Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Titik Temu


__ADS_3

Daniel memarkir mobilnya di pelataran parkir rumah sakit. Buru-buru ia dan Lea keluar, kemudian mereka berdua bergegas menuju tempat dimana Richard dirawat.


"Braaak."


Pintu ruangan Richard terbuka, Lea menghambur ke pelukan ayahnya yang baru selesai minum obat tersebut.


"Ayah, ayah baik-baik aja kan yah. Ayah nggak kenapa-kenapa kan?"


Richard tercengang melihat kehadiran Lea dan juga Daniel. Daniel sendiri juga tak kalah tercengang, karena melihat keadaan Richard yang tampaknya baik-baik saja tersebut.


"Lea, kenapa kamu bisa sama dia?" tanya Richard dengan nada yang tak begitu enak didengar.


"Braaak."


Ellio masuk dan menutup pintu. Kebetulan dokter sudah memeriksa Richard hari ini. Ia kemudian mengunci pintu tersebut dan berdiri diantara mereka semua. Seketika Daniel tersadar jika ini hanyalah akal-akalan Ellio.


"Ellio, lo emang brengsek." ujar Daniel dengan nada kesal. Ellio hanya diam, dan membuang pandangan ke arah lain.


"Lea jawab ayah...!"


Richard menatap puterinya dalam-dalam.


"Ayah kenapa bisa ada disini?"


Lea balas melontarkan pertanyaan, disaat ia belum lagi menjawab pertanyaan sang ayah.


"Lea."


"Ayah sama mas Dan tuh kenapa selalu kayak anak kecil, apa nggak bisa kalian bicara baik-baik?"


"Lea."


"Kenapa yah?. Mau sampai kapan kalian kayak gini. Aku mau diapakan, gimana nasib aku sama anak aku?. Kalian maunya apa?"


Lea berkata dengan nada yang penuh emosional. Sementara kini Ellio menyilangkan tangan di dada dan mendekat.


"Kalian selesaikan sekarang. Gue mau setelah hari ini, nggak ada lagi perkara diantara kita semua."


"Ini kerjaan lo kan?. Lo bohong soal dia yang kritis?" Daniel berujar pada Ellio.


"Yes." jawab Ellio kemudian.


"Kalau nggak gini, nggak akan pernah selesai."


"Gue mau istirahat, gue nggak mau di ganggu. Dan kamu Lea, pulang ke rumah ayah. Sebelum ayah jadi lebih marah sama kamu."


"Lea istri gue, dia akan pulang sama gue." ujar Daniel.


"Stop...!"


Ellio membentak Daniel dan juga Richard. Pria itu kemudian mengambil dua buah kursi dan mendekatkannya ke dekat tempat tidur Richard.


"Lea, kamu duduk disini." ujar Ellio. Lea menurut. Pria itu lalu menatap Daniel.

__ADS_1


"Elo juga Dan." lanjutnya kemudian.


"Gue disini." ujar Daniel tetap berdiri. Ia enggan berdekatan dengan Richard dan begitupun sebaliknya.


"Ok, bisa kita mulai." ujar Ellio seakan-akan ia sedang memimpin sebuah rapat.


"Richard, mau lo apa terhadap mereka berdua?"


Ellio mengawali pertanyaannya untuk Richard.


"Gue mau mereka menyudahi pernikahan ini."


"Ayah."


"Lea, ini belum giliran kamu bicara." ujar Ellio.


"Tapi om."


"Ssstt." Daniel mencoba meredam istrinya, agar suasana tak bertambah runyam.


Lea memalingkan wajah dengan hati yang sangat marah, ia sejatinya sudah ingin berteriak dan menangis. Namun ia memilih menutup mulut serta berusaha keras untuk bersabar.


"Lea itu masih di bawah 20 tahun, jalan dia masih panjang. Dia harus bisa mendapatkan kembali hidupnya. Terlalu sia-sia kalau dia menikah dan hanya mengurus anak sampai tua."


"Dan?" Ellio beralih pada Daniel.


"Gue akan tetap mempertahankan pernikahan ini." Daniel bersikeras.


"Tapi gue cinta sama Lea."


Suara Daniel kini sangat di dominasi oleh emosi. Andai Richard tidak sakit, mungkin dia sudah memukul sahabatnya itu.


"Dia masih sangat muda, Dan. Apa lo tega merampas masa depan dia. Sedangkan lo sudah puas dengan masa muda lo sendiri, sudah puas dengan perempuan mana pun. Nidurin mereka sebanyak yang lo mau."


"Richard." Daniel membentak temanya itu.


"Pikirkan nasib dia, Dan. Jangan cuma memikirkan kemauan lo aja." Richard balas berteriak.


Untungnya ruangan tersebut VVIP, jadi agak lebih luas. Meski suara mereka terdengar sampai ke luar, namun itu tak terlalu besar dan tak sampai mengganggu ketertiban umum.


"Ayah, ayah tuh keterlaluan ya."


"Lea, tunggu...!" ujar Ellio.


Lea kembali memalingkan wajahnya dari siapapun, kini perempuan itu sangat sedih dan bahkan sampai menitikkan air mata.


"Gue lebih baik mati, lebih baik lo bunuh gue. Daripada gue harus menyerah dan membiarkan dia lo bawa dari hidup gue." Daniel kembali berujar.


"Dan."


"Richard, gue sayang sama dia. Lo harus percaya sama gue. Gue akan berusaha untuk terus membahagiakan dia. Gue nggak akan jadi suami yang mengekang dia untuk melakukan apapun yang dia mau. Selama itu baik dan berguna buat dia. Gue nggak akan jadikan dia perempuan yang sekedar ngurus rumah tangga, gue nggak akan mematikan potensi yang dia punya. Dan gue nggak akan nyakitin dia."


Daniel berujar dengan air mata yang jatuh berurai. Namun Isak tangisnya berusaha keras ia tahan. Richard pun sama menangis, begitu juga halnya dengan Ellio.

__ADS_1


Richard lalu menatap Lea, yang sudah tersedu-sedu sejak tadi. Ia menyentuh tangan anaknya itu, hingga Lea kini menatap ke arahnya.


Richard menarik anak perempuan itu ke dalam pelukan, Lea pun makin menangis sejadi-jadinya.


"Aku nggak mau bercerai, ayah. Aku mau sama mas Dan, aku mau anak ini."


Richard memeluk Lea dengan erat dan mencoba menenangkan anak itu.


"Ayah nggak akan menghalangi kamu lagi."


Richard melepaskan pelukannya dan menatap Lea.


"Ayah sudah yakin sekarang, kalau kamu akan bahagia dalam pernikahan ini."


Lea kembali memeluk Richard dan menangis penuh haru.


"Ayah cuma mau memastikan, bahwa laki-laki yang menikahi kamu mau bersungguh-sungguh menjaga dan menyayangi kamu. Ayah banyak dosa, Lea. Ayah takut, apa yang ayah lakukan selama ini berdampak terhadap kamu. Ayah takut kamu di sakiti oleh laki-laki."


"Ayah."


Lea makin terisak. Daniel menyeka air mata di kedua matanya, begitupula dengan Ellio.


Beberapa saat berlalu, Richard menyuruh Lea untuk pulang ke rumah suaminya.


"Ayah udah nggak apa-apa, besok ayah udah boleh pulang."


"Aku pulang ke rumah mas Dan yah?"


Lea memastikan sekali lagi. Richard mengangguk lalu mencoba tersenyum.


"Sana pulang, kalau ada apa-apa kabarin ayah."


"Tapi jangan pecat orang yang kerja sama ayah, ya yah?. Please."


"Itu nggak akan terjadi sayang, ayah janji."


Lea memeluk Richard sekali lagi, sampai akhirnya ia pun berpamitan.


"Dan."


Richard menghentikan langkah Daniel, sedang Lea kini telah berada di muka pintu bersama Ellio.


"Kalau lo melanggar janji dan nyakitin dia, baik secar fisik, verbal maupun sexual. Lo akan berhadapan sama gue."


Daniel menganggukkan kepala, detik berikutnya ia pun melangkah dan menggamit lengan istrinya. Ellio mengantar mereka hingga ke halaman parkir.


"Thanks." ujar Daniel pada Ellio.


Kedua sahabat itu saling berpelukan satu sama lain.


"Gue akan hubungin lo, kalau semuanya udah tenang." ujar Ellio.


Daniel mengangguk, sesaat setelahnya ia dan lea masuk ke mobil. Lalu mereka bersiap untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2