Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Muram


__ADS_3

Lea terkejut di suatu pagi yang dingin. Tatkala ia mendapat telpon dari Vita. Buru-buru perempuan itu berganti baju, bahkan sebelum ia mandi.


"Le, mau kemana kamu?"


Daniel terbangun dari tidur dan melihat Lea yang tampak panik serta tergesa-gesa.


"Aku pergi dulu mas." ujar Lea.


Perempuan itu beranjak, Daniel pun segera menyusul.


"Kamu mau kemana?" tanya nya lagi.


"Nina mas." jawab Lea. Wajah perempuan itu makin panik.


"Kenapa emangnya dia?" Lagi-lagi Daniel bertanya.


"Nina mendadak mau melahirkan. Kata Vita dia ketemu sekelompok orang pagi ini. Terus dia jatuh atau apa aku nggak ngerti."


Daniel terkejut mendengar semua itu.


"Ya udah aku ikut." ujarnya kemudian.


Pria itu bergegas ke atas dan mengambil kunci mobil. Tak lama mereka sudah terlihat meninggalkan rumah, dengan mata yang bahkan masih sangat mengantuk.


"Vit, Nina dimana?" tanya Lea di telpon, ketika mobil tengah melaju.


"Buruan Le, udah jalan belum lo?"


"Iya ini lagi di jalan sama mas Daniel. Nina nya dimana?"


Vita lalu mengatakan dimana Nina. Vita sendiri sedang berada dalam perjalanan menuju ketempat dimana sahabatnya itu kini berada. Ia berkomunikasi dengan tetangga apartemen Nina, yang menolong serta membawa Nina.


"Gimana Le?" tanya Daniel pada Lea.


Lea lalu mengatakan dimana saat ini Nina berada.


"Ya udah." ujar Daniel.


Pria itu pun makin dalam menekan pedal gas mobilnya. Kebetulan memang mereka berada di jalan yang menuju ke wilayah itu.


"Hati-hati mas." ujar Lea.


"Iya." jawab Daniel.


Beberapa saat berlalu, Daniel dan Lea tiba di halaman parkir sebuah rumah sakit.


"Bener kan disini?" tanya Daniel.


"Iya mas, bener koq."


Daniel mematikan mesin mobil, lalu ia dan Lea bergegas keluar.

__ADS_1


"Vit."


Lea memanggil Vita dari kejauhan. Ia dan gadis itu bertemu mata di lobi depan rumah sakit.


"Le, jangan lari-lari."


Daniel mengingatkan Lea, agar istrinya itu sadar jika ia tengah mengandung. Sebab ketika melihat Vita tadi, Lea langsung berlarian ke arahnya. Seakan tidak sadar jika perutnya kini membesar.


"Iya mas, maaf lupa." ujar Lea.


Perempuan itu kini berjalan dan dalam sekejap ia tiba di hadapan Vita.


"Vit, gimana?" Daniel bertanya pada Vita.


"Langsung ke dalam aja mas, kita tanya ke bagian informasi. Soalnya tetangga apartemen Nina nggak ngangkat telpon aku."


"Ok."


Daniel melangkah ke ruang informasi dan bertanya disana. Mereka lalu di arahkan ke instalasi gawat darurat, karena katanya pasien belum begitu lama di larikan kesana.


Mereka bertiga panik dan berharap-harap cemas. Dengan langkah seribu mereka mencapai tempat itu. Ada seseorang yang tengah berdiri dengan wajah penuh kekhawatiran di sana, Vita mencurigainya sebagai tetangga Nina.


Dan benar saja, ketika Vita mendekat serta bertanya ada orang itu. Orang itu membenarkan dugaan Vita.


"Nina gimana?" tanya Vita masih dengan sejuta kepanikan. Lea dan Daniel segera ikut mendekat.


"Dia..."


"Jadi kemungkinan anak Nina selamat itu sangat kecil?"


Lea bertanya dengan nada yang begitu lemah, namun syarat akan kemarahan serta ketakutan. Ia nyaris pingsan mendengar hal tersebut, sementara Vita sudah berurai air mata. Daniel mencoba menenangkan kedua perempuan itu.


"Dokter bilang begitu, dia lagi menuju ruang operasi sekarang." ujar tetangga Nina itu lagi. Lea dan Vita makin terisak.


"Oh ya nama kamu siapa?" Daniel bertanya pada tetangga Nina itu.


"Saya, Thalia mas." jawab gadis itu.


"Ok Thalia, tadi kamu ngeliat kronologi kejadiannya gimana?"


"Ngeliat mas, orang lain juga ada yang ngeliat bahkan ikut membantu."


"Coba ceritain ke saya gimana kejadiannya."


"Tadi itu saya kan mau kebawah, mau beli air minum ke minimarket depan. Saya ketemu sama Nina di lift, sempet ngobrol lah kita. Nina katanya mau ke minimarket juga, dia mau beli makanan karena udah habis sejak semalem. Dia udah butuh sarapan tadi pagi, bareng lah kita ke bawah. Pas keluar gerbang tiba-tiba ada beberapa cowok nyamperin, narik Nina secara paksa untuk masuk ke mobil."


"Ditarik?" Daniel bertanya degan nada penuh emosi.


"Iya mas. Saya kaget dan langsung minta mereka lepasin Nina, sampai saya paksa. Tapi saya di dorong sampai jatuh. Saya teriak dan berlari mau panggil sekuriti, kebetulan sekuriti lagi di dalam lobi semua. Mereka lagi briefing karena itu pagi buta. Warga mulai mendekat, mereka tetap tarik Nina, akhirnya Nina jatuh. Bener-bener terguling mas, kan turunan tuh depan gerbang apartemen. Nina langsung pendarahan dan mereka semua malah kabur."


Emosi Daniel naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Brengsek..."


Vita berteriak dalam tangisnya. Sementara gigi Daniel beradu, dan tangannya terkepal. Darah sudah memanas di tubuh pria itu.


"Mas aku mau duduk."


Tiba-tiba Lea berujar. Ia seperti sudah tidak kuat lagi demi mendengar itu semua. Daniel segera menangkap tubuh Lea dan membawanya untuk duduk.


"Sini duduk dulu. Kamu yang tenang ya, Nina akan baik-baik aja."


Daniel memeluk Lea. Ia sedikit menarik Vita agar gadis itu juga duduk. Sebab mereka masih harus menunggu operasi selesai, hingga beberapa jam ke depan.


***


Waktu berlalu, Lea tertidur di bahu suaminya. Tak lama dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri mereka semua. Lea terbangun, lalu berdiri mengikuti Daniel, Vita, dan juga Thalia.


Dokter menghela nafas dan menatap mereka semua. Sebuah berita buruk pun mereka dengar. Vita dan Thalia menangis, sementara Lea jatuh pingsan dan segera di bawa oleh Daniel serta beberapa perawat untuk ditangani.


Bayi Nina tak dapat di selamatkan, saat ini dirinya belum sadar. Daniel mengurus Lea dan segera menelpon Richard.


"Richard lo datang dulu tolongin gue."


Daniel berkata dengan nada antara cemas dan bingung.


"Kenapa Dan?" tanya Richard heran.


"Lo datang dulu. Nina anaknya meninggal, Lea pingsan dan Vita sama tetangganya Nina lagi nangis-nangis sekarang. Tolongin gue buat ngehandle semua ini, please."


"Ok tenang dulu, lo dimana sekarang?"


Daniel memberitahu posisinya kini. Richard kemudian bergegas, ia juga menelpon Ellio dan mengajak sahabatnya itu untuk sama-sama pergi kesana.


Dalam beberapa saat, Richard dan Ellio tiba. Kebetulan Ellio tengah bersama Marsha semalaman ini, maka sekretaris Daniel itupun ikut kesana.


Pada saat yang bersamaan Lea sadar, perempuan itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Daniel memeluk Lea dan mencoba menenangkannya.


"Nina gimana mas, dia pasti terpukul banget. Aku harus ngomong apa ke dia nanti?"


Lea makin terisak, sementara Daniel terus mengusap-usap punggung istrinya itu.


"Nanti aku bantu bicara sama dia, kamu tenang ya. Ayah kamu lagi di jalan, dia aku suruh kesini juga. Kita hadapi ini semua sama-sama. Nina pasti diberi kesabaran sama yang di atas."


"Jahat banget itu suaminya mas, aku yakin itu orang suruhan dia. Yakin banget aku."


"Iya sayang, kamu tenang aja soal itu. Aku juga yakin itu orang suruhan dia. Dia akan segera menerima akibatnya, aku janji."


Lea makin keras menangis, Daniel sendiri terus memeluk dan membiarkan Lea meluapkan kesedihannya. Selang beberapa saat Richard, Ellio, dan Marsha tiba. Richard menghampiri Daniel di sebuah ruangan, sedang Ellio dan Marsha langsung pergi ke arah Vita serta Thalia.


Daniel sudah memberitahu pada Richard keberadaan dua gadis itu, melalui telpon sebelumnya. Richard menyuruh Ellio dan Marsha menenangkan mereka.


Kini mereka semua tengah menyiapkan mental, untuk bisa memberitahu Nina perihal apa yang telah terjadi pada perempuan itu. Dan ini akan menjadi sebuah tugas yang sangat berat bagi mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2