Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rumit


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Lea mulai gusar karena suaminya tak kunjung pulang. Dari waktu yang telah dijanjikan, Daniel menambah lagi waktu tiga hari. Hingga kini Lea uring-uringan lantaran hormon kehamilannya yang bergejolak. Ia ingin bertemu dengan suaminya itu, karena sangat merindukannya.


"Mas Dan kemana sih, koq dari semalem nggak menghubungi. Mana nih bayi bawaannya bikin gue khawatir mulu lagi."


Lea menggerutu sambil memandangi handphone, pagi itu ia kuliah dengan hati yang resah. Karena menunggu kabar dari Daniel."


Tiba-tiba Vita melintas. Lea baru saja hendak memanggil, namun temannya itu malah melengos. Agaknya Vita masih marah atas sikap Lea dan Nina tempo lalu.


"Le." tiba-tiba Nina muncul.


"Nin, Vita." ujar Lea.


"Iya, tadi gue ketemu dan dia cuekin gue. Mungkin dia butuh waktu buat bisa maafin kita."


Lea mengangguk, otaknya runyam pagi ini. Namun ia tak mungkin menceritakan hal buruk di pagi hari, meski pada Nina sekalipun. Karena apabila kerusuhan sudah dibangun sejak pagi, sampai sore kita akan tenggelam dalam kerusuhan itu sendiri.


Lea benar-benar tak ingin ada hal negatif yang mengganggu paginya. Meski tak dapat dipungkiri hati dan pikirannya kini gelisah.


***


Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Lea. Pesan tersebut dikirim dari nomor yang tidak dikenali, atau tak ada dalam kontaknya. Ada sebuah video di sana, Lea pun mengklik download dan...


"Mas Dan?"


"Hah?"


Seketika dunia Lea seakan runtuh, pasalnya di dalam video tersebut Daniel terlihat menggendong tubuh Marsha dan mereka masuk ke dalam kamar hotel.


Rasa sakit, sedih bercampur marah pun seakan mengoyak batin perempuan berusia 17 menjelang 18 tahun itu.


Rasanya seperti disayat, melihat suami sendiri membawa perempuan lain ke dalam sebuah kamar hotel. Tungkai Lea seketika lemas, tulang-belulangnya seakan tak mampu lagi menopang tubuh.


"Suami lo belum balik kan sampai sekarang?. Ya iyalah, orang dia sama sekretarisnya masih ada jadwal ngedate koq. Oh ya, semalem teriakan sekretarisnya kenceng banget loh. Kayaknya sampe dalem banget tuh di sembur sama laki lo." Sebuah pesan kembali masuk ke handphonenya.


Air mata Lea menetes, namun kebencian kini lebih mendominasi suasana hati perempuan itu. Ia masih tak percaya Daniel tega melakukan hal tersebut, seakan ini semua hanyalah mimpi.

__ADS_1


Namun melihat video yang barusan, rasanya mustahil untuk tidak percaya. Pantas saja suaminya itu menunda waktu kepulangannya, ternyata ia memiliki affair dengan sekretarisnya sendiri. Hati Lea benar-benar panas, tak lama kemudian sebuah pesan lagi ia terima.


"Mereka ada ditempat ini, lagi menikmati waktu bersama. Gue liat suami lo beli cincin, kayaknya tuh cewek bakalan dilamar jadi bini kedua. Hahaha."


Darah seakan naik ke ubun-ubun Lea, Ia benar-benar tak terima dengan perlakuan Daniel kali ini. Kebetulan si pengirim WhatsApp yang tidak dikenali tersebut, mengirimkan alamat tempat dimana kini Daniel berada.


Lea benar-benar murka, sang suami telah kembali ke Jakarta dan tidak memberitahu dirinya. Maka dengan penuh kemarahan, ia pun tak jadi pulang ke rumah sore itu. Lea pergi ketempat dimana kini Daniel berada.


Sesampainya di tempat yang dimaksud, hati Lea semakin bergemuruh. Pasalnya Daniel terlihat berdua dengan Marsha dan mereka sangat dekat. Mereka tengah memperhatikan sebuah map dan tampak kepala Marsha berada dekat dengan bahu suaminya. Seakan mereka tengah membaca bersama dengan mesra.


Emosi Lea pun meluap, apalagi dirinya kini tengah hamil. Rasa cemburunya meningkat 100 kali lipat. Maka dengan penuh keberanian ia menghampiri dan,


"Plaaak."


Lea menampar Marsha.


Seketika Daniel, Marsha, dan semua yang ada ditempat itu pun terkejut.


"Lea apa-apaan kamu?" ujar Daniel dengan nada marah.


"Lea."


Daniel semakin marah, dan Lea mendadak membabi buta.


"Plaaak."


"Plaaak."


Ia kembali menampar Marsha dan Daniel pun terpaksa menggunakan otoritasnya sebagai suami. Ia membentak Lea dan mendorong tubuh istrinya itu hingga nyaris terjatuh.


"Stop, what the hell are you doing Lea?"


"Mas, liat video ini. Lihat...!"


Lea memperlihatkan video, saat Daniel menggendong Marsha ke kamar hotel.

__ADS_1


"Kamu selingkuh dari aku, kamu mengkhianati aku. Kamu bener-bener suami yang nggak tau cara bersyukur."


Lea memukul-mukul dada suaminya sambil berteriak.


"Aku nggak pernah mengkhianati kamu, malam itu Marsha pingsan dan aku cuma bawa dia ke kamar. Yang di video ini cuma sebagian, kamu nggak liat beberapa detik setelahnya Yohan, Stefan dan Clarissa juga masuk untuk menyadarkan Marsha."


Lea terdiam.


"Istri macam apa yang menuduh suaminya selingkuh, bahkan di depan seluruh klien dan rekan bisnis yang suaminya miliki."


Lea tersentak kaget, pasalnya kini ia memperhatikan sekitar. Ia baru sadar jika itu adalah tempat dimana banyak sekali klien dan calon investor dari perusahaan Daniel. Daniel tidak tengah berdua saja dengan Marsha di tempat umum. Ini adalah tempat dimana Daniel pun masih mengurus pekerjaannya.


Mendadak nafas Lea terasa sesak, betapa ia telah mengacaukan hari suaminya dengan tuduhan yang tidak benar. Daniel berlalu, Lea segera menyusul pria nya itu.


"Mas, mas Dan."


Daniel tak menggubris Lea.


"Mas, maafin aku mas. Aku bener-bener nggak tau kejadiannya kayak gitu. Aku pikir mas udah selingkuh dari aku."


Daniel masih mengabaikan Lea, ia terus berjalan ke suatu arah.


"Mas, aku minta maaf."


"Cukup, Lea...!"


Daniel berbalik dan menghardik istrinya itu dengan keras, membuat Lea tersentak sekaligus syok. Ia belum pernah melihat Daniel semarah itu padanya.


"Mas, aku minta maaf."


"Gampang banget kamu bilang maaf ya. Jangan mentang-mentang kamu perempuan, kamu bisa bertindak seenaknya. Saat kamu melabrak Clarissa tempo hari, aku pikir kamu orang yang dewasa Lea. Tapi hari ini tindakan kamu menunjukkan, betapa bocahnya kamu. Kamu permalukan suami kamu sendiri di depan banyak orang. Kalaupun aku memang salah dan kamu rasa perlu untuk bertengkar sama aku, kamu bisa tunggu aku sampai aku pulang ke rumah. Nggak ditempat seperti ini, kamu menginjak-injak harga diri aku."


"Tapi mas nggak ada kabar, bahkan mas nggak ngasih tau kalau udah pulang. Gimana aku nggak marah."


"Aku bener-bener sibuk, Lea. Sejak Hans, ayahnya mantan kamu itu memutuskan kerjasama secara sepihak. Lantaran sakit hati anaknya terhadap kamu, aku harus membenahi semuanya. Perusahaan aku lagi genting, dan aku sedang berjibaku mengurus itu semua. Kamu nggak tau betapa rumitnya pikiran aku selama beberapa waktu belakangan ini. Aku berusaha untuk tidak membawa masalah kantor ku ke rumah. Pikiran aku runyam dan tadi kamu permalukan aku didepan semua orang. Kamu pikir aku semurah itu, suka dengan perempuan mana aja."

__ADS_1


Lea benar-benar terdiam, Daniel berusaha menarik nafas diantara emosinya yang kini meledak-ledak. Sesaat kemudian Daniel kembali berlalu, dan Lea dengan cepat menyusul.


__ADS_2