Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Rencana Bianca


__ADS_3

"Ini buat aku mas?"


Lea bertanya pada Daniel, setelah dirinya menerima sebuah cincin berlian yang tentu saja harganya tak murah.


"Iya, aku bahagia hari ini." jawab Daniel seraya mengelus perut istrinya itu.


"Karena dia laki-laki?" tanya Lea.


"Mmm, aku bahagia juga untuk itu. Tapi bukan kepada perkara gendernya. Aku bahagia karena dia udah tumbuh besar, dia sehat, dan kamu menjaganya dengan baik. Ini sekedar rasa terima kasih aku aja, terima kasih karena sudah mau mengandung anak aku."


Lea tersenyum lalu melangkah dan memeluk suaminya itu. Daniel membalas pelukan Lea tak kalah hangatnya. Sesaat kemudian keduanya berciuman selama beberapa waktu.


"Bibir aku udah nggak tebal lagi kan?" ujar Daniel. Seketika Lea pun tertawa karena mengingat kondisi tersebut.


"Udah nggak mas, muka mas udah balik lagi kayak biasanya. Nggak tau kalau bagian lain."


"Yang bawah masih." ujar Daniel menyinggung area sensitif di dirinya.


"Emang ikutan bengkak juga mas?" tanya Lea tak percaya. Karena ia tak mengecek keseluruhan bagian tubuh suaminya itu. Area mana saja yang mengalami pembengkakan.


"Iya." jawab Daniel seraya tertawa.


"Serius?" tanya Lea lagi.


"Serius, tapi udah nggak perih dan panas kayak kemaren."


"Duh, kasian kamu."


"Hhhh." Daniel menghela nafas.


"Pokoknya aku akan balas Ellio. Aku akan suruh dia mukbang sapi utuh, liat aja."


Keduanya sama-sama tertawa, meski Lea masih sangat iba dengan kondisi yang dialami sang suami.


"Kamu coba pake dong, cincinnya."


"Oh iya."


Lea kemudian mengenakan cincin tersebut di salah satu jari manisnya.


"Bagus mas." ujar Lea sambil menunjukkan pada Daniel.


"Nggak kekecilan kan?"


"Nggak, tapi nggak tau nanti kalau seandainya berat badan aku nambah lagi."


"Kalau nanti jadi naik, kan bisa di simpan dulu sampe kamu kurus lagi."


Lea tersenyum.


"Iya mas, makasih ya."


Daniel mengangguk dan balas tersenyum.

__ADS_1


"Mandi gih, ntar abis itu kamu kesini. Aku mau pelukan sambil cerita sama anak aku."


"Ok."


Lea melepas cincin dan meletakkannya kembali ke dalam box jewelry. Lalu ia turun ke bawah dan pergi mandi. Usai mandi dan mengeringkan rambut, ia kembali ke kamar atas.


"Mas."


Lea membawa sepiring besar cemilan untuk sang suami.


"Baru aku kebayang pengen french fries, eh dibuatin." ujar Daniel.


"Kan kita sehati mas, apa yang kamu pikir aku juga pikir." Lea berujar sambil meletakkan kentang goreng yang ia buat di atas meja.


"Masa sih, kebetulan aja kayaknya."


"Oh jadi mas nggak mau sehati sama aku?"


"Jangan mulai nyari perkara." ujar Daniel.


Lea pun tertawa.


"Sini, aku mau elus bayi aku."


Daniel merapatkan tubuh Lea ke arahnya. Ia lalu mengelus perut istrinya itu dengan lembut.


"Hai Baby D." ujarnya lalu mencium perut Lea.


"D?"


"Udah kepikiran?" tanya Lea.


"Belum, baru huruf D nya aja. Bisa jadi Darren, Darriel, Dean, Dave, Daryanto."


"Hahaha." Lea terbahak, dan makin lama kian bertambah geli.


"Kenapa sih?" tanya Daniel penasaran.


"Ingat di kampus mas, temen aku bilang anak tetangganya masih bayi. Terus namanya Sukirman."


Daniel berusaha keras menahan tawa, namun akhirnya pecah juga.


"Nggak ada yang salah sih dengan nama itu, cuma jamannya aja yang udah beda." ujarnya kemudian.


"Iya makanya, ini udah tahun berapa. Masa iya punya bayi namanya Sukirman. Takutnya pas absen di kelas, malah di ledekin sama teman-temannya."


Daniel dan Lea kembali tertawa.


"Pokoknya nama anak kita di awali D." ujar Daniel.


"Ya tapi jangan Daryanto juga, mas."


Daniel kembali tertawa, begitu pula dengan Lea.

__ADS_1


"Nanti kita cari sama-sama deh." ujar Daniel lagi.


"Iya mas."


Lea merebahkan kepala di dada suaminya.


"Foto USG nya ada kan?"


"Oh ya di bawah, males ngambilnya." jawab Lea.


"Ya udah nggak apa-apa, yang penting anak papa sehat ya."


Daniel mencium perut istrinya sekali lagi.


"Sehat papa, kan dijagain sama papa, sama mama." Lea menimpali ucapan suaminya.


Daniel lalu memeluk dan mencium kening sang istri. Ketika waktu telah berjalan cukup jauh, mereka mulai memakan cemilan malam mereka sambil menonton YouTube.


***


"Bu, ada banyak wartawan yang yadi nyari ibu."


Sebuah pesan singkat diterima mami Bianca, dari salah satu orang kepercayaan yang ia miliki. Ketika akhirnya wanita itu mengaktifkan handphone yang semula ia matikan. Lantaran banyaknya pesan dan panggilan yang membuat pusing kepala. Saat ini mami Bianca masih bersembunyi di apartemen miliknya, yang dibelikan oleh ayah Rangga.


Ia agak sulit di jangkau, lantaran ayah Rangga memiliki bekingan orang-orang yang cukup besar. Para pejabat yang berada di belakang ayah Rangga, adalah pejabat yang juga suka memesan gadis dalam bisnis kotor lain milik mami Bianca.


Maka dari itu dalam hal ini, mami Bianca sangat-sangat dilindungi oleh jaringan tersebut. Sedang mami Sonia dan pengurus SB Agency lain, adalah kambing hitam mereka semua.


"Tutup pintu pagar dan jangan biarkan siapapun masuk." Mami Bianca membalas.


"Iya bu, sekarang kasus ini viral di tiktok dan dimana-mana bu."


Mami Bianca terdiam, ia memiliki akun sosial media yang bukan mengunakan nama aslinya. Karena di dera rasa penasaran akan seheboh apa kasus ini sekarang, mami Bianca pun mulai membuka akun sosial media miliknya itu.


Benar saja, kasus ini tengah bertengger di beranda FYP. Banyak sekali tiktoker yang menuntut keadilan, meminta pelaku perdagangan manusia segera di ringkus.


Banyak juga netizen yang sadar, seakan kasus ini ada yang mendanai atau yang menutupi. Sehingga terkesan lambat untuk di selesaikan.


Mami Bianca keluar dari akun tiktok dan mencoba ke akun-akun sosial media lainnya dan ternyata sama saja. Kasusnya memang sedang marak di bicarakan di mana-mana.


Hanya di Instagram agak tenang sedikit. Lantaran di Instagram yang lebih laku adalah gimmick para artis dadakan. Kebanyakan warga disana apa-apa masih menyalahkan korban dan enggan memberikan support.


"Aku butuh banyak buzzer."


Mami Bianca berujar di depan sugar daddy nya yang tiada lain tiada bukan, adalah ayahnya Rangga.


"Untuk apa?" tanya ayah Rangga kemudian.


"Untuk menyerang pendukung korban kasus ini. Aku butuh akun-akun dengan foto perempuan, yang menyudutkan para pengadu. Aku mau para korban tersudutkan, dengan menggiring opini bahwa itu adalah salah mereka sendiri. Dengan demikian, kita bisa mengimbangi pro dengan kontra yang di lontarkan oleh buzzer-buzzer tersebut."


"I see." ujar ayah Rangga.


"Jadi buat masyarakat juga terpengaruh. Salah sendiri mau jadi sugar baby, salah sendiri mau jual diri. Mau cepat kaya tapi caranya instan, gitu loh. Ngerti kan?" ujar mami Bianca lagi.

__ADS_1


"Ok, gampang diatur." ujar ayah Rangga lagi.


__ADS_2