
Lea tiba disekolah dan mendadak merasa aneh, pasalnya semua mata kini tertuju kepadanya. Beberapa diantara siswi tampak mencibir dan berbisik-bisik, tak jelas apa yang sejatinya tengah mereka katakan.
Lea mencoba cuek, sebagaimana sikapnya terhadap lingkungan sekolah selama ini. Namun di sepanjang perjalanan menuju ke kelas, ia terus dihujat dengan tatapan-tatapan yang mengintimidasi tersebut.
Lea pun mempercepat langkah, hingga sampailah ia ke muka papan majalah dinding. Dimana ada fotonya yang di edit pada tubuh berbikini. Ada banyak tulisan bernada umpatan di majalah dinding tersebut. Dan secara garis besar mereka menuliskan,
"Pembohong."
"Pembohong."
"Pembohong."
Lea bingung, kebohongan apa yang telah ia buat. Tak lama kemudian Sharon dan yang lainnya pun tiba.
"Orang kalau jadi simpanan laki-laki itu, kebanyakan diem."
Sharon berujar, tubuh Lea mendadak gemetar. Ada banyak siswa dan siswi yang memperhatikan dirinya kini.
"Ini elo, malah nyuruh om-om lo buat ngaku kalau mereka keluarga lo. Ya ketahuan kalau lo bokis, miskin mah miskin aja Lea. Nggak usah kebanyakan bohong, simpanan banyak om-om aja bangga."
"Wuuuuuu."
"Wuuuuuu."
Lea dilempari oleh seluruh siswa dengan gumpalan kertas dan lain-lain. Cukup sakit rasanya, namun didalam hati terasa jauh lebih sakit.
"Lo mau nggak bentar di toilet, gue kasih 100ribu tapi **** lolipop gue."
Salah seorang siswa melecehkan dirinya, Lea menoleh dengan air mata yang merebak di pelupuk mata.
"Dibayar berapa lo hah?" yang lain ikutan menimpali.
"Sering sama mas Bram lo ya, Bramai-ramai."
"Hahaha."
"Hahaha."
"Salome, wuuuuuu."
"Udah pake bareng-bareng aja, bro." Ada lagi yang nyeletuk.
"Buka aja seragamnya, nggak pantes pake seragam kita."
Para siswi mulai ada yang menimpali, namun tak ada yang berpihak pada Lea.
Kertas-kertas itu kembali dilempar ke arahnya, air mata Lea jatuh dengan deras. Tak ada satupun dewan guru yang membelanya, karena sudah pasti mereka telah terkena hasutan anak-anak tersebut. Lea kembali ke belakang, sambil menepis tangan banyak siswa yang coba melecehkannya.
***
Pagi itu Daniel tak bekerja, ia mengadakan meeting di penthouse bersama Richard, dan juga Ellio. Mereka membicarakan urusan kerjasama perusahaan mereka.
Sejatinya ketiga bos tersebut bisa melakukannya di kantor. Namun Daniel bilang hari ini ia ingin bolos, setelah setahun bekerja tanpa cuti. Richard dan Ellio hanya menuruti saja keinginan sahabat mereka itu. Jadilah kini mereka membicarakan urusan kerja di meja makan kediaman Daniel.
"Braaak."
__ADS_1
Lea melangkah dengan menghentakkan kaki, ia keluar dari lift dan mengejutkan Daniel, Richard serta Ellio.
"Loh Lea, pulang cepet?" tanya Ellio.
Lea sempat melihat ke arah ketiga orang itu sambil menangis, ia lalu berlari masuk ke kamarnya.
"Braaak."
Terdengar suara pintu yang dibanting. Daniel, Richard, dan Ellio saling menatap satu sama lain. Tak lama kemudian mereka bertiga beranjak dan menyambangi kamar Lea. Ketika pintu dibuka, Lea terduduk dilantai dengan kepala terbenam di lutut. Gadis itu menangis sejadi-jadinya.
"Lea, kamu kenapa?"
Daniel berjongkok, merendahkan tubuhnya untuk bisa bertanya pada gadis itu. Lea tak menjawab, malah tangisnya semakin pecah.
"Lea kalau kamu nggak bilang, aku nggak tau apa yang terjadi."
Lea mengangkat kepalanya, masih berurai air mata dan penuh kebencian ia menatap Daniel.
"Ini semua gara-gara om, om udah ngancurin hidup saya."
"Ngancurin gimana?"
"Kenapa om nyuruh om Richard sama om Ellio, buat ngaku-ngaku jadi keluarga saya?. Sekarang mereka tau kalau itu bohong, dan saya dituduh sebagai simpanan om Ellio sama om Richard. Saya dipermalukan, dilecehkan, dipegang-pegang sejenaknya."
Darah Daniel mendadak naik ke ubun-ubun, Lea menangis keras sambil meraung-raung.
"Siapa orangnya?" tanya Daniel.
"Sha, Sharon."
***
"Farhadi."
"Braaak."
Ellio menendang paksa pintu ruangan kepala sekolah Lea yang tertutup tersebut. Tampak kepala sekolah itu nyaris beradegan mesra dengan salah seorang staff. Staff tersebut kaget dan langsung berlalu, sementara Ellio mendekat lalu menarik kerah baju Farhadi.
"Ellio ada apa ini?" tanya Farhadi kaget.
"Ada apa Lo bilang, nggak usah pura-pura lo."
"Braaak." Ellio mendorong tubuh Farhadi hingga tersentak ke dinding. Tak lama kemudian Daniel masuk dan langsung menghajar pria itu.
"Buuuk."
"Buuuk."
Farhadi terhenyak kaget.
"Apa-apaan kalian ini?" tanya nya kemudian.
"Lo udah terima uangnya, kenapa lo diem aja saat Lea dibully dan dilecehkan?" teriak Richard.
"Ini bukan sepenuhnya salah saya, ini salah kalian sendiri kenapa bohong soal anak itu. Kami juga tidak mau membela siswi yang jual diri kepada banyak laki-laki."
__ADS_1
"Buuuk.
"Buuuk." Daniel kembali menghajarnya.
"Gue bisa seret lo ke polisi, karena lo membiarkan perundungan dan pelecehan terjadi di sekolah lo. Dan lo sudah terima suap dari gue."
"Buuuk."
Daniel lalu beranjak.
"Kalau gue dilaporkan ke polisi sebagai yang disuap, lo semua yang menyuap juga bisa kena."
"Gue siap." ujar Daniel dengan tatapan mata yang tajam.
Daniel keluar dari ruangan tersebut, sementara Ellio dan Richard menghajar Farhadi sekali lagi sebelum akhirnya menyusul Daniel.
***
"Sini kamu...!"
"Lepasin...!
Daniel menarik Sharon ke halaman depan sekolah, sementara seluruh siswa dan siswi kini berkumpul karena mereka mendengar kegaduhan.
Daniel dan Ellio sendiri mulai bertanya sambil mengancam para siswa, mereka ingin tahu siapa saja yang tadi mencoba melecehkan Lea. Para siswa itu pun saling tunjuk hingga menyebabkan keributan.
"Atas dasar apa dan disuruh siapa kamu?. Kenapa kamu menyelediki hidup Lea dan kamu permalukan dia."
Daniel mencengkram erat pergelangan tangan Sharon hingga menyebabkan sakit yang luar biasa.
"Saya bisa laporkan anda." ujar Sharon
"Saya lebih bisa lagi melaporkan kamu. Perempuan kurang ajar kamu, berhati iblis. Sesuai dengan bapakmu yang makan uang rakyat itu."
Sharon terkejut, ia tidak mengetahui dari mana Daniel tau perihal ayahnya.
"lepasin saya, Rangga tolong."
Rangga melintas, remaja itu menoleh sejenak lalu pergi begitu saja. Ia agaknya tak peduli dengan Sharon, mendadak Sharon pun merasa sedih dan kecewa.
Asal kamu tau ya, sekarang juga saya bisa melecehkan kamu. Kenapa kamu lakukan ini sama dia, apa salah dia ke kamu?"
"Karena dia mendekati pacar saya, Rangga. Saya nggak suka sama dia, sok kecakepan padahal miskin."
"Braaak." Daniel mendorong Sharon hingga jatuh terjerembab.
"Saya akan laporkan anda ke polisi." ujar Sharon.
"Kenapa?. Merasa sakit?. hah?. Bagaimana Lea yang kamu permalukan dan kamu biarkan supaya bisa dilecehkan beramai-ramai."
Daniel berteriak dengan penuh kemarahan.
"Asal kalian semua tau, saya bisa tutup sekolah ini kalau saya mau. Saya tinggal ambil data kalian dan saya sebar di seluruh perusahaan besar yang ada di negri ini. Supaya tidak ada yang mau menerima kalian kerja nantinya. Saya akan bawa ini semua ke ranah hukum."
"Lea itu calon istri saya, dan dia bukan simpanan siapa-siapa. Kalian yang tadi ikut melecehkan dia, lebih baik mengaku daripada saya patahkan leher kalian. Kalau saya tau dengan sendiri nya."
__ADS_1
Para siswa pun saling bersitatap dalam penuh ketakutan. Daniel kembali ke penthouse, Lea masih menangis seperti tadi. Daniel lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.