pelan di dekat telinga Darriel yang baru saja selesai di ganti popok. Darriel yang semula diam tiba-tiba hendak menangis.
Lea pura-pura membereskan pakaian Daniel yang baru diambil dari laundry. Sementara Daniel yang duduk di dekat sana sambil berkutat dengan laptop, kini memperhatikan Darriel yang siap merengek.
"Kamu apain, Le?" tanya Daniel curiga.
"Orang nggak diapa-apain, yeee."
Lea tak mengakui.
"Kamu tadi bilang apa ke dia?" tanya Daniel lagi.
"Darriel ganteng."
Daniel nyaris tertawa, namun tetap menaruh curiga pada istrinya tersebut.
"Awas kamu ya, bikin dia nangis. Lagi anteng begitu."
"Nggak, dia nya aja yang caper pengen nangis."
Lea beralih ke lemari dan menyusun baju sang suami.
"Mama nakal ya nak?" tanya nya pada Darriel. Sementara Darriel kini menatap sang ayah.
"Nggak, enak aja. Mama baik ya?"
Lea membela diri di depan sang anak. Darriel beralih menatap Lea, kemudian menatap Daniel kembali.
"Sini sama papa sayang."
Daniel meletakkan laptopnya kemudian meraih Darriel.
"Sayang papa ini ya?"
Darriel terus menatap sang ayah tanpa bisa memberikan reaksi apa-apa. Sebab usianya kini baru hampir menginjak satu bulan dan belum bisa merespon dengan baik setiap emosi yang ada di sekitar.
Ia hanya terus melihat, memandang, sampai kemudian mengantuk dan terlelap dengan sendirinya.
***
Dian jadi sering bertemu dengan Sean akhir-akhir ini. Dari perjumpaan pertama tempo hari mereka banyak nyambung dalam berbagai hal.
Salah satu hobi mereka sama, yakni menonton dan membahas film. Sedang Richard selama ini tak begitu suka dengan hal tersebut. Namun ia tak pernah menghalangi apa yang menjadi hobi Dian.
"Kenapa yah?"
Lea bertanya pada Richard yang duduk diam di sebuah kursi.
"Nggak apa-apa." jawab Richard.
Ia meletakkan handphone ke atas meja. Sejak tadi dirinya mengirim chat pada Dian dan belum di balas. Biasanya perempuan itu sangat cepat sekali dalam menanggapi Richard. Namun tidak dengan hari ini.
__ADS_1
Sebab ia tengah menonton film bersama Sean di apartemen Sean. Mereka hanya berteman namun tampaknya mereka nyaman satu sama lain.
Mereka serius menyaksikan tayangan, kadang tertawa dan kadang bersedih. Mengikuti emosi yang disajikan oleh tayangan tersebut. Sementara Richard terus menunggu dengan perasaan yang campur aduk.
Ia ingin menelpon, tapi takut Dian tengah sibuk. Tidak menelpon, tapi hatinya terus bertanya-tanya.
"Yah, jalan aja yuk yah. Naik mobil muter-muter wilayah sini." ujar Lea memberi ide.
"Mau kemana?" tanya Richard dengan nada lesu.
"Kemana kek, makan apa gitu di luar. Kan ada mas Dan ini yang jaga Darriel. Ada om Ellio juga."
Richard menganggukkan kepala meski masih sedikit malas.
"Ayo." ujarnya kemudian.
Maka keduanya pun beranjak.
"Mau kemana, Le?" tanya Daniel yang saat ini tengah menonton televisi dengan Ellio. Lea tampak turun dari lantai dua dan mengenakan kardigan warna hitam.
"Mau muter-muter kompleks mas, sama ayah."
"Tumben si Bambang mau diajak jadi cabe-cabean." celetuk Ellio yang mengundang tawa Daniel.
"Lagi sedih." ujar Lea dengan nada pelan.
"Sedih?. Sedih kenapa?" Daniel dan Ellio bertanya di waktu yang nyaris bersamaan.
"Nggak tau, berantem kali sama kak Dian." ujar Lea lagi.
"Nggak kamu tanyain dengan jelas?" ujar Daniel.
"Nggak enak aku mas. Tadi aku udah tanya kenapa, tapi ayah jawab nggak apa-apa. Tapi sih feeling aku sedih karena kak Dian."
"Lea, ayo!"
"Iya yah." jawab Lea.
"Pergi dulu ya mas, om." ujarnya kemudian.
"Ya udah." jawab Daniel.
"Le, titip martabak telor dong." ujar Ellio.
"Iya ntar dibeliin." jawab Lea lagi.
Perempuan itu kemudian menyusul ayahnya yang sudah siap didalam mobil.
Lea dan Richard menyusuri jalan di area sekitar perumahan, lalu agak keluar dan berputar arah. Pria itu agak sedikit lebih tenang ketimbang tadi. Meski Dian belum membalas apa-apa padanya.
"Yah, ayah tuh sukanya apa?"
Lea melontarkan pertanyaan pada Richard, disaat mereka berada di suatu jalan yang cukup padat.
"Apanya?" Richard balik bertanya.
"Ya hobi nya ayah."
"Main golf." jawab Richard.
"Main golf?"
"Iya."
"Kalau nggak mancing, main bilyard, ngutak-atik mobil palingan."
__ADS_1
"Sangat laki-laki dan sangat tua sekali ya hobinya." seloroh Lea.
Richard tertawa kali ini.
"Abis mau hobi apa lagi coba?"
"Ya apa kek, main game online gitu atau apa."
"Ya kan kesukaan orang kan beda-beda, Le."
"Tapi nggak ada salahnya kalau ayah punya hobi baru. Biar nggak monoton hidupnya, biar lebih berwarna gitu."
Lagi-lagi Richard hanya tertawa.
***
"Kamu punya cowok?"
Sean tiba-tiba melontarkan pertanyaan pada Dian yang tengah nonton sambil makan.
Dian sedikit terkejut, ia tak mungkin mengakui jika dirinya memiliki pacar seorang sugar daddy.
"Ah saat ini iya, tapi dia nggak disini." ujar Dian Kemudian.
"Di negara kita?" tanya Sean lagi.
"Yup." jawab Dian sambil coba tersenyum.
Sean tampak mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Dian.
"Nggak, penasaran aja." jawab Sean.
Keduanya lalu kembali menonton.
***
Beberapa saat sebelum Lea dan Richard berjalan-jalan. Reynald yang mengetahui anaknya terluka segera mengemudikan mobil menuju ke rumah sakit.
Di sepanjang perjalanan ia nyaris menabrak beberapa kali. Saking paniknya ia dalam mengendarai mobil.
"Arsen." teriaknya ketika melihat anak itu di salah satu ruangan.
"Pa."
Arsen tampak baik-baik saja, namun Reynald kemudian memeluknya dengan erat.
"Papa udah takut banget kamu kenapa-kenapa. Ini sebenarnya ada apa, orang itu tadi siapa?"
"Pa, tenang dulu."
"Gimana papa mau tenang coba kalau kayak gini?"
"Iya, Arsen jelaskan sekarang sama papa. Papa tenang dulu."
Reynald pun menarik nafas dalam-dalam lalu duduk di sisi puteranya itu.
"Arsen juga nggak tau itu siapa. Belum sempat Arsen nanya, dia udah keburu melukai Arsen dan pergi."
"Lagian kamu ngapain jauh-jauh dari penjaga kamu. Harusnya kamu nggak boleh ngikutin orang yang mencurigakan. Laporkan dulu, biar penjaga kamu yang ngikutin orang itu. Kamu itu nggak bisa luka."
"Iya pa, Arsen minya maaf ya. Janji nggak gitu lagi setelah ini."
Reynald kembali menarik nafas, kali ini sambil memejamkan matanya sejenak lalu mengangguk.
__ADS_1