
Kembali ke saat pestanya Hanif masih di langsungkan. Ketika semua orang tengah sibuk makan dan berbincang. Karena seluruh rangkaian acara telah selesai di gelar.
Richard yang tengah berdiri sambil berbicara pada salah seorang temannya. Tiba-tiba melihat Nadya yang tengah berdiri termenung di suatu sudut.
Posisinya ada di pinggiran rooftop, sedang gedung itu memiliki 33 lantai dan itu artinya mereka tengah berada di atas lantai ke 33.
Richard khawatir, wanita itu akan melakukan perbuatan nekat. Lantaran mungkin sakit hatinya tak dapat lagi dibendung.
Namun sebagai orang orang lain, terlebih laki-laki. Ia tak bisa secara serta merta mendekat dan menanyakan mengapa wanita itu sendirian disana.
Apa kata orang nanti, sebab undangan masih ramai lalu lalang. Dan semua tau Nadya adalah seroang perempuan yang bersuami.
Richard kembali mengobrol dengan temannya. Namun kemudian temannya itu mendadak menerima telpon. Hati Richard kembali terusik dan ia lagi-lagi menoleh pada Nadya.
Ia kembali tertegun, atas rupa dan kecantikan wanita itu. Betapa dalam diam pun hati terasa sejuk menatapnya.
Seorang pelayan yang membawa minuman melintas. Richard mengambil dua gelas lalu melangkah perlahan ke arah Nadya.
Entah mengapa tubuhnya seperti bergerak begitu saja. Sementara wanita itu masih terpaku membisu.
Richard tiba, ia menyodorkan segelas dari dua minuman yang ia ambil. Nadya diam, Richard lalu meletakkan minuman itu ke atas meja yang ada di dekat mereka. Nadya kemudian mengambilnya.
"Ini sudah beberapa tahun berlalu sejak suami anda menikah untuk yang kedua kali, dan anda masih terjebak dalam situasi yang sama." ujar Richard sambil membuang pandangannya jauh ke depan.
"Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi anda tetap mempedulikan saya." ujar Nadya.
"Kalau dulu anda berusaha mengirimi saya email secara personal dan mengucapkan keprihatinan anda atas apa yang menimpa saya." lanjutnya lagi.
"Sekarang anda disini." tambahnya.
"Karena kepedulian tidak pernah mengenal waktu." ujar Richard.
"Dan kesabaran juga tidak mengenal hal yang sama."
Nadya seakan menjelaskan mengapa ia masih menjadi istri Hanif. Sedang sejak Hanif menikah lagi beberapa tahun lalu, sejatinya Richard sudah mencoba membuka pandangan mata wanita itu.
"Setidaknya kesabaran memiliki batas." ujar Richard seraya mereguk minuman yang ada di dalam gelasnya. Kini ia menatap Nadya dan Nadya menundukkan pandangan.
"Kalau Kesabaran itu berbatas. Apa bedanya dengan kepedulian?" tanya nya kemudian.
"Setidaknya saya peduli pada hal yang tidak menyakiti hati saya. Sedang anda sabar untuk orang yang mencabik jiwa anda." ujar Richard lagi.
Nadya terdiam mendengar perkataan tersebut.
"Saya bertahan demi Arkana anak saya. Dia butuh ayahnya." jawab perempuan itu.
__ADS_1
"Apa anda pernah bertanya pada Arkana, atau hanya kesimpulan yang anda tarik dan buat sendiri?" tanya Richard.
Lagi-lagi Nadya terdiam. Ia mulai menyadari jika selama ini pun, Arkana tak terlalu dekat dengan Hanif. Malah Hanif lebih perhatian pada anak dari istri keduanya. Baik itu anak yang ia bawa maupun yang ia lahirkan setelah menikah dengan Hanif.
"Saya..."
"Anda tidak perlu menjawab pertanyaan saya. Diam anda tadi sudah menjelaskan semuanya." ujar Richard.
"Nadya."
Tiba-tiba kakak perempuan Hanif memanggil.
Nadya kaget dan buru-buru mendekat.
"Iya kak." ujarnya kemudian.
"Kamu dipanggil ibu."
Kakak perempuan hanif menjawab sambil memberi lirikan yang seolah tak suka pada Richard. Richard diam saja, mungkin memang ia tak suka melihat Richard dekat-dekat dengan Nadya.
Maka dua orang perempuan itu pun akhirnya berlalu. Dari kejauhan Hanif tampak melihat ke arah Richard, namun kemudian ada undangan yang menghampiri dan berpamitan padanya.
***
"Dan, gimana soal perjodohan Richard?" udah banyak nih kandidat yang mengklik profilnya dia dan mendaftar sebagai calon jodoh." ujar Ellio di telpon.
"Iya, bener." jawab Ellio.
"Udah ada berapa orang?"
"Ada lah tiga atau empat orang."
"Genapin sepuluh, bro. Atau lima belas deh, biar enak memilihnya. Kita jalan sekalian nanti." ujar Daniel lagi.
"Oh ya udah deh kalau gitu maunya lo. Ntar paling besok atau lusa juga nambah." tukas Ellio.
"Ya udah ntar lo kabarin gue lagi."
"Oke, lo dimana ini?" tanya Ellio.
"Di rumah."
"Di rumah Richard?"
"Nggak, di penthouse. Lagi momong Darriel, lagi bangun dia."
__ADS_1
"Oh lagi ngapain dia?. Ngeliatin langit-langit rumah terus ketawa kayak ngeliat orang?" tanya Ellio sambil tertawa.
"Nggak, lagi gue ajak nonton aja." ujar Daniel.
"Oh ya udah deh, gue mau mandi dulu." Ellio pamit. Lalu mereka menyudahi telpon tersebut.
***
Sementara dirumah, tak ada satupun yang tau jika Richard terus menerus kepikiran akan Nadya.
Dulu saat Hanif menikah untuk yang kedua kalinya, disitulah ia melihat wanita itu. Saat dulu Hanif menikahi Nadya, mereka ada di pulau lain dan Richard menang tidak bisa hadir karena alasan jarak.
Ia tak pernah tau siapa dan bagaimana rupa dari istri temanya tersebut. Sampai akhirnya Hanif memutuskan menikah lagi setelah beberapa tahun.
Richard datang dan disanalah ia melihat Nadya untuk pertama kalinya. Jujur kecantikannya belum berubah hingga hari ini. Dan perasaan Richard pun masih sama berdebar-debar seperti waktu itu.
"Pak, ini kopinya."
Salah satu asisten rumah tangga meletakkan kopi ke atas meja. Tepat dihadapan dimana Richard tengah duduk diam. Richard tak bergeming sedikitpun. Asisten rumah tangga itu kemudian berlalu.
Malam harinya ia bahkan tak bisa tidur sama sekali. Ia terus- menerus teringat pada perempuan yang sama. Ingin rasanya ia memeluk dan meringankan beban Nadya.
Tapi Nadya tak bisa ia sentuh. Karena wanita itu selalu menjaga agar tak tersentuh pria lain, dan lagi ia sudah memiliki suami.
Richard jadi berpikir mengapa hidup ini tidak adil. Mengapa Nadya tidak dipertemukan saja dengannya sebelum itu.
"Mungkin emang takdirnya bapak buat merebut, pak."
Salah seorang asisten rumah tangga Richard berujar, ketika pria itu akhirnya tanpa sengaja bercerita. Tak ada niat untuk curhat, namun ketika ia tengah duduk di ruang makan, semua mengalir begitu saja.
Para asisten rumah tangga akhirnya nimbrung dan berkumpul dihadapan Richard. Mereka mendengarkan curahan hati dari bos mereka tersebut.
"Nggak apa-apa kali pak, jadi pebinor. Kalau memang diperlukan." ujar salah satu dari mereka.
"Pebinor?" tanya Richard bingung.
"Perebut bini orang." celetuk mereka beramai-ramai.
Richard akhirnya bisa sedikit tertawa.
"Semangat pak, perjuangkan kalau memang bapak suka."
"Iya pak, apalagi kata bapak tadi. Suaminya doyan nikah kan?. Mending bapak selamatkan sebelum dia menjadi makan hati berulang jantung pak."
"Richard kembali menatap para asistennya itu.
__ADS_1
"Bener pak, kecantikannya bisa pudar kalau terus tersiksa batin. Mending bapak selamatkan sebelum terlambat.
Sementara Richard berpikir mengenai omongan para asistennya itu, Ellio menerima lebih banyak notifikasi dari aplikasi perjodohan.