Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Nina


__ADS_3

"Gue mau deh Le, ikut agency itu." Ariana berujar ketika Lea telah selesai bercerita.


"Sama, pengen punya laki tajir gue. Tapi lagi deket sama Rama gue sekarang." timpal Adisty.


"Yang lo berdua liat di gue itu, hanya sebagian kecil yang berhasil."


Adisty dan Ariana menoleh pada Lea.


"Ini bukan gue menghalangi jalan kalian ya, bukan gue nggak mau kalian dapat laki-laki tajir, ganteng dan sebagainya." lanjut Lea lagi.


"Justru gue mendoakan lo berdua bisa dapat laki, yang lebih dari laki gue. Tapi ada baiknya sebagai cewek, kita juga jadi cewek mandiri dan punya uang sendiri. Karena nggak semua cowok kaya itu baik dan benar."


"Maksud lo, mereka itu...?" Adisty bertanya.


"Iya, banyak yang zonk koq. Nggak usah jauh-jauh, Vita. Vita yang temen gue sama Nina."


Adisty dan Ariana memperhatikan.


"Dia sugar daddy nya tukang selingkuh." ujar Lea.


"Oh ya." tanya Adisty dengan nada penuh keterkejutan. Hal yang sama juga dirasakan Ariana.


"Dia kan udah nggak lagi, sama sugar daddy nya itu." Lea kembali berujar.


"Oh, jadi dia sekarang gimana?" tanya Ariana.


"Ya, gue dengar-dengar dia kerja sekarang. Sama adalah uang tabungannya selama dengan si sugar daddy nya itu. Makanya gue bilang, lo berdua jangan menganggap semua sugar baby itu berhasil dalam mendapatkan apa yang diinginkan. Kebanyakan nggak enaknya malah."


"Kalau si Nina?" Adisty kembali bertanya.


"Nina itu dinikahi siri sama sugar daddy nya."


"Oh ya?" Keduanya sama-sama terkejut.


"Iya, dan sugar daddy nya itu dari awal sampe kesini-sini sangat mencurigakan."


"Maksudnya Le?" tanya Ariana.


"Kayak menyimpam something gitu di belakang Nina. Nina nya udah curiga sih, tapi masih kayak gue hibur, gue alihkan kecurigaannya dia. Soalnya kan dia lagi hamil, gue takut dia sama bayinya kenapa-kenapa."


Adisty dan Ariana terdiam, namun masih mendengarkan.


"Makanya gue bilang sama kalian, nggak usah ngikutin jejak gue deh."

__ADS_1


Lea berkata lalu menghela nafas.


"Kalaupun kalian mau cari cowok tajir, silahkan. Tapi nggak usah lewat agency, penyalur, atau apalah itu. Kita tuh cuma diperdagangkan dengan cara yang halus. Kalau lo beruntung, ya jadi kayak gue. Kalau nggak, lo akan bernasib sama dengan teman-teman gue yang lain."


Lea memandang kedua sahabatnya itu.


"Lo berdua nggak liat gosip, kalau agency itu sekarang ditutup dan sedang dalam proses penyidikan." tanya Lea.


"Oh ya?"


Adisty dan Ariana berujar di waktu yang nyaris bersamaan.


"Iya, soalnya para sugar baby baik angkatan gue maupun sebelum-sebelumnya. Mereka banyak yang dibohongi. Dibilang sugar daddy nya single, tau-tau punya bini. Ada juga yang mengalami kekerasan baik fisik, verbal maupun seksual."


"Ih serem amat ya." ujar Ariana seraya bergidik ngeri, hal yang sama juga dirasakan oleh Adisty.


"Udah paling bener, cewek tuh dididik untuk pinter kerja, cari duit, memanfaatkan bakat dan skill yang dia punya. Jangan diajarin ngejer laki-laki kaya, karena nggak semua laki-laki kaya itu baik. Kebanyakan suka meremehkan, apalagi kalau lo datang cuma modal badan doang. Lo akan gampang di manipulasi."


"Iya juga sih." jawab Adisty.


"Istilahnya lo gue biayain, ya lo nurut aja sama


gue. Apapun yang gue perbuat, lo nggak boleh protes. Kalau lo protes, duit gue stop dan gue bisa cari cewek lain." lanjutnya kemudian.


Adisty dan Ariana mengangguk-anggukan kepala mereka.


"Gue kalau punya orang tua yang mendukung gue dari segi pendidikan dan lain-lain. Mungkin gue nggak akan kepikiran buat cari jalan pintas demi duit. Karena hidup gue tertekan dan serba nggak enak, makanya gue begini. Untung aja gue ketemu mas Daniel. Kalau ketemu yang zonk, habislah gue."


"Iya sih." gumam Adisty.


"Kalau bokap lo gimana Le?" tanya Ariana.


"Bokap gue ya baik juga, tapi kalau dari segi percintaan gue nggak gitu yakin."


"Maksud lo?" tanya Adisty.


"Bokap gue kadang masih sama cewek lain juga, walau udah sama kak Dian."


"Serius?" tanya Ariana.


"Serius, makanya gue bilang. Lo berdua jangan pernah deh, mikir mau ngejer cowok tajir, ganteng, CEO bla, bla, bla. Mending upgrade diri, upgrade karier, skill. Kalau kehidupan lo bagus, ekonomi bagus, pergaulan lo juga akan ketemu sama orang-orang yang sama. Nggak menutup kemungkinan lo berdua ketemu sama cowok tajir, ganteng dan yang sesuai kriteria. Lebih enak loh, kalau ketemunya pas kalian juga udah di atas. Istilahnya sama-sama berkualitas, sama-sama memilki value. Nggak cuma modal tampang sama kesedihan doang. Kayak gue kan modal kesedihan doang." Lea mengakhiri ucapannya dengan tawa.


Adisty dan Ariana pun ikut terkekeh.

__ADS_1


"Untung ternyata bapak gue kaya, gue sekarang dikasih tabungan, warisan. Jadi kalau laki gue amit-amit bertingkah suatu saat nanti, gue bisa lambaikan tangan dan say goodbye."


"Kalau nggak lo bakal bertahan demi anak." ujar Adisty.


"Lah iya, karena bingung nanti anak mau makan gimana. Akhirnya ya buah simalakama, dimakan beracun, nggak di makan kelaparan."


Mereka bertiga kembali tertawa dan melanjutkan perbincangan. Intinya Lea hanya ingin teman-temannya memiliki tujuan untuk sukses atas diri sendiri, berdiri di kaki sendiri. Bukan hidup hanya sekedar untuk mengejar laki-laki.


Karena ia pun telah melihat berbagai kenyataan di sekitarnya. Dimana banyak perempuan yang gagal dalam mengejar laki-laki kaya. Mereka tertipu, mengalami tindak kekerasan dan lain sebagainya.


Ia ingin teman-temannya ini bisa menjadi contoh bagi perempuan-perempuan lain, bahwa kita bisa mandiri dan mencari uang sendiri. Tanpa harus mengemis pada laki-laki.


Bukan Lea tidak bersyukur pada keadaannya saat ini, ia beruntung memiliki Daniel. Tapi laki-laki seperti Daniel tidaklah banyak. Ia tak mau kedua temannya bernasib sama dengan Vita, ataupun sugar baby lain yang mendapatkan perlakuan tak mengenakan.


***


"Hallo mbak."


Sebuah suara terdengar di seberang.


"Iya hallo, maaf saya bicara dengan siapa?"


"Saya Nina mbak, saya mau buat janji temu dengan notaris Adiyaksa Wirautama."


"Baik nama lengkapnya?"


"Karenina Davina Wijaya, saya salah satu ahli waris dari bapak Roni Wijaya."


"Baik, akan saya sampaikan segera kepada bapak Adi."


"Oh ya mbak, sampaikan juga sama bapak Adi. Saya ada WhatsApp beliau, tapi belum dibalas."


"Ok baik mbak Nina, akan segera saya sampaikan kepada beliau."


"Terima kasih ya mbak, saya tunggu informasi berikutnya."


"Baik mbak, harap ditunggu dulu ya. Terima kasih."


"Sama-sama."


Nina menyudahi telponnya. Perempuan muda yang tengah hamil itu kini terdiam di dalam kamar. Hatinya diliputi kemarahan, serta dendam yang begitu membara.


Tanpa sengaja tadi ia mendengar sebuah percakapan, yang dilakukan ibu mertua serta kakak iparnya. Sebuah percakapan yang ia sendiri tak pernah membayangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2