
"Gue yang balesin chat lo, gue juga yang minta foto lo. Gue yang ngeladenin lo ngomong sayang dan lain-lain."
Lea berkata seraya mendekat. Shela tentu saja syok mendengar semua itu. Sedang Daniel, Richard, dan Ellio tampak kaget.
"Instagram suami gue, password-nya gue yang pegang, kan udah pernah gue bilang. Makanya jadi cewek itu jangan gatel sama suami orang." lanjutnya lagi.
Shela tampak membeku sementara Lea sudah berada sangat dekat dengannya.
"Sekali lagi lo berani deketin laki gue, gue sebarin foto lo yang lo kirim ke gue. Biar aja gue kena imbas kena pasal, gue nggak takut. Yang penting lo malu tujuh turunan, karena jejak digital nggak mungkin bisa dihapus."
Air mata dan kebencian Shela sudah merebak di pelupuk mata. Tak lama perempuan itu pun berlalu dan Lea hendak menjambak rambutnya, namun ia ditangkap oleh Daniel dan ditahan. Tak lama Shela pergi dengan kekecewaan yang mendalam.
Ia merasa begitu bodoh selama ini. Apalagi ia sampai curhat-curhat pada Susi dan Susi memberinya tips ini dan itu untuk merebut suami orang.
Namun ternyata tips tersebut pun tidaklah berguna. Mengingat yang sering ia hubungi bukanlah Daniel melainkan istri Daniel. Kini Shela merasa begitu ingin menabrakkan dirinya ke mobil yang melaju dengan kencang. Saking malunya ia atas apa yang terjadi belakangan ini.
***
Beberapa saat berlalu. Lea duduk terdiam di kursi ruangan Daniel saat suaminya itu menatap dirinya sambil menyilangkan tangan di dada. Posisi Daniel berdiri dihadapan Lea. Sedang Richard berdiri di posisi lain, begitu pula dengan Ellio.
"Kenapa kamu kayak gitu, Le?" tanya Daniel pada Lea dengan nada seperti kesal.
"Ya kan dia yang nge-DM mas duluan. Ya udah aku ladenin aja, pengen tau dia maunya apa." jawab Lea.
"Harusnya kamu nggak kayak gitu. Kalau sampai dia menyebarkan soal aku minta-minta foto polos dia di sosmed, gimana?. Bisa malu dan hancur reputasi aku. Masalahnya itu dikirim pake akun aku. Orang nggak akan tau itu aku yang ngeladenin atau bukan. Orang tuh diemin aja atau blokir, ngapain di urusin?"
Lea makin menunduk, sementara Richard dan Ellio lebih kepada mendengarkan saja. Mereka memilih untuk tidak ikut campur.
"Ya, maaf. Orang dia nge-DM melulu. Gatel tangan aku kalau nggak bales." jawab Lea.
"Tempo hari udah aku kasih tau kalau aku yang suka balesin dia. Eh dianya nggak kapok juga. Kemaren coba-coba lagi nge-DM Instagram mas Dan. Pas mas bikin insta story di kantor. Ya udah aku ladenin lagi. Dia yang bego." lanjutnya kemudian.
Daniel ingin meneruskan kata-kata, tapi semuanya kini tertahan di ujung lidah. Ia memilih untuk tidak memperpanjang masalah, karena tak akan ada ujungnya jika dilanjut. Hanya akan menambah perdebatan yang bisa saja melebar kemana-mana.
"Ya udah, Darriel sama siapa kamu tinggal?"
"Ada di bawah sama Adisty dan Ariana." jawab Lea.
__ADS_1
"Suruh mereka ke atas." ujar Daniel.
Maka Lea pun menelpon Adisty dan meminta mereka untuk naik ke atas. Saat tiba di atas Daniel langsung mengambil sang anak dan memilih agak menjauh, sebab ia masih menyayangkan sikap Lea. Meski ia tak lagi marah besar seperti tadi.
Lea sendiri tak ambil pusing. Melihat sang suami mengasuh anaknya, ia malah pergi ke kantin kantor bersama Adisty dan Ariana.
"Lagian bego banget ya si Shela. Tempo hari kan Lea udah skak mat dia dan udah bilang kalau tau semua apa yang diperbuat oleh tuh cewek. Masih aja nge-DM mas Dan." Ariana berujar pada Adisty.
"Pelakor mah rata-rata emang IQ nya pada jongkok say." ujar Adisty membuat mereka semua akhirnya tertawa.
"Biasanya yang level kecerdasannya emang very low." lanjutnya kemudian.
"Iya sih, kalau pinter mah nggak mungkin mau sama suami orang." ujar Ariana lagi.
"Tadi tuh pengen gue jambak, anjir. Tapi ditahan sama mas Daniel." ujar Lea.
"Kalau tadi ada gue mah, pasti gue bantuin." tukas Adisty.
"Gue juga pengen sleding palanya dia." Ariana menimpali.
***
"Om Richard, om dimana?"
Arkana mengirim pesan singkat pada Richard, ketika pria itu telah kembali ke kantornya. Tadi ia ada sempat menasehati Lea, ketika Lea meminta pembelaan padanya.
"Om di kantor, Arka di sekolah?" Richard balas bertanya.
"Iya om, di sekolah."
"Koq main hp jam segini?. Bukannya belajar ya?" tanya Richard lagi.
"Lagi jam kosong, om." jawab Arkana.
"Oh gitu."
"Iya, Arka cuma inget om aja tiba-tiba."
__ADS_1
"Om juga selalu ingat Arka koq, Arka jangan nakal ya di sekolah."
"Iya om, nggak koq."
Kemudian Richard menyudahi percakapan tersebut. Sebab ia kedatangan delegasi dari perusahaan lain, yang ingin mengadakan kerjasama dengannya.
Sementara itu Daniel terlihat masih bekerja sambil mengasuh Darriel. Bayi itu hanya memain-mainkan tangan dan kaki serta berceloteh semaunya.
"Mmbem, wuwuw, hokhoaaa."
"Heheee."
Daniel awalnya biasa saja, namun lama kelamaan ia pun tertawa mendengar semua itu.
"Ngomong apa sih nak?" tanyanya kemudian.
"Hemmmbrzbrzbrz."
Darriel mengeluarkan ludah kemudian kembali tertawa. Daniel mengambil tissue lalu mengelap bibir anaknya itu.
"Uwawuwaw." ujar Darriel. Dan lagi-lagi Daniel tertawa.
***
Langit muram hari itu bagi Shela. Ia pulang ke kediamannya dengan perasaan kesal sekaligus dendam yang tinggi. Ia lalu menelpon Susi dan mengabarkan semuanya. Susi kini jadi berapi-api.
"Emang bangsat ya itu cewek." ujar Susi mengumpat Lea.
"Pengen banget gue ngeliat dia di cerai sama suaminya. Pengen liat tampangnya pas nangis-nangis." ujarnya lagi.
Gue pengen balas dendam banget, Sus. Harga diri gue soalnya." ucap Shela.
"Tenang say, gue bakal bantuin elo. Jangan menyerah dulu sebelum si nenek sok cantik itu di lempar dari istananya Daniel."
Seketika semangat Shela pun kembali tersulut api. Ia yang tadinya ingin menyerah saja, kini berganti ingin membalas Lea dua kali lipat. Ia ingin agar istri Daniel itu meminta maaf padanya.
***
__ADS_1