
"Om, makasih ya." ujar Lea, ketika Daniel sudah tiba dari kantor. Ia berterima kasih perihal Daniel yang sudah mengangkat derajatnya di sekolah.
"Hmm." jawab Daniel acuh tak acuh.
Pria itu kini menuju ke lantai atas, Lea sengaja masak banyak hari ini sebagai ungkapan terima kasih lanjutan kepada pria itu. Daniel memang turun setelah berganti pakaian. Ia makan seperti biasa, namun kali ini terlihat sangat fokus pada handphone. Tampaknya ada banyak pekerjaan yang menganggu.
Ada beberapa orang yang menelpon dan mereka membicarakan perihal urusan kantor. Sehingga Daniel tak mengajak Lea berinteraksi malam itu.
Lea sendiri tak masalah, toh Daniel bukan pasangan maupun suaminya. Yang penting di tempat itu, ia mendapatkan fasilitas, makan, tempat tinggal dan juga uang jajan.
Esok harinya, Daniel juga sama sibuknya. Di sepanjang perjalanan mengantar Lea ke sekolah, ia tak henti-hentinya menerima telpon dan kembali membicarakan soal pekerjaan.
Ia bahkan tak sempat menjawab, ketika Lea pamit untuk segera masuk ke kelas. Ia hanya memberikan uang jajan, lalu membiarkan Lea keluar dari dalam mobil. Karena masih sibuk dengan telpon.
"Lea."
Tiba-tiba Rangga berdiri dihadapan Lea, Ketika gadis itu telah masuk ke dalam. Lea terkejut dan sempat melirik sekilas ke arah sekitar. Ia tak ingin Sharon melihat hal ini dan akhirnya mereka kembali ribut.
"Ada perlu apa?" tanya Lea pada Rangga. Nada bicaranya tak begitu ramah.
"Le, aku udah nggak tahan lagi sama semua ini. Aku mau menjelaskan sesuatu sama kamu."
"Mau ngejelasin apa lagi?"
"Soal hubungan kita." ujar Rangga.
Lea sangat terkejut. Pasalnya ini sudah beberapa bulan berlalu, sejak Rangga memutuskan untuk bungkam mengenai hal tersebut.
"Rangga, kita tuh udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu udah mengkhianati hubungan kita, sejak kamu jadian sama Sharon."
"Aku dipaksa mami, Le."
Lea kian terkejut mengenai pernyataan yang dilontarkan Rangga. Ia kini menatap Rangga dengan tubuh yang mulai gemetar.
"Mami akan mencelakakan kamu dengan berbagai cara, kalau aku nggak nurutin dia."
Lea terdiam, Ia benar-benar tidak tahu jika kejadiannya seperti itu.
"Aku melakukannya demi kamu, Lea. Karena aku nggak bisa melindungi kamu secara langsung. Aku nggak mau, kamu di celakai oleh keluarga aku. Aku sayang kamu."
Rangga berkata dengan nada penuh ketulusan, namun terdengar begitu putus asa.
"Aku nggak punya kekuatan apa-apa untuk melindungi kamu, aku tau ini sakit buat kamu. Tapi nggak ada hal lain yang bisa aku lakukan."
__ADS_1
Air mata Lea merebak di pelupuk matanya. Namun gadis itu berusaha keras untuk tidak menangis.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang, bukannya kamu bisa kirim WhatsApp ke aku."
"Pada saat aku baru dipaksa jadian sama Sharon, handphone aku masih dipegang mami dan aku selalu di awasi oleh orang kepercayaan mami. Belakangan ini, setelah handphone aku kembali. Aku selalu kirim pesan ke kamu, tapi kamu nggak bales."
Lea ingat, jika ia telah berganti handphone dua kali. Dan kedua WhatsApp nya telah diperbaharui. Setiap kali membroadcast akun barunya, ia selalu tidak mengirimkan ke nomor Rangga. Ia sudah ingin move on dari pemuda itu selama ini.
"Aku tersiksa Lea. Setiap kali ngeliat kamu, aku rasanya pengen bicara sama kamu. Tapi aku selalu di awasi, terutama oleh Sharon sendiri. Dia bisa aja ngadu ke mami aku, dan mami aku bisa mencelakakan kamu kapanpun."
Lea menghela nafas, jujur ia masih memiliki perasaan terhadap Rangga.
"Nanti aku WhatsApp kamu, aku nggak mau Sharon sampai melihat kita, aku lagi nggak mau ribut." ujar Lea.
Gadis itu berlalu meninggalkan Rangga, tanpa mereka sadari jika Tasya melihat hal tersebut. Tasya pun kini buru-buru mencari Sharon.
***
"Ssh, ah, dad, hmmh."
Clarissa merintih dan mengerang penuh kenikmatan, saat ini sugar daddy nya tengah menggempur bagian paling sensitif miliknya dengan kecepatan yang sedang.
Clarissa melayani dengan sangat profesional, sugar daddy nya sampai meracau tak karuan. Ruangan tempat dimana kejadian itu berlangsung, penuh dengan ******* dan umpatan. Setelah cukup lama bermain akhirnya Clarissa mendapat serangan. Berupa kehangatan yang menyembur sangat dalam.
Sang sugar daddy pun tersenyum puas dan memeluk perempuan muda itu, serta menciumnya beberapa kali. Tanpa sadar Clarissa pun membalas pelukan dan ciuman itu. Ia tak dapat mengingkari, jika sugar daddy nya sangatlah perkasa serta mampu memuaskan dirinya.
Sang sugar daddy melepaskan pelukan dan berkata pada Clarissa.
"Apa, dad?" tanya Clarissa kemudian. Ia sudah membayangkan sebuah tas mahal, atau berlian.
Sang sugar daddy memakai piyama tidurnya lalu beranjak ke bagian depan apartemen. Dan benar saja, ia membawa sebuah paper bag yang nampaknya berisi sebuah tas.
"Ini buat kamu, aku harap kamu suka."
Clarissa bersemangat, ia meraih paper bag tersebut dan ternyata isinya memang sebuah tas. Mendadak Clarissa kecewa, namun ia tetap memaksakan sebuah senyum palsu. Karena jika ia langsung marah-marah, takutnya sang sugar daddy tak mau memberinya hadiah lagi.
"Kamu suka?"
Clarissa mengangguk.
"Ya udah, aku mandi dulu."
Sang sugar Daddy mencium keningnya, lalu beranjak ke kamar mandi. Setelah pria itu menghilang dibalik pintu, Clarissa segera membuka akun Instagram miliknya dan mencari sebuah nama.
__ADS_1
@Friscavalencia.
Ia melihat foto yang terakhir di unggah oleh akun tersebut. Disana sang pemilik akun memperlihatkan sebuah foto tas, dengan caption,
"Terima kasih, suamiku tersayang. Selalu tidak pernah gagal dalam memberi kejutan."
Hati Clarissa bergemuruh, ia merasa telah di beda-bedakan oleh sugar daddy nya. Ia menerima tas seharga hanya 9 juta rupiah. Sedangkan Valencia mendapat tas seharga hampir setengah milyar rupiah.
Tadinya ia berharap mendapat, paling tidak sama persis dengan apa yang dimiliki Valencia. Sebab ia telah melihat postingan itu sebelum kedatangan sugar daddy nya ke apartemen.
Bukan tanpa alasan Clarissa marah, sebab Valencia adalah istri sah dari sugar daddy nya saat ini. Mami Sonia telah berbohong, perihal status single yang disandang pria itu. Para sugar daddy yang datang di malam pemilihan, tak semuanya single. Beberapa diantaranya memiliki istri.
Namun meskipun begitu, Clarissa telah memutuskan untuk tetap menjalani, sebab sugar daddy nya ini sangat tampan, cukup muda dan juga kaya raya. Clarissa berharap dapat menggeser posisi istri sah yang jauh lebih cantik darinya itu.
Ia berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri, jika ia lebih cantik dari Valencia. Ia juga selalu memberikan service terbaiknya. Semata-mata agar sang sugar daddy lebih tertarik pada dirinya, dan lebih mau mengeluarkan uang banyak untuk dirinya ketimbang Valencia.
Namun sampai detik ini, sang sugar daddy masih terus mengutamakan istri sah nya tersebut. Clarissa mengetahui perihal Valencia, usai memaksa mami Sonia untuk memberitahu segalanya. Karena pada awalnya, Clarissa menemukan KTP sang sugar daddy dengan status telah menikah.
Jika mami Sonia tak memberitahu, ia mengancam akan merusak reputasi SB Agency. Maka mami Sonia pun, akhirnya jujur dan memberitahu semuanya.
***
"Lea."
Daniel turun ke lantai tempat dimana Lea berada. Lea yang habis membuat video tiktok itu pun keluar dari dalam kamar.
"Iya, om?"
"Ini buat kamu."
Daniel menyerahkan sebuah paper bag pada Lea. Lea membuka paper bag tersebut, ternyata isinya sebuah tas ransel untuk sekolah.
"Makasih ya om." ujar Lea.
Daniel mengangguk lalu kembali ke kamarnya. Lea memfoto tas tersebut dan mempostingnya di insta story. Tak lama kemudian Vita dan Nina mengirim direct message padanya.
"Anjir, tas sekolah 35 juta." ujar Vita berkomentar di postingan Lea.
Lea terkejut membaca pesan tersebut. Karena penasaran, ia pun mengecek merk dan tipe tas yang tadi diberikan oleh Daniel. Dan benar saja, harga tas tersebut menyentuh angka sekitar 35 juta an. Lea melongo tak percaya.
"Om-om satu ini pesugihan kali ya. Beli ransel gini doang sampe 35 juta, bener-bener pemborosan." ujar Lea kemudian.
Lea terus menatap heran tas tersebut, karena menurutnya model tas itu biasa saja. Mengapa sampai sebegitu mahalnya.
__ADS_1
"Ini perasan modelnya sama aja deh, sama yang hara 200 ribuan. Heran sama orang kaya, pusing kali ya mereka kalau nggak ngeluarin duit banyak tiap hari." ujarnya lagi.
Ia kemudian meletakkan tas tersebut ke atas tempat tidur, lalu menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.