
Tiga hari kemudian.
Daniel membiarkan dirinya berada dibawah terpaan air yang keluar dari shower, begitupula dengan Lea. Namun sepasang suami istri itu berada di dalam kamar mandi yang berbeda.
Daniel tetap di dalam kamar mandi yang terdapat di kamarnya, begitu pun dengan Lea. Hanya saja kini ingatan mereka sama, Daniel dan Lea sama-sama mengingat kejadian yang baru saja berlangsung.
Ya, beberapa menit lalu mereka berada didalam sebuah penyatuan cinta. Dimana Daniel dengan begitu perkasa menghujamkan cintanya ke dalam liang milik Lea.
Kali ini tak hanya posisi Lea yang dibawah seperti kemarin. Daniel mulai memainkan perannya sebagai suami dan menghujani istrinya itu dengan cinta, dari berbagai sisi.
Posisi yang paling ia suka adalah ketika ia menyuruh Lea berdiri dan setengah membungkuk sambil menghadap kaca. Sedang ia memberikan hujaman demi hujaman dari arah belakang.
Saat itu keduanya mengerang dalam nikmat yang begitu besar. Otot-otot bagian vital mereka berdenyut-denyut, seiring gerakan Daniel yang kian cepat.
"Ah, mas. Ah, maaaas."
Itulah kata yang terucap di bibir Lea selama aktivitas tersebut berlangsung. Daniel kemudian membalikkan tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. Lalu didorongnya Lea agar duduk di atas lemari televisi yang cukup rendah. Ditekuknya kedua kaki istrinya itu dan dibukanya lebar-lebar. Lalu....
"Aaaakh."
Keduanya kembali mengerang, saat Daniel sudah memasukkan cintanya sedalam mungkin. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Lea, kemudian ia mulai bergerak maju dan mundur sambil berciuman.
"Lea sayang, aaakh."
"Mas, maaaas."
Cukup lama mereka bergumul dalam permainan itu, sampai kemudian keduanya sama-sama terhempas dengan satu teriakan panjang.
"Sayang, aku mau......"
"Maaaas."
"Aaaakh."
Gelombang rasa nikmat serasa naik turun, berkumpul di perut dan turun kembali ke bawah. Daniel memeluk Lea dan begitupun sebaliknya, nafas mereka tersengal. Tubuh keduanya banjir keringat.
Kini mereka berdua mengingat semua itu, dalam terpaan shower kamar mandi yang dingin.
***
"Mas, mas yang masak?" tanya Lea ketika ia telah selesai mandi dan berpakaian. Ia keluar kamar karena mendengar suara berisik di dapur, ternyata Daniel yang tengah berkutat di sana.
"Tunggu bentar, ya." ujar Daniel.
"Sini aku bantuin."
"Nggak usah, kamu duduk aja. Udah mau selesai koq."
"Nggak apa-apa, aku nggak bantuin?"
"Udah duduk aja." ujar Daniel lagi, Lea pun hanya menurut. Daripada di lempar panci oleh suaminya itu.
Tak lama makan malam yang dibuat oleh Daniel itu pun jadi, mereka kemudian makan bersama.
"Enak nggak?" tanya Daniel, ketika mereka mulai menyantap.
"Banget, rasanya pas." ujar Lea.
__ADS_1
Ia tak sekedar memuji, namun memang apa yang disajikan Daniel malam itu rasanya benar-benar enak.
"Kamu jadi mau daftar kuliah besok?" tanya Daniel pada Lea di sela-sela acara makan mereka, Lea mengangguk.
"Jadi, mas." jawabnya kemudian.
"Nungguin pengumuman beasiswa juga masih agak lama, dan nggak ada salahnya kuliah di kampus swasta. Siapa tau beasiswanya gagal, penting belajarnya aja yang bener."
Daniel mengangguk sambil menyuap makanannya.
"Kamu ambil kursus nyetir gih, biar bisa cepat lancar. Kan aku nggak selalu ada waktu buat ngajarin kamu."
"Ngambil yang dimana, mas?" tanya Lea.
"Coba aja kamu cari yang deket-deket sini, atau minta temenin temen kamu buat cari. Ntar kalau ada infonya, aku kasih tau juga."
"Ok." jawab Lea kemudian.
"Jadi kamu kalau kuliah, nggak perlu naik kendaraan umum lagi. Sayang loh, mobil aku ada yang jarang banget dipake."
"Ya udah mas, besok aku coba cari-cari." jawab Lea lagi.
Malam itu seusai makan, Lea membantu suaminya mencuci piring. Meski Daniel melarang dan berkata biar dirinya saja yang mengerjakan semua itu. Namun Lea tetap merasa tak enak hati pada sang suami.
Tetap saja akhirnya ia ikut turun tangan. Daniel mencuci piring, ia yang mengelap piring tersebut. Kemudian mereka membersihkan meja makan bersama-sama pula. Setelah itu, pergi ke kamar mandi masing-masing untuk menggosok gigi.
"Lea, boleh minta tolong bikinin kopi nggak?"
Daniel berkata melalui telpon yang ada di atas, ke telpon yang ada di ruangan Lea.
"Kopinya dimana, mas?" tanya Lea.
Lea mulai memperhatikan dan membuka lemari yang dimaksud.
"Kopi instan ini?"
"Iya, jangan terlalu banyak airnya."
"Tarok disini apa bawa ke atas?"
"Bawa aja kesini, temenin aku di balkon."
"Ok." ujar Lea lalu tersenyum.
Perempuan itu bergegas membuat kopi, lalu membawanya ke atas. Tak lupa ia juga membawa setoples nastar yang ia temukan di dalam lemari kitchen set.
"Mas." ujar Lea seraya meletakkan bawaannya di meja, yang terdapat di balkon lantai atas.
Baru kali ini ia menginjakkan kaki di balkon tersebut, ternyata pemandangannya sangatlah menakjubkan. Ia bisa melihat berbagai bangunan tinggi dari atas sana.
"Nastar dari mana, Le?" tanya Daniel bingung.
"Lah, orang ada di lemari kitchen set. Masa mas yang tuan rumah nggak tau."
Daniel diam dan berfikir, ia yang tadinya berdiri kini duduk disisi Lea.
"Oh, dari Ellio." Daniel berhasil mengingat dari mana kue nastar itu berasal.
__ADS_1
"Maksudnya bikinan om Ellio?" tanya Lea.
"Nggak tau bikinan dia atau beli, kita cobain."
Daniel membuka toples tersebut lalu mengambil satu, Lea pun melakukan hal yang sama.
"Kalau kita kejang-kejang terus mati, berarti ini buatan Ellio." ujar Daniel seraya tertawa, sementara Lea telah ngakak.
"Hahaha."
"Kita cobain, ya. Satu, dua, tiga."
Mereka memakan nastar tersebut, sambil menahan tawa yang sejatinya tak mau berhenti.
"Oh nggak, ini beli fix." ujar Daniel, lagi-lagi mereka tertawa.
Daniel lalu menyeruput kopi dan membawanya berdiri, sambil menatap pemandangan yang tersaji. Perlahan Lea pun turut melakukan hal serupa, ia menghampiri Daniel yang ada di pinggiran pembatas balkon.
"Kopinya nggak kebanyakan air kan, mas?"
"Nggak, pas koq." jawab Daniel, lalu menyeruput kopi tersebut sekali lagi. Lea kini melepaskan pandangannya ke segala penjuru.
"Disini bagus ya tempatnya." ujar perempuan itu kemudian, Daniel hanya tersenyum tipis.
"Kamu suka?" Daniel bertanya pada Lea, perempuan itu mengangguk.
"Oh ya mas, apa nggak sebaiknya aku pakai kontrasepsi dulu. Biar nggak hamil."
Lea bertanya pada Daniel.
"Kenapa emangnya kalau hamil?" tanya Daniel seraya menatap istrinya itu.
Hampir saja Lea mengalami lemas tulang, demi melihat tatapan mata Daniel yang cukup tajam. Namun tatapan itu dibalut oleh wajahnya yang begitu tampan.
Menatap pria itu seperti hati diukir dengan pisau, sakit tapi indah. Berdarah tapi membuat berbunga-bunga. Ia adalah pertemuan antara dingin dan hangat di waktu yang bersamaan.
"Ya nggak apa-apa, aku kan masih mau kuliah. Masa mahasiswa baru, perutnya gede. Apa kata orang nanti."
Daniel menghela nafas, tatapan matanya terbuang ke suatu sudut. Ia mereguk minumannya sekali lagi dan kembali menoleh. Kali ini ia mendekat kepada Lea, dengan tatapan mata yang menatap dalam ke mata Lea.
"Kamu nggak sayang sama aku?" tanya nya kemudian.
"Kamu nggak mau, kalau ada bayi aku yang tumbuh disini?"
Daniel menyentuh dan mengusap perut Lea, dengan terus menatap mata istrinya itu dalam-dalam.
Lea pun menjadi kaku, lalu lumer meleleh. Pasalnya suara sang suami begitu mengena di hati, Lea tak bisa menolak pesona pria itu.
"Ma, mau koq mas. Aku nggak apa-apa hamil." ujarnya tanpa bergerak dan berkedip.
Daniel menarik sudut bibirnya, ia tersenyum sangat tipis lalu berlalu. Ia sempat meletakkan gelas kopi ke atas meja, sebelum menghilang di balik pintu. Sementara kini Lea memegang kepalanya dengan tangan.
"Kenapa sih lo, mesti banget ganteng begitu. Kan gue jadi nggak bisa nolak, mana enak lagi.
Lea menggerutu, antara kesal namun terkunci oleh sikap dan visual Daniel yang very good looking.
"Bunting nih pasti gue, kalau caranya model begini." ujarnya kemudian.
__ADS_1
Lea menutup kedua matanya. Namun ketika mata tersebut kembali terbuka, ia pun terkejut. Pasalnya kini Daniel telah berdiri dihadapannya.
Pria itu menatap Lea, membuat Lea menjadi kian gugup dan salah tingkah. Tak lama kemudian Daniel menarik sang istri kedalam pelukan, lalu mereka pun berciuman.