
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel menangis di malam suntuk, Lea terbangun dan langsung memeriksa keadaan anaknya itu. Tubuhnya sedikit panas, dan Lea langsung memberinya ASI.
Darriel minum sejenak, namun kembali menangis dengan kencang. Membuat Daniel yang tertidur nyenyak pun jadi ikut terbangun.
"Kenapa Le?"
Daniel bertanya pada istrinya itu seraya mendekat. Tampak Darriel masih juga menangis dan tak mau berhenti.
"Kayaknya demam gara-gara imunisasi tadi deh mas." jawab Lea.
"Panas ya badannya?" tanya Daniel lagi.
"Iya." jawab Lea.
Daniel meraba kening Darriel dan memang terasa agak panas.
"Udah di ukur suhu tubuhnya?"
"Udah mas, demamnya nggak terlalu tinggi koq." jawab Lea.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel terus menangis.
"Iya nak, sayang. Papa juga disini, papa temani Darriel ya."
Daniel mengelus kepala anak itu lalu menciumnya barang sesaat. Lea kembali berusaha memberinya ASI dan untungnya anak itu mau.
Lea lalu duduk di atas sebuah kursi, sementara Daniel terus menemani mereka. Sesekali Darriel masih saja menangis. Namun setiap kali hal tersebut terjadi, baik Daniel maupun Lea mencoba menenangkannya.
Waktu berlalu, Darriel akhirnya bisa tenang dan kembali tertidur. Lea dan Daniel yang memang masih merasa mengantuk sejak tadi itu, kini merasa sedikit bisa bernafas lega.
Mereka meletakkan Darriel secara perlahan di dalam box bayi, kemudian mereka kembali ke kamar dan mengambil kembali tidur mereka yang sempat tertunda.
Beruntung Darriel tak lagi mengamuk hingga pagi menjelang. Saat bangun di pagi hari, Lea mengecek kondisi anaknya itu. Ternyata panas di tubuh Darriel sudah turun dan saat ini bayi itu masih tertidur lelap.
"Le, gimana Darriel?"
Daniel yang baru bangun, tampak melintasi Lea yang tengah sibuk menyiapkan sarapan. Pria itu mendekat ke arah kulkas dan mengambil air dingin disana.
"Udah turun panasnya mas, tapi masih tidur."
"Oh, syukur deh."
__ADS_1
Daniel menuang air dingin ke dalam gelas.
"Masih pagi mas, minum tuh air hangat." ujar Lea.
"Biasa juga aku yang ngingetin kamu soal itu."
Daniel berujar pada Lea sambil tertawa.
"Terus kenapa mas jadi ikut-ikutan?" tanya Lea.
"Aku lagi pengen aja minum air dingin." ujar Daniel.
"Ya udah, ini mas mau teh apa kopi untuk sarapan?" tanya Lea.
"Mau kopi susu."
Daniel memeluk Lea dari arah belakang, sambil memegang dua buah padat sintal yang berisi makanan Darriel.
"Dasar bapaknya Darriel. Kalau mau kopi susu mah, kopi susu aja. Nggak usah mengarah kemana-mana." ujar Lea.
Daniel tertawa lalu mencium pipi istrinya itu.
"Kangen." ujarnya kemudian.
"Mas mau?. Kalau mau mumpung Darriel belum bangun." Lea menawarkan diri.
Daniel memberikan remasan-remasan nakal pada bagian yang tadi. Hingga Lea merasakan kenikmatan dan kepalanya menengadah ke atas. Nafas keduanya cukup memburu lantaran menahan hasrat.
"Ya udah mas, terserah mas aja."
Daniel kemudian mencium bibir Lea dan Lea pun membalasnya. Tak lama Darriel benar-benar terbangun dan pasangan suami istri tersebut kemudian menyambangi kamar sang anak.
Darriel menangis, Lea langsung mengambil dan menggendongnya. Lalu bersama-sama dengan Daniel ia mencoba menenangkan anak itu.
***
"Bu, di luar ada pak Richard."
Sekuriti memberitahu pada Nadya yang saat ini tengah membantu menyiapkan bekal sekolah Arkana.
"Pak Richard?" tanya Nadya heran.
"Asik."
Arkana berujar dengan wajah yang sumringah. Nadya bingung sebab ia tak ada diberitahu oleh pria itu jika pria itu akan datang.
Nadya buru-buru keluar dan menghampiri Richard diikuti oleh Arkana. Saat itu Richard baru saja keluar dari dalam mobilnya.
"Pak, koq tumben pagi-pagi?" tanya Nadya heran.
__ADS_1
"Loh, katanya Arkana minya diantar ke sekolah." ujar Richard seraya tersenyum menatap Arkana.
Nadya lalu menoleh dan turut menatap anaknya itu. Tampak Arkana tertawa kecil. Nadya benar-benar tak menyangka jika ini semua adalah perbuatan sang anak. Sepertinya Arkana ada menghubungi Richard.
"Arka, kamu nggak boleh begitu. Kamu ngerepotin om Richard tau nggak."
Nadya menegur sang putra, sementara sang putra agak sedikit tertunduk.
"Udah nggak apa-apa, diminta nganter tiap hari pun aku bisa koq. Jangan mematahkan semangat anak kecil di pagi hari." ucap Richard.
Nadya mendadak jadi merasa bersalah pada sang anak, meskipun ia masih saja menyayangkan tindakan anak itu.
"Arka ayo kita berangkat!" Richard mengalihkan topik.
Lalu Nadya pun membantu anak itu untuk bersiap. Arkana kemudian melangkah dan masuk ke dalam mobil Richard.
"Kami pergi dulu." ujar Richard pada Nadya, dan Nadya pun mengangguk.
"Oke." ujarnya kemudian.
"Makasih banyak dan maaf jadi merepotkan." lanjutnya lagi."
"It's not a big deal." ujar Richard.
"Have a nice day." imbuh pria itu seraya tersenyum. Nadya pun jadi tersipu dibuatnya.
Tak lama Richard turut masuk ke dalam mobil dan mobil itu kini bergerak meninggalkan halaman rumah.
Nadya ada sempat melambaikan tangan, sebelum akhirnya Richard dan juga Arkana benar-benar menjauh. Kemudian ia masuk ke dalam rumah sambil senyum-senyum sendiri.
***
Daniel pergi ke kantor dengan hati yang begitu berat. Pasalnya ia tidak tega membiarkan Lea mengurus Darriel sendirian dalam keadaan sakit.
Tetapi Lea meyakinkan jika ia bisa menghadapi itu semua. Daniel bilang bila perlu Darriel dibawa saja ke dokter anak.
Lea menjelaskan jika dirinya sudah melakukan chat melalui aplikasi kepada dokter yang biasa menangani Darriel. Dokter bilang selama demamnya masih wajar, maka penanganannya cukup diberikan ASI atau penurun panas biasa.
"Ya udah, tapi kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya." ucap Daniel kala itu.
"Iya mas, mas berangkat aja ke kantor. Nggak usah khawatir." ujar Lea.
Maka Daniel mencium kening istrinya itu dan lanjut mencium Darriel yang ada dalam gendongan Lea.
"Papa pergi dulu ya sayang." ujarnya.
"Hokhoaaa."
Daniel tersenyum kemudian berpamitan. Sesaat kemudian ia terlihat turun ke bawah dan meninggalkan rumah. Kini ia telah tiba di kantor, namun masih kepikiran pada Darriel.
__ADS_1