
Ibu Daniel akhirnya pamit, setelah beberapa hari ia datang menemui anak serta menantu dan juga cucunya yang menggemaskan.
Daniel tak ke kantor hari itu dan ikut mengantar sang ibu ke bandara. Darriel bengong menatap sang nenek yang akhirnya masuk ke terminal. Ia menatap Daniel yang menggendongnya, kemudian kembali menatap ke arah terminal.
"Oma nya Darriel pulang ya?" tanya Lea.
Darriel pun mengerjapkan mata. Selang beberapa saat kemudian ia pun menangis.
Daniel mengajak bayi itu menjauh dan mencoba menenangkannya.
"Nanti oma datang lagi ya sayang." ujarnya kemudian.
Darriel masih juga berlinang air mata.
"Kita jalan-jalan aja yuk. Delil mau nggak?" tanya Lea.
"Masih sedih." ujar Daniel sambil tertawa.
Tak lama kemudian mereka pun masuk kembali ke dalam mobil. Darriel di beri susu oleh Lea dan anak itu kini sedikit lebih tenang. Tak lama kemudian ia pun tertidur.
"Kasihan, baru mau akrab sama neneknya." ujar Lea seraya memperhatikan bayi itu.
"Iya, semalam tidur sama mama ya dia." ucap Daniel.
"Iya, sampe pas pagi mau aku gendong malah nolak." jawab Lea.
Daniel tertawa kecil. Tak lama handphonenya bergetar.
"Siapa Le?" tanya Daniel pada Lea.
Lea lalu menilik ke handphone suaminya itu.
"Ayah mas." ucap Lea.
"Angkat." ujar Daniel.
Lea lalu mengangkat telpon tersebut dan mengaktifkan mode loud speaker.
"Kenapa bro?" tanya Daniel pada sang ayah mertua.
"Dimana Bambang?"
"Di jalan, abis nganter nyokap gue ke bandara."
"Oh gitu, kesini lah!" pinta Richard.
"Lo udah sehat emangnya?" tanya Daniel.
"Udah, makanya lo kesini." ujar Richard lagi.
"Oke kalau gitu."
"Gue tunggu!. Kalau lo bohong, gue sumpahin batu ginjal."
"Iya bangsat." seloroh Daniel seraya tertawa.
"Bye."
Richard menyudahi percakapan tersebut dan kini Daniel menuju ke rumah mertuanya itu. Sesampainya disana, tentu yang dicari Richard pertama kali adalah Darriel.
__ADS_1
Kebetulan Darriel sudah bangun dan langsung antusias. Ketika ia menyadari tengah berada di kediaman sang kakek.
"Ini cucu siapa?" tanya Richard seraya mencium pipi Darriel.
"Heheee."
Darriel tertawa seperti biasa.
"Cucu siapa ini?" tanya Richard sekali lagi.
"Hokhoaaa."
Richard kembali mencium pipi Darriel dan membawanya menjauh.
"Gitu tuh kalau udah ketemu cucunya." ujar Lea.
"Anak sama menantunya segede bagong kagak digubris." Lanjutnya lagi.
"Biarin aja, kan kita bisa pacaran." ucap Daniel seraya memeluk Lea.
Keduanya kini sama-sama tersenyum.
"Mending kita makan." tukas Lea.
"Oke, ayo!"
Daniel dan Lea lalu menuju ke meja makan Richard. Dimana selalu tersedia banyak makanan disana. Bagi mereka berdua berkunjung ke rumah Richard adalah saatnya bersantai.
Sebab bisa dipastikan kalau Darriel tidak akan berada banyak di tangan mereka. Ada tangan-tangan lain yang akan mengurus anak itu.
"Uwawawa."
"Heheee."
Richard memang paling bisa membuat Darriel merasa nyaman. Kalau Lea bilang, Richard itu seperti ada lem di tubuhnya. Darriel boleh jadi gampang menempel pada siapapun.
Tetapi sekalinya menempel pada sang kakek, ia akan sulit lepas. Bahkan tak jarang bayi itu mengamuk apabila diajak pulang.
***
"Lagi dimana lo?"
Ellio menelpon Daniel ketika Daniel tengah makan bersama Lea.
"Di rumah Richard." jawab Daniel.
"Dih nggak ngajak gue. Ikut dong!"
"Ya udah sini!" ajak Daniel.
"Sekalian ajak Marsha." Lanjutnya lagi.
"Marsha lagi balik ke orang tuanya, nginep. Gue sendirian banget dari semalem."
"Ya udah, lo kesini Junaedi. Tinggal kesini aja apa susahnya." ujar Daniel.
"Ya udah deh, gue jalan dulu. Tapi lo belum mau balik kan?. Ntar gue kesana, lo udah pada mau cabut lagi."
"Kagak, orang gue juga baru nyampe. Masa iya langsung cabut." seloroh Daniel.
__ADS_1
"Ini masih makan gue." lanjutnya kemudian.
"Ada makanan apaan di tempatnya si Bambang?" tanya Ellio.
"Banyak, makanya lo kesini."
"Oke deh, gue otw."
"Ya udah, hati-hati di jalan."
Ellio pun menyudahi percakapan tersebut, lalu bergegas keluar rumah dan masuk ke mobil. Ia kini menuju ke kediaman Richard.
Sesampainya disana tentu ia tidak mencari si pemilik rumah, melainkan langsung menuju ke meja makan.
"Heh, udah rame aja." Richard yang baru saja selesai mengajak Darriel bermain itu kaget melihat meja makannya yang di ambil alih.
"Heheee."
Darriel tertawa melihat Ellio.
"Sini ikut om El!" ujar Ellio seraya mengulurkan kedua tangannya. Namun Darriel melengos dan lebih memilih memeluk Richard.
"Mana mau dia, kalau udah ada kakeknya." tukas Lea.
"Sombong ya Darriel. Awas aja nanti om El beli mobil-mobilan Lamborghini. Darriel nggak om kasih." ujar Ellio.
"Heheee."
Lagi-lagi Darriel tertawa.
"Ayo sini ikut om El." Lagi-lagi Ellio mengulurkan tangan. Darriel seperti ingin ikut, namun kemudian ia kembali berbalik dan memeluk Richard.
***
Waktu berlalu.
Ibu Daniel menempuh perjalanan yang panjang, untuk bisa sampai ke negara tempat dimana ia tinggal.
Namun wanita itu sangat senang dalam kunjungannya kali ini. Pasalnya ia benar-benar dijamu dan diperlakukan dengan baik oleh anak serta menantunya.
Ditambah lagi ada Darriel yang sampai detik ini masih terngiang-ngiang tawanya ditelinga.
"Heheee."
"Hokhoaaa."
"Uwawawa."
Begitulah bunyi celotehan yang keluar dari mulut bayi itu. Darriel sangat cepat akrab dengan orang lain dan ia tidak gampang menangis. Hal tersebut yang membuat sang nenek kini rindu padanya, meski belum ada seharian mereka berpisah.
"Good Afternoon."
Seorang pramugari menghampiri ibu dari Daniel tersebut. Ia diberikan makanan dan minuman karena memang sudah jadwalnya.
Wanita itu lalu meletakkan handphone, namun foto Darriel terlihat di layar. Ia jadi tersenyum kembali dan mengingat saat-saat kebersamaan mereka.
Si pramugari juga tanpa sengaja melihat foto Darriel dan ia bertanya itu siapa. Kemudian ibu Daniel menjawab jika itu adalah cucu kesayangannya.
Sementara di lain pihak, Darriel kini tertidur di dalam pelukan Richard. Ketika di letakkan di atas tempat tidur, maka ia akan bangun dan menangis.
__ADS_1