Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Sendal Ajaib (Ekstra Part)


__ADS_3

"Jennifer."


"Marcella."


"Tasya."


"Rebecca."


"Carolina."


Ellio pusing memilah-milah kandidat untuk Richard. Ia melihat dari data perempuan-perempuan yang dulu kerap ia, Daniel dan Richard jadikan bunga pesta di party yang mereka buat.


"Jangan bro kalau mereka." Daniel tiba-tiba berkata.


"Mereka tuh modal cakep sama rayuan doang. Selera fashion tinggi. Kalau lo miskin bakalan ditinggal." ujarnya lagi.


"Iya sih, udah keliatan bakal nyusahin." tukas Ellio.


"Tapi selain mereka, kita nggak punya kandidat lain." ujarnya lagi.


"Salahnya kita dulu, nggak bergaul di tempat yang ada cewek-cewek bener." tambahnya.


Daniel tertawa.


"Tapi untungnya kita dapat bini bener." ujar pria itu kemudian.


"Iya itu salah satu keberuntungan kita juga sih. Tapi kita jadi nggak punya banyak kenalan cewek-cewek bener." ucap Ellio.


"Kalau banyak kan enak, tinggal jodohin aja Richard ke cewek-cewek itu." timpalnya kemudian.


"Iya sih, tapi ya namanya juga buat temen. Kita usaha lagi lah dari awal." ucap Daniel.


"Elu enak ngemeng doang anjay. Gue yang ribet nyarinya." tukas Ellio.


"Ya gue bantu doa, apa salahnya."


Daniel membuat Ellio keki setengah mati.


"Eh kalau Cassandra sama Ashley gimana?" tanya Ellio. Yang ia tanyakan tersebut juga tak jauh berbeda profesinya dengan yang sudah ia sebutkan tadi.


Mereka merupakan perempuan-perempuan yang katanya berkecimpung di dunia model, tetapi punya sampingan sebagai pencari om-om.


Mereka umumnya akan menghadiri pesta-pesta kelas atas seperti yang pernah Daniel, Ellio, dan Richard adakan.


"Sama aja, Bambang." ucap Daniel.


"Tapi katanya sekarang mereka pengusaha." tukas Ellio.


"Lo pikir suntikan dananya dari mana, kalau nggak dari para om-om. Suntik rahim, suntik rekening. Kalau nggak mau disuntik rahim, dijamin duit di rekening kagak ngalir." ujar Daniel lagi.


"Bangsat." Ellio mengumpat sambil tertawa.


"Gini aja deh, gimana kalau diem-diem foto si Richard kita masukin ke aplikasi cari jodoh." ujar Ellio.


"Kalau ketahuan terus dia marah gimana?" tanya Daniel.


"Dia aja pernah koq masukin foto lo ke aplikasi dating. Waktu dulu gue sama dia mau bikin lo move on dari Grace."

__ADS_1


"Bangsat ya kalian." ujar Daniel setengah tertawa.


"Maka dari itu, anggap aja lo balas dendam kali ini." ucap Ellio.


Daniel diam.


"Tapi apa nggak sama aja." ujarnya.


"Kalau kita masukin foto ke aplikasi pencarian jodoh. Kita juga kan nggak tau cewek yang bakal match nanti siapa. Pekerjaannya apa, sifatnya gimana."


"Gini deh, jangan ke aplikasi dating. Tapi ke aplikasi kayak biro jodoh gitu ada nggak sih?" tanya Ellio.


"Ada, nanti ceweknya ngirim foto sama data diri kayak mau pemilihan putri-putrian gitu." ujar Daniel.


"Nah gitu aja, ntar kita yang pilihkan kandidatnya. Kita temui dulu, kan kita bisa menilai tuh. Secara ya kan udah banyak pengalaman." tukas Ellio.


"Hmm, okelah kalau gitu."


"Setuju nggak lo?" tanya Ellio.


"Setuju-setuju aja sih." ujar Daniel.


"Pak tiba-tiba Marsha menongolkan kepalanya di pintu.


"Apaan sayang?" tanya Ellio pada istrinya itu.


"Kerja." ujar Marsha seakan hendak menelan Ellio hidup-hidup.


"Ntar ini anak masa depannya gimana, kalau bapaknya gosip mulu ke kantor orang."


"Iya, bawel banget sih mbak-mbak buncit."


"Pak Daniel bukannya diingetin temannya." ujar Marsha.


"Lah koq gue yang kena?" tanya Daniel pada Ellio sambil menahan tawa.


"Cepetan pak, pulang nggak?"


"Bro, mending balik bro. Sebelum dia ngelempar galon yang ada di dekat meja dia." ujar Daniel dengan suara pelan.


"Iya ini balik." ujar Ellio pada Marsha dengan nada sewot.


Pria itu kemudian keluar dengan membawa serta laptopnya. Ia mendekat ke arah Marsha, memegang perut wanita itu dan berbisik di telinganya.


"Makanya tidur tuh pakai celana, gini kan hasilnya."


"Iiiiih, bapaaaak."


Marsha sewot, Ellio cekikikan sambil berlari ke arah koridor yang menuju ke kantornya.


"Awas ya, jangan harap ntar malem." gerutu Marsha dengan suara yang sangat pelan.


***


Lea membawa Darriel ke dokter anak. Untuk pemeriksaan rutin sekaligus menimbang badannya. Hari itu ia pergi dengan ditemani oleh Vita.


Dokter mengatakan jika berat badan Darriel masih normal dan sesuai dengan usianya. Padahal Lea sudah cukup cemas dengan bobot tubuh anak itu yang menurutnya sudah gembul.

__ADS_1


"Tapi ini berat banget, dok. Sampe ngos-ngosan saya kadang gendongnya."


"Ini normal koq, bu. Bisa di lihat disini."


Lea diperlihatkan daftar berat badan bayi sesuai dengan usianya.


"Kayaknya gue yang kurang olahraga nih, kurang angkat beban berat." ujar Lea ketika ia dan Vita sudah keluar dari klinik.


"Bisa jadi, Le. Tapi bisa juga karena lo terbiasa bawa si Darriel di stroller. Jadi lo kaget pas gendong, karena nggak terbiasa." ujar Vita.


"Iya kali ya, Vit."


"Bisa jadi." ujar Vita.


"Ayo kak dicoba kak tteokpokki, odeng, kimbabnya kakak. Lagi diskon kak, khusus untuk hari ini diskon lima puluh persen dari harga normal. New opening kakak, silahkan mampir."


Seseorang dengan suara renyah tampak tengah mempromosikan outlet jajanan Korea yang sepertinya baru buka.


"Vit, itu bukannya Vania ya?" tanya Lea pada Vita.


Vita memperhatikan gadis yang tengah berpromosi tersebut lalu kembali menatap Lea.


"Vania yang mana ya, Le?" tanya nya bingung.


"Itu yang dulu waktu kita pertama masuk SB Agency. Yang kata lo dari pemilihan putri-putrian, terus di keep sama sugar daddy tuir tapi tajir. Masa lo lupa?"


Vita diam sejenak dan memperhatikan.


"Oh iya, Vania. Bener-bener." ujar Vita antusias.


"Dia koq jadi karyawan kayak gitu, kata lo sugar daddy nya tajir mampus."


Vita kembali diam, ia terus memperhatikan Vania yang masih sibuk bercuap-cuap.


"Udah di depan kali sama sugar daddy nya." Vita berspekulasi.


"Atau mungkin dia walk out karena udah males."


"Anjir kayak rapat dong, walk out." ujar Lea.


"Eh tapi kayaknya enak deh, kesana yuk." ujar Vita.


"Oke tunggu bentar. Gue tutup stroller anak gue dulu. Takut ada bau-bau masakan yang ada gochujang-nya." ujar Lea.


Mereka pun sama-sama menutup stroller Darriel dengan penutup yang memang menempel pada kereta dorong tersebut.


"Heheee."


"Nggak tidur kamu?" tanya Lea pada Darriel.


"Hiyaaa, Heheee."


"Hehe, hehe mulu."


"Heheee."


"Anak lo ketawa mulu." ujar Vita.

__ADS_1


"Emang kayak gitu dia." ucap Lea.


Mereka pun lalu berjalan menuju ke arah outlet, yang kini di promosikan oleh Vania.


__ADS_2