Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Menjenguk


__ADS_3

Nina terdiam, di sebuah ruang tatap muka dengan kaca sebagai pembatas. Di tempat itu untuk pertama kali, ia melihat wajah ayah kandungnya Roni Wijaya secara langsung.


Ia datang ke lembaga pemberantasan korupsi dengan ditemani oleh Lea dan juga Vita. Keduanya berada di ruang tunggu dan tidak diperkenankan ikut masuk. Hanya Nina yang diperbolehkan.


Tak banyak kata-kata yang keluar dari bibir keduanya. Hanya sekedar sapaan dan beberapa topik obrolan yang kaku. Nina tak tau harus bagaimana, sebab ia tidak tumbuh bersama ayahnya itu. Dan kini mereka bertemu di saat sang ayah terjerat sebuah kasus yang memalukan.


"Tadi, lo ngomong apa aja sama bokap lo, Nin?"


Lea bertanya pada Nina, ketika mereka telah berada di dalam mobil. Sedang Vita hanya fokus mendengarkan.


"Nggak ngomong apa-apa, cuma sekedar kayak saling nanyain kabar gitu aja. Abisnya gue bingung mau ngomong apa, Le. Nggak pernah terlintas juga dalam benak gue selama ini, kalau gue adalah anak lain bapak. Bukan bapak yang selama ini gue kenal."


Lea dan Vita memperhatikan Nina, sementara mobil terus berjalan.


***


"Menurut lo pada, apa gue mulai usaha dari sekarang aja?"


Nina bertanya pada Lea, Vita, Ariana, dan Adisty, ketika mereka baru saja menyelesaikan mata kuliah masing-masing dan bertemu di kantin. Vita dan Nina adalah senior dari Lea, Adisty dan juga Ariana.


Namun hari ini mereka mendapati jadwal kelas mereka berada di jam yang sama, hingga saat selesainya pun sama waktunya. Alhasil kini mereka bisa berada di kantin secara bersama-sama pula.


"Hmm, makanan mungkin." ujar Lea.


"Ngeri basi gue, kalau makanan." ujar Nina.


"Kan bisa makanan kering." ujar Lea lagi.


"Iya bener, temen gue ada tuh bisnis snack doang bisa beli rumah anjir. Padahal belum ada setahun." ujar Ariana.


"Ntar gue bantu Nin, kalau butuh tenaga packing." ujar Vita.


"Nah bagus tuh, jadi partner lo nggak jauh. Temen sendiri." timpal Adisty.


"Beli yang udah jadi aja di grosir, ntar lo repack." ujar Lea.


"Kalau kayak baju gitu, ok nggak sih?" Nina kembali meminta pendapat.


"Bisa, tapi lo harus siap sabar. Karena nggak setiap hari orang mau beli baju. Tau kan kebiasaan masyarakat kita, daya beli baju paling tinggi itu adanya di hari raya." ujar Vita.

__ADS_1


"Kalau tahan capek, lo pake aja online marketplace yang bisa jualan live. Biasanya banyak tuh yang mau, sering-sering aja live sambil tunjukkin koleksi baju jualan lo." Lea kembali menimpali.


"Tapi menurut gue yang lebih ok, makanan sih. Karena ada aja orang yang diem, bengong, tau-tau pengen beli makanan." lanjutnya kemudian.


"Bener, gue setuju sama Lea." timpal Adisty.


"Karena lebih banyak orang iseng mau beli makanan, ketimbang iseng beli baju." lanjutnya lagi.


"Ah gue iseng nih, gabut. Mau beli Lamborghini ah." Ariana nyeletuk di tengah keseriusan, membuat mereka semua tertawa.


Lalu obrolan mereka pun berlanjut.


***


"Ok, sekian buat hari ini dan terima kasih."


Daniel menutup rapat bulanan dengan para kliennya, di sebuah ruangan. Namun ia dan beberapa rekan bisnisnya itu belum buru-buru keluar, karena masih terlibat beberapa perbincangan.


"Golf, pak Dan." ujar salah seorang rekan padanya.


"Kapan?" tanya Daniel.


"Sore ini lah." jawab rekannya itu.


"Mau merambah bisnis skincare juga pak?" tanya rekannya yang lain.


"Bukan saya, tapi istri saya." jawab Daniel lagi.


Hampir semua orang kantor dan rekan bisnis atau klien Daniel telah mengetahui, jika Daniel sudah menikah.


"Bisnis untuk istri pak Dan?" tanya rekannya lagi.


"Iya, biar dia ada kegiatan." jawab Daniel.


"Pak Dan nggak takut?" rekannya kembali bertanya.


"Takut soal apa?" tanya Daniel heran.


"Ya perempuan itu, ngapain di suruh kerja, disuruh bisnis. Di rumah ajalah ngurus rumah tangga, melayani suami, ngurus mertua. Perempuan kalau udah bisa cari duit, nanti nggak nurut lagi loh."

__ADS_1


Daniel tersenyum tipis mendengar perkataan rekannya itu.


"Kalau mau istri yang nurut dan nggak membantah sedikitpun ya, nikahin aja sapi pak." ujar Daniel.


Beberapa rekan lain ada yang tersenyum, bahkan tertawa mendengar semua itu.


"Beres kan, tinggal colok hidungnya, tarik. Nurut koq dijamin. Kalau nikah sama manusia ya harus siap, kalau suatu ketika dia nggak sependapat dengan kita. Kadang definisi "Nurut" itu terlalu di persempit oleh sebagian orang. Berbeda pendapat dan pandangan dikit, udah dibilang nggak nurut. Nggak mau melakukan perintah dikit, dibilang durhaka. Basi banget hal kayak gitu, terlalu cepat melabeli."


Daniel membuang abu rokok yang terselip di antara kedua jarinya, lalu ia kembali menghisap rokok itu dan menghembuskan asapnya. Debu mengebul di sekitaran.


"Kalau menurut saya pribadi, perempuan itu sangat penting diajari berbisnis atau kerja. Mereka harus diajarkan bagaimana caranya menghasilkan dan mengatur keuangan. Gunanya untuk apa?. Ya kita kan nggak tau umur ya." ujar Daniel lagi.


Seisi ruangan masih memperhatikan dirinya.


"Misalkan besok kita mati. Okelah kita ninggalin harta ratusan juta, milyaran bahkan buat istri dan anak. Kalau istri bisa berbisnis, bisa mengatur keuangan. Uang yang kita tinggalkan itu, mudah-mudahan akan cukup, bahkan mungkin bisa bertambah. Nah kalau istrinya cuma memiliki perilaku konsumtif, tidak terbiasa menghasilkan uang sendiri, sifatnya selalu menunggu pemberian. Ya, berapapun uang yang di wariskan akan habis. Mau milyaran pun kita tinggalkan, kalau istri tidak pandai berbisnis, tidak pandai menghasilkan uang, kerjanya cuma make dan make. Lama-lama milyaran itu nggak bersisa."


"Kan bisa investasi atau deposito. Celetuk yang lainnya lagi."


"Investasi itu bagian dari nyari duit kan?. Coba saya tanya, orang mana yang serta merta bisa kepikiran investasi, kalau dia nggak tau investasi itu apa?. Minimal dia mendengar atau belajar dulu mengenai hal itu. Entah dari sosial media, dan lain lain. Intinya ya belajar, diajarin, tetap harus belajar. Nggak ada orang sakti yang tau tau bisa ini itu."


"Saya setuju dengan anda pak Dan."


Rekan kerja Daniel yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, kini bersuara.


"Saya sendiri dibesarkan oleh seorang ibu yang seorang single parent. Ayah saya meningal waktu saya dan kakak saya masih kecil." lanjutnya.


Daniel kembali menghisap rokok dan mendengarkan rekannya itu.


"Ayah saya meninggal mendadak, tanpa warisan, tanpa tabungan. Cuma ninggalin rumah satu, itupun cicilannya masih 12 tahun. Tapi karena ibu saya kerja, jadi ibu saya nggak bingung menghidupi saya dan kakak saya. Jadi ketika ada pria yang sudah beristri, menawari ibu saya untuk jadi istri kedua, dengan alasan biar ada yang menafkahi. Ibu saya menolak, dan memilih membesarkan anak-anaknya sendiri."


"Proud of your mom." jawab Daniel.


"Salah satunya juga itu sih, saya ngajarin istri untuk cari duit. Biar kalau saya mati mendadak, istri saya bisa mengelola keuangan dan memutar uang tersebut supaya tetap ada. Buat kehidupan dia dan anak-anak."


Lagi-lagi Daniel menghisap rokok, menghembuskan asapnya dan lanjut berbicara.


"Saya nggak mau dari alam sana, saya ngeliat istri saya buru-buru nyari suami. Sampe suami orang pun disikat cuma demi supaya bisa bertahan hidup. Banyak kan kejadian kayak gitu. Nggak terbiasa nyari duit, terbiasa minta sama laki. Pas laki mati, bingung. Nggak punya tempat minta lagi. Akhirnya jadi pelakor, biar ada tempat minta. Saya nggak mau melihat tubuh istri saya di *****-***** laki-laki lain, terus istri saya di kasih duit, dan duit itu dipake buat ngasih makan anak saya."


Daniel menatap rekan-rekannya.

__ADS_1


"Kalau pun nantinya dia mau menikah lagi, setelah kematian saya. Mau nikah sama laki orang sekalipun, alasannya harus karena dia memang mau menjalani pernikahan tersebut. Untuk dirinya sendiri, bukan karena kebelet mau nafkahin anak, karena kepepet nggak bisa nyari duit sendiri."


Rekan-rekan Daniel yang ada di ruangan tersebut pun terdiam. Agaknya mereka semua mulai berfikir, jika ucapan Daniel barusan ada benarnya juga.


__ADS_2