
"Aaakh."
Daniel mengeluh sakit, saat Lea membersihkan komedo di hidung pria itu.
"Emang sakit banget mas?" tanya Lea.
"Iya sakit." ujar Daniel seraya tertawa kecil.
"Kamu mencetnya penuh dendam banget." tukasnya lagi.
Lea melanjutkan aktivitasnya, lalu memakaikan masker di wajah suaminya itu.
"Mas ini beli sendiri apa gimana?"
Lea mempertanyakan serangkaian produk skincare for man, yang sejak tadi ia gunakan untuk merawat wajah pria itu.
"Iya dong." jawab Daniel.
"Sebanyak ini?" tanya Lea lagi.
"Iya Le, ngapain mesti heran sih. Orang kamu aja skincare bisa sampe belasan jenis koq, aku liat."
"Lah tapi kan aku cewek, mas cowok."
"Hmm toxic masculinity nih." ujar Daniel.
Lea pun tertawa.
"Nggak ada yang menetapkan kalau skincare itu cuma buat cewek. Emang dikira kulit cowok punya produksi skincare alami sendiri gitu?" lanjut Daniel.
Lagi-lagi Lea tertawa.
"Pantes mas glowing banget selama ini."
"Oh iya, kamu nggak pernah ngeliat ya?" tanya Daniel.
"Iya, baru ini." jawab Lea.
"Aku tuh masih mending Le, Ellio noh."
"Lebih rempong?" tanya Lea.
"Ember." jawab Daniel.
Seketika Lea pun ngakak.
"Koq mas tau-tau an sih bahasa itu."
"Kan di kantor ada juga yang ngondek. Langganan aku, Richard, sama Ellio kalau potong rambut juga sama."
"Cucok em juga?" tanya Lea.
"Bukan lagi." jawab Daniel.
"Emang om Ellio skincare an juga."
"Iya, dan lebih ribet."
"Oh ya?. Kalau ayah?"
"Richard juga suka, tapi nggak separah Ellio. Ellio tuh sangat-sangat menolak tua, dia nggak mau ada kerutan sedikitpun di kulit mukanya."
"Waduh parah juga om-om satu itu ya."
"Dia pernah sampe ke Korea loh, buat perawatan kulitnya." ujar Daniel lagi.
__ADS_1
"Hah, sampe ke Korea buat perawatan doang mas?"
"Iya, orang aku nemenin dia."
"Mau mas." rengek Lea.
"Mau apa?"
"Mau perawatan di Korea juga."
"Ntar ya, tunggu yang di perut kamu berojol dulu. Kamu kan lagi hamil, nggak boleh pake skincare ini dan itu."
"Iya sih, harus konsultasi dulu sama dokter kandungan."
Daniel tersenyum lalu mengelus perut Lea.
"Ini udah kan mas?"
"Udah, nanti aku cuci muka dan pake selanjutnya sendiri."
"Iyalah, orang tinggal pake serum doang."
Daniel tertawa.
"Makasih ya Lele."
"Nanti datang lagi ya say, ke salon Lele."
Lea berujar dengan suara dari hidung, layaknya makhluk jadi-jadian yang biasanya punya salon. Sementara Daniel terkekeh.
"Jangan ketawa mas, maskernya retak loh."
"Kamu mancing orang ketawa."
Lea nyengir, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
***
Richard tengah mengemudikan mobilnya di suatu jalan. Pagi itu ia masih begitu mengantuk, lantaran semalam harus mengerjakan tugas kantor hingga larut.
Akibatnya pagi ini, konsentrasi pria itu dalam mengemudi jadi terganggu. Berkali-kali ia tak sengaja ketiduran, meski hanya sepersekian detik. Hingga kemudian,
"Braaak."
"Aaaaa."
Suara benturan dan teriakan terdengar di saat yang bersamaan. Richard langsung tersadar dari kondisinya yang blank. Pria itu mendadak menginjak rem dan menyadari jika ia telah menabrak seseorang.
Buru-buru Richard keluar, ternyata salah satu teman Lea yang bernama Cindy. Richard mengingat gadis itu di perayaan ulang tahun anaknya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Richard panik.
Cindy meringis kesakitan, Richard menemukan banyak luka lecet di tubuh gadis itu. Lantaran ia terhempas ke jalan cukup keras dan beradu dengan aspal.
"Kamu temannya Lea kan?" tanya Richard lagi, ia masih saja panik.
"Iya om, saya Cindy."
Richard kemudian mengangkat tubuh Cindy dan membawanya ke mobil. Rasa kantuk yang tadi menguasai, kini berubah menjadi kecemasan. Pasalnya di sepanjang jalan, Cindy terus menahan sakit dan Richard dilanda rasa bersalah yang begitu besar.
"Sabar ya, om minta maaf. Om tadi ngantuk berat dan maksa nyetir sendiri."
Richard mencoba menenangkan Cindy dengan memegang tangannya. Sementara tangan lain tetap memegang kemudi. Ia terus berkonsentrasi hingga mereka tiba di sebuah rumah sakit.
Richard menuju unit gawat darurat dan langsung meminta penanganan. Cindy berteriak-teriak saat lukanya di tangani, Richard ada di ruang tunggu sambil berharap-harap cemas. Ketika semuanya usai, Richard pun segera menemui Cindy.
__ADS_1
"Cindy, kamu gimana keadaannya?" tanya Richard, ketakutan dalam dirinya belum mereda.
"Masih sakit dan perih banget om." ujar Cindy.
Richard merasa kian bersalah.
"Om minta maaf ya, om akan bertanggung jawab sama semua biaya pengobatan kamu. Kontak orang tua kamu mana, biar om hubungi."
"Orang tua saya itu tinggal di Semarang om, sebaiknya jangan kabari mereka. Nanti mereka malah panik dan buru-buru kesini. Kasian mereka juga kerja, nggak punya waktu banyak buat urus saya."
"Ya tapi seenggaknya kita kabari mereka."
"Jangan om, nanti mereka kepikiran. Lagian saya udah nggak apa-apa koq."
"Ya udah, kita minta pindah kamar dulu."
"Saya mau pulang aja om ke kosan."
"Kamu masih dalam keadaan begini loh. Lebih baik di rawat dulu, biar ada yang menangani luka-lukanya sampai sembuh."
"Saya nggak nyaman aja om."
"Soal apa, soal biaya?. Om yang nabrak, om yang tangguh semuanya 100%."
"Bukan itu, saya takut di rumah sakit. Apalagi sendirian."
"Om akan minta seseorang jagain kamu. Salah satu asisten rumah tangga om bisa membantu."
"Nggak usah om, saya pulang aja."
Cindy bersikeras, akhirnya mau tidak mau Richard pun mengalah. Ia mengurus segala administrasi dan mengantar Cindy pulang ke kosannya.
"Nomor rekening kamu berapa?" tanya Richard ketika ia telah sampai dan memapah Cindy ke kamar kos yang disewanya.
"Bu, buat apa om?" tanya Cindy heran.
"Kasih ke om sekarang...!" pinta Richard.
Cindy pun lalu memberikan nomor rekening miliknya. Richard mengambil handphone dan entah apa yang ia lakukan.
"Cindy, om sudah suruh orang kepercayaan om untuk tranfser kamu tiga puluh juta."
"Ti, tiga puluh juta om?" Cindy terperangah, ia memperhatikan luka di tubuhnya yang sejatinya tak begitu parah. Kalaupun ia meminta uang damai, tak harus sebesar itu juga nominalnya.
"Ini anggap aja terima kasih dari om, karena kamu tidak berniat melaporkan om atas kasus ini."
Cindy menatap Richard, saat ini ia memang tengah mengumpulkan uang untuk membayar kuliah di semester depan. Sedangkan orang tuanya baru mengabari tempo hari, jika mereka tengah kesulitan keuangan. Lantaran gaji orang tuanya dipakai untuk menutup gaji karyawan, pada bisnis mereka yang tengah lesu.
"Kalau ada apa-apa, misalkan kamu butuh bantuan atau butuh uang lagi, kamu hubungi om aja. Nomor kamu berapa?" tanya Richard.
Cindy pun lalu memberikan nomor handphonenya pada pria itu. Richard lalu melakukan panggilan singkat ke nomor tersebut.
"Ini nomor om ya."
"Iya om." jawab Cindy.
"Kamu butuh yang lainnya lagi?"
Cindy menggelengkan kepala.
"Ya sudah kalau begitu, om pamit dulu. Kalau ada apa-apa jangan ragu hubungi om."
"Iya om."
Richard akhirnya meninggalkan tempat itu. Sementara Cindy masih tak percaya, jika ia kini mengantongi uang yang lumayan banyak.
__ADS_1