
Usai mengurus segalanya, Daniel mengajak Lea jalan-jalan ke luar negri. Dari mulai negara tetangga paling dekat, yakni Singapura.
Daniel memang tak langsung membawa Lea ke benua Eropa. Karena masalah waktu dan pekerjaan yang dimiliki oleh Daniel. Lagipula banyak persyaratan yang harus dimiliki oleh Lea, sebelum menyambangi benua tersebut. Dan mengurus persyaratan tersebut cukup memakan waktu.
Maka dari itu, Daniel mengajak Lea untuk mengunjungi negara-negara di Asia terlebih dahulu. Lea senangnya bukan main, karena untuk kali pertamanya pula ia naik pesawat.
"Om maaf ya, kalau aku agak norak. Aku emang belum pernah naik pesawat dan belum pernah pergi ke luar negri."
Lea berkata jujur dengan polosnya di hadapan Daniel, ketika mereka berada di lounge khusus first class. Daniel pun hanya tertawa lalu mengatakan jika itu tak masalah.
Saat tiba di Singapura Daniel mengajaknya jalan-jalan, setelah beristirahat sejenak di hotel. Tak butuh waktu lama untuk berkeliling di negara itu, bahkan satu sampai dua hari pun sudah cukup. Namun mereka di sana selama kurang lebih empat hari, karena Lea yang meminta. Gadis itu masih ingin berada di sana dan mengambil beberapa foto dirinya ditempat yang ia inginkan.
Mereka pun lanjut mengunjungi negara-negara lainnya, yang telah masuk ke dalam daftar list perjalanan mereka. Ada sekitaran dua minggu mereka pergi, dalam perjalanan tersebut Daniel selalu berkabar dengan Richard dan juga Ellio.
"Lo yakin nggak sih, kalau Daniel udah begituan sama Lea?"
Ellio bertanya pada Richard di ruang kerja sahabatnya itu. Beberapa saat yang lalu, mereka video call dengan Daniel.
"Gue sih, yes." ujar Richard seraya menghisap pod vape miliknya, Ellio tersenyum.
"Kita sepemikiran, bro. Cuma mungkin Daniel masih gengsi aja buat mengakui semuanya, di depan kita."
Richard tertawa.
"Ya, tapi gue seneng banget liat dia sekarang. Dia udah nggak galak kayak dulu kalau sama Lea." ujarnya kemudian.
"Gue ingat tuh yang dia hampir nabrak adeknya Lea, terus mereka berantem. Nggak lama dari situ, katanya mereka ketemu lagi, yang mobilnya dilempar makanan."
"Hahaha, iya." ujar Richard makin tertawa, mereka pun lanjut membicarakan Daniel.
***
Lea dan Daniel kembali, namun belum sempat sampai ke rumah. Tiba-tiba gadis itu mendapatkan pesan singkat dari WhatsApp adiknya Leo. Tetapi anehnya bukan Leo yang berbicara, melainkan Ryan.
"Lea, ini Ryan. Leo sakit parah. Lea dimana, Leo panggil-panggil Lea terus."
"Hah?"
Lea begitu kaget, Daniel yang tengah mengemudikan mobil tersebut pun menoleh. Kebetulan ia menyuruh orang kepercayaannya untuk membawakan mobil ke bandara. Sedangkan yang membawa kini naik mobil lain, bersama orang kepercayaannya yang satu lagi.
"Kamu kenapa Lea?" tanya Daniel bingung. Ia melihat wajah Lea yang mendadak sedih.
"Leo, om." ujar Lea cemas.
"Dia sakit." lanjutnya kemudian.
"Kata siapa?. Siapa yang bilang?" tanya Daniel.
"Ryan."
"Coba kamu telpon dulu."
"Iya ini lagi ditelpon." jawab Lea.
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."
Lea mencoba sekali lagi, dan lagi-lagi terdengar suara yang sama.
"Nomor yang anda tuju, tidak menjawab."
"Duh, Ryan angkat kek." Lea sudah semakin khawatir.
"Coba kamu tenang dulu." ujar Daniel.
"Kita kesana aja apa, om?"
"Ya terserah kamu, gimana baiknya aja."
__ADS_1
Lea berfikir jika ia kesana sekarang, sudah pasti ia akan bertemu dengan ibu dan ayah tirinya itu. Mereka pasti akan banyak mengajukan pertanyaan pada Lea, terutama soal kehidupan Lea selama ini. Dan lagi Lea tidak memberikan uang yang ibunya pinta waktu itu, pastilah ia akan dicerca habis-habisan.
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba Ryan menelpon, dan Lea langsung mengangkatnya.
"Ryan kenapa lama banget?"
"Maaf Lea, tadi Leo manggil. Kalau Lea mau kesini, ibu sama ayah nggak ada di rumah."
"Oh ok." jawab Lea kemudian.
"Kamu tunggu ya...!" ujarnya lagi.
Usai menutup sambungan telpon, Lea berujar pada Daniel.
"Om kita kesana."
"Ok."
Daniel pun menuruti keinginan Lea, mereka menuju kediaman orang tua Lea tanpa merasa curiga sedikitpun. Padahal tadi Ryan mengatakan,
"Kalau Lea mau kesini, ibu sama ayah nggak ada di rumah."
Selama ini Ryan tidak pernah tau, jika Lea tak mau bertemu dengan ibu dan ayahnya tersebut.
Ketika sampai, Daniel memarkir mobil di jarak yang agak jauh dari rumah Lea. Kemudian ia menemani gadis itu berjalan ke arah rumah.
***
"Lo nyesel?" tanya Richard pada Daniel, ketika akhirnya mereka kembali berkumpul. Richard dan Ellio kini memperhatikan Daniel.
"Gue..."
"Gue belum siap sebenarnya." ujar Daniel lagi.
"Tapi lo udah terlanjur bilang, Dan." tukas Ellio.
"Itu dia masalahnya, Ellio. Gue sayang sama Lea, tapi nggak sekarang juga gue nikah. Gue juga yakin, Lea pun pasti berfikiran sama dengan gue."
Richard menghela nafas dan memegang bahu sahabatnya itu.
"Dan, gue sama Ellio selalu ada di samping lo. Lo nggak usah takut dan bertindaklah sesuai apa yang udah lo ucapkan ke mereka. Bersikap layaknya laki-laki sejati, lo udah janji sama orang tuanya Lea. Lea sendiri juga udah kecewa sama mereka, karena merasa di jual sama orang tuanya. Lea cuma punya lo sekarang, nikahin dia."
Daniel menatap kedua sahabatnya itu, mereka balas menatap dengan penuh keyakinan. Meski berat, Daniel pun akhirnya mengangguk.
***
"Gimana ceritanya sih, Le?"
Vita bertanya pada Lea, sedang Nina memperhatikan.
"Ini semua gara-gara Sharon."
"Sharon?"
"Iya, dia ngasih tau ke orang tua gue kalau gue ini sugar baby. Adek gue si Ryana disuruh bohong ke Leo, kalau ibu sakit. Sampe rumah Leo ditahan, handphonenya dipake sama Ryan. Buat chat gue, dan bilang kalau Leo sakit."
"Serius lo?" Vita dan Nina tampak terkejut, Lea mengangguk.
Ia lalu mengingat kejadian kemarin. Saat itu ia dan Daniel melangkah ke arah rumah ibunya tanpa menaruh curiga, karena berfikir tak ada orang tuanya di sana. Namun ketika baru sampai dimuka, tiba-tiba ia mendapati ibu dan ayah tirinya keluar dari pintu. Mereka langsung menghujani Lea dan Daniel dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Lea bingung, namun kemudian ia melihat Leo dan Ryan keluar dari rumah dengan wajah yang amat tertekan. Lea paham jika dua anak itu telah dimanfaatkan oleh orang tuanya, agar ia kembali.
Tak lama muncul beberapa orang laki-laki dibelakang mereka. Daniel dan Lea sadar jika kondisi ini sedang tak baik-baik saja.
__ADS_1
"Jadi anda, orang yang sudah menyimpan dan menjadikan anak saya sebagai budak kesenangan?"
Ibu Lea berujar penuh kebencian, sementara Daniel dan Lea bersitatap dalam kebingungan.
"Hajar...!"
Ayah tiri Lea berujar, orang-orang yang ada dibelakang Daniel dan Lea langsung bergerak dan memukuli Daniel. Tubuh Daniel ditahan dan dia dipukuli dihadapan Lea.
"Ibu, ayah. Apa-apaan ini?"
Teriak Lea penuh ketakutan dan kemarahan. Sementara Daniel masih di keroyok, dan berusaha memberontak serta melawan.
"Om Daaan."
Lea mendekat ke arah Daniel, namun ia dijambak oleh ibunya.
"Anak kurang ajar kamu, Lea. Siapa yang suruh kamu jual diri, hah?. Bikin malu kamu."
Ayah tiri Lea bersiap memukul gadis itu. Leo menarik ayahnya, sedang Daniel berhasil memberontak lalu menjadi tameng untuk Lea.
"Jangan sentuh dia...!"
Daniel berujar sambil menatap tajam ke ayah tiri dan ibu Lea.
"Ini anak kami." teriak ibu Lea lantang.
Daniel tetap tak bergeming, orang-orang yang tadi mengeroyoknya kembali bergerak. Kali ini Daniel yang gantian menghajar mereka.
"Buuuk."
Pengeroyok terakhir tumbang, dihadapan kedua orang tua Lea. Kini ayah tiri Lea dan ibunya itu tampak ketakutan, sementara Leo dan Ryan tersenyum. Dari dalam rumah Ryana mengintip penuh kecemasan.
"Apa yang kalian inginkan dari saya?"
Daniel mendekat.
"Jangan mendekat atau saya teriak...!"
Ibu Lea berujar, sudah banyak tetangga yang kini berkumpul akibat mendengar kegaduhan.
"Saya akan laporkan anda ke polisi karena sudah menjadi predator bagi anak saya."
"Bu, kejadiannya nggak seperti itu. Om Dan nggak salah."
"Diam kamu, Lea...!" teriak ayah tirinya.
"Saya bukan predator anak, sampai hari ini dia itu masih perawan."
Daniel menunjuk Lea dengan tangan, namun matanya masih menatap tajam ke wajah kedua orang tua Lea.
"Saya yang menyelamatkan dia, saat dia hampir jadi objek kesenangan dari seorang laki-laki tua. Dia masuk ke sebuah agency yang merekrut perempuan muda untuk dijadikan budak kesenangan."
Ayah dan ibu Lea terkejut.
"Kenapa kaget?. Kalian nggak tau kan selama ini, anak kalian dimana?. Saya juga bisa, melaporkan kalian sebagai orang tua yang lalai dan abai terhadap anak. Saya punya pengacara, saya punya uang. Saya lebih bisa membuat kalian berurusan dengan pihak yang berwajib."
Ayah tiri dan ibu Lea tampak ketakutan, namun agaknya mereka masih berusaha untuk keras demi menunjukkan eksistensi mereka.
"Bagaimanapun Lea itu anak kami dan dia perempuan. Anda sudah salah menyimpan anak kami tanpa ada pemberitahuan dan pemulangan. Itu sama saja penculikan."
"Saya akan nikahi Lea, kalian butuh uang berapa?"
Daniel langsung to the point, ini sebuah dugaan yang sejatinya merendahkan. Namun ternyata Daniel benar, mereka bersikeras hanya demi uang.
Mereka pura-pura membela Lea hanya demi rupiah, karena memang itu tujuan mereka sebenarnya. Mereka tau dari Sharon jika Lea menjadi simpanan. Namun mereka sempat bertanya, apakah yang memelihara Lea itu adalah pria kaya raya. Maka Sharon menjawab, iya.
Lea akhirnya makin terluka, ketika mendengar nominal yang disebutkan ibu dan ayah tirinya. Lea merasa diperalat untuk dijual, mereka tidak serius dalam mengkhawatirkan anak mereka.
__ADS_1
Jadilah perjanjian hari itu disaksikan tetangga dan ditengahi perangkat wilayah setempat. Daniel berjanji di atas materai jika ia akan segera menikahi Lea. Ia juga menghubungi pengacaranya guna mengurus keuangan yang diminta orang tua Lea. Lea menangis di perjalanan pulang, ia merasa begitu sakit atas sikap orang tuanya. Sedang Daniel lebih banyak diam.