Menjadi Sugar Baby

Menjadi Sugar Baby
Pulang


__ADS_3

Richard akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebab selama beberapa hari ia disana, Dian pun tampak tak menyesali perbuatannya.


Richard tak mau ambil pusing, mungkin perasaan di hati gadis itu kini sudah berubah. Seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, yang tak bisa melihat siapa yang paling habis-habisan.


Yang mereka lihat adalah siapa yang ada setiap hari, siapa yang menemani setiap hari dan siapa yang membalas chat tiap hari.


Richard tiba tepat pada pukul 3.00 pagi dan meminta bertemu Darriel pada siang harinya. Tentu saja Lea mengantarkan Darriel kesana, sebab Richard sudah tak sabar ingin bertemu dengan cucu kesayangannya itu.


Baginya Darriel adalah obat dari segala permasalahan. Memeluk dan menggendong Darriel membuat ia lupa pada segala sakit yang kini bersarang di hatinya.


"Darriel udah di rumah Richard, Le?"


Daniel yang baru pulang kerja bertanya pada Lea. Sebab tadi siang Lea mengantar Darriel ketika Daniel sudah berada di kantor.


"Udah, tadi barusan aku nelpon lagi dikasih susu sama ayah sambil di nyanyiin."


"Dinyanyiin?"


"Iya, tau kan lagunya ayah yang aneh dan jadul-jadul gitu. Yang kalau di denger berasa lagi di tahun 1940an. Tapi Darriel malah ketawa-ketawa."


Daniel ikut tertawa mendengar hal tersebut. Ia kini melepas sepatu dan melonggarkan dasi yang ia pakai. Namun ia masih malas menuju ke lantai atas dan masih duduk di sofa ruang bawah.


"Mas mau minum?" tanya Lea.


"Mau."


"Mau apa?"


"Air putih dingin, pake es."


"Koq tumben?. Biasanya kopi mulu." seloroh Lea.


"Nggak tau, lagi haus parah aku." ucap Daniel.


"Ya udah."


Maka Lea pun bergerak menuju kulkas. Ia mengambil segelas air dingin dan membubuhkan es batu di dalamnya. Tak lama ia kembali dan memberikan air tersebut pada Daniel.


Daniel minum cukup banyak, lalu meletakkan gelas ke atas meja. Ia menoleh pada Lea yang kini duduk disisinya.


"Karena Darriel lagi nggak ada, sini ke pangkuan aku."


Daniel menarik Lea untuk duduk di pangkuannya. Lea melingkarkan tangan di leher suaminya itu sambil tersenyum. Sementara tangan Daniel memegang area pinggang bahkan bagian b*kong.


"Kangen." ucap Daniel lalu mencium bibir Lea dan meremas b*kongnya.


Lea membuat gerakan-gerakan kecil di atas tubuh suaminya itu. Terutama di area sensitif Daniel yang perlahan mulai sesak.


"Inget nggak dulu kamu panggil aku apa?" tanya Daniel seraya masih mencium bibir Lea sesekali.

__ADS_1


"Mmm, om." jawab Lea sambil tersenyum.


"Aku mau kamu panggil aku itu hari ini."


Lea mengerutkan dahi, namun kemudian ia tersenyum. Meski masih terbilang muda, semenjak menikah ia paham beberapa fantasi yang sering dipakai Daniel dalam berhubungan.


Kadang pria itu menjadi guru yang mengajari kesenangan terhadap siswanya. Atau menjadi dokter yang memeriksa dan melakukan hal intim pada pasiennya. Hubungan suami-istri mereka cukup menyenangkan dan hanya mereka berdua yang tau akan hal tersebut.


Yang jelas dalam setiap situasi, Daniel selalu mendominasi. Lea pun sangat suka dengan tipe pria yang seperti itu. Seolah ia adalah tawanan cinta yang harus selalu menuruti keinginan penculiknya.


"Om Dan, aku mau diapain?" tanya Lea dengan nada manja. Namun dengan rasa seperti agak takut, tentu saja ia tak takut dalam arti sebenarnya. Ia hanya berpura-pura guna menambah panas suasana.


"Kamu mau kerja di perusahaan aku kan?" tanya Daniel seraya menatap mata Lea, lalu beralih ke dadanya yang penuh dan hampir tumpah. Daniel lalu memberikan usapan-usapan kecil disana.


"Iya, om." Nafas Lea mulai memburu dan matanya merem-melek karena keenakan.


"Kamu udah tau syarat kerja di kantor aku?"


Daniel terus memberikan usapan.


"Hmmh, belum om. Hmmh."


Daniel menatap mata Lea, lalu tangannya beralih ke antara dua paha perempuan itu dan mulai bermain disana.


"Kamu cukup mau dihangatkan, sayang. Setelah itu kamu akan aku terima bekerja."


"Kamu pegang ini sayang."


Daniel mengarahkan tangan Lea ke juniornya yang sudah tegang.


"Ini apa om?" Lea berpura-pura polos.


"Ini yang bakal menghangatkan perut kamu, dan membantu kamu supaya cepat masuk kerja di perusahaan aku."


Lea mulai memegang benda itu. Daniel menurunkan resletingnya hingga benda tersebut mencuat keluar.


"Om besar banget om."


"Iya sayang, sebentar lagi kamu akan om bikin enak."


Daniel terus mencumbu istrinya itu. Hingga beberapa saat ke depan, Daniel memulai aksinya. Saat itu Lea telah terbaring di atas sofa dan mulai menerima hantaman benda tumpul milik sang suami.


"Om, hmmh. Sakit om." Lea kembali berpura-pura. Hal tersebut membuat Daniel kian bertambah panas.


"Ini sakit sebentar sayang, habis itu kamu akan enak."


Daniel berusaha memasukkan miliknya seolah hal tersebut memanglah sulit di lakukan. Sampai kemudian keduanya pun sudah terlihat bergoyang-goyang dan menikmati permainan itu.


***

__ADS_1


Beberapa jam berlalu.


"Mas, aku capek."


Lea yang baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap itu menatap Daniel. Saat itu Daniel juga baru bangun. Seusai bercinta tadi mereka mandi dan langsung terlelap, bahkan mereka belum makan sama sekali dan langsung saja tidur saking mengantuknya.


"Sama aku juga." ucap Daniel lalu tersenyum.


"Tapi seneng kan?" tanya nya kemudian.


Lea ikut-ikutan tersenyum.


"Oh ya Darriel apa kabar ya mas. Nyusahin ayah nggak ya dia?" ujar perempuan itu.


"Coba kita telpon."


Daniel meraih handphone dan mencoba menelpon Richard. Namun tak diangkat, ia mencoba sekali lagi, namun tetap tak diangkat juga.


"Telpon ke mbak aja mas, aku ada nomornya." ujar Lea.


Maka mereka pun menelpon ke salah satu asisten rumah tangga di rumah Richard.


"Hallo Mbak Lea, kenapa mbak?" tanya asisten rumah tangga itu.


"Ayah sama Darriel mana mbak?" tanya Lea.


"Tuh, bapak lagi main game di sampingnya Darriel noh."


Asisten rumah tangga itu menunjukkan dimana Richard dan juga Darriel berada. Tampak Richard tengah menikmati permainan game tembak menembak di layar besar di depan matanya.


Darriel dipakaikan penutup dan peredam suara di telinga. Namun bayi itu terlihat tertawa-tawa melihat layar.


"Hmmm, diajari rusuh sejak dini sama kakeknya." ucap Lea.


"Orang kek cucu diajarin religius gitu ya, di suruh jadi gamer."


Daniel tertawa melihat hal tersebut. Mereka lalu berpamitan dan menutup telpon.


"Ke sana aja yuk Le, sekalian kita makan seafood yang di Deket gerbang komplek rumah Richard.


"Hmm, boleh. Ayok!" ajak Lea.


"Sekalian kita selamatkan Darriel dari kakeknya yang bikin ngelus dada itu." selorohnya lagi.


Daniel pun kembali tertawa dan mereka berdua kini bersiap.


***


__ADS_1


__ADS_2