Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Berangkat


__ADS_3

Richard telah naik ke dalam jet pribadi milik Ellio. Lea, Daniel, dan Darriel mengantar pria itu. Baru beberapa detik berlalu, dan belum lagi pesawat take-off. Richard mengirimkan pesan singkat di handphone Daniel.


"Kangen Darriel." ujar pria itu diikuti emoticon cemberut.


Daniel lalu menunjukkan pesan yang dikirim Richard tersebut pada Lea. Lea pun jadi tertawa.


"Apa kabar kalau udah berangkat ya mas?"


"Uring-uringan kali, meriang." ucap Daniel.


Lea makin tertawa.


"Dia sayang banget sama Darriel. Maunya ngeliat Darriel mulu." ujar perempuan itu.


Daniel yang tertawa kali ini.


"Darriel, papa Rich kangen tuh sama Darriel."


Lea berkata pada sang anak yang ada dalam gendongannya. Darriel hanya datar lalu memejamkan mata.


"Dasar datar." ujar Lea kemudian.


Daniel terkekeh demi melihat semua itu.


"Le, Le. Anaknya diberantemin mulu." ujarnya.


"Orang Darriel yang duluan." Lea membela diri. Persis seperti anak kecil, karena ia pun belum begitu dewasa.


Lagi-lagi Daniel tertawa.


"Ya udah kita jalan sekarang yuk." ajak Daniel.


"Ayo."


Maka mereka pun kembali ke mobil dan pergi meninggalkan bandara.


"Mas, aku lupa. Darriel kan jadwalnya ke dokter hari ini." Lea berujar ketika mobil sudah berjalan cukup jauh.


"Oh iya, jam berapa sih" tanya Daniel.


Lea melihat jadwal jam yang telah ditentukan minggu lalu.


"Ah masih kekejer koq." ujar Daniel lagi.


"Ya udah, langsung aja ya mas."


"Iya." jawab Daniel.


Maka mereka pun menuju ke rumah sakit.

__ADS_1


***


Mereka pergi ke dokter anak yang biasa menangani Darriel sejak lahir. Sebenarnya ini hanya control mingguan saja, sekaligus menimbang berat badan Darriel dan berkonsultasi mengenai tumbuh kembang anak.


Ketika sampai, semua terlihat normal. Sampai kemudian Lea dan Daniel menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian. Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Sebagian lagi tampak saling berbisik, ada pula yang melihat Handphone seperti memastikan sesuatu.


"Kamu ngerasa nggak sih kalau kita diliatin?" ucap Daniel pada Lea.


Lea sendiri menduga jika ini adalah efek berita yang muncul kemarin. Sebab foto Lea di pampang dengan jelas di headline news. Agaknya publik mulai mengira-ngira, apakah yang mereka lihat itu benar adalah Lea atau bukan.


"Kayaknya karena kamu ganteng deh mas." Lea mengalihkan topik. Daniel pun jadi tertawa dibuatnya.


"Halah, masa iya sampai segitunya." tukas pria itu kemudian.


Darriel di periksa, ditimbang, dan cek seluruh kesehatannya.


"Darriel udah naik lagi ya berat badannya. Cepat sekali."


Dokter yang memeriksa tersebut menatap Darriel. Maka bayi itu kini terlihat tertawa.


"Sama orang koq dia ramah ya mas, tapi sama aku datar banget." Lea membandingkan sikap Darriel pada dokter dan juga pada dirinya.


Daniel tertawa.


"Kamu suka nyanyiin dia anak ikan lele soalnya. Abis itu kamu berantemin dia terus. Kalau nggak kamu jahilin, kelitikin. Dendam kali." ucap pria itu.


Lea pun jadi keki setengah mati mendengar hal tersebut. Usai memeriksa Darriel mereka kembali berjalan menuju ke halaman parkir. Dan lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian. Lea lebih banyak menunduk dan berjalan disisi suaminya, sedang sang suami belum mengetahui satu perkara pun.


***


Lea menghela nafas ketika telah kembali duduk di dalam mobil. Perempuan itu kini membuka handphone dan melihat apa yang tengah viral di media sosial.


Bukan Alang kepalang betapa terkejutnya ia, ketika melihat berita tentang dirinya ada dimana-mana. Kemarin tak sebanyak itu dan kini jadi menjamur dimana-mana.


"Kamu kenapa, Le?" tanya Daniel heran.


"Muka kamu koq mendadak pucat gitu?" lanjutnya kemudian.


"Mmm, nggak apa-apa koq mas." ucap Lea.


"Jangan bohong." Daniel mencecar sang istri sambil menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas.


Wajah Lea terlihat serba salah. Di satu sisi ia terganggu mengenai berita tersebut, sementara disisi lain ia takut untuk berkata jujur pada sang suami.


"Le, jujur sama aku!"


Daniel menghentikan mobil secara mendadak, lalu menatap dalam ke mata sang istri. Lea pun akhirnya mau tidak mau harus menunjukkan apa yang terjadi di sosial media. Daniel kaget, ia kemudian lanjut menatap dalam ke mata istrinya itu.


"Kenapa susah banget buat jujur sama aku, perihal masalah kayak gini?" tanya Daniel pada Lea.

__ADS_1


"Takut mas Dan kepikiran." jawab Lea seraya sedikit menunduk.


"Ya emang semuanya harus di pikirkan dan di carikan solusinya."


"Aku takut nambahin beban mas." Lea membela diri.


"Kalau masalah kayak gini makin di diamkan, dia akan melebar kemana-mana. Nanti muncul perkara baru, fitnah baru. Udah susah lagi menangani masalahnya." ucap Daniel dengan nada sedikit tinggi.


"Oeeeeek."


Darriel menangis. Seakan sadar dan tak rela jika orang tuanya tengah cekcok.


"Iya, sayang. Nggak koq." ujar Daniel kemudian.


"Papa cuma ngomong aja." lanjut pria itu.


Darriel pun akhirnya kembali diam. Sementara Lea kini masih menunduk.


"Kalau ada masalah apapun itu, kasih tau aku, Richard, atau Ellio. Nggak akan selesai kalau kamu cuma diem aja."


Lea mengangguk.


"Ngerti kamu?" tanya Daniel memastikan.


"Ngerti mas." jawab Lea.


"Ya udah, kamu tenang. Aku akan urus masalah ini. Kamu nggak usah banyak mikir."


"Iya mas." jawab Lea lagi.


Daniel menilik ke belakang menatap sang anak. Tampak Darriel masih tegang mukanya dan masih seperti mendengarkan. Seolah ia menangkap energi negatif yang masih berserakan di dalam mobil.


"Bobok lagi ya nak, papa udah nggak marah koq. Papa cuma ngomongin mama aja, ya."


Lea sedikit tersenyum, ia merasa di bela oleh anaknya sendiri. Meski mungkin Darriel belum mengerti dan meski Darriel selalu julid kepadanya selama ini. Tapi ternyata Darriel tak suka jika ibunya dibentak.


Mobil mereka kembali melaju, sementara Daniel mulai memikirkan siapa-siapa saja yang akan ia hubungi setelah ini. Guna menyelesaikan perkara yang tengah terjadi.


***


Richard telah berada di udara saat ini. Ia telah siap untuk menyelesaikan perkaranya bersama Dian. Intinya ia hanya ingin meminta kejelasan dari perempuan itu.


Jika memang masih mau, maka hubungan akan dilanjutkan. Jika tidak, maka mereka kan berpisah baik-baik.


Richard tak masalah dengan segala uang yang sudah ia berikan pada sugar baby-nya itu. Ia malah akan menyelesaikan sampai Dian lulus kuliah.


"Hhhhh."


Richard menghela nafas panjang dan meraih handphone yang sudah terlebih dahulu ia aktifkan mode pesawatnya. Ia membuka galeri foto dan melihat foto-fotonya bersama Dian. Namun ketika kembali scroll ia mendapati foto Darriel.

__ADS_1


Perasaan rindu di hati Richard terhadap Dian kini tergeser dengan muka Darriel yang penuh tawa. Ia kini jadi tak lagi melihat foto Dian melainkan foto Darriel.


***


__ADS_2