Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Mendadak


__ADS_3

Nina mendadak akan menikah, Lea dan Vita yang diberitahu pun terkejut. Tak ada omongan dari jauh-jauh hari, hingga kemudian mereka pontang-panting menjahit baju yang bahannya diberikan Nina.


"Duh Nin, gimana sih lo. Orang kek jauh-jauh hari gitu ngomongnya." Vita menggerutu pada Nina, ketika akhirnya mereka bertemu di tempat ngopi.


"Hai."


Lea datang dengan terburu-buru.


"Sorry gue telat, abis nyari penjahit yang nggak ngantri panjang." lanjutnya kemudian.


"Duh sorry ya, jadi pada kerepotan semua deh." Nina tampaknya sangat merasa bersalah.


"Calon laki sama mertua gue mintanya dadakan banget, nggak ada pembicaraan sama sekali." lanjutnya kemudian.


"Pokoknya mudah-mudahan bajunya bisa jadi sehari sebelum hari H." ujar Vita lalu mereguk kopi yang ada dihadapannya.


"Sama, gue juga." timpal Lea. Mereka lalu lanjut memperbincangkan hal, seputar pernikahan.


Beberapa hari berlalu, tibalah hari bersejarah bagi Nina itu pun tiba. Ibu dan paman dari ayah Nina hadir untuk menjadi wali. Karena ayah Nina sendiri sudah berpisah dari ibunya dan tinggal di kota lain. Segala perkara perwalian sudah dilimpahkan ayahnya kepada sang adik kandung.


Nina tampil cantik hari itu, dalam balutan kebaya sederhana dan makeup minimalis. Tak banyak yang hadir, karena Nina pun masih merahasiakan pernikahan tersebut dari teman-teman kuliahnya. Alasannya malu, karena masih sangat muda tapi sudah menikah.


Dari pihak sang calon suami, hanya keluarga inti dan beberapa kerabat dekat saja yang hadir. Mereka pun agaknya tak terlalu menyukai sesuatu yang heboh.


"Vit, gue denger si Nina nikah siri?" bisik Lea pada Vita. Mereka kini tengah berbicara di sebuah sudut, karena prosesi belum dimulai.


"Iya, katanya sih gitu." jawab Vita.


"Kenapa nggak nikah resmi aja sih, kan cowoknya single."


"Gue juga nggak tau, Le. Apa kesepakatan diantara mereka. Gue nggak berani nanya banyak, karena itu bukan urusan gue."


"Iya sih."


"Mungkin cowoknya udah kebelet pengen begituan, sedangkan ngurus pendaftaran nikah kan agak harus ngantri kadang."

__ADS_1


"Masuk akal juga, mudah-mudahan setelah ini pernikahan mereka di daftarin dan bisa resmi di mata hukum." ujar Lea.


"Iya, kita berdoa aja." ujar Vita.


Tak lama, prosesi akad pun dimulai. Dalam beberapa saat, Nina sudah menyandang status sebagai istri. Lea dan Vita turut berbahagia untuk sahabat mereka itu.


"Selamat ya, Nin." ujar Lea ketika akhirnya mereka mendekat untuk memberi dukungan.


"Selamat di unboxing." ujar Vita, Nina tertawa.


Ada sepintas rasa nyeri di hati Vita, ketika mengucapkan hal tersebut. Betapa tidak, dirinya sudah di nikmati berkali-kali oleh sang sugar daddy. Namun belum ada kata ingin menikahi dari pria tersebut. Padahal sugar daddy nya single, mapan, dan terlihat penuh gairah jika bersama Vita. Kenapa tidak diresmikan saja hubungan mereka?.


"Entahlah."


"Hhhh." Vita menghela nafas, pikirannya kini mulai berkecamuk.


"Vit, Le. Pada makan gih...!" ujar Nina kemudian.


"Oh, iya. Ini mau makan koq." ujar Vita seraya menyunggingkan sebuah senyum.


Vita pun beranjak bersama Lea menuju meja prasmanan. Malam harinya, setelah semua acara selesai. Nina terbaring di sebuah tempat tidur, dengan sehelai gaun tipis menantang. Memperlihatkan body nya yang begitu menggoda.


Sang sugar daddy yang kini telah menjadi suaminya itu, mendekat. Pria itu menggerakkan tangannya dari ujung kepala ke pangkal kaki Nina. Lalu berhenti disana dan membuat gerakan mengusap-usap."


"Hmmh, mas."


Nina bereaksi seraya mengangkat pinggulnya. Bibir Nina dibungkam dengan kecupan, pria itu mencium sang istri dengan penuh gairah.


"Mas."


Bagian atas gaun Nina sudah melorot hingga memperlihatkan dua gundukan, di area dada. Sang sugar daddy pun seperti orang yang kehausan. Ia menyedot keduanya dengan gemas, hingga Nina meracau sambil meremas rambut suaminya itu.


Tangan Nina diarahkan sang suami pada sebuah benda yang mencuat di bawah sana. Dan pergumulan panas pun terjadi, hingga akhirnya sang suami mulai merenggut apa yang menjadi milik Nina.


Nina berteriak kesakitan pada awalnya, namun sang suami melakukannya dengan penuh kasih sayang. Hingga ketika semuanya telah masuk, Nina tak lagi merasakan sakit tersebut. Berganti menjadi kenikmatan yang tiada tara. Erangan dan racauan mulai memenuhi ruangan, hingga disuatu titik Nina dan suaminya mengerang bersama.

__ADS_1


"Aaakh."


Nina merasakan sesuatu yang hangat mengalir di rahimnya, rasa lelah begitu memuncak. Hingga keduanya tertidur sambil berpelukan.


***


Sementara di kediaman Daniel, malam itu Lea tertidur di meja depan televisi. Gadis itu bukan tertidur akibat menonton sinetron, melainkan karena belajar.


Akhir-akhir ini menjelang tes masuk universitas, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar. Ia serius mengenai keinginannya untuk masuk ke universitas impian.


Apalagi kini, ada Daniel yang siap membantu dan memfasilitasi dirinya. Pun ia memiliki uang yang cukup untuk membeli buku dan berbagai keperluan sekolah. Lea benar-benar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Ia memang terlahir kurang beruntung, dari keluarga yang kurang beruntung pula. Namun ia akan mencari keberuntungannya sendiri. Prinsipnya semua bisa di usahakan, tinggal pilih saja jalan yang mana. Lurus, belok, zig-zag atau terbang.


Daniel baru menyelesaikan pekerjaannya malam itu, ia terkejut melihat Lea ketika hendak mengambil air minum dan mencari makanan ringan di dapur. MacBook yang ia belikan masih menyala, ada beberapa buku di dekat Lea.


Gadis itu tertidur sambil duduk, dengan kepala merebah di atas meja. Daniel memandangnya sejenak, lalu membuka pintu kamar Lea. Ia kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya kesana. Ia juga membereskan MacBook serta buku-buku yang masih berada diatas meja.


Pagi harinya Lea terbangun dan mendapati tubuhnya telah berada di kamar, ia tersenyum sejenak. Karena ini pasti adalah perbuatan Daniel, makin hari sikap Daniel semakin manis. Membuat Lea betah berada didekat pria itu lama-lama.


Tidak seperti saat baru-baru ia menginjakkan kaki disini, rasanya ia ingin kabur setiap hari jika bukan karena tuntutan keuangan. Dan jika saja Daniel tidak membayar pada SB Agency. Lea tak pergi kemana-mana karena takut di tuntut, sebab merasa dirinya telah dibeli. Tanpa Lea sadari jika memperjual belikan manusia pun ada hukumnya.


Namun Lea kini terjebak cinta, pada pria yang sudah membayarnya itu. Apalagi gadis seumur dia, ketika sudah disentuh oleh pria di bagian-bagian tertentu, maka yang ia rasakan hanyalah cinta.


Beruntung ia jatuh ke tangan pria yang tepat dan begitu penyayang. Banyak gadis-gadis diluar sana, bertemu dengan pria yang keliatan lembut pada awalnya. Lalu si gadis terkena sentuhan-sentuhan pria itu hingga menjadi budak cinta.


Lambat laun ketika si pria mulai menunjukkan sifat aslinya, semisal suka bermain tangan dan berkata-kata kasar. Si gadis terkunci dalam kebucinan tingkat dewa.


Padahal hubungannya sudah masuk dalam kategori toxic relationship. Namun karena mengingat sentuhan-sentuhan itu, mereka memilih untuk bertahan.


Mereka lalu menciptakan dongeng bagi diri mereka sendiri. Dongeng bualan yang beranggapan, bahwa setelah menikah nanti si pria kasar pasti akan berubah. Apalagi ketika sudah memiliki anak.


Namun pada kenyataannya tidak sama sekali. Manusia berubah seiring dengan berjalannya waktu, tapi tidak dengan sifat dan karakter yang telah terbentuk sejak kecil. Pria kasar akan tetap kasar, meski sudah selusin anak yang kita lahirkan untuknya.


Lea hanya beruntung saja bertemu dengan Daniel. Hingga bucin yang ia rasakan kini, mudah-mudahan mengunci dirinya dalam segala kebaikan Daniel. Bukan dalam segala bentuk kekasaran yang ia miliki.

__ADS_1


__ADS_2