
"Lewat sini mbak."
Seroang perawat mengarahkan Nina pada sebuah ruangan. Dari kaca kecil di pintu ruangan tersebut, Nina bisa melihat Sharon yang tengah terdiam bengong. Seperti orang yang terganggu mentalnya.
Nina menatap Vita dan juga Adisty yang datang bersamanya. Kedua teman Nina itu lalu mengangguk, seperti memberi persetujuan.
Tak lama Nina pun membuka pintu ruangan tersebut, dan masuk ke dalam. Tampak Sharon yang tak bergeming sedikitpun, dengan tatapan yang kosong. Seorang dokter jiwa kemudian masuk dan mendampingi Nina serta kedua temannya.
"Dok, dia kenapa?" tanya Nina pada dokter tersebut.
"Pasien mengalami trauma yang berat, sampai saat ini kami belum mendapat keterangan apa-apa dari dia. Mengenai bagaimana dia mendapat perlakuan selama di sekap."
"Apa dia bisa sembuh?" tanya Nina lagi.
"Kita akan terus berusaha keras dan berdoa tentu saja." jawab dokter tersebut.
Nina memperhatikan Sharon dan mencoba menggenggam tangannya. Sharon tak menerima, namun juga tak menolak. Ia diam saja seperti patung yang hidup.
"Dia pasti trauma berat banget." ujar Adisty pada Nina ketika mereka telah menyelesaikan kunjungan.
"Iya, mungkin dia dapat perlakuan yang kita sendiri nggak bisa membayangkan." timpal Vita.
"Sebab berdasarkan pengakuan cewek-cewek yang disekap di ruang basemen. Mereka juga dijadikan pemuas nafsu sama om Herman. Karena dia punya kelainan, baru bisa bergairah kalau sama remaja." lanjutnya kemudian.
"Hhhhh." Nina menghela nafas.
"Kalau Sharon mau tinggal sama gue nantinya, gue mau koq merawat dia." ujar perempuan itu.
Vita dan Adisty kompak merangkul Nina.
"Semoga aja niat baik lo di dengar yang di atas. Dan Sharon bisa membaik lagi kayak dulu." ujar Vita.
Nina mengangguk, mereka bertiga kemudian berjalan menuju lobi rumah sakit. Ketika tiba di muka pintu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan sebuah mobil ambulance yang di kawal oleh mobil polisi sebanyak dua buah.
Nina, Vita, dan Adisty yang penasaran langsung melangkah dan agak mendekat ke arah Instalasi gawat darurat. Para aparat bersenjata lengkap turun dari mobil. Satu orang keluar dari ambulans
"Tolong, tolong, tolong. Ini tahanan yang mencoba bunuh diri."
Salah satu dari anggota kepolisian itu berujar. Petugas medis dengan sigap bantu mengeluarkan korban dari dalam ambulans.
"Degh."
Nina, Vita, dan Adisty tersentak.
"Nin, itu kan laki lo." ujar Vita seraya terus melihat ke arah pasien. Nina melihat pria itu dan ingat akan bayinya yang telah tiada.
Sedang pria itu berada dalam posisi terbaring sangat lemah, namun matanya masih bisa mengenali Nina.
Ia berusaha keras menggapai-gapai, seakan memangil Nina untuk mendekat ke arahnya. Namun sampai tubuh lelaki itu menghilang di balik pintu IGD, Nina tetap tak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
Malah kemudian ia melengos dan berjalan begitu saja menuju ke arah gerbang rumah sakit. Melihat Nina yang sudah berjalan ke arah sana, Vita dan Adisty pun akhirnya menyusul.
***
Ditempat lain..
"Hahaha, masih lanjut dong sampe sekarang. Dianya aja yang goblok."
Jeffry berujar pada Marsha di telpon. Mereka tentu saja tengah membicarakan masalah Clarissa, yang makin hari makin percaya saja pada kesaktian Ki Joko Mangku Langit. Meskipun tak ada hasilnya sama sekali.
"Selagi dia bego embat aja duitnya, lumayan."
Marsha berujar, kemudian ia dan Jeffry tertawa-tawa.
"Gue tuh cuma capek akting jadi kakek-kakek doang, kalau lagi jadi Ki Joko Mangku Langit. Suara gue mesti di berat-beratin."
"Oh jadi selama ini tuh, lo nipu gue?"
Tiba-tiba Clarissa muncul. Jeffry dan Marsha yang masih tersambung panggilan pun terkejut. Clarissa merampas handphone Jeffry dan melihat nama kontak yang tertera disana.
"Hallo." Clarissa benar-benar marah.
"Lo siapa?. Kenapa lo jadi otak dari penipuan terhadap gue?" tanya nya kemudian.
"Gue Marsha, sekretaris pak Daniel."
Marsha mengaku dengan tanpa rasa takut sedikitpun. Malah nada suaranya sedikit tertawa. Membuat Clarissa kian naik pitam dibuatnya.
"Laporin aja, yang bego elo sendiri. Ngapain juga hari gini masih percaya perdukunan."
Marsha berkata dengan nada yang sangat menyebalkan.
"Bangsat ya nih orang." Clarissa makin kesal.
Jeffry merebut paksa handphone yang ada dalam genggaman gadis itu.
"Lo juga bakal gue laporin." ancamnya pada Jeffry.
"Oh silahkan, anda masuk rumah saya tanpa izin kayak gini juga, bisa saya teriaki maling loh." balas Jeffry.
Clarissa diam, dengan nafas yang baik turun karena kesal.
"Ayo, kalau mau laporin saya." ujar Jeffry lagi.
"Mbak yang datang, mbak yang percaya, mbak yang bayar saya. Salah siapa coba?" lanjutnya kemudian.
Dengan kebencian yang tertahan, akhirnya Clarissa meninggalkan tempat itu. Sementara Jeffry kembali menelpon Marsha dan mereka terbahak-bahak.
***
__ADS_1
"Le, belum kelar?"
Daniel yang baru bangun tidur bertanya pada Lea, yang tengah menjalani perkuliahan online.
"Belum mas, masih lama." jawab Lea.
"Kalau mau makan itu ada nasi goreng sama kopi aku bikin. Tapi mungkin kopinya udah dingin, karena bikinnya tadi." lanjut perempuan itu
Daniel pun mengangguk dan berterima kasih.
"Darriel mana?" tanya nya kemudian.
"Dimana lagi kalau bukan molor in the box." ujar Lea setengah tertawa.
"Aku mau liat dia dulu." tukas Daniel.
"Jangan dibikin nangis." Lea memberi pesan pada sang suami.
"Nggak, paling aku bangunin tidur." seloroh Daniel kemudian.
"Kamu mah iseng mas, orang masih belajar juga." Lea tampak sewot.
Kali ini Daniel tertawa.
"ASI nya ada kan tapi di kulkas?"
"Ada, baru di pompa." jawab Lea.
"Ya udah, ntar kalau nangis aku yang urus." tukas pria itu lagi.
Lea melanjutkan belajar, ia percaya saja pada Daniel. Sementara itu Daniel pergi ke kamar Darriel. Tampak bayi itu tengah tertidur lelap. Daniel lalu duduk di samping box bayi seraya memandangi Darriel.
"Bangun, nak. Main sama papa yuk!" ajaknya.
Namun bayi itu terus saja terlelap. Daniel kemudian mengelus pipi Darriel dengan jari telunjuk. Bayi itu bergerak sedikit, lalu memalingkan wajah ke arah lain. Daniel tersenyum dan melakukannya lagi. Hingga akhirnya Darriel menjadi gusar, terbangun, dan menangis.
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
"Diapain mas?"
Teriak Lea dari kamar satunya.
"Nggak diapa-apain, orang bangun sendiri." Pria itu membela diri.
"Bohong banget kamu, pasti di towel-towel itu dianya."
Daniel diam, ia tak tau apakah semenjak menjadi ibu. Istrinya tiba-tiba memiliki mata batin. Sementara Darriel terus menangis.
__ADS_1
"Iya sini sama papa, papa gendong ya. Kita jalan ke ruangan lain ok?" ujarnya kemudian.
Ia lalu mengambil Darriel dan membawa bayi itu berkeliling, dari ruang satu ke ruang lainnya. Tak lama Darriel pun diam, namun belum tertidur kembali. Bayi itu terus saja memperhatikan wajah Daniel.