
"Mas tadi gimana?" tanya Lea pada Daniel ketika suaminya itu sudah tiba di rumah. Daniel saat ini masuk ke kamar dan berganti pakaian.
"Ya marah, orang tuanya Marsha." jawab Daniel.
"Terus akhirnya gimana?"
"Bapaknya mengizinkan mereka menikah, tapi memilih untuk nggak hadir nantinya."
"Koq gitu?. Terus yang jadi wali nya Marsha siapa?"
"Hakim mungkin." jawab Daniel lagi.
"Dengan persetujuan bapaknya tapi." lanjut pria itu.
Lea menarik nafas, sementara Daniel menilik ke dalam box bayi.
"Dia udah lama tidurnya?" Daniel mempertanyakan soal Darriel.
"Baru koq, mas. Tadi nangis ngamuk-ngamuk."
"Ngamuk kenapa?"
"Telat ganti popok. Tadi aku lagi makan dibawah soalnya."
Daniel tersenyum lalu mengusap kepala Darriel.
"Om Ellio udah pulang juga?" tanya Lea.
"Iya, lagi di apartemen Marsha palingan."
"Lagian anak orang di buntingin. Ngamuk kan bapaknya." seloroh Lea lagi.
Daniel tertawa kecil.
"Tapi kalau Marsha nggak hamil, kemungkinan lama lagi tuh Ellio nikahnya. Kan semuanya pada suka leha-leha, lenyeh-lenyeh sendirian."
"Iya sih." jawab Lea kemudian.
"Dengan kejadian ini ya mau nggak mau nikah." lanjutnya lagi.
***
Sementara di apartemen Marsha, Ellio masih berusaha membesarkan hati perempuan itu. Ia benar-benar meminta maaf telah memaksa Marsha untuk mengandung anaknya. Sehingga ia kini disingkirkan dari keluarganya sendiri.
"Jangan tinggalin saya, pak. Dan kalaupun kita menikah, tolong jangan khianati saya suatu saat nanti. Saya udah berkorban banyak untuk kita."
Marsha yang tengah berada di pelukan Ellio tersebut pun berujar. Beberapa saat sebelum itu, ia sudah mengobati lebam di wajah Ellio. Kini keduanya berada di kamar Marsha dan saling berpelukan.
"Aku janji sama kamu. Kalau aku mengingkarinya, kamu boleh lakukan apa saja terhadap aku." ujar Ellio kemudian.
Marsha menyeka air matanya dengan tangan.
"Udah jangan sedih lagi, kasihan anak kita."
Ellio memegang perut kekasihnya itu, lalu Marsha pun tersenyum.
__ADS_1
"Aku sayang kalian." ujar Ellio lalu mencium kening Marsha dan kembali memeluknya dengan erat.
***
Di rumah Marsha.
"Pa, apa nggak terlalu keras sikap papa ke Marsha dan pacarnya itu tadi?"
Ibu Marsha mencoba berbicara dengan suaminya.
"Marsha itu dari kecil anaknya baik, berprestasi, tidak pernah mengecewakan keluarga. Baru kali ini dia berbuat kesalahan."
wanita itu melanjutkan kata-katanya, sedang sang suami masih menjatuhkan pandangan ke suatu sudut.
"Maafkanlah mereka. Nggak seharusnya kita membuang seorang anak yang melakukan kesalahan. Setiap anak di dunia ini juga berbuat kesalahan, dosa. Ada yang dan tidak ketahuan."
"Haruskah kita memaafkan kesalahan yang sudah mencoreng nama baik keluarga?"
"Terus apakah dengan membuang Marsha dari keluarga, nama kita tidak jadi tercoreng?. Lambat laun orang lain pun akan tau mengenai hal tersebut, pa. Minimal keluarga besar kita dulu yang bakal tau entah itu dari mana. Bangkai itu mau disimpan bagaimanapun pasti akan tercium juga." Ibu Marsha berkata sambil terus menatap sang suami.
"Kita hadapi saja dengan berani. Walau anak kita melakukan kesalahan, kita nggak seharusnya hanya sekedar memikirkan nama baik. Mungkin selama ini memang kita juga ada salah. Seperti tidak memperhatikan dia dengan benar atau berkomunikasi dengan terbuka sama dia. Jangan cuma menyalahkan keadaan, tapi berdamai dengan keadaan itu sendiri."
Ayah Marsha masih teguh pada pendiriannya, meski sang istri telah berbicara panjang lebar. Baginya ini terlalu menyakitkan dan sangat memalukan.
***
Di sebuah tempat.
"Ah yes, hmmh."
Tubuh Clarissa terlihat bergoyang-goyang di atas tempat tidur, dengan kaki yang ditekuk dan terbuka lebar. Sementara dibawah sana Marvin tengah bergerak maju-mundur.
Clarissa meremas seprai tempat tidur, dengan kedua gunung kembarnya yang naik turun. Ini sudah menit-menit terakhir dari sesi bercinta yang mereka lakukan sejak tadi.
"Ah Clarissa, sayang. Aku mau..."
"Iyah sayang, aku juga mau..."
"Hmmh, hmmh."
Marvin makin mempercepat gerakannya dan,
"Aaaahhh, terima ini....." teriaknya diiringi teriakan Clarissa yang bercampur kenikmatan. Sesat tubuh keduanya pun bergetar seperti tersengat listrik.
"Hhhh."
Marvin ambruk di pelukan Clarissa, dengan cairan hangat yang memenuhi rahim wanita itu. Clarissa yakin jika dirinya kini akan segera hamil. Dan memang itulah yang ia harapkan. Ia ingin menikahi pria kaya raya.
Jika tidak dapat Daniel, maka Marvin pun sudah cukup. Meski sakit hatinya terhadap Daniel tak akan ia lupakan begitu saja.
"Kasih aku anak."
Marvin meminta pada Clarissa dan tentu saja Clarissa senang mendengar hal tersebut. Tak lama Marvin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Dert."
__ADS_1
"Dert."
Handphone Clarissa berbunyi. Tenyata pesan dari sugar daddy nya yang sampai saat ini belum ia putuskan.
"Sayang, kangen. Pipa aku pengen menyembur didalam."
Clarissa diam. Pria tua itu memang senang melontarkan pesan bernada pelecehan padanya.
"Aku masih periode." dusta Clarissa.
"Oh ya udah, kasih tau kalau nanti udah selesai. Sekalian tuh masa subur kamu, biar cepet buncit. Aku mau anak."
Clarissa makin geram dengan kata-kata yang dilontarkan pria itu. Namun ia memilih untuk tidak memaki, karena masih membutuhkan transferan darinya.
"Ingat ya, jangan sekali-kali selingkuh. Kamu tau siapa aku dan apa yang bisa aku lakukan terhadap kamu dan selingkuhan kamu. Jangan sekali-kali pergi dari hidup aku. Karena sekali sudah masuk ke dalam hidup slaku, kamu adalah milikku."
Clarissa terdiam, entah mengapa pesan tersebut membuatnya menjadi takut. Ia pikir pria tua itu tak akan terobsesi sampai sebegitu dalam.
"Sayang, mandi yuk!"
Marvin yang menongolkan kepalanya dari pintu kamar mandi, kini mengajak Clarissa.
"Eh, iya."
Clarissa menghapus riwayat pesan dari sugar daddy nya lalu menonaktifkan pemberitahuan dari nomor tersebut. Sesaat setelahnya ia pun masuk ke dalam kamar mandi, menyusul Marvin.
***
Malam itu di kamar, Lea bermesraan dengan Daniel. Baju yang mereka kenakan tak lagi rapi seperti tadi. Melainkan sudah sangat acak-acakan. Daniel mencumbui sekujur tubuh istrinya itu dan begitupula sebaliknya.
"Sabar ya mas, beberapa hari lagi koq." ujar Lea
"Iya, aku sabar orangnya. Tenang aja."
Daniel mencium kening Lea lalu memeluk istrinya itu dengan erat.
"Kita pelukan aja sampai pagi ya." ujarnya kemudian.
"Yakin mau sampai pagi?" tanya Lea pada Daniel.
"Yakin, kenapa emangnya?" Daniel heran.
Keduanya saling bersitatap, Lea kemudian tersenyum. Baru saja Daniel hendak mencium bibir istrinya itu kembali, tiba-tiba...
"Oeeeeek."
"Oeeeeek."
Darriel menangis. Maka pasangan suami istri itu kini sama-sama tertawa.
"Apa ku bilang mas, yakin mau sampai pagi?" ujar Lea lagi.
Daniel makin tertawa dan beranjak. Ia merapikan bajunya lalu menyambut Darriel.
"Kayaknya kalau udah 40 hari nanti, kita ke penthouse aja kalau mau mesra-mesraan. Darriel titip aja disini sama kakeknya." ujar Daniel kemudian.
__ADS_1