Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Siapa Pemenangnya


__ADS_3

Lea masih terus bertahan untuk tidak bersikap baik pada suaminya. Entah apa yang sejatinya diinginkan oleh perempuan berusia 18 tahun tersebut.


Sebab Daniel sudah beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara. Namun ia tetap saja keras hati.


"Lo udah baikan sama Lea?" tanya Ellio pada Daniel, ketika ia tiba di kantor para keesokan harinya.


"Belum, keras hati." ujar Daniel seraya mengeluarkan MacBook dari dalam tas kerjanya.


"Bawaan anak lo, jadinya kelakuan Lea sama kayak sifat lo."


Richard yang tengah ngopi di sofa, nyeletuk. Seketika Daniel dan Ellio menyadari sesuatu.


"Wah asli, nggak diragukan lagi kalau itu beneran anak lo." seloroh Ellio seraya tertawa.


"Keras hatinya elo banget." lanjutnya lagi.


"Bangsat." ujar Daniel seraya ikut tertawa.


Mereka pun lanjut membicarakan pekerjaan.


***


"Jangan terlalu keras sama laki lo, Le."


Nina menanggapi aduan Lea, ketika mereka bertemu di kampus. Nina sekarang sudah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas. Mengenai persoalan siapa ayah kandungnya, Nina sedang enggan memusingkan hal tersebut.


"Inget, pelakor di luaran siap dengan jurus rayuan mautnya yang halus, yang memanjakan suami orang dengan pelayanan dan cinta."


Lea terdiam menatap sahabatnya itu.


"Laki-laki, kalau rumah udah bikin nggak nyaman. Mereka akan balik ke tempat yang menawarkan kenyamanan. Ya walaupun ada banyak juga laki-laki brengsek, yang di rumah udalah nyaman, istri spesifikasi kayak bidadari, tapi masih aja mampir ke rumah pelakor yang tampilannya mirip jenglot. Tapi setidaknya, sebagai istri kita harus mengusahakan, supaya rumah terasa nyaman buat dia."


"Abisnya gue sebel Nin, masa mau jalan-jalan aja nggak boleh. Kan gue jadi terkekang hidupnya."


"Kalau emang lo pengen, ya lo rayu aja baik-baik aturan. Nggak usah ngamuk."


"Ah keburu emosi gue nya, dengerin alasan dia kenapa ngelarang gue."


"Tuh kan, elo nya berarti."


"Nggak tau, semakin bertambah usia kandungan gue. Semakin gampang emosi juga gue sama mas Daniel."


Nina tertawa.


"Kayaknya sifat laki lo deh yang gitu. Lo kan orangnya nggak gampang tersulut."


Lea kembali diam.


"Iya juga ya." ujar Lea kemudian.


Ia lalu mengelus bayi yang ada di dalam perutnya.


"Kamu ya dek, kamu yang bikin Mama emosian kan?"


Lalu terasa ada sebuah getaran, seperti bayinya menanggapi sentuhan yang ia beri.

__ADS_1


***


"Dis, Dis, Dis."


Ariana berlarian ke arah Adisty pagi itu.


"Apaan?" tanya Adisty lalu menyedot es kopi yang baru ia beli.


"Gue tadi ngeliat di depan sebuah rumah sakit, Cindy di papah sama bapaknya Lea."


"Masa sih?" tanya Adisty tak percaya.


"Iya, masa gue bohong. Ngapain coba?"


"Koq bisa ya?" Adisty balik bertanya.


"Apa jangan-jangan yang nabrak Cindy itu bapaknya Lea?"


"Maybe." jawab Ariana.


"Kan dia cuma cerita kalau dia ditabrak doang, kagak ngomong siapa pelakunya." lanjut gadis itu.


Adisty menatap Ariana, seketika mereka tersenyum penuh racun.


"Jangan-jangan, jangan-jangan nih." ujar Adisty.


"Bisa jadi." timpal Ariana.


Lagi-lagi mereka tersenyum dan makin mirip Venom. Jika lambe turah mengadakan audisi pencarian admin, mungkin keduanya bisa di nyatakan lolos.


"Lo suka sama bapaknya Lea?" tanya Adisty kemudian.


"Lumayan, hehe."


"Wah parah lo." ujar Adisty seraya tertawa.


"Bapak temen sendiri, anjay."


"Apa salahnya, sekedar menyukai. Dia belum punya istri ini, masih milik bersama."


"Hahaha." Keduanya tertawa-tawa.


"Bapak Lea ganteng anjir." ujar Ariana lagi.


"Suaminya Lea tuh ganteng, hot. Tapi bapaknya Lea bikin ketar-ketir ya." timpal Adisty.


"Kalau om Ellio?" tanya Ariana seraya tersenyum sampai kuping pada Adisty.


"Apaan sih?" tanya Adisty lalu tertawa. Karena tatapan mata Ariana seolah menunggu jawaban.


"Nggak usah sok lugu lo." ujar Ariana dengan tatapan menggoda.


"Gue tau semalem lo abis jalan sama om Ellio." lanjutnya lagi.


"Ssstt, pelan-pelan Jamilah. Nggak enak sama Rama, kalau dia denger." Adisty setengah berbisik.

__ADS_1


"Tuh bener kan, lo jalan kan sama om Ellio?"


Kali ini suara Ariana berbisik-bisik.


"Lo sebenernya sama Rama jadian nggak sih?"


"Kagak, belom. Baru jalan doang." jawab Adisty.


"Berarti lo masih membuka kesempatan dong buat si om?" lagi-lagi Ariana menggoda Adisty.


"Kayak nggak tau gue aja."


Senyum Venom keduanya kembali terkembang. Lalu,


"Hahaha."


Kedua sahabat itu kembali tertawa.


***


Lea terus kepikiran akan ucapan Nina tadi padanya. Di sepanjang perjalanan pulang ia juga banyak membuka sosial media.


Entah secara kebetulan atau tidak, ia menemukan banyak sekali curhatan para istri yang suaminya selingkuh. Mendadak Lea pun merasa horor.


Ia sangat tidak rela jika Daniel melakukan hal tersebut padanya. Seberapapun playboy nya Daniel di masa sebelum bertemu dengannya, tetap ia tak ingin jika Daniel berpindah ke lain hati dan lain kasur.


Maka dari itu Lea bertekad untuk lebih bisa mengontrol emosinya lagi, meski itu akan terasa sangat sulit. Mengingat ia emosi bukan karena tabiat dalam dirinya, melainkan akibat hormon kehamilan yang ia miliki.


"Dek, kamu jangan bikin mama emosi terus ya. Kita harus kerjasama, supaya papa nggak gerah dan nggak jengah sama mama."


Lea berbicara sambil mengusap-usap perutnya yang membuncit, sebentar lagi ia akan tiba di penthouse. Ia berjanji dalam hati, untuk segera berbaikan dengan Daniel.


***


Lea keluar dari dalam lift, tekadnya sudah sangat kuat sekali. Namun tiba-tiba tekad itu luntur, lantaran kini Daniel lah yang bersikap acuh tak acuh padanya.


Daniel tak ada menyapa Lea, meski Lea saat ini seliweran di hadapan pria itu. Ia terus saja berkutat dengan laptop dan mengerjakan sesuatu di sana.


"Ngapain sih tadi gue berfikir mesti baikan sama nih laki. Dia aja cuek begini sama gue."


Lea menggerutu dalam hati. Sejenak ia kembali sedikit mondar-mandir. Mungkin tadi penglihatan Daniel di tutupi makhluk gaib, pikirnya. Sehingga ia tak melihat kedatangan Lea yang minta di tegur sapa.


Namun seberapa pun Lea mondar-mandir seperti setrikaan ayam, Daniel tetap cuek padanya.


Sejatinya Daniel sengaja membalas perlakuan Lea. Semua agar istrinya itu sadar, jika di diamkan dan di acuh tak acuh kan itu buka. perkara yang enak.


Lea pernah di silent treatment oleh Daniel waktu itu, dan Daniel pikir mungkin La agak luoa rasanya bagaimana. Maka dari itu ia ingatkan lagi kini, agar Lea berhenti jutek dan cuek kepada suaminya.


"Ya udah kalau mau cuek-cuekan gini, kita liat siapa yang bisa bertahan nanti."


Lea akhirnya menyerah dan menggerutu dalam hati.


"Liat aja mas, mas atau aku yang nyerah." lanjutnya lagi.


Perempuan itu pun lalu masuk ke dalam kamar, sementara kini Daniel tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2