
"Aduh, gimana ini coba?"
Para maid yang bekerja di rumah Richard kian bertambah resah. Pasalnya Lea menghilang sudah dua hari dan Richard sendiri dikabarkan keluar kota, oleh Ellio.
Mereka takut kalau Richard pulang mendadak dan menanyakan perihal dimana anaknya berada. Jika ia mengetahui perkara yang terjadi, bisa-bisa seisi rumah itu diamuk masal olehnya.
"Nggak ada yang nyari apa?"
Salah satu maid kembali berujar, dengan wajah yang begitu tegang. Beberapa bodyguard kini terlihat diam dan berfikir.
"Kalau sampe anaknya pak Richard nggak ketemu, habislah kita. Udah dimarahi, dipecat lagi tanpa pesangon." lanjutnya kemudian.
Seisi rumah itu diam, mereka tak tau harus melakukan apa kini.
***
"Mas."
"Mm?"
"Kamu nggak masalah kan, anak kita jenis kelaminnya apa aja?"
Daniel tersenyum mendengar pertanyaan Lea. Mereka kini tengah membereskan pakaian Daniel, yang baru diambil dari laundry.
"Aku nggak masalah koq." ujarnya kemudian.
"Yang penting anaknya sehat, kamu nya juga selamat pas melahirkan."
Kali ini Lea yang tersenyum, lagi-lagi ia merasa sangat beruntung sudah mendapatkan Daniel.
"Syukur deh kalau gitu, aku pikir mas harus banget punya anak cowok."
"Aku akan bahagia kalau dapat anak cowok, tapi cewek juga aku seneng. Aku bukan orang jaman dulu yang membeda-bedakan anak berdasarkan jenis kelamin. Semua anak sama di mata aku."
"Makasih ya, mas. Aku tenang kalau kayak gini."
Daniel mengangguk dan balas tersenyum pada istrinya itu.
***
"Aaakh."
Richard berteriak ketika ia hendak turun dari tempat tidur.
"Ellio, lo brengsek ya. Kata lo gue nggak apa-apa." gerutunya pada Ellio.
"Ini kenapa gue begini?" lanjutnya lagi.
"Ya lo pikir aja, kenapa sampe tadi pagi lo dipasangkan kateter. Karena lo belum bisa jalan, bahkan ke kamar mandi sekalipun. Makanya nggak usah sok mau pulang ke rumah sekarang, sembuhin dulu."
Ellio mengocehi Richard panjang lebar. Beberapa saat yang lalu mereka berdebat, perihal Richard yang ingin segera pulang ke rumah. Tapi Ellio sama sekali tak mengizinkan.
"Dan pesen sama gue, lo nggak boleh pulang dulu." ujar Ellio saat itu.
Namun Richard masih bersikeras.
"Gue mau pulang, gue nggak mau Daniel mencuri kesempatan dan ngambil Lea secara diam-diam."
"Ya udah, lo balik aja sendiri.
Ellio kesal, Richard beranjak. Namun kemudian ia menyadari jika ia belum bisa berdiri tegak, bahkan berjalan.
"Gue nggak lumpuh kan?" tanya Richard dengan wajah panik.
__ADS_1
"Lumpuh." ujar Ellio dengan nada yang begitu meyakinkan. Seketika Richard kian bertambah syok, namun tak lama setelah itu Ellio tertawa.
"Kagak, Bambang." ujarnya kemudian.
"Lo cuma perlu istirahat selama beberapa hari ke depan." lanjutnya lagi.
Richard memasang mode kesal.
"Bisa-bisanya ya, lo ketawa saat gue lagi begini." gerutunya pada Ellio.
"Abisnya lo jadi buas tau nggak, sejak tau Lea itu anak lo. Lo jadi berubah, jadi aneh. Jadi musuhin sekitar lo sendiri demi memproteksi Lea. Padahal Lea nya sendiri baik-baik aja, lo yang khawatir berlebihan."
"Lo bisa stop nggak, ngoceh mulu kayak emak gue." ujar Richard.
"Pokoknya, awas kalau lo macem-macem lagi, gue kasih tau beneran sama emak-bapak lo. Soal lo yang punya anak, soal masalah lo dama Daniel dan soal kecelakaan ini. Biar lo di ocehin tiga hari, tiga malem."
Ellio beranjak.
"Lo mau kemana?" tanya Richard.
"Mau beli nasi Padang, laper gue."
"Gue mau." ujar Richard, namun dengan wajah yang masih sewot.
"Lu sakit, Bambang."
"Emang nasi Padang cuma buat orang sehat?"
"Lo makan aja makanan rumah sakit."
"Ya udah, gue nggak mau makan. Biarin aja, bodo amat. Gue juga nggak mau minum obat."
Ellio menghela nafas, ia berharap semoga tuan Krab mau mengangkat Richard menjadi warga bikini bottom. Sebab ia telah lelah dengan sahabatnya itu.
Sementara Ellio kembali melangkah dengan mode yang menggerutu.
***
"Le, jalan yuk."
Entah ada angin apa, tiba-tiba Daniel menyambangi Lea yang tengah menonton drakor dan mengajaknya pergi keluar.
"Mau kemana, mas?" tanya Lea heran.
"Kemana aja, boleh. Bosen kan dirumah terus?"
"Mmm, nggak juga sih mas. Asal ada internet, makanan, udah cukup koq." jawab Lea.
"Oh, ya udah. Berarti nggak usah, ya."
"Ye, nggak bisa gitu dong. Masa batal?"
Lea sewot, membuat sang suami tertawa.
"Katanya nggak bosen, aku ngajak keluar karena takut kamu bosen. Kalau nggak, ya berarti nggak jadi."
"Ya udah, aku bosen." ujar Lea.
"Dih, bisa gitu." ujar Daniel seraya masih tertawa.
"Ayo mas, jalan." rengeknya kemudian.
"Ya ayo, sana pake jaket atau kardigan dulu. Masa gitu doang."
__ADS_1
"Mulai nih, suka ngatur cara berpakaian." ujar Lea kesal.
"Bukan mengatur, di luar itu panas. Walau kita jalan pake mobil, siapa tau mau mampir makan dimana, beli apa. Mau kulitnya kebakar matahari?"
"Hehehe, nggak."
Lea bergegas pergi ke kamar dan mengambil kardigan.
"Ayo, mas." ujarnya kemudian.
"Kemana?" tanya Daniel dengan wajah bengong.
"Ih mas, suka gitu deh." Lea benar-benar merengek, sementara Daniel kini terkekeh-kekeh.
Tak lama mereka pun pergi meninggalkan penthouse. Berjalan kesana-kemari tak tentu arah.
***
"Mas mau makan serabi, boleh nggak?"
Lea bertanya pada Daniel ketika mereka telah jauh meninggalkan rumah, dan telah berjalan cukup lama.
"Boleh, kita cari dulu ya tempatnya."
"Itu." ujar Lea menunjuk ke depan.
"Oh iya, koq kamu bisa tau."
"Aku ngeliat, makanya aku pengen."
"Ya udah, kita beli."
Daniel menekan pedal gas mobilnya, hingga mereka tiba agak lebih cepat ke tempat yang di maksud. Aroma khas kue serabi membuat perut perempuan itu langsung bereaksi. Apalagi kini ia tengah mengandung bayi. Setiap saat adalah jam lapar bagi Lea.
"Mas, wangi banget sumpah." ujar Lea sambil menghirup aroma yang berterbangan.
"Iya, mas juga jadi pengen." ujar Daniel sambil tersenyum.
Mereka pun segera mendekat.
"Makan ditempat aja ya mas." ujar Lea.
"Ok, yuk cari tempat duduk."
Mereka pun duduk pada kursi dan meja yang tersedia. Tak lama pelayan datang dan membawakan daftar menu.
"Wah, aku mau yang original kuah." ujar Lea.
"Mas mau yang mana?"
"Aku mau yang ini, sama yang ini."
Daniel menunjuk di daftar menu.
"Aku juga deh. Mau yang ini, sama yang ini, sama yang ini."
Waktu berlalu, serabi yang mereka pesan akhirnya datang. Lalu mereka pun mulai makan.
"Mas, enak banget." ujar Lea pada suapan pertama.
"Hmm, iya enak banget." ujar Daniel.
Mereka lanjut makan sambil berbincang dan tertawa-tawa.
__ADS_1