
"Le, nanti aku pulang larut. Karena ada klien bisnis yang harus aku jamu di luar jam kerja."
Daniel berujar saat dirinya dan Lea tengah sarapan pagi.
"Oh iya, mas. Berarti aku nggak usah siapin makan malem?"
"Iya, nggak usah. Tapi kamu jangan nggak makan."
Lea tertawa kecil.
"Iya mas, masa iya aku nggak makan. Laper dong nanti."
Daniel nyaris tersedak karena menahan tawa.
"Oh ya, tumben kamu pagi ini nyiapin makan yoghurt sama buah. Biasa langsung makan berat." ujar Daniel.
"Nggak tau mas, mulut aku pengen yang asem-asem."
"Nggak apa-apa sih, yang penting jangan makan rujak pedes aja pagi-pagi."
"Ntar siang kayaknya aku pengen rujak."
Daniel menyudahi makannya, lalu meminum air putih.
"Siang tuh makan nasi, jangan makan asem. Ntar muntah lagi loh." ujarnya seraya bergerak ke arah kamar mandi.
Pria itu kemudian membersihkan giginya dan kembali ke dekat Lea untuk bersiap.
"Aku pergi dulu ya." ujar Daniel meraih tas laptop miliknya. Lea mencium tangan pria itu dan Daniel balas mencium kening sang istri.
"Hati-hati di jalan, mas." ujar Lea.
"Iya, kamu juga jaga diri di manapun itu."
Daniel berujar tanpa menoleh, ia kini telah berjalan ke arah lift. Tak lama kemudian ia turun ke bawah.
Lea menyudahi makannya, kemudian membereskan meja. Ia lalu meletakkan segala piring kotor ke wastafel. Masih ada waktu sebelum pergi ke kampus, maka Lea menghabiskannya untuk mencuci piring terlebih dahulu.
"Ah"
Lea merasa kepalanya tiba-tiba berdenyut, saat ia membilas piring terakhir. Namun buru-buru ia menyudahi semua itu dan mematikan air keran. Ia mengelap tangannya dengan serbet, sampai kemudian ia merasa kepalanya seperti berputar. Kemudian penglihatan perempuan itu seperti mengabur. Lama kelamaan kian menjadi hilang, dan...
"Buuuk."
Lea jatuh tak sadarkan diri di dekat wastafel kitchen set.
***
Pagi itu Daniel memimpin rapat seperti biasanya. Ada beberapa hal penting yang harus ia bicarakan dengan jajarannya. Dan seperti biasa pula ketika lalu lalang, Daniel selalu berpapasan dengan Clarissa. Clarissa seakan ingin mengajak Daniel berbicara, sama halnya ketika mereka bertemu di hari-hari sebelumnya.
Namun tak jauh berbeda dengan kemarin-kemarin, Daniel seakan tak memberikan ruang sedikitpun bagi Clarissa untuk berbicara kepadanya.
Meski telah memiliki Lea, namun Daniel masih menyimpan rasa sakit hatinya untuk Clarissa. Ia tidak suka dengan orang yang berusaha berbohong kepadanya. Apalagi berniat untuk memanfaatkan apa yang ia miliki.
__ADS_1
Melihat sikap Clarissa ke Daniel dan sebaliknya, hal tersebut tentu saja mengundang perhatian Marsha sang sekretaris. Marsha sendiri merasa curiga pada gelagat bos dan karyawan baru tersebut. Namun ia memilih diam dan tak mau ikut campur, karena takut salah.
"Dan."
"Daniel."
Clarissa akhirnya memberanikan diri untuk mengejar dan berbicara pada Daniel. Ketika jam makan siang telah tiba, para karyawan umunya berada di kantin dan kantor sangat sepi.
"Ada apa lagi, Clarissa. Kalau kamu mau membicarakan soal pribadi, sebaiknya jangan dilakukan. Karena ini kantor, bukan rumah kamu."
Daniel berujar lalu berlalu meninggalkan gadis itu. Namun Clarissa tak berhenti di situ saja, ia tetap gigih mengikuti Daniel.
"Dan, aku mau kita bicara tentang kesalahpahaman yang terjadi antara kita."
"Aku sudah melupakan semua itu." ujar Daniel.
"Kenapa nggak mau bicara dan cuek ketika melihat aku."
"Kamu berharap aku gimana?" tanya Daniel tak mengerti.
"Bisa kan be nice ke aku, aku sakit tau nggak liat kamu cuekin aku."
"Clarissa, aku banyak pekerjaan. Sebaiknya kamu segera makan siang, dan manfaatkan waktu istirahat yang sebentar ini."
Daniel berbalik.
"Dan, I still love you."
Daniel menghentikan langkah, ia diam sejenak dan kembali menoleh pada Clarissa.
"Do you lover her?" tanya Clarissa sambil menatap dalam ke mata Daniel.
"Of course, yes."
Clarissa terdiam, ada bara api yang tiba-tiba membesar di hatinya. Namun ia mencoba menutupinya dengan tersenyum sinis.
"Bagaimana mungkin kamu mencintai cewek kampungan kayak gitu, hanya karena pernikahan yang baru seumur jagung. It's not love, Dan. It's bulshit."
"You're that bulshit."
Kali ini Daniel menatap tajam ke mata Clarissa.
"Kamu adalah omong kosong itu, Clarissa. Semua yang kamu katakan adalah omong kosong, termasuk janji kamu waktu itu. Kamu bilang suka sama aku, kamu janji akan bersama aku kalau kamu sudah menyelesaikan ini dan itu. Tapi kamu gabung di agency itu, untuk dapat sugar daddy cadangan. Murahan kamu."
"Lantas apa bedanya aku dengan Lea. Kami sama-sama berasal dari tempat yang sama."
"Bedanya dia tidak membohongi saya, dia tidak munafik seperti kamu. Dia tidak berpura-pura suci."
Daniel benar-benar berlalu kali ini dan menghilang di balik pintu ruangannya. Ketika Clarissa hendak menyusul, beberapa orang karyawan tampak masuk ke ruangan. Mereka telah selesai makan siang, maka Clarissa pun mengurungkan niatnya dan ia pergi keluar.
***
"Kamu sakit apa, hmm?"
__ADS_1
Daniel bertanya pada Lea di telpon, ketika istrinya itu menceritakan perihal tadi ia pingsan di rumah.
"Nggak tau mas, tadi itu tiba-tiba aja kayak gelap gitu. Terus aku nggak inget apa-apa deh."
"Hhhh." Daniel menghela nafas.
"Ya udah kamu istirahat, kalau nggak kamu ke dokter. Biar aku minta tolong Richard yang nemenin, dia lagi nggak ngapa-ngapain di jam segini."
"Aku di kampus, mas." ujar Lea.
"Katanya sakit."
"Iya, tapi hari ini ada mata kuliah yang aku harus masuk. Males kalau ngulang, dosennya ngeselin. Jadi kalau udah masuk, aman."
Lagi-lagi Daniel menghela nafas, ia begitu khawatir pada Lea namun tak bisa berbuat banyak. Ia juga masih harus bekerja dan menemui kliennya.
"Pokoknya kalau kamu ngerasa nggak nyaman. Jangan banyak alesan, langsung ke dokter aja. Kalau nggak kamu pulang, istirahat di rumah."
"Iya mas, ya udah mas aku masuk dulu. Masih ada satu kelas lagi hari ini."
"Ya udah, kalau ada apa-apa kabarin ya."
"Iya mas, bye."
"Bye."
Lea menutup telpon, Daniel menghela nafasnya berkali-kali untuk meredakan kekhawatiran.
***
Malam harinya, Lea tertidur di sofa. Ia menghabiskan waktu dengan menonton televisi, sambil menunggu kepulangan sang suami.
Namun kantuk akhirnya membuat wanita itu menyerah. Hingga ketika Daniel kembali, ia telah tertidur begitu lelap.
Daniel tersenyum, ia menghampiri Lea dan duduk di sisi istrinya itu. Dibelainya dengan lembut pipi Lea. Dikecupnya kening wanita itu hingga Lea kaget dan terbangun.
Lea awalnya ketakutan, karena mengira seseorang telah masuk. Namun ketika menyadari bahwa orang tersebut adalah Daniel, ia pun tersenyum lega.
"Mas udah pulang?" tanya nya kemudian.
"Udah sayang, maaf ya kamu jadi kebangun gara-gara aku."
"Nggak apa-apa koq, aku emang nungguin mas pulang."
"Lain kali nggak usah ditungguin, kalau udah ngantuk tidur aja di kamar."
"Iya mas, aku takut kalau mas butuh aku buat ngapain gitu."
Daniel tertawa.
"Kalau udah malem gini, aku nggak akan nyusahin kamu lagi. Kecuali aku lagi..."
Kali ini Lea yang tertawa, ia mengerti maksud perkataan Daniel. Meski pria itu tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Kalau mau makan, aku bisa ambil sendiri. Kalaupun nggak ada makanan, aku bisa masak sendiri. Aku bukan suami yang mesti dilayani terus selama 24 jam."
Lea mengangguk, lalu mereka sama-sama tersenyum.