
Lea dan Vita berdiri agak jauh. Dari sana mereka menyaksikan Nina yang tengah menangis sambil berbicara pada sebuah makam kecil.
Makam itu adalah makam bayinya yang pergi akibat ulah sang mantan suami. Vita sudah sangat ingin menenangkan Nina, namun Lea menahan perempuan itu.
Lea ingin agar Nina menumpahkan dulu segala kesedihan yang ia pendam selama ini. Supaya ia merasa lega dan plong atas hal tersebut.
Usai membiarkan Nina menangis, mereka kemudian mengadakan tabur bunga dan doa bersama.
"Nanti mama kesini lagi, mama akan sering-sering mengunjungi kamu." ujar Nina.
Ia kini sudah mulai tenang dan tak lagi menangis seperti tadi. Tak lama kemudian mereka pun beranjak.
***
"Lele."
Adisty dan Ariana menghambur ke dekat Lea. Ketika akhirnya mereka bertemu di kampus.
"Hai." ujar Lea bersemangat.
Mereka kemudian cipika-cipiki dan saling berpelukan satu sama lain.
"Sumpah, lama banget gue nggak ngeliat lo Le." ujar Adisty seakan hendak menumpahkan kerinduan.
"Sama, gue juga." Ariana menimpali.
"Kangen tau kita." keduanya berucap secara serentak.
"Apalagi gue." ujar Lea.
"Gue juga kangen sama kalian. Yang gue liatin tiap hari laki gue, Darriel, laki gue, Darriel. Selingan dikit bapak gue yang gue liat." tukas Lea.
Mereka semua pun lalu tertawa-tawa.
"Eh, Le. Si Iqbal ngundang elo kan?" tanya. Ariana kemudian.
"Ngundang apaan, mau nikah tuh anak?" Lea balik bertanya.
"Ulang tahun." jawab keduanya serentak.
"Kagak ada." Lea menatap kedua sahabatnya itu sambil mengerutkan dahi.
"Masa iya sih, Iqbal nggak ngundang elo." ujar Adisty lagi.
"Iya, coba cek WhatsApp lo deh." Ariana menimpali.
Lea kemudian membuka pesan di WhatsApp. Dan ternyata memang ada pesan dari Iqbal yang belum ia baca. Dan ketika dibuka isinya sebuah undangan yang lebih mirip dengan ancaman.
"Pokoknya lo harus datang, Le. Gue nggak mau tau. Kalau nggak, lo nggak usah anggap gue teman lagi. Oke?"
"Anjay, untung gue udah balik dari liburan." ujar Lea.
"Kalau nggak, bisa mampus nih gue." lanjutnya lagi.
"Oh iya, baru balik dari liburan ya." ucap Adisty.
"Iya, eh." Lea mengambil dua paper bag yang tadi ia letakkan di bawah meja.
"Ini oleh-oleh buat lo berdua." ujarnya Kemudian.
Ia menyerahkan satu paper bag untuk Adisty dan satu lagi untuk Ariana.
"Wah, Lele. Tau aja apa kebutuhan kita." ucap Adisty gembira.
"Makasih ya, Le." tukas Ariana tak kalah antusias.
"Sama-sama." jawab Lea
Ia senang melihat teman-temannya itu bahagia. Oleh-oleh yang ia bawakan untuk mereka sama dengan oleh-oleh yang ia bawa untuk Nina, Vita, ibunya, dan juga Marsha. Yakni skincare dan makeup.
Apalagi yang paling membahagiakan perempuan selain uang dan dua hal tersebut. Lea paling bisa membangkitkan mood orang-orang di sekitarnya.
"Eh nanti si Iqbal kita beliin hadiah apa nih?" tanya Lea.
__ADS_1
"Iqbal mah gampang, beliin aja rokok." seloroh Ariana.
"Anjay teman sesat." ujar Lea.
"Tapi iya juga sih." ujarnya kemudian.
"Apalagi yang bisa menyenangkan cowok kecuali itu." tukasnya lagi.
"Sama cewek." ujar Adisty sambil tertawa.
"Hahahaha."
Lea dan Ariana ikut tertawa dengan pikiran yang menjurus ke hal delapan belas ke atas. Tak lama perkuliahan mereka pun dimulai.
***
"Titip Darriel sampe malem ya yah, aku soalnya mau ke acara ulang tahun teman." ujar Lea pada Richard di telpon.
"Oh ya udah, kamu udah ngomong sama Daniel belum tapi?" tanya Richard.
"Belum sih, ini mau telpon mas Daniel dulu."
"Ya udah telpon dulu sana!"
"Oke, tapi nggak apa-apa kan Darriel di sana?"
"Ya nggak apa-apa, emang bakal ayah apain nih anak?" Richard balik bertanya.
Lea kini tertawa.
"Nggak, takutnya ayah repot aja."
"Nggak, ayah lagi nggak banyak kerjaan koq." ujar Richard lagi.
"Oke deh yah, aku telpon mas Daniel dulu ya yah."
"Oke."
"Bye, ayah."
Lea menyudahi percakapannya dengan Richard, lalu beralih menelpon Daniel.
"Hallo, mas."
"Iya, kenapa Le?" tanya Daniel.
"Mas dimana?"
"Masih di kantor, baru mau pulang." jawab Daniel.
"Mas aku nanti ke ulang tahun Iqbal ya sama anak-anak kampus."
"Dimana acaranya?" tanya Daniel.
"Di rumahnya dia."
Lea menjawab lalu menjelaskan alamat Iqbal secara detail.
"Oh, ya udah. Selesai acara nanti telpon aja, ntar aku jemput." ujar Daniel.
"Oke mas, makasih ya mas."
"Iya sama-sama."
"Aku jalan dulu ya, mau makan sama anak-anak." ucap Lea.
"Oke."
"Kamu jangan lupa makan mas."
"Gampang, ntar aku makan di rumah Richard." ucap Daniel sambil tertawa.
Lea pun jadi ikut tertawa.
__ADS_1
"Ya udah, bye mas."
"Bye Lele."
Lea menyudahi telpon tersebut dan bergabung kembali dengan Adisty dan Ariana.
"Serius Dis, Ar. Apaan nih hadiah buat Iqbal?" tanya Lea.
"Gue sih yang aja lah, satu kotak." ujar Adisty.
"Gue parfum aja." timpal Ariana.
"Serius lo Dis?" Lea masih tak percaya karena mengira temannya itu sedang bercanda.
"Serius gue." ujar Adisty lagi.
"Terus gue apa dong?. Minuman yang memabukkan gitu?" tanya Lea.
Adisty dan Ariana tertawa.
"Ya kalau lo mau bawain itu, nggak apa-apa." ucap mereka serentak.
"Iqbal kan nama doang Iqbal, kelakuan hancur." ujar Ariana.
"Gue ini aja deh, Iqbal kan suka banget donat tuh. Gue beliin itu aja ah." ucap Lea.
"Ya udah, lo order sekarang. Biar ntar kita langsung cabut kesana." tukas Adisty.
"Oke deh."
Lea kemudian mengambil handphone dan membuka aplikasi ojek online. Ia mencari penjual donat yang ratingnya tinggi disana. Kemudian ia memesan sebanyak dua lusin, dengan rasa yang di mix.
Ketika donat yang dipesan Lea sampai, pesanan Adisty dan Ariana pun sama-sama tiba. Mereka mengorder hadiah untuk Iqbal juga dari aplikasi yang sama.
Dan rupanya Adisty serta Ariana sudah menyiapkan kotak kado kecil di dalam tas mereka masing-masing. Sedang Lea tak perlu kotak kado, sebab donatnya sendiri pun sudah memiliki kotak.
Adisty memasukkan hadiah tersebut ke dalam kotak kado yang ia bawa, lalu menempel foto kuntilanak Suketi di depannya. Di samping foto itu ia menempel stiker dengan tulisan,
"Ini Bisa Menyebabkan gangguan Kesehatan."
Lea tertawa, begitupula dengan Adisty dan Ariana sendiri.
"Kalau kayak gini kan si Iqbal jadi takut buat ngambil sering-sering." ujar Adisty kemudian.
Lea dan Ariana makin tertawa-tawa.
"Iya juga ya." ujar keduanya secara serentak.
"Oh iya, kita kan nggak bawa baju." Ariana baru ingat.
"Masa kita pake jeans sama kaos begini." ujarnya lagi.
"Oh iya, balik dulu deh kalau nggak." ujar Adisty.
"Nggak usah." ucap Lea.
"Kita beli aja, ntar gue yang bayarin."
"Beneran, Le?" tanya kedua temannya itu antusias.
"Beneran." jawab Lea.
Adisty dan Ariana saling bertatapan dengan wajah yang mendadak sumringah.
"Yeaaaay." Mereka berdua bersorak kegirangan.
"Makasih Lele." ujar keduanya kemudian.
"Sama-sama." ucap Lea sambil tersenyum.
***
Bosan dengan cerita CEO yang bersikap kasar terhadap gadis miskin dan ujung-ujungnya bucin?. Yuk mampir ke cerita CEO satu ini. Tentang Amanda, CEO WANITA berusia 31 tahun yang ingin punya keturunan tapi tidak mau terikat pernikahan resmi. Maka ia pun membayar Arka, 21 tahun. Pemuda yang tengah terlilit hutang dan biaya kuliah. Untuk kemudian menikah siri dengannya dan memberinya anak. Dalam perjalanan rumah tangga mereka, Arka jatuh cinta pada Amanda. Namun ia insecure karena dirinya hanyalah seorang mahasiswa dan Amanda merupakan wanita kaya raya. Di saat yang bersamaan pria dari masa lalu Amanda kembali hadir. Mampukan Arka menaklukan hati Amanda?
__ADS_1